Showing posts with label Investasi Akhirat. Show all posts
Showing posts with label Investasi Akhirat. Show all posts

Menjelang perpisahan dengan sang kekasih

Thursday, September 25, 2008


Sebuah renungan di akhir Ramadhan.....

By Abu Aisyah | September 23, 2008

Bismillahirahmaanir rahiim.

Kita ada di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebentar lagi bulan yang mulia ini mulai meninggalkan kita. Kekasih kita yang datang setahun sekali ini akan meninggalkan kita. Namun apa yang bisa kita dapatkan di bulan ini? Dan kita bisa melihat kemajuan yang sangat pesat di masjid-masjid yang ada di kampung, kota-kota dan desa-desa.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” [Q.S Al Baqarah: 183]

Sudahkah kita menjadi orang yang bertaqwa selepas bulan ini? Coba kita lihat lagi ketika di awal bulan ini, orang-orang bersemangat, namun kenapa di akhir-akhirnya hanya sedikit orang yang masih bersemangat? Jawabannya sangat mudah. Setiap manusia tidak memprioritaskan bulan ini. Allah adalah nomor dua bagi mereka. Padahal Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Q.S Adz Dzariyaat: 56 ]

Prioritas utama manusia adalah beribadah kepada Allah. Beribadah artinya mengabdi, menjadi hamba. Secara kasar menjadi budak Allah. Ibadah artinya melakukan apa-apa yang gunanya untuk mendekatkan diri kepada Allah yang diajarkan oleh lisan-lisan para nabi. Di dalam hal ini apa yang telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Sebab beliaulah yang diberikan amanah oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa untuk mengajarkan kepada seluruh umat manusia syari’at Islam.

Saudaraku sesama muslim yang aku muliakan. Sesungguhnya kita ini adalah manusia biasa. Kita bukanlah malaikat. Kita sering berbuat nista, kita sering berbuat salah, berbuat kemungkaran, berbuat maksiat, meremehkan ibadah, meremehkan Allah, tidak bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Kita ini adalah hamba yang dho’if. Hamba yang kurang segala-galanya. Kita adalah Al Faqir. Bahkan mungkin di dalam diri kita tersimpan perasaan nifaq (kemunafikan) yang tanpa kita sadari. Atau bahkan setiap ibadah yang kita lakukan justru mengarah kepada kesyirikan.

Apalah guna mengejar dunia sampai lupa diri, sedangkan nanti di akhirat kita tak mendapatkan surga secuil pun? Apalah guna mengejar gelar Sarjana, Profesor, Doktor, Alim Ulama, tapi kita tidak mendapatkan gelar Al Muttaqin? Apalah guna kita mengejar hidup abadi, namun kita tak bisa menghindar dari adzab Allah? Mari kita renungkan sejenak, langkah demi langkah yang kita lalui.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
artinya: “Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [ Q.S Al Ashr]

Kali ini saya mengajak anda untuk menghisab diri. Melihat di dalam diri sendiri. Berapakah dosa-dosa yang ada di hati. Cobalah direnungi di saat kita bangun tidur, apakah yang pertama kali kita lakukan? Bersyukur atau tidak? Padahal tidur adalah sebuah nikmat. Coba kita renungi lagi ketika kita hendak tidur, apakah kita pernah bersyukur atas apa yang terjadi hari ini?

Ketika kita berdiri menghadap-Nya, melantunkan do’a-do’a dan ayat-ayat Allah. Apakah kita benar-benar merasa bahwa Allah-lah yang ada di hadapan kita? Ataukah hanya kekosongan semata? Pernahkah kita berpikir bahwa “saya sholat untuk Allah, karena Allah ada dihadapanku, sekalipun aku tidak bisa melihat Allah, tapi Allah bisa melihatku”. Pernahkah perasaan ihsan ini ada di dalam diri kita? Kalau dalam 1 bulan shalat di bulan ini kita sama sekali tak bisa menghadirkan Allah dalam shalat kita, maka apakah kita akan yakin bahwa sholat kita diterima oleh-Nya?
Sejenak kita lihat sikap kita terhadap saudara kita sesama muslim. Sudahkah kita meminta ma’af atas apa yang kita lakukan? Sudahkah kita meminta ma’af karena mungkin ada kesalahan kita yang menyakiti hatinya?

