
Berpikir dan berpikir lagi...sebentar lagi 2009 akan terlampaui..dan sedikit corat coret (en curhat mungkin) sebelum evaluasi nantinya secara menyeluruh untuk kinerja Rumah Video di tahun 2009 kemarin.
Prestasi :
1) Konsisten dalam branding Rumah Video dan KitPro Indonesia via web (rumahvideo.com dan kitproindonesia.com). Rumah Video lebih ditujukan untuk lini produk video dokumentasi dan foto untuk segmen individu dan perusahaan, sementara KitPro lebih ditujukan untuk lini produk video profile untuk segmen corporate. Paling tidak sudah ada beberapa order yang masuk via web tersebut.
2) Dibandingkan tahun sebelumnya, sales dilakukan secara lebih intensif ke perusahaan-perusahaan yang ada di Jakarta. Ada pergiliran untuk jenis perusahaan yang dikunjungi, satu waktu ke perusahaan outbound, lalu ke lembaga training, kampus, hotel, sekolah, perusahaan obat, dsb.
3) Selain inovasi selling di segmen corporate, inovasi dilakukan untuk segmen individu dengan mendirikan konsep gerai pada pertengahan tahun. Dengan fixed cost yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya, konsep gerai ditujukan untuk memperbesar potensi pendapatan dari segmen individu yang sebelumnya kurang tergarap. Alhamdulillah, tingkat sales-nya cukup membantu kemarin, dengan peningkatan sales yang signifikan terutama untuk lini produk transferan, editan dan dokