Menjelang perpisahan dengan sang kekasih

Thursday, September 25, 2008


Sebuah renungan di akhir Ramadhan.....

By Abu Aisyah | September 23, 2008

Bismillahirahmaanir rahiim.

Kita ada di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebentar lagi bulan yang mulia ini mulai meninggalkan kita. Kekasih kita yang datang setahun sekali ini akan meninggalkan kita. Namun apa yang bisa kita dapatkan di bulan ini? Dan kita bisa melihat kemajuan yang sangat pesat di masjid-masjid yang ada di kampung, kota-kota dan desa-desa.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” [Q.S Al Baqarah: 183]

Sudahkah kita menjadi orang yang bertaqwa selepas bulan ini? Coba kita lihat lagi ketika di awal bulan ini, orang-orang bersemangat, namun kenapa di akhir-akhirnya hanya sedikit orang yang masih bersemangat? Jawabannya sangat mudah. Setiap manusia tidak memprioritaskan bulan ini. Allah adalah nomor dua bagi mereka. Padahal Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Q.S Adz Dzariyaat: 56 ]

Prioritas utama manusia adalah beribadah kepada Allah. Beribadah artinya mengabdi, menjadi hamba. Secara kasar menjadi budak Allah. Ibadah artinya melakukan apa-apa yang gunanya untuk mendekatkan diri kepada Allah yang diajarkan oleh lisan-lisan para nabi. Di dalam hal ini apa yang telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Sebab beliaulah yang diberikan amanah oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa untuk mengajarkan kepada seluruh umat manusia syari’at Islam.

Saudaraku sesama muslim yang aku muliakan. Sesungguhnya kita ini adalah manusia biasa. Kita bukanlah malaikat. Kita sering berbuat nista, kita sering berbuat salah, berbuat kemungkaran, berbuat maksiat, meremehkan ibadah, meremehkan Allah, tidak bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Kita ini adalah hamba yang dho’if. Hamba yang kurang segala-galanya. Kita adalah Al Faqir. Bahkan mungkin di dalam diri kita tersimpan perasaan nifaq (kemunafikan) yang tanpa kita sadari. Atau bahkan setiap ibadah yang kita lakukan justru mengarah kepada kesyirikan.

Apalah guna mengejar dunia sampai lupa diri, sedangkan nanti di akhirat kita tak mendapatkan surga secuil pun? Apalah guna mengejar gelar Sarjana, Profesor, Doktor, Alim Ulama, tapi kita tidak mendapatkan gelar Al Muttaqin? Apalah guna kita mengejar hidup abadi, namun kita tak bisa menghindar dari adzab Allah? Mari kita renungkan sejenak, langkah demi langkah yang kita lalui.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
artinya: “Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [ Q.S Al Ashr]

Kali ini saya mengajak anda untuk menghisab diri. Melihat di dalam diri sendiri. Berapakah dosa-dosa yang ada di hati. Cobalah direnungi di saat kita bangun tidur, apakah yang pertama kali kita lakukan? Bersyukur atau tidak? Padahal tidur adalah sebuah nikmat. Coba kita renungi lagi ketika kita hendak tidur, apakah kita pernah bersyukur atas apa yang terjadi hari ini?

Ketika kita berdiri menghadap-Nya, melantunkan do’a-do’a dan ayat-ayat Allah. Apakah kita benar-benar merasa bahwa Allah-lah yang ada di hadapan kita? Ataukah hanya kekosongan semata? Pernahkah kita berpikir bahwa “saya sholat untuk Allah, karena Allah ada dihadapanku, sekalipun aku tidak bisa melihat Allah, tapi Allah bisa melihatku”. Pernahkah perasaan ihsan ini ada di dalam diri kita? Kalau dalam 1 bulan shalat di bulan ini kita sama sekali tak bisa menghadirkan Allah dalam shalat kita, maka apakah kita akan yakin bahwa sholat kita diterima oleh-Nya?
Sejenak kita lihat sikap kita terhadap saudara kita sesama muslim. Sudahkah kita meminta ma’af atas apa yang kita lakukan? Sudahkah kita meminta ma’af karena mungkin ada kesalahan kita yang menyakiti hatinya?

Coba kita lihat kaum dhuafa yang bekerja memunguti sampah setiap hari, lihatlah orang-orang yang menyemir sepatu untuk kebutuhan hidup mereka. Lihatlah anak-anak jalanan yang mencari rejeki dengan berjualan koran dan makanan kecil. Adakah kita bertanya di dalam hati, “apakah hari ini mereka telah makan?” Sesekali coba kita lihat di perkampungan kumuh. Kita lihat wajah-wajah mereka yang ceria sekalipun mereka kelaparan. Kita lihat wajah-wajah mereka yang ceria sekalipun bisa saja saat itu juga mereka digusur oleh Pemkot karena mereka dianggap merusak pemandangan.

