Fenomena Just In Time (JIT) di Era Kompetisi

Thursday, April 10, 2008



Setiap pagi, seekor kijang terjaga. Ia tahu ia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat atau ia akan mati. Setiap pagi seekor singa terjaga. Ia tahu ia harus mengejar kijang terlambat atau ia akan mati kelaparan. Tidak peduli kamu seekor singa atau kijang, ketika matahari terbit, kamu harus mulai berlari.

Salah satu pakar manajemen supply chain dan dosen sistem rekayasa di MIT, Yossi Sheffi, pernah mengatakan bahwa membuat barang itu mudah, yang sulit ialah membuat rantai pemasoknya. Dengan semakin mengecilnya batas antar negara, perbedaan kualitas produksi antara produsen satu dengan yang lainnya kini semakin menipis. Dengan kondisi seperti itu, maka perusahaan yang paling efisien dan cepat dalam men-deliver produknyalah yang akan mampu memenangkan persaingan di dunia global saat ini.

Salah satu hal yang urgen untuk diefisiensikan ialah rantai pemasok. Berbicara mengenai rantai pemasok ini, kita dihadapkan pada dua pilihan, pull atau push system. Pull system mengandalkan informasi permintaan dari pelanggan, sementara push system lebih mengandalkan perencanaan secara terpusat. Pull system sendiri saat ini lebih dikenal dengan sebutan metode Just In Time (JIT). Menariknya, penerapan metode JIT dengan tepat dan kreatif, terbukti mampu membawa sebuah perusahaan ke titik terbaiknya. Mari kita lihat beberapa perusahaan yang mampu menerapkan JIT ini dengan baik.


Perusahaan yang pertama ialah Zara. Saya teringat ketika salah satu dosen saya di Prasetiya Mulya menceritakan tentang fenomena Zara, peritel asal Spanyol ini. Zara mengendalikan semua jaringan distribusinya sedemikian rupa sehingga semua jaringan distribusi itu mampu memantau preferensi dari konsumen dan mengirimkan data langsung ke kantor perencanaan pusat. Makanya, Zara selalu mampu untuk menyesuaikan desain pakaiannya dengan mode yang ada di masyarakat.

Contoh simplenya, setelah kejadian 11 September, Zara menyadari bahwa masyarakat sedang berkabung. Makanya dalam beberapa minggu saja mereka segera memenuhi toko mereka dengan barang baru yang didominasi dengan warna hitam. Tentu saja, untuk merealisasikan hal ini, Zara harus menginvestasikan jumlah yang lumayan besar, terutama untuk sistem ITnya, dengan minimal menyediakan PDA untuk setiap distributor yang terkoneksi dengan sistem di kantor pusat. Tapi, ini mutlak harus dilakukan Zara mengingat situasi bisnis yang digelutinya sangat rentan dengan perubahan mode yang sangat cepat.


Contoh yang lebih fenomenal adalah Walmart. Peritel terbesar Amerika ini mampu mengidentifikasi bahwa di kala menjelang badai, orang cenderung minum bir dalam jumlah yang banyak sehingga mereka menyediakan persediaan bir yang lebih banyak dibandingkan dengan hari biasanya. Mereka juga mengetahui bahwa orang lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mudah disimpan dan tidak cepat rusak. Ini sejalan dengan prinsip mereka, yaitu bahwa semakin banyak informasi yang dimiliki semua pihak mengenai apa yang diambil oleh konsumen dari rak, maka semakin efisien juga pembelian dari Wal-Mart, dan semakin cepat pula pemasok beradaptasi dengan permintaan pasar yang berubah-ubah.

Dalam pelaksanaannya, Wal-Mart mengandalkan teknologi yang dikenal dengan sebutan RFID (Radio Frequency Identification Microchips). Intinya, mereka memasang microchips ini menggantikan barcode di setiap kotak barang yang masuk ke mereka. Dengan RFID ini Wal-Mart mampu memantau setiap kotak atau palet pada setiap tahap dalam rantai pemasok dan mengetahui secara persis produk apa, dari pabrikan mana yang ada dalam kotak, kapan kadaluarsanya, kapan diterimanya dan kapan terjualnya. Dengannya, Wal-Mart mampu mengetahui toko mana yang dapat menjual sabun lebih banyak di hari Kamis, dan toko mana di hari Senin, serta mengetahui mengapa orang Amerika Latin lebih suka berbelanja di Sabtu malam dibandingkan hari Senin.

Dengan metode JIT ini, Wal-Mart mampu menekan biaya pengadaan barang bagi peritel maupun pemasok. Diperkirakan biayanya mampu ditekan hingga mencapai 5 sampai 10 persen lebih rendah dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya. Kuncinya, hanyalah dengan mengetahui trend yang ada di konsumen, lebih cepat dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya.

Metode JIT sendiri di awal kemunculannya tergolong sebagai metode yang radikal. Pertimbangan paling utama, metode ini terkesan seperti hanya menunggu bola saja. Bila ada pesanan, maka barang akan diproduksi. Bagaimana bila terjadi penumpukan pesanan di suatu waktu. Akan mampukah metode JIT ini mengantisipasinya?

Pertanyaan seperti inilah yang coba dijawab oleh Zara dan Wal Mart. Alih-alih hanya menunggu bola saja, mereka sebelumnya sudah mencoba memprediksi kapan sajakah bola itu akan datang, dari arah mana dan dengan kecepatan seperti apa.

Zara sukses memprediksi arah kedatangan bola, karena mampu memprediksi trend yang akan muncul dari sisi konsumen. Bisnis fashion, yang harus senantiasa mengikuti aliran trend, sementara di sisi lain tetap harus mengontrol jumlah produksinya dalam setiap trend agar tidak menyisakan banyak produk yang ketinggalan trend, terbukti cocok disandingkan dengan sistem JIT ini.

Sementara itu, Wal Mart lebih canggih lagi. Mereka bisa mengetahui kapan bola itu akan datang, yaitu dengan memprediksi keterkaitan kondisi yang dialami konsumen dengan kebutuhan konsumen itu. Tengok data forecasting yang dibuatnya berdasarkan pola pembelian konsumen di seluruh cabangnya.

Kesimpulannya, metode JIT dengan penggunaan yang tepat terbukti mampu menciptakan perusahaan dengan tingkat kompetitif yang tinggi. Dan di saat artikel ini ditulis, satu perusahaan lagi, juga telah mampu menerapkan JIT ini dengan optimal. Ketika pesanan diterima, maka microprocessor akan mulai didatangkan dari pabrk Intel di Filipina, memory berasal dari pabrik Samsung Korea, kartu grafis dikirim oleh MSI Taiwan, motherboard dari Korea, dan perangkat-perangkat lainnya serentak dikirimkan dari berbagai negara. Tetap khas JIT, minimalisasi inventory. Perusahaan itu bernama Dell.

1 comments:

Ryzanti said...

maksih banyak.. sangat membantu waktu mencari artikel JIT.. susah sih nyarinya

Showreel Rumah Video

Testimonial tentang Audio Visual



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.