Showing posts with label Komunitas. Show all posts
Showing posts with label Komunitas. Show all posts

Selamat Ulang Tahun, TDA [Selintas Milad 2 TDA]

Sunday, January 27, 2008


Suatu waktu saya pernah bermimpi untuk bisa lagi memiliki sebuah USB flash disk mungil sebagai sarana menyimpan data. Kebetulan kepunyaan saya yang lama hilang, sehingga jadilah selama ini hanya mengandalkan harddisk eksternal yang ukurannya cukup besar kemana-mana. Sama sekali tidak terduga, ternyata hari ini saya bisa mendapatkan USB impian saya itu. Tidak tanggung-tanggung, dengan ukuran 4 GB, merk terkenal, dengan ukuran mungil. Terlebih lagi, bukan hanya itu, sebuah tas laptop batik dan produk-produk jamu Mahkota Dewa juga menjadi bonus tambahan. Sebuah anugerah dalam satu hari yang sama. Dan mari kita lihat apa saja yang terjadi dalam hari ini....

Puncak perayaan milad ke-2 TDA akhirnya resmi dilangsungkan pada hari ini, Minggu, 27 Januari 2008, dengan bertempat di Gedung Menara BDN Lt.11. Resmi dihadiri sekitar 400an peserta, acara dibuka dengan refleksi 2 tahunan oleh founder TDA, Badroni Yuzirman. Sebuah refleksi yang menceritakan kembali awal berdirinya TDA yang dipelopori oleh sebuah pertemuan para pembaca setia blog Pak Roni di RM Sederhana di bilangan Rawamangun, pada tanggal 22 Januari 2006. Sebuah pertemuan, yang di kemudian hari terus menggulirkan sebuah komunitas yang beranggotakan hingga 1500 an member.

Acara-acara selanjutnya mengalir dengan begitu ringan dan memotivasi. Format acaranya yang padat dirancang dengan begitu variatif. Ada sesi talkshow dengan pembicara berlimpah ruah, sesi motivasi dengan cerita pengalaman jatuh bangun yang begitu inspiratif, sesi kentrung, sejenis lenong, yang sangat menghibur, hingga sesi awards dan pembagian doorprize yang sangat ditunggu-tunggu. Memang sudah tepat dengan temanya, Celebrating, sharing, networking, inspiring, rewarding dan challenging.

Saya pribadi menikmati momen-momen berlangsungnya acara yang ada. Nikmatnya, akhirnya saya bisa bertemu dan berkenalan dengan sosok-sosok yang sebelumnya hanya saya nikmati dari cerita-ceritanya di blog saja. Memang berbeda dengan momen-momen TDA Offline sebelumnya, di momen kali ini saya coba untuk mempersiapkan diri lebih dengan cara mengunjungi blog-blog anggota-anggota TDA sebelum acara berlangsung. Jadi, saat acara paling tidak sudah ada bayangan, walaupun sedikit, tentang orang-orang yang ingin ditemui.

Terlebih, mengikuti saran dari sang ketua panitia, Pak Faif Yusuf, kartu nama sukses dipersiapkan di saat-saat terakhir. Yup, kartu nama baru saya ambil pagi-pagi sekali sebelum berangkat di markas Rumah Video. Sebetulnya masih ada kartu nama yang sebelumnya, hanya saja karena ada perbaruan logo Rumah Video, mau gak mau, kartu nama baru pun kemarin ngebut dipersiapkan dalam tiga hari.

Satu lagi persiapan saya sebetulnya ialah membawa buku-buku untuk ditandatangani oleh pengarang-pengarangnya di momen ini. Kebetulan saya curiga paling tidak ada 4 pengarang buku yang saya miliki yang akan hadir di acara ini. Ada Pak Masbukhin Pradhana, dengan bukunya ”Cara Brilian menjadi karyawan beromzet milyaran”, lalu ada Pak Wuryanano, dengan bukunya ”the 21 principles to build and develop fighting spirit”, trus ada Pak Valentino Dinsi, dengan ”Jangan mau seumur hidup jadi orang gajian”. Sayang, bukunya Cak Eko nyelip, dan belum ketemu hingga saat-saat terakhir. Alhamdulillah, dari target yang ada, yang sukses cuman Pak Masbukhin, yang dicegat setelah menjadi host, dengan bonus, tanda tangan Pak Faif di buku perdananya, ”Rahasia jadi entrepreneur muda”. Pak Wuryanano meleset dari sasaran. Padahal Sabtu sebelum hari-H, sempat bertemu langsung di Hotel Peninsula untuk mengambil majalah titipan dari beliau. Pak Valentino, juga sama, meleset.

Satu lagi persiapan yang kurang sukses, adalah handycam. Awalnya memang sudah ditawari pinjaman dari Rumah Video, hanya saja pas hari-H ternyata masih belum juga kembali dari acara lain. Ya sudah, modal multimedia pun dilakukan seadanya saja.

Hmmm...cukup cerita kurang pentingnya...:)

Kembali lagi ke acara. Bisa dikatakan sebetulnya peserta cukup kewalahan menerima hantaman materi yang berlimpah dari pembicara-pembicara yang berbobot. Ada Pak Wuryanano, dengan filosofinya, jatuh, bangun, jatuh, bangun, dan bangun terus, dengan modal IMF (Istri, Mertua dan Family). Ada Pak Teguh Atmajaya (Bang Azmi), yang ternyata eks rekan satu departemen IT dengan Pak Masbukhin. Ada Mas Adzan W, lulusan Fasilkom 2001, yang terinspirasi berbisnis ketika ada tetangganya yang meninggal karena keterlambatan perawatan di rumah sakit akibat ketiadaan biaya. Dan lain-lain, seperti Bu Doris, Mas Phillips, Pak Bambang Triwoko, Pak Tri Atmojo, Cak Eko, Pak Fauzi Rachmanto, Mas Hendy Setiono, dengan host sekaliber Pak Masbukhin dan Bu Aning Harmanto. Lebih lengkapnya tentang mereka, bisa dilihat langsung di blog-blog mereka yah.

Nah, pembicara terakhir cukup spesial. Dikatakan cukup spesial karena bisa dikatakan baru pertama kali inilah pembicara ini sharing ilmu-ilmunya yang ringan dan menyentil di komunitas TDA secara umum. Raja FO Bandung, dengan outlet-outlet yang bejibun, seperti The Big Price Cut, China Emporium, The Summit, The Container, dan lain-lain. Yup, namanya Pak Perry Tristianto.

Bahasannya sangat to the point. Ia tidak suka dengan bisnis yang ribet, terlebih bila harus berurusan dengan pemerintahan. Ia lebih menyukai bisnis, yang disebutnya, bisnis recehan. Yup, recehan, tapi semakin lama akan semakin menggunung, hingga akhirnya menjadi laksana bukit. Ceritanya asyik. Ketika bicara tentang anaknya, yang saat ini masih berkuliah di Perth, ia berkata simple. Akan meminta anaknya untuk berjualan juice di tepi jalan. Yup, lulusan Perth dimintanya jadi pedagang kaki lima. Triknya simple. Ia akan mendeklarasikan ke teman-temannya bahwa anaknya saat ini sedang berjualan juice dengan fasilitas sendiri di tepi jalan. Jadinya, akan banyak orang yang tahu. Efeknya, orang-orang akan tertarik membeli di sana. Dan bisnis pun lama-lama akan membesar. Analoginya, manfaatkan nama besar untuk membesarkan sebuah usaha yang masih kecil. Misal, bila kita karyawan Bank Mandiri, maka boleh dibuat warung makan dengan sebutan tambahan, warung makan eks karyawan Mandiri...:)

Pelajarannya secara garis besar simple. Jalan-jalan, cari wawasan lebih, manfaatkan waktu luang, cari teman yang banyak, banyak maen...Satu lagi provokasinya, bila berbisnis ga usah lama-lama dan repot-repot memikirkan BEP. Cukup pikirkan kemungkinan ruginya berapa, apakah kalo rugi kita akan melarat, kalo enggak ya udah jalanin saja. Hmmm... ucapan yang terakhir memang provokatif abis deh..

Oke, acara tentunya ga cuman berlangsung serius. Sesi kentrung, sejenis ketoprak dan lenong, bisa membawa kesegaran di tengah keseriusan acara. Tak dinyana, ternyata TDA menyimpan calon-calon pemeran Ekstravaganza masa depan, seperti Bu Aning, Bu Yulia, Pak Faif dan Pak Agus Ali...:)

Dan akhirnya, sampailah kita di acara-acara terakhir. Diawali dengan awards, yang terdiri dari TDA Blogger Awards, TDA Dream Writing Awards, dan ”All About TDA” Writing Awards. Kemudian diselingi dengan wisuda wirausahawan baru TDA, dan challenge untuk milad ke depan. Dan ditutuplah acara dengan penutup seperti biasa, dengan dream setting oleh Pak Yusef Helmy dan penutupan. Berakhirlah acara hari ini dengan sukses...:)

Mmmm...lantas bagaimana asal muasal USB flash disk mungil yang diceritakan di depan??

Alhamdulillah, tak disangka, tulisan sederhana saya tentang TDA, bisa menjadi juara 2 di ”All About TDA” Writing Awards. Padahal, tulisannya masih tipikal orang yang belajar menulis, dan sempat ragu juga untuk mengikutsertakannya tempo hari. Makanya, tulisannya baru dikirim di saat-saat terakhir batas waktu, yaitu tanggal 20 Januari jam 22.00 malam. Karena tidak yakin pula, sempat lama juga bereaksi waktu dipanggil untuk maju ke panggung. Maaf yah Bu Aning karena lelet..

Akhir kata, saya mendapatkan hadiah-hadiah seperti yang saya sebutkan di atas. Thanks to Bu Aning dan Pak Bams atas kontribusi hadiahnya. Thanks also to all TDA Communities. What I can say right now, Happy birthday, all the best for u…

Note : Btw, ada yang punya foto penyerahan hadiahnya gak? Mo dikoleksi en tadi kelupaan nanya…hehe..mumpung ada foto bareng Pak Roni, jarang2..:)


Note 2 : Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun, di tengah acara didapati kabar bahwa mantan Presiden kita, Bapak Soeharto, telah meninggal dunia jam 13.00. Semoga arwahnya diterima di sisiNya. Amin.

Romantika bersama TDA

Sunday, January 20, 2008



”Bud, kalo lo benar-benar tertarik belajar bisnis, ada satu tempat dimana lo bisa dapetin apa yang lo mau.”

”Wah, apa tuh Mar?boleh juga kalo OK.”

”Coba ini. Namanya Tangan Di Atas. Dijamin lo ga akan nyesel.”

”Tangan Di Atas? Apaan tuh??”

Demikian kira-kira percakapan saya dan sahabat saya, Mario Hendracia, saat kami tidak sengaja berjumpa di sebuah seminar yang dibawakan oleh Tung Desem Waringin, kira-kira di semester terakhir 2006. Saya sudah lama tidak berjumpa dengan teman saya ini, semenjak saya lulus kuliah di bulan Maret 2005. Dan cukup mengejutkan ketika Ia ternyata telah cukup lama intens dengan komunitas-komunitas bisnis, yang saya sama sekali tidak pernah mendengar namanya sebelumnya.

Romantisme, demikian saya menyebut tulisan saya saat ini. Saya ingin kembali mengenang masa-masa awal saya bergabung dengan TDA, sebuah komunitas yang saya hormati dan kagumi. Hormat, karena ia berisikan orang-orang mumpuni yang telah teruji kredibilitas dan kapabilitasnya dalam dunia bisnis. Juga hormat, karena ia berisikan orang-orang tangguh yang dengan gigih terus berjuang mendobrak barrier penghalang ke dunia yang mungkin sebelumnya terasa asing bagi mereka, yaitu dunia bisnis. Kagum, karena sesuai dengan namanya, Tangan di Atas, ia berasal dari sebuah ketulusan untuk berbagi dan memberi kepada orang lain, tanpa memikirkan pamrih yang berlebih. Sebuah ketulusan yang unik, karena ia berasal dari sebuah dunia yang selama ini dianggap sebagai sebuah dunia yang kejam, yakni dunia bisnis.