Coba kita lihat kaum dhuafa yang bekerja memunguti sampah setiap hari, lihatlah orang-orang yang menyemir sepatu untuk kebutuhan hidup mereka. Lihatlah anak-anak jalanan yang mencari rejeki dengan berjualan koran dan makanan kecil. Adakah kita bertanya di dalam hati, “apakah hari ini mereka telah makan?” Sesekali coba kita lihat di perkampungan kumuh. Kita lihat wajah-wajah mereka yang ceria sekalipun mereka kelaparan. Kita lihat wajah-wajah mereka yang ceria sekalipun bisa saja saat itu juga mereka digusur oleh Pemkot karena mereka dianggap merusak pemandangan.

Tidaklah kita melihat rahmat Allah ada diantara mereka? Dengan membantu mereka, meringankan beban mereka? Apakah hanya pada bulan Ramadhan saja kita ingat mereka? Lalu kemanakah 11 bulan yang lalu diri kita berada? Oh ya, diri kita berada di pasar, diri kita berada di rumah makan enak, diri kita memakai pakaian, diri kita tersenyum, sementara selama 11 bulan mereka menahan lapar, selama 11 bulan mereka menangis, selama 11 bulan mereka tidak berpakaian, apakah hanya di bulan Ramadhan saja kita ingat mereka?

Wahai saudaraku, aku ajak lagi melihat seorang anak yatim. Anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Ditinggal mati oleh sang ayah tercinta. Coba lihatlah diri anda yang mempunyai kedua orang tua! Apakah kedua orang tua anda, anda sia-siakan, ataukah anda hormati? Lihatlah lagi kepada wajah anak-anak yatim, sekalipun mereka tersenyum kepada kita, tapi sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam mereka merindukan ayah mereka, merindukan ibu mereka. Mereka ingin seperti kita, namun apakah kita bisa merasakan mereka? Pikirkan ketika mereka tidak bisa mendapatkan figur seorang ayah yang akan menjadi panutan dia, yang seharusnya mengajarkan ketegasan, yang seharusnya menuntun ia di dunia ini. Lihatlah juga ketika mereka tidak mempunyai seorang ibu, mereka kehilangan kasih sayang ibu yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka iri melihat teman-teman mereka mempunyai ibu, bagaimana dengan diri kita? Apakah kita akan menyia-nyiakan orang-orang tua kita?

Pernahkah kita menghardik anak yatim? Sungguh orang yang menghardik anak yatim adalah orang yang benar-benar mendustakan agama. Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
artinya:“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?Itulah orang yang menghardik anak yatim,” [Q.S Al Maa'uun: 1-2]

Kita melihat lagi dalam masalah bersedekah. Apakah hanya dalam bulan Ramadhan dan hari Jum’at saja kita ingat Allah dengan bersedekah? Apakah hanya dalam Ramadhan saja kita ingat berzakat? Padahal sedekah itu bisa menlindungi kita nanti di hari akhir, menjadi syafa’at kita. Apakah kita sudah aman dari adzab Allah di hari akhir dengan tidak mengeluarkan apa yang kita nafkahkan untuk Allah? Lihatlah diri kita, sehebat apa kita di dunia ini tanpa Allah? Apa prioritas kita di dunia ini?

Apakah kita hanya mengejar kehidupan dunia yang sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya? Lihatlah lagi ke dalam hati kita, apa yang dibutuhkan oleh jasad kita? Apa yang dibutuhkan oleh ruh kita? Kalau kita hanya memikirkan jasad saja maka kita salah, justru ruhlah yang membuat manusia itu mulia di mata Allah dan manusia. Ruh manusia itu harus diberikan siraman-siraman rohani, yaitu siraman-siraman yang bisa membersihkan jiwa, membersihkan hati, sehingga kebutuhan ruh tercukupi dan jasad kita akan lebih baik. Janganlah tertipu dengan kehidupan duniawi yang sementara. Dunia ini fana.

Tengok ke dalam diri, apakah kita takut mati? Coba ingatlah tentang maut! Kita mungkin takut mati karena belum siap terhadap amal-amal kita, namun siap atau tidak kita pasti mati. Karena itu apa yang kita persiapkan sebelum kita mati? Apakah kita mengira kita mati masih lama? Tidak ada yang tahu melainkan hanya Allah semata yang faham kapan kita mati. Lalu apakah kita tenang-tenang saja dalam hidup ini? Santai, leha-leha, sedangkan malaikat mau sudah siap untuk mengambil nyawa kita?

Inilah mungkin Ramadhan terakhir bagi kita, maka apakah sudah kita siapkan bagi kita untuk perjumpaan terakhir ini? Sudahkah kita berikan secara maksimal tenaga yang kita punya untuk beribadah kepada Allah khusus 10 hari terakhir ini? Para shahabat, lihatlah para shahabat ketika ingin berpisah dengan Ramadhan, mereka fokuskan pada saat terakhir-terakhir di bulan Ramadhan ini. Bahkan mereka takut amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa. Kalau orang-orang seperti para shahabat yang dekat dengan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam saja takut amal mereka tidak diterima, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah melebihi para shahabat?

Sesungguhnya banyak kemaksiatan yang kita lakukan, namun kita berbohong kepada diri sendiri dengan mengatakan “sesungguhnya ini adalah dosa kecil”. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu dalam sebuah atsar berkata, “Orang yang beriman itu ketika ia melakukan dosa kecil, maka ia merasa seperti gunung itu akan dijatuhkan kepadanya”. Maka dari itulah Rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam berpesan kepada kita setiap kita melakukan dosa-dosa kecil, langsung kita berbuat baik, agar dosa tersebut dihapuskan oleh Allah.

Yaa Allah, duhai pemilik Arsy yang Agung, aku memuji-Mu dengan pujian yang setinggi-tingginya. Tiada Ilah melainkah Engkau. Sesungguhnya aku adalah hamba dan Engkau adalah Tuhan. Sesungguhnya aku adalah Al Faqir, sedangkan Engkau adalah Al Ghaniyun Hamiid. Tiadalah pemilik antara timur dan barat kecuali Engkau. Engkaulah yang memberikan kami hidup, Engkaulah yang mengajarkan kepada kami Al Qur’an.

Yaa Allah, bulan Ramadhan sebentar lagi akan pergi meninggalkanku, sedangkan aku tidak merasa cukup atas sebulan yang Engkau berikan di bulan Ramadhan ini. Dosa-dosaku ibarat gunung Yaa Allah, dosa-dosaku ibarat lautan, dosa-dosaku ibarat buih di lautan, dosa-dosaku ibarat tujuh bumi. Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang dha’if. Banyak sekali waktuku terbuang sia-sia. Banyak sekali aku melupakan-Mu. Ya Allah, Engkau adalah cahaya, Engkau adalah pemberi petunjuk, maka tunjukillah kepadaku jalan yang lurus. Dan janganlah Engkau sesatkan diriku setelah Engkau berikan kepadaku petunjuk. Yaa Allah, hatiku kotor penuh noda, aku memohon kepada-Mu

Yaa Allah, bersihkan hatiku dengan salju, air, dan air es. Yaa Allah, Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kesulitan yang amat sangat. Setelah Ramadhan lewat ini Yaa Allah, apakah aku masih bisa bersujud lagi kepada-Mu? Ataukah aku akan menjadi makanan tanah? Yaa Allah, apakah aku masih bisa menatap matahari di kala pagi? Ataukah ini adalah Ramadhan terakhirku?

Yaa Allah, terimalah amal-amalku, terimalah puasaku, sholatku dan ibadah-ibadahku. Yaa Allah, aku telah berusaha mencontoh nabi-Mu, mengikuti jejak-jejak rasul-Mu, mengikuti sunnah-sunnahnya. Yaa Allah, kalau amal-amalku ada yang jelek Yaa Allah, maka ampunilah aku. Yaa Allah yang Maha Pema’af, maafkanlah aku dan lindungilah aku dari kejelekan amal-amalku, lindungilah diriku dari kejahatan jiwa. Yaa Rabbi, lindungilah aku dari hatiku yang selalu mengajak kepada kejelekan. Lindungilah diriku yang terkadang tanpa pikir panjang mengikuti kata hatiku yang salah. Yaa Allah, sungguh Engkau Al Ghafuur, Ar Rahmaan dan Ar Rahiim. Ampunilah aku, Rahmatilah aku, dan sayangilah aku.

Yaa Allah, yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku ke dalam jalan agama ini. Dan jangan kau balikkan hatiku kepada kesesatan. Yaa Allah, lindungilah aku Ya Allah dari godaan syetan yang terkututk. Telah Engkau belenggu mereka di bulan ini, namun mereka akan Engkau lepas lagi setelah ini. Sesungguhnya tak kudapat melihat mereka, namun Engkau maha Melihat, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikannya, dari tiupan-tiupannya dan dari segala tipu muslihatnya.

Aku bersimpuh kepada-Mu Yaa Rabb, mungkin ini adalah sujudku yang terakhir, mungkin hari ini adalah hari-hariku yang terakhir, mungkin besok aku akan dimasukkan ke liang lahat, mungkin besok aku akan ditanyai oleh Malaikat penjaga alam kubur. Mungkin besok aku akan diperlihatkan apa yang akan aku dapatkan di akhirat nanti. Mungkin besok aku tidak bisa lagi mendengar adzan, mungkin besok aku tidak bisa lagi melihat apapun selain wajah malaikat maut.

Yaa Allah, ampunilah aku, terimalah amal-amalku, dan jadikanlah aku golongan orang-orang yang bertaqwa.

Usiaku kini 25….

Saturday, March 15, 2008



Beberapa hari terakhir sebetulnya sedang tidak ingin memikirkan tentang usia yang akan bertambah. Apalagi intensitas pekerjaan bukan sedang menurun. Cuman, secara kebetulan beberapa ulang tahun orang-orang terdekat mau tidak mau mengingatkan kembali bahwa saya akan segera memasuki periode baru lagi dalam hidup saya.

Siapa saya? Dan untuk apa saya hidup di dunia ini?

Baru saja menemukan sebuah tulisan bagus dari salah satu member TDA, Pak Arif Prasetyo Aji. Saya kutipkan sebagian isinya. “Kalau kita ingin menyelesaikan masalah-masalah dalam hidup kita, maka daerah terbuka harus diperluas selebar-lebarnya. Kita adalah kita, namun sering kita tidak mengenal diri kita dengan baik. Untuk mengenal diri dapat juga menggunakan jasa orang lain dan untuk itu kita harus terbuka. Kita harus berfikir positif atas segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki.”

Para psikolog menemukan bahwa self confidence pada pria lebih kuat dibandingkan dengan wanita. Dalam beberapa kasus keberadaan self confidence yang kuat pada pria ini membuat sang pria akan banyak mengabaikan pengaruh sosial atau komentar orang terhadap mereka. Inilah yang ikut merusak hubungan sosial, karena pria pada dasarnya anti kritik.

Terus terang saya pernah melalui fase itu. Fase meledak-ledak, overconfidence, sempat sedikit banyak menimbulkan konflik dengan beberapa orang. Terlepas dari siapa yang bersalah, saya tidak bisa memungkiri sebetulnya masih ada jalan yang lebih baik tempo hari untuk menyelesaikan masalah. Kurangnya keterbukaan dan komunikasi adalah salah satu penyebabnya. Sesuatu yang tersumbat, dan kemudian meledak di saat yang tidak tepat.

Seorang teman dari psikologi mengatakan, kadangkala seseorang memerlukan sesuatu yang disebut katarsis. Istilah gaulnya, curhat. Ini ibarat membuat sondetan pada sebuah aliran sungai yang penuh. Karena bentuknya sondetan, maka awalnya mungkin akan terasa sakit. Yup, tidak semua orang merasa nyaman dengan menceritakan isi hatinya yang sebenarnya. Diperlukan pengorbanan, akan tetapi itu resiko yang harus ditanggung untuk mencegah ledakan aliran sungai itu.

Terbuka, mungkin dengan itu kita akan terbantu untuk menemukan siapa sesungguhnya diri kita. Sayyidina Ali malah mengatakan, ”Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Rabb (Tuhan)-nya.” Terbuka, bisa jadi akan menimbulkan prasangka tambahan, atau malah sebuah kritikan. Bisa jadi dengan terbuka justru akan malah mengaburkan siapa diri kita yang sebenarnya karena kita akan menjadi begitu beketergantungan dengan penilaian orang lain.

Akan tetapi, Islam sejak awal sudah mengajarkan konsep keseimbangan (tawazun). Terbuka akan menawarkan kepada kita banyak pilihan. Akan tetapi tetap di akhir kitalah jua yang memutuskan. Keterbukaan akan menawarkan kualitas pilihan yang lebih baik. Dan bila masih ada kekecewaan yang timbul akibat keterbukaan itu, biarlah saat ini kita mencoba mengamalkan doa Abu Bakar, ”Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku. Dan jadikanlah aku lebih dari apa yang mereka duga.”

Blog ini hadir karena itu. Anggap saja sebuah proses membuka diri untuk mencoba memperbaiki diri. Sekaligus sebagai sebuah wadah bagi saya untuk meng-hisab diri, sebelum datang hari penghisaban yang sebenarnya. Dan memang, seperti tidak terasa, seperempat abad sudah saya hadir di muka dunia ini.

Seperempat abad, alkisah dalam kurun waktu itu Rasulullah SAW telah melalui banyak fase penting dalam hidupnya. Usia 6 tahun ditinggal oleh ibunya, hingga usia 8 tahun tinggal dengan kakeknya, Abdul Muthalib, yang banyak melibatkannya dalam rapat-rapat politik. Usia 8 tahunan tinggal bersama pamannya, Abu Thalib, dan sudah harus bekerja menggembalakan kambing karena pamannya banyak tanggungan. Usia 12 tahun sudah ikut perjalanan bisnis ke Syria. Usia 15 tahun sudah terlibat dalam Perang Fajr selama 4-5 tahun yang membentuk pengalaman militer dan memperkuat fisiknya. Usia 20 tahun, sudah terlibat peristiwa diplomatik perdamaian antara sukunya, Quraisy, dan suku lain. Selepas itu menjadi manajer profesional bagi seorang janda bernama Khadijah dan menghasilkan imbal jasa yang sangat menjanjikan. Usia 25 tahun beliau akhirnya menikah dengan Khadijah, yang usianya lebih tua darinya.

Seperempat abad, dan saya tidak tahu seberapa lama lagi jatah yang masih ada. Tapi, semoga akhirnya saya bisa menjadi seperti sosok yang diceritakan oleh Rasulullah sebagai seorang yang pintar, yaitu orang yang menyiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.

Yah, jarum jam akhirnya menunjukkan pukul 00.00. Tanggal 15 Maret 2008, hari ini saya genap berusia 25 tahun. Saatnya melihat apa yang kini menanti di depan mata. Bismillah. Hari baru telah tiba.

Jakarta, 15 Maret 2008, beberapa saat meninggalkan pukul 00.00 WIB

NB : Selamat milad juga u/ sahabat2 yang sedang merayakan. Wish u all the best..:)

Pembantaian Massal ala Rumah Video

Monday, December 24, 2007

Jumat, 21 Desember 2007.

Hanya ingin sharing beberapa foto-foto ketika Rumah Video menyelenggarakan kurban di kantor kami. Alhamdulillah tahun ini kami diberikan kesempatan berkurban. Semoga tradisi ini bisa terus kami lakukan untuk Idul Adha mendatang, dengan tentunya kurban yang semakin meningkat, baik kualitas maupun kuantitas, sejalan dengan rejeki yang terus meningkat. Amin.

Dirut RV Taufik Hannas bergaya dengan saudara kembarnya hehe


Sepasang sejoli asyik memadu kasih


nyang punya blog en Pa' RT asyik ngulitin kambing


Epilog nyate bersama personil RV

Tentang kebosanan…

Sunday, November 25, 2007


Setiap manusia pasti pernah merasakan kebosanan, bosan dengan pekerjaan sehari-harinya, bosan dengan rutinitasnya, bosan dengan kemacetan yang tidak pernah hilang dari Jakarta, dan lain sebagainya..Yah, saya tahu semua pernah merasakannya. Dan saya pun harus mengakui saya masih sering mengalami itu..

Yah, dahulu ketika saya memutuskan untuk pindah dari Siemens ke Ericsson, salah satu alasannya adalah saya mulai merasa jenuh dengan pekerjaan di tempat yang lama (selain alasan yang lain tentunya). Salah satu alasan saya untuk sekolah lagi ialah saya sempat merasa sedikit bosan dengan aktivitas harian saya yang seakan menjadi rutinitas saja. Salah satu alasan saya untuk belajar berbisnis adalah saya mulai merasa pekerjaan saya sehari-hari yang sangat teknikal membutuhkan variasi. Dan bahkan mungkin salah satu alasan saya join dengan TDA adalah saya bosan setiap harinya browsing berita-berita yang nadanya negatif dan tidak solutif.

Bosan yang di atas memang manusiawi. Variasi adalah salah satu obat untuk menyembuhkan kebosanan. Nah, tapi bagaimana bila yang terjadi ialah kita mengalami kebosanan di dalam melakukan hal yang positif? Atau kita mengalami kebosanan ketika kita mencoba berjalan meraih mimpi kita? Atau malah kebosanan ada saat kita melakukan ibadah...Wah, memang harus hati-hati tuh kalau begitu...

Yah, beberapa hari ke belakang mendapatkan inputan-inputan berharga yang mungkin berhubungan. Inputan pertama, saya dapat dari blognya Pak Iim, yang mengatakan ”tulislah mimpi kita di atas batu karang, dan tuliskan strategi untuk mencapainya di hamparan pasir”. Maksudnya, mimpi kita adalah sesuatu yang seharusnya tidak mudah berubah karena ia berfungsi sebagai pendorong bagi kita dalam melakukan sesuatu. Sementara strategi adalah sesuatu yang fleksibel, yang setiap saatnya bisa kita variasikan untuk menghindari kebosanan dan mendapatkan jalan terbaik..

Mimpi apapun yang kita miliki, kita harus mampu untuk mengikatnya dan menjadi pendorong bagi kita untuk keluar dari kebosanan kita. Atau, kalau dalam istilahnya novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, ”Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini, di depan kening kamu...jangan menempel. Biarkan dia menggantung mengambang 5 cm di depan kening kamu, jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu.” Kalau masih terlalu abstrak, solusi menulis mimpi di tempat yang mudah terlihat oleh kita adalah solusi terbaik.

Nah, inputan yang kedua berasal dari pengajian rutinan yang saya ikuti sabtu lalu. Temanya ialah tentang futur, yang arti simplenya, melemah setelah semangat, tentu konteksnya semangat melakukan hal yang positif. Salah satu penyebabnya ialah tidak bersyukurnya kita di kala senang dan tidak bersabar di kala sedih.. Bicara tentang ini, sebetulnya ada satu kasus sedih yang sempat terjadi pada salah satu temannya teman yang sekarang usianya sudah berkepala tiga. Konon, doi di zaman SMU dan kuliah adalah sosok aktivis cemerlang, bintang kelas, raja podium yang sepertinya ke depannya akan menjadi orang yang sukses. Nah, singkatnya saja, teman terkaget-kaget ketika berjumpa lagi dengannya setelah belasan tahun, ternyata sang aktivis sekarang sudah menjelma menjadi seorang pecandu narkoba. Jauh sekali ternyata perubahan yang terjadi...Usut punya usut, ternyata problem yang terjadi berawal dari kekecewaan yang sangat ketika Ia tidak mampu menikahi gadis impiannya karena faktor orang tua.

Mungkin terkesan simplifikasi...tapi sumber kekecewaan buat setiap orang akan berbeda-beda. Ada yang terlampau sedih ketika ditimpa kematian sanak saudaranya, ada yang meratapi kegagalan bisnisnya dan tidak mampu bangkit lagi dari keterpurukan itu, dan macam-macam yang lain. Nah, makanya pengingatan untuk bersyukur di kala senang dan bersabar di kala sedih benar-benar tepat untuk mengobati kebosanan.

Bermimpi...mengikat mimpi....membuat variasi strategi...serta syukur dan sabar...memang mudah diucapkan tidak mudah diaplikasikan...tapi karena kita adalah hasil persangkaan kita..mengapa tidak mencoba berpikir kita mampu mengaplikasikannya...semoga dengannya kita bisa dihindarkan dari kebosanan dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang bernilai positif..:)

Menangislah Untuk Ramadhan Yang Kan Hilang

Wednesday, October 03, 2007


Nak, menangislah,

Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubarimu. Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tadarus quranmu tak juga beranjak pada juz empat.jika itu adalah ungkapan penyesalanmu. jika itu merupakan awal tekadmu untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lailmu yang centang perenang (ah, pasti kamu masih ingat obrolan tadi siang ketika dengan senyum manisnya teman ruanganmu berucap, "alhamdulillah tarawihku belum bolong. " dan kamu merasa ada malaikat yang menjauh darimu dan pindah padanya. Kamu merasa sendiri, terasing.)

Menangislah,

Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa ada satu hamba Allah yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena. Yang katanya berdoa sejak dua bulan sebelum ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak rajab, yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib ramadhan, tapi..., tapi sampai puasa hari ke dua puluh satu masih juga menggunjingkan kekhilafan teman ruanganmu, masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah... Bahkan hampir terlewat menunaikan yang wajib.

Menangislah, lebih keras...

