Romantika bersama TDA

Sunday, January 20, 2008



”Bud, kalo lo benar-benar tertarik belajar bisnis, ada satu tempat dimana lo bisa dapetin apa yang lo mau.”

”Wah, apa tuh Mar?boleh juga kalo OK.”

”Coba ini. Namanya Tangan Di Atas. Dijamin lo ga akan nyesel.”

”Tangan Di Atas? Apaan tuh??”

Demikian kira-kira percakapan saya dan sahabat saya, Mario Hendracia, saat kami tidak sengaja berjumpa di sebuah seminar yang dibawakan oleh Tung Desem Waringin, kira-kira di semester terakhir 2006. Saya sudah lama tidak berjumpa dengan teman saya ini, semenjak saya lulus kuliah di bulan Maret 2005. Dan cukup mengejutkan ketika Ia ternyata telah cukup lama intens dengan komunitas-komunitas bisnis, yang saya sama sekali tidak pernah mendengar namanya sebelumnya.

Romantisme, demikian saya menyebut tulisan saya saat ini. Saya ingin kembali mengenang masa-masa awal saya bergabung dengan TDA, sebuah komunitas yang saya hormati dan kagumi. Hormat, karena ia berisikan orang-orang mumpuni yang telah teruji kredibilitas dan kapabilitasnya dalam dunia bisnis. Juga hormat, karena ia berisikan orang-orang tangguh yang dengan gigih terus berjuang mendobrak barrier penghalang ke dunia yang mungkin sebelumnya terasa asing bagi mereka, yaitu dunia bisnis. Kagum, karena sesuai dengan namanya, Tangan di Atas, ia berasal dari sebuah ketulusan untuk berbagi dan memberi kepada orang lain, tanpa memikirkan pamrih yang berlebih. Sebuah ketulusan yang unik, karena ia berasal dari sebuah dunia yang selama ini dianggap sebagai sebuah dunia yang kejam, yakni dunia bisnis.

Terus terang sebelumnya saya tidak merasa memiliki bakat bisnis yang kuat. Keluarga saya bukanlah keluarga yang hidup dari bisnis. Ayah saya seorang PNS di Deptan, sementara ibu saya adalah seorang dokter gigi, yang juga merangkap sebagai PNS di Depkes. Sejak kecil, saya akrab dengan dunia birokrasi yang dijalani oleh ayah saya, terutama dikarenakan tempat tinggal saya yang berada tidak jauh dari lokasi pekerjaan ayah saya. Saya terbiasa melihat sebuah kantor nyaman, dimana orang lalu lalang di dalamnya, dengan mengenakan pakaian yang seragam. Benar-benar khas pegawai pemerintahan.

Pun pula ketika saya menjalani perkuliahan di Elektro UI. Ketimbang melakoni bisnis sebagai sampingan di luar perkuliahan, saya lebih tertarik menghabiskan waktu di dunia kemahasiswaan dan dunia iptek. Saya lebih enjoy mengikuti kegiatan dan kepengurusan lembaga mahasiswa dan laboratorium yang ada di kampus. Sama sekali tidak terpikirkan untuk mencicipi dunia yang saya pandang asing, yaitu bisnis. Pertimbangan saya yang paling utama saat itu, dunia bisnis terlalu penuh dengan pamrih dan begitu materialistik. Apa-apa hanya dinilai dengan uang.

Ketika perkuliahan usai di 2005, terus terang saya sempat mengalami kegamangan. Mau kemana saya setelahnya. Saya sempat bergabung di organisasi alumni UI untuk menjadi sukarelawan di Aceh. Saya bahkan sempat bergabung dengan teman-teman saya dari fakultas dan kampus lain menjadi konsultan di salah satu perusahaan percetakan di Jakarta. Wah, berarti kalau begitu berarti saya langsung terjun ke dunia bisnis donk...

Sayang sekali hal itu mungkin tidak tepat 100%. Saya tertarik bergabung di sana tempo hari karena saya memang senang mengutak-atik sistem. Background saya di lembaga kemahasiswaan memang lebih banyak berkutat pada masalah sistem, mulai dari iptek hingga sistem kaderisasi mahasiswa. Karena itulah saya begitu enjoy menikmati saat-saat dimana saya diberi kesempatan untuk melihat secara detail sistem yang ada di perusahaan tersebut dan juga diberi kesempatan untuk memberikan rekomendasi.

Yah, bulan madu itu pun segera harus berakhir. Saya kemudian memutuskan untuk memulai petualangan saya mengaplikasikan ilmu yang saya dapat di perkuliahan dengan bergabung di sebuah perusahaan telekomunikasi. Setelah sempat merasakan menjadi seorang kutu loncat dengan berpindah perusahaan, saya mulai merasakan adanya penurunan motivasi di dalam pekerjaan sehari-hari. Karena itulah, akhirnya saya iseng mendaftarkan diri di salah satu seminar Tung Desem Waringin.

Akhirnya, seperti yang telah diceritakan di atas, di momen itulah akhirnya saya bertemu dengan sahabat lama saya itu. Dan itu akhirnya menjadi awal dari bergabungnya saya di komunitas Tangan Di Atas. Sebuah awal yang menjadi awal dari beberapa cerita lain.

Dimulai dari bergabungnya saya di milis TDA, perlahan-lahan saya mulai menjelajah blog kepunyaan anggota-anggota TDA. Bukan blog sembarangan, karena ia adalah blog yang diawali dengan semangat dan niatan yang tulus untuk membagi ilmu dan motivasi positif yang mereka miliki.

Blog yang awal saya kunjungi pastinya ialah blognya Pak Badroni Yuzirman. Melihat blog founder dari TDA ini terus terang saya tertegun. Tertegun melihat begitu lancar dan renyahnya masalah-masalah bisnis dikupas dengan bahasa sehari-hari. Tak ada unsur menghakimi, dan begitu memprovokasi pembacanya untuk terjun langsung ke dunia bisnis dengan cara yang sangat halus. Taglinenya simple, “Words can inspire, Thoughts can provoke, but only ”inspired action” brings you closer to your dreams. Take Inspired Action Miracle Happen, No Inspired action nothing happen.”

Kemudian pelan tapi pasti blog yang lain pun mulai menjadi santapan harian. Salah satunya ialah blognya Pak Iim Rusyamsi. Blog ini saya anggap sangat menarik karena yang empunya berasal dari dunia yang tidak jauh berbeda dari saya. Beliau berasal dari dunia IT, sementara saya pun saat ini sedang berada di dunia telekomunikasi. Pengembaraan pun berlanjut hingga ke blognya Pak Hadi Kuntoro. Blognya penuh dengan energi provokasi yang positif, dan tetap lincah bertutur dengan hangat. Lantas, dari sanalah saya mulai paham pula sosok-sosok seperti Pak Eko Junaedi, Bu Yulia Astuti, Bu Doris Nasution, hingga terus berlanjut sampai menemukan pula sosok-sosok seperti Pak Wuryanano, Pak Asep Triono, Pak Imansyah Sutrisno, Pak Faif Yusuf, juga senior dan abang saya di kampus, Bang Azmi, serta blog-blog lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Intinya, keseluruhan blog di atas benar-benar membawa dunia bisnis keluar dari keterasingannya. Saya yang bisa dikatakan buta tentang dunia ini, menjadi terbuka matanya lebar-lebar akan begitu banyak hal yang bisa dilakukan di dunia ini. Dunia ini mendadak tidak lagi terasa asing bagi saya, dan terasa begitu mengasyikkan untuk dicoba.

Saya ingat saat itu langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu bisnis seperti apa yang ingin saya jalankan. Saya sempat terbersit untuk mengambil bisnis makanan, akan tetapi masih belum mendapati lokasi yang cocok untuk berusaha. Bisnis pakaian, terus terang saya bukan seorang yang terlalu memperhatikan detail pakaian, sehingga tidak terlalu enjoy menjalaninya.

Di tengah kebingungan itu, suatu waktu saya melihat ada peluang untuk membangun bisnis apotik di dekat rumah. Kebetulan ada ruko yang baru dibangun dan saya berpikir lokasinya sangat strategis. Langsunglah saya dengan semangat 45 mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut akan bisnis ini di milis TDA. Dan ternyata memang nuansa saling berbagi begitu kental terasa di sini. Email saya yang sederhana dan langsung to the point tanpa perkenalan panjang lebar, ternyata langsung mendapatkan beberapa tanggapan. Salah satu yang paling saya hargai ialah tanggapan dari Pak Imansyah Sutrisno, yang beberapa kali dengan sukarela menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tergolong awam. Sayang sekali, di akhir kemudian saya harus memutuskan untuk meng-cancel dahulu niatan saya ini. Salah satu sebabnya, ialah saya masih belum menemukan partner yang cocok untuk bermitra, sementara modal awal yang harus dikeluarkan sendiri cukup besar, setidaknya untuk ukuran saya.

Pasca ikhtiar pencarian jatidiri bisnis ini, saya sempat vakum beberapa lama dari aktivitas di dunia ini. Kebetulan saja saya sedang disibukkan dengan urusan melanjutkan sekolah. Yah, sebetulnya niatan untuk melanjutkan sekolah ini telah ada semenjak saya menjadi konsultan di perusahaan percetakan dahulu. Keasyikan yang saya alami selama mengerjakan aktivitas tersebut membuat saya berniat suatu saat akan melanjutkan kuliah di dunia manajemen, dan bukan lagi di dunia teknikal. Kebetulan sekali saat itu waktunya bertepatan dengan 2 tahun saya mulai bekerja, yang menjadi prasyarat bagi kebanyakan Program Studi S2-Manajemen.

Sempat berapa lama vakum mencari bisnis yang cocok, akhirnya saya memutuskan untuk mulai menghadiri aktivitas offline dengan komunitas TDA. Dimulai dari seminar Luck Factor-nya Ahmad Faiz Zainuddin di medio Maret 2007, dan kemudian dilanjutkan dengan seminar Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu dan seminar property-nya James Sastrowijoyo. Benang merahnya sama, dari luar seminar-seminar tersebut tampak sederhana, akan tetapi muatan yang ada di dalamnya sangatlah menyentuh hati. Kembali rasanya begitu gatal untuk mulai terjun berbisnis.

Sekian lama mencari, akhirnya pencerahan datang juga di momen TDA Business Conference bersama Pak Roni. Tema yang dibawakan pada waktu itu ialah tentang 8 profil bisnis, yang dikembangkan oleh Roger Hamilton. Disebutkan bahwa ada 8 tipe profil alami yang bisa dikembangkan untuk membangun bisnis kita, yaitu creator, star, supporter, deal maker, trader, accumulator, lord dan mechanic. Dari sana saya seolah mendapati kalau selama ini saya mencoba untuk memaksakan diri masuk ke jalur yang seolah bukan keahlian dari saya.

Yah, saya selama ini terlalu memaksakan diri untuk langsung masuk ke jalur creator, yaitu dengan membangun sebuah bisnis baru dari awal. Padahal, dari sisi kemampuan maupun pengalaman, saya jelas masih belum bisa optimal mengembangkan sisi ini. Mungkin ke depannya saya akan mampu untuk mengembangkan profil ini. Akan tetapi, untuk awalan saya sebaiknya segera memulai dengan profil alami saya yang paling kuat.

Setelah menimbang sekian lama, saya seolah mendapati kalau profil alami saya yang paling kuat selama ini adalah di sisi mechanic dan supporter. Profil mechanic adalah profil sosok pembangun dan pengembang sistem, sementara profil supporter ialah profil pengelola dari perusahaan. Pengalaman dan mungkin pendidikan saya saat ini, memang lebih banyak menunjang ke arah sana. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, walau mungkin tidak terlalu saya sadari sebelumnya, semenjak kuliah saya menikmati saat-saat menganalisa dan membangun sistem yang ada. Apalagi, selama masa bekerja sebagai engineer telekomunikasi, selama kurang lebih 1 tahun saya pernah merasakan kesempatan menjadi seorang koordinator team yang notabene berurusan dengan sistem dan pengelolaan proyek.

Begitu mengetahui profil alami saya ini, saya kemudian lebih enjoy untuk berusaha mencari bisnis awalan saya. Memang saya sempat coba berbisnis tas laptop kecil-kecilan, hanya saja saya kemudian memutuskan untuk mencoba bisnis lain yang lebih sesuai dengan profil alami saya.

Alhamdulillah, mungkin bagaikan Law of Attraction, kesempatan itu mendadak seperti terbuka. Saya bertemu kembali dengan seorang teman lama yang saat itu sedang dalam fase membangun bisnisnya. Bisnisnya sendiri sebetulnya sudah berjalan kurang lebih 2 tahunan, telah mampu menghasilkan cash flow yang positif, hanya saja membutuhkan penyegaran untuk bisa melangkah lebih lanjut ke fase selanjutnya. Akhirnya setelah beberapa kali penjajakan, saya pun resmi bergabung dengan bisnis tersebut di paruh kedua 2007. Dan sejak saat itu, Rumah Video mulai dibangun kembali dengan sebuah semangat baru.

Setelah fase ini yang ada ialah tantangan ke depan. Saya tahu bahwa setelah saya memutuskan maka akan ada konsekuensi yang harus saya jalani. Saat ini saya sedang menjalani fase saya sebagai seorang yang berada di dua kuadran, sekaligus masih terdaftar sebagai seorang mahasiswa. Insya Allah saya bertekad untuk bisa melalui semuanya dengan optimal. Konsekuensinya ialah, saya benar-benar harus membenahi time dan mind management saya yang harus saya akui masih belum maksimal dijalani. Berada di komunitas TDA ini membantu saya untuk tetap mampu berpikir positif, bahwa bila kita berusaha Insya Allah akan ada jalan yang terbuka sebagai kompensasi dari usaha kita itu.