Terus terang sebelumnya saya tidak merasa memiliki bakat bisnis yang kuat. Keluarga saya bukanlah keluarga yang hidup dari bisnis. Ayah saya seorang PNS di Deptan, sementara ibu saya adalah seorang dokter gigi, yang juga merangkap sebagai PNS di Depkes. Sejak kecil, saya akrab dengan dunia birokrasi yang dijalani oleh ayah saya, terutama dikarenakan tempat tinggal saya yang berada tidak jauh dari lokasi pekerjaan ayah saya. Saya terbiasa melihat sebuah kantor nyaman, dimana orang lalu lalang di dalamnya, dengan mengenakan pakaian yang seragam. Benar-benar khas pegawai pemerintahan.

Pun pula ketika saya menjalani perkuliahan di Elektro UI. Ketimbang melakoni bisnis sebagai sampingan di luar perkuliahan, saya lebih tertarik menghabiskan waktu di dunia kemahasiswaan dan dunia iptek. Saya lebih enjoy mengikuti kegiatan dan kepengurusan lembaga mahasiswa dan laboratorium yang ada di kampus. Sama sekali tidak terpikirkan untuk mencicipi dunia yang saya pandang asing, yaitu bisnis. Pertimbangan saya yang paling utama saat itu, dunia bisnis terlalu penuh dengan pamrih dan begitu materialistik. Apa-apa hanya dinilai dengan uang.

Ketika perkuliahan usai di 2005, terus terang saya sempat mengalami kegamangan. Mau kemana saya setelahnya. Saya sempat bergabung di organisasi alumni UI untuk menjadi sukarelawan di Aceh. Saya bahkan sempat bergabung dengan teman-teman saya dari fakultas dan kampus lain menjadi konsultan di salah satu perusahaan percetakan di Jakarta. Wah, berarti kalau begitu berarti saya langsung terjun ke dunia bisnis donk...

Sayang sekali hal itu mungkin tidak tepat 100%. Saya tertarik bergabung di sana tempo hari karena saya memang senang mengutak-atik sistem. Background saya di lembaga kemahasiswaan memang lebih banyak berkutat pada masalah sistem, mulai dari iptek hingga sistem kaderisasi mahasiswa. Karena itulah saya begitu enjoy menikmati saat-saat dimana saya diberi kesempatan untuk melihat secara detail sistem yang ada di perusahaan tersebut dan juga diberi kesempatan untuk memberikan rekomendasi.

Yah, bulan madu itu pun segera harus berakhir. Saya kemudian memutuskan untuk memulai petualangan saya mengaplikasikan ilmu yang saya dapat di perkuliahan dengan bergabung di sebuah perusahaan telekomunikasi. Setelah sempat merasakan menjadi seorang kutu loncat dengan berpindah perusahaan, saya mulai merasakan adanya penurunan motivasi di dalam pekerjaan sehari-hari. Karena itulah, akhirnya saya iseng mendaftarkan diri di salah satu seminar Tung Desem Waringin.

Akhirnya, seperti yang telah diceritakan di atas, di momen itulah akhirnya saya bertemu dengan sahabat lama saya itu. Dan itu akhirnya menjadi awal dari bergabungnya saya di komunitas Tangan Di Atas. Sebuah awal yang menjadi awal dari beberapa cerita lain.

Dimulai dari bergabungnya saya di milis TDA, perlahan-lahan saya mulai menjelajah blog kepunyaan anggota-anggota TDA. Bukan blog sembarangan, karena ia adalah blog yang diawali dengan semangat dan niatan yang tulus untuk membagi ilmu dan motivasi positif yang mereka miliki.

Blog yang awal saya kunjungi pastinya ialah blognya Pak Badroni Yuzirman. Melihat blog founder dari TDA ini terus terang saya tertegun. Tertegun melihat begitu lancar dan renyahnya masalah-masalah bisnis dikupas dengan bahasa sehari-hari. Tak ada unsur menghakimi, dan begitu memprovokasi pembacanya untuk terjun langsung ke dunia bisnis dengan cara yang sangat halus. Taglinenya simple, “Words can inspire, Thoughts can provoke, but only ”inspired action” brings you closer to your dreams. Take Inspired Action Miracle Happen, No Inspired action nothing happen.”