Tidaklah kita melihat rahmat Allah ada diantara mereka? Dengan membantu mereka, meringankan beban mereka? Apakah hanya pada bulan Ramadhan saja kita ingat mereka? Lalu kemanakah 11 bulan yang lalu diri kita berada? Oh ya, diri kita berada di pasar, diri kita berada di rumah makan enak, diri kita memakai pakaian, diri kita tersenyum, sementara selama 11 bulan mereka menahan lapar, selama 11 bulan mereka menangis, selama 11 bulan mereka tidak berpakaian, apakah hanya di bulan Ramadhan saja kita ingat mereka?

Wahai saudaraku, aku ajak lagi melihat seorang anak yatim. Anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Ditinggal mati oleh sang ayah tercinta. Coba lihatlah diri anda yang mempunyai kedua orang tua! Apakah kedua orang tua anda, anda sia-siakan, ataukah anda hormati? Lihatlah lagi kepada wajah anak-anak yatim, sekalipun mereka tersenyum kepada kita, tapi sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam mereka merindukan ayah mereka, merindukan ibu mereka. Mereka ingin seperti kita, namun apakah kita bisa merasakan mereka? Pikirkan ketika mereka tidak bisa mendapatkan figur seorang ayah yang akan menjadi panutan dia, yang seharusnya mengajarkan ketegasan, yang seharusnya menuntun ia di dunia ini. Lihatlah juga ketika mereka tidak mempunyai seorang ibu, mereka kehilangan kasih sayang ibu yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka iri melihat teman-teman mereka mempunyai ibu, bagaimana dengan diri kita? Apakah kita akan menyia-nyiakan orang-orang tua kita?

Pernahkah kita menghardik anak yatim? Sungguh orang yang menghardik anak yatim adalah orang yang benar-benar mendustakan agama. Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
artinya:“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?Itulah orang yang menghardik anak yatim,” [Q.S Al Maa'uun: 1-2]

Kita melihat lagi dalam masalah bersedekah. Apakah hanya dalam bulan Ramadhan dan hari Jum’at saja kita ingat Allah dengan bersedekah? Apakah hanya dalam Ramadhan saja kita ingat berzakat? Padahal sedekah itu bisa menlindungi kita nanti di hari akhir, menjadi syafa’at kita. Apakah kita sudah aman dari adzab Allah di hari akhir dengan tidak mengeluarkan apa yang kita nafkahkan untuk Allah? Lihatlah diri kita, sehebat apa kita di dunia ini tanpa Allah? Apa prioritas kita di dunia ini?

Apakah kita hanya mengejar kehidupan dunia yang sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya? Lihatlah lagi ke dalam hati kita, apa yang dibutuhkan oleh jasad kita? Apa yang dibutuhkan oleh ruh kita? Kalau kita hanya memikirkan jasad saja maka kita salah, justru ruhlah yang membuat manusia itu mulia di mata Allah dan manusia. Ruh manusia itu harus diberikan siraman-siraman rohani, yaitu siraman-siraman yang bisa membersihkan jiwa, membersihkan hati, sehingga kebutuhan ruh tercukupi dan jasad kita akan lebih baik. Janganlah tertipu dengan kehidupan duniawi yang sementara. Dunia ini fana.

Tengok ke dalam diri, apakah kita takut mati? Coba ingatlah tentang maut! Kita mungkin takut mati karena belum siap terhadap amal-amal kita, namun siap atau tidak kita pasti mati. Karena itu apa yang kita persiapkan sebelum kita mati? Apakah kita mengira kita mati masih lama? Tidak ada yang tahu melainkan hanya Allah semata yang faham kapan kita mati. Lalu apakah kita tenang-tenang saja dalam hidup ini? Santai, leha-leha, sedangkan malaikat mau sudah siap untuk mengambil nyawa kita?

Inilah mungkin Ramadhan terakhir bagi kita, maka apakah sudah kita siapkan bagi kita untuk perjumpaan terakhir ini? Sudahkah kita berikan secara maksimal tenaga yang kita punya untuk beribadah kepada Allah khusus 10 hari terakhir ini? Para shahabat, lihatlah para shahabat ketika ingin berpisah dengan Ramadhan, mereka fokuskan pada saat terakhir-terakhir di bulan Ramadhan ini. Bahkan mereka takut amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa. Kalau orang-orang seperti para shahabat yang dekat dengan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam saja takut amal mereka tidak diterima, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah melebihi para shahabat?