Romantika bersama TDA sejauh ini telah mampu membantu saya menemukan potensi saya yang sesungguhnya. Dari sini saya belajar bahwa bisnis sendiri sebetulnya bukan sesuatu yang asing dan kejam. Bahwa bisnis bisa menjadi sebuah wahana untuk saling berbagi kepada sesama. Dari sini saya juga belajar bahwa sebuah pikiran dapat menarik pikiran yang sejenis untuk mendekat kepadanya. Bila kita berpikiran positif maka ia akan didekati oleh orang-orang yang sama berpikiran positif juga. Romantika bersama TDA-lah yang ikut melahirkan blog sederhana ini. Romantika bersama TDA Insya Allah akan ikut membawa Rumah Video melesat lebih kencang di kancah percaturan bisnis di Indonesia. Akhir kata, biar waktu yang bisa menjawabnya.

1 comments:

IMocha Butuh Java Programmer said...

Sangat Serius dan Sangat Mendesak:

Dicari 10-15 Programmer Java dengan berbagai Level Keahlian untuk bekerja di PT Imocha (www.imocha.com.my). Suatu perusahaan Teknologi Informasi Malaysia. Kandidat yang diterima akan bekerja di BOGOR, JAWA BARAT (Tepatnya di Jalan Pajajaran Bogor). Perusahaan Imocha Malaysia membuka cabang unit produknya di BOGOR.

Tanggung Jawab Umum:

Koding dalam Java menjadi tugas sehari-hari. Area Pengembangan mencakup Teknologi Cutting-Edge seperti: JEE5, GlassFish, Struts2, Teknologi JAX, Apache Service MIx (ESB) dll.
Berpartisipasi dalam pendesainan kebutuhan fungsi dan kebutuhan teknis.
Memberikan ide-ide cemerlang pada tim.
Dapat bekerja dalam deadline yang ketat namun tetap memelihara kualitas software.

Tanggung Jawab Programmer Senior (Gaji Rp 6jt+Medical+Jamsostek):
Memimpin satu atau lebih proyek atau produk pengembangan software.
Bekerja dengan Manajer Produk untuk memastikan semua keperluan dan persyaratan pengembangan terpenuhi.
Secara terus menerus melakukan penelitian dan evaluasi terhadap teknologi yang akan membawa perubahan di masa depan pada bidang software.
Membuat keputusan terbaik dengan pendekatan teknik untuk kebutuhan pelanggan/bisnis dengan mempertimbangkan sisi performa, realibilitas dan skalabilitas.
Tanggung Jawab Programmer Intermediate (Gaji Rp 4,5jt+Jamsostek+Medical):

Mengembangkan produk perangkat lunak dengan 1 atau lebih programmer di dalam tim.
Bisa membuat aplikasi dari scratch atau dari aplikasi yang sudah ada.
Melakukan diagnosa pada koding dan memberikan bantuan teknis dibidang pemrograman pada tim pendukung pada saat aplikasi harus LIVE.
Tanggung Jawab Programmer FreshGraduate (Gaji Rp 3jt+Jamsostek+Medical):

Dengan modal penguasaan OOP, dapat belajar secara cepat dan mandiri mengenai teknologi yang dipakai oleh perusahaan.
Terus menerus melakukan pembelajaran diri.
Mengembangkan produk perangkat lunak dengan 1 atau lebih programmer di dalam tim.
Bisa membuat aplikasi dari scratch atau dari aplikasi yang sudah ada.
Persyaratan(HARUS):
Berbakat dan Memiliki hasrat pada dunia pengembangan perangkat lunak
Fast Learner & Self Starter
Berpengalamn 3-4 tahun dalam pengkodean Java berskala enterprises (posisi senior programmer).
Memahami framework J2EE (khususnya Struts 2), layar persistence (JPA/Hibernate), teknologi SOAP, webservice, GlassFish dan MAVEN.
Bisa berbahasa Inggris minimal pasif.
Nilai Tambah:

Memahami teknologi cutting-edge seperti : JEE5, EJB3, Apache CXF, Service Mix dan Spring.
Paham Oracle.

Peserta yang berminat harap mengirimkan CV via email ke: andriyana.the.mefax@gmail.com sebelum tanggal 13 Maret. Peserta bersedia bekerja di Bogor!!!! atau kontak HP: Andriyana 0859 2052 1972

Showreel Rumah Video

Testimonial tentang Audio Visual



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.