Kemudian pelan tapi pasti blog yang lain pun mulai menjadi santapan harian. Salah satunya ialah blognya Pak Iim Rusyamsi. Blog ini saya anggap sangat menarik karena yang empunya berasal dari dunia yang tidak jauh berbeda dari saya. Beliau berasal dari dunia IT, sementara saya pun saat ini sedang berada di dunia telekomunikasi. Pengembaraan pun berlanjut hingga ke blognya Pak Hadi Kuntoro. Blognya penuh dengan energi provokasi yang positif, dan tetap lincah bertutur dengan hangat. Lantas, dari sanalah saya mulai paham pula sosok-sosok seperti Pak Eko Junaedi, Bu Yulia Astuti, Bu Doris Nasution, hingga terus berlanjut sampai menemukan pula sosok-sosok seperti Pak Wuryanano, Pak Asep Triono, Pak Imansyah Sutrisno, Pak Faif Yusuf, juga senior dan abang saya di kampus, Bang Azmi, serta blog-blog lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Intinya, keseluruhan blog di atas benar-benar membawa dunia bisnis keluar dari keterasingannya. Saya yang bisa dikatakan buta tentang dunia ini, menjadi terbuka matanya lebar-lebar akan begitu banyak hal yang bisa dilakukan di dunia ini. Dunia ini mendadak tidak lagi terasa asing bagi saya, dan terasa begitu mengasyikkan untuk dicoba.

Saya ingat saat itu langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu bisnis seperti apa yang ingin saya jalankan. Saya sempat terbersit untuk mengambil bisnis makanan, akan tetapi masih belum mendapati lokasi yang cocok untuk berusaha. Bisnis pakaian, terus terang saya bukan seorang yang terlalu memperhatikan detail pakaian, sehingga tidak terlalu enjoy menjalaninya.

Di tengah kebingungan itu, suatu waktu saya melihat ada peluang untuk membangun bisnis apotik di dekat rumah. Kebetulan ada ruko yang baru dibangun dan saya berpikir lokasinya sangat strategis. Langsunglah saya dengan semangat 45 mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut akan bisnis ini di milis TDA. Dan ternyata memang nuansa saling berbagi begitu kental terasa di sini. Email saya yang sederhana dan langsung to the point tanpa perkenalan panjang lebar, ternyata langsung mendapatkan beberapa tanggapan. Salah satu yang paling saya hargai ialah tanggapan dari Pak Imansyah Sutrisno, yang beberapa kali dengan sukarela menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tergolong awam. Sayang sekali, di akhir kemudian saya harus memutuskan untuk meng-cancel dahulu niatan saya ini. Salah satu sebabnya, ialah saya masih belum menemukan partner yang cocok untuk bermitra, sementara modal awal yang harus dikeluarkan sendiri cukup besar, setidaknya untuk ukuran saya.

Pasca ikhtiar pencarian jatidiri bisnis ini, saya sempat vakum beberapa lama dari aktivitas di dunia ini. Kebetulan saja saya sedang disibukkan dengan urusan melanjutkan sekolah. Yah, sebetulnya niatan untuk melanjutkan sekolah ini telah ada semenjak saya menjadi konsultan di perusahaan percetakan dahulu. Keasyikan yang saya alami selama mengerjakan aktivitas tersebut membuat saya berniat suatu saat akan melanjutkan kuliah di dunia manajemen, dan bukan lagi di dunia teknikal. Kebetulan sekali saat itu waktunya bertepatan dengan 2 tahun saya mulai bekerja, yang menjadi prasyarat bagi kebanyakan Program Studi S2-Manajemen.

Sempat berapa lama vakum mencari bisnis yang cocok, akhirnya saya memutuskan untuk mulai menghadiri aktivitas offline dengan komunitas TDA. Dimulai dari seminar Luck Factor-nya Ahmad Faiz Zainuddin di medio Maret 2007, dan kemudian dilanjutkan dengan seminar Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu dan seminar property-nya James Sastrowijoyo. Benang merahnya sama, dari luar seminar-seminar tersebut tampak sederhana, akan tetapi muatan yang ada di dalamnya sangatlah menyentuh hati. Kembali rasanya begitu gatal untuk mulai terjun berbisnis.

Sekian lama mencari, akhirnya pencerahan datang juga di momen TDA Business Conference bersama Pak Roni. Tema yang dibawakan pada waktu itu ialah tentang 8 profil bisnis, yang dikembangkan oleh Roger Hamilton. Disebutkan bahwa ada 8 tipe profil alami yang bisa dikembangkan untuk membangun bisnis kita, yaitu creator, star, supporter, deal maker, trader, accumulator, lord dan mechanic. Dari sana saya seolah mendapati kalau selama ini saya mencoba untuk memaksakan diri masuk ke jalur yang seolah bukan keahlian dari saya.