Sesungguhnya banyak kemaksiatan yang kita lakukan, namun kita berbohong kepada diri sendiri dengan mengatakan “sesungguhnya ini adalah dosa kecil”. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu dalam sebuah atsar berkata, “Orang yang beriman itu ketika ia melakukan dosa kecil, maka ia merasa seperti gunung itu akan dijatuhkan kepadanya”. Maka dari itulah Rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam berpesan kepada kita setiap kita melakukan dosa-dosa kecil, langsung kita berbuat baik, agar dosa tersebut dihapuskan oleh Allah.

Yaa Allah, duhai pemilik Arsy yang Agung, aku memuji-Mu dengan pujian yang setinggi-tingginya. Tiada Ilah melainkah Engkau. Sesungguhnya aku adalah hamba dan Engkau adalah Tuhan. Sesungguhnya aku adalah Al Faqir, sedangkan Engkau adalah Al Ghaniyun Hamiid. Tiadalah pemilik antara timur dan barat kecuali Engkau. Engkaulah yang memberikan kami hidup, Engkaulah yang mengajarkan kepada kami Al Qur’an.

Yaa Allah, bulan Ramadhan sebentar lagi akan pergi meninggalkanku, sedangkan aku tidak merasa cukup atas sebulan yang Engkau berikan di bulan Ramadhan ini. Dosa-dosaku ibarat gunung Yaa Allah, dosa-dosaku ibarat lautan, dosa-dosaku ibarat buih di lautan, dosa-dosaku ibarat tujuh bumi. Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang dha’if. Banyak sekali waktuku terbuang sia-sia. Banyak sekali aku melupakan-Mu. Ya Allah, Engkau adalah cahaya, Engkau adalah pemberi petunjuk, maka tunjukillah kepadaku jalan yang lurus. Dan janganlah Engkau sesatkan diriku setelah Engkau berikan kepadaku petunjuk. Yaa Allah, hatiku kotor penuh noda, aku memohon kepada-Mu

Yaa Allah, bersihkan hatiku dengan salju, air, dan air es. Yaa Allah, Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kesulitan yang amat sangat. Setelah Ramadhan lewat ini Yaa Allah, apakah aku masih bisa bersujud lagi kepada-Mu? Ataukah aku akan menjadi makanan tanah? Yaa Allah, apakah aku masih bisa menatap matahari di kala pagi? Ataukah ini adalah Ramadhan terakhirku?

Yaa Allah, terimalah amal-amalku, terimalah puasaku, sholatku dan ibadah-ibadahku. Yaa Allah, aku telah berusaha mencontoh nabi-Mu, mengikuti jejak-jejak rasul-Mu, mengikuti sunnah-sunnahnya. Yaa Allah, kalau amal-amalku ada yang jelek Yaa Allah, maka ampunilah aku. Yaa Allah yang Maha Pema’af, maafkanlah aku dan lindungilah aku dari kejelekan amal-amalku, lindungilah diriku dari kejahatan jiwa. Yaa Rabbi, lindungilah aku dari hatiku yang selalu mengajak kepada kejelekan. Lindungilah diriku yang terkadang tanpa pikir panjang mengikuti kata hatiku yang salah. Yaa Allah, sungguh Engkau Al Ghafuur, Ar Rahmaan dan Ar Rahiim. Ampunilah aku, Rahmatilah aku, dan sayangilah aku.

Yaa Allah, yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku ke dalam jalan agama ini. Dan jangan kau balikkan hatiku kepada kesesatan. Yaa Allah, lindungilah aku Ya Allah dari godaan syetan yang terkututk. Telah Engkau belenggu mereka di bulan ini, namun mereka akan Engkau lepas lagi setelah ini. Sesungguhnya tak kudapat melihat mereka, namun Engkau maha Melihat, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikannya, dari tiupan-tiupannya dan dari segala tipu muslihatnya.

Aku bersimpuh kepada-Mu Yaa Rabb, mungkin ini adalah sujudku yang terakhir, mungkin hari ini adalah hari-hariku yang terakhir, mungkin besok aku akan dimasukkan ke liang lahat, mungkin besok aku akan ditanyai oleh Malaikat penjaga alam kubur. Mungkin besok aku akan diperlihatkan apa yang akan aku dapatkan di akhirat nanti. Mungkin besok aku tidak bisa lagi mendengar adzan, mungkin besok aku tidak bisa lagi melihat apapun selain wajah malaikat maut.

Yaa Allah, ampunilah aku, terimalah amal-amalku, dan jadikanlah aku golongan orang-orang yang bertaqwa.

1 comments:

misbah said...

Jazakallah. Numpang nyambung pembicaraan tentang doa ampunan. Ana nulis artikel tentang mukjizat doa Rasulullah ini. semoga bermanfaat bagi semua pengunjung. http://maqamatcinta.wordpress.com/2009/02/08/ya-allah-hampuskan-dosa-dosaku-dengan-air-salu-dan-salju/

Showreel Rumah Video

Testimonial tentang Audio Visual



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.