Allah tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kamu masih disertakan, sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa kurang dari sepuluh hari. Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai untuk Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang, bersama nostalgia yang terus tumbuh bersama usiamu. Setengah sadar menatap hidangan saat sahur, kolak-es buah yang tersaji saat berbuka, menyusuri gang sempit saat tadarus keliling, petasan dan kembang api yang disulut usai subuh. Ramadhan yang selalu membuka ingatan masa kecilmu dan terus terulang mengisi tahun-tahun kedewasaan.. .

Menangislah,

Untuk dosa-dosa yang belum juga diampuni, tapi kamu masih juga menambahi dengan dosa baru. Berapa kali kamu sholat taubat, tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang kamu buat? Kamu bilang tak sengaja? Tapi mengapa berulang dan tak juga kamu mengambil pelajaran? Syarat taubatan nasuha adalah bertekad tidak mengulanginya lagi dan bukannya bertobat sambil berucap 'kalau kejadian lagi, yaa taubat lagi'...

Menangislah.

Dan tuntaskan semuanya di sini, malam ini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tahu-tahu sudah sepuluh hari terakhir dan kamu belum bersiap untuk itikaf. Dan lembar-lembar quran menunggu untuk dikhatamkan. Dan keping-lembar mata uang menunggu disalurkan. Dan malam menunggu dihiasi sholat tambahan.

Sekarang, atau (mungkin) tidak (ada lagi) sama sekali...

Source : Abdul Rozak, eramuslim.com

Investasi Akhirat

Thursday, September 13, 2007


Bicara masalah investasi adalah bicara mengenai masa depan. Kita mencoba untuk mem-plan masa depan kita sehingga kelak kita bisa menjadi sosok yang bahagia. Nah, bicara tentang masa depan tentunya kita tidak bisa cuma berpikir jangka pendek. Perencanaan jangka panjang, sebagaimana sudah lazim dalam sebuah teori bisnis, adalah sebuah keniscayaan.

Bicara soal perencanaan jangka panjang, tentu pandangan kita harus mampu untuk melihat lebih jauh, bahkan sebisa mungkin tidak terbatasi oleh sebuah kotak kehidupan yang disebut dunia. Keberadaan alam lain setelah dunia, yang kita sebut akhirat, adalah sebuah hal yang sudah niscaya dan bukan lagi sebuah mitos. Seorang yang telah disadarkan untuk membuat sebuah perencanaan yang teliti dalam hidupnya, tentulah seharusnya juga memikirkan perencanaan yang harus dilakukannya dalam meraih kebahagiaan di dunia di balik dunia.

Bicara soal ini, sepulang dari seminar Adam Khoo kemarin, saya menemukan bacaan yang menarik dari Majalah Hidayatullah. Sebuah artikel yang berjudul Rahasia Ramadhan Keluarga Qur’an, karya Deka Kurniawan. Di sana diceritakan tentang kehidupan keluarga seorang anggota DPR yang ternyata adalah keluarga penghafal Al Qur’an. Jangan dibayangkan ketika berhadapan dengan keluarga yang seperti ini, lantas pikiran kita akan membayangkan sekumpulan orang yang hidup terpencil dan memisahkan diri dari kehidupan masyarakat. Tidak, ia adalah keluarga seorang anggota DPR dari salah satu fraksi Partai Islam, yaitu Mutamminul Ula.

Di sana digambarkan bahwa keluarga ini memiliki 10 orang anak. Yang paling sulung bernama Afzalurrahman, berusia 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, hafal Qur’an sejak usia 13 tahun, dan sekarang masuk ke Program PPSDMS, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB, dan peserta Pertamina Youth Programme 2007 dari ITB. Yang paling kecil, Himmaty Muyassarah, baru berusia 7 tahun, bahkan telah hafal 1 juz Qur’an.

Menarik untuk mengutip pandangan Mutammimul dalam mengelola keluarganya, “ Hidup yang sementara ini adalah investasi akhirat untuk mencapai ridha-Nya dengan dakwah. Kami harus terus mengejar surplus kebajikan dengan menjaga kelangsungan dakwah ini melalui upaya mempersiapkan anak-anak menjadi pemikul dakwah.”

So, sejauh manakah kita telah mencoba berinvestasi untuk dunia kita yang akan datang...Semoga Ramadhan kali ini bisa berfungsi sebagai katalisatornya....Amin...

Wassalam,

Budi Setiawan
"Hanya seorang manusia dhaif"

Showreel Rumah Video

Testimonial tentang Audio Visual



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.