Yah, saya selama ini terlalu memaksakan diri untuk langsung masuk ke jalur creator, yaitu dengan membangun sebuah bisnis baru dari awal. Padahal, dari sisi kemampuan maupun pengalaman, saya jelas masih belum bisa optimal mengembangkan sisi ini. Mungkin ke depannya saya akan mampu untuk mengembangkan profil ini. Akan tetapi, untuk awalan saya sebaiknya segera memulai dengan profil alami saya yang paling kuat.

Setelah menimbang sekian lama, saya seolah mendapati kalau profil alami saya yang paling kuat selama ini adalah di sisi mechanic dan supporter. Profil mechanic adalah profil sosok pembangun dan pengembang sistem, sementara profil supporter ialah profil pengelola dari perusahaan. Pengalaman dan mungkin pendidikan saya saat ini, memang lebih banyak menunjang ke arah sana. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, walau mungkin tidak terlalu saya sadari sebelumnya, semenjak kuliah saya menikmati saat-saat menganalisa dan membangun sistem yang ada. Apalagi, selama masa bekerja sebagai engineer telekomunikasi, selama kurang lebih 1 tahun saya pernah merasakan kesempatan menjadi seorang koordinator team yang notabene berurusan dengan sistem dan pengelolaan proyek.

Begitu mengetahui profil alami saya ini, saya kemudian lebih enjoy untuk berusaha mencari bisnis awalan saya. Memang saya sempat coba berbisnis tas laptop kecil-kecilan, hanya saja saya kemudian memutuskan untuk mencoba bisnis lain yang lebih sesuai dengan profil alami saya.

Alhamdulillah, mungkin bagaikan Law of Attraction, kesempatan itu mendadak seperti terbuka. Saya bertemu kembali dengan seorang teman lama yang saat itu sedang dalam fase membangun bisnisnya. Bisnisnya sendiri sebetulnya sudah berjalan kurang lebih 2 tahunan, telah mampu menghasilkan cash flow yang positif, hanya saja membutuhkan penyegaran untuk bisa melangkah lebih lanjut ke fase selanjutnya. Akhirnya setelah beberapa kali penjajakan, saya pun resmi bergabung dengan bisnis tersebut di paruh kedua 2007. Dan sejak saat itu, Rumah Video mulai dibangun kembali dengan sebuah semangat baru.

Setelah fase ini yang ada ialah tantangan ke depan. Saya tahu bahwa setelah saya memutuskan maka akan ada konsekuensi yang harus saya jalani. Saat ini saya sedang menjalani fase saya sebagai seorang yang berada di dua kuadran, sekaligus masih terdaftar sebagai seorang mahasiswa. Insya Allah saya bertekad untuk bisa melalui semuanya dengan optimal. Konsekuensinya ialah, saya benar-benar harus membenahi time dan mind management saya yang harus saya akui masih belum maksimal dijalani. Berada di komunitas TDA ini membantu saya untuk tetap mampu berpikir positif, bahwa bila kita berusaha Insya Allah akan ada jalan yang terbuka sebagai kompensasi dari usaha kita itu.

Romantika bersama TDA sejauh ini telah mampu membantu saya menemukan potensi saya yang sesungguhnya. Dari sini saya belajar bahwa bisnis sendiri sebetulnya bukan sesuatu yang asing dan kejam. Bahwa bisnis bisa menjadi sebuah wahana untuk saling berbagi kepada sesama. Dari sini saya juga belajar bahwa sebuah pikiran dapat menarik pikiran yang sejenis untuk mendekat kepadanya. Bila kita berpikiran positif maka ia akan didekati oleh orang-orang yang sama berpikiran positif juga. Romantika bersama TDA-lah yang ikut melahirkan blog sederhana ini. Romantika bersama TDA Insya Allah akan ikut membawa Rumah Video melesat lebih kencang di kancah percaturan bisnis di Indonesia. Akhir kata, biar waktu yang bisa menjawabnya.

Showreel Rumah Video

Testimonial tentang Audio Visual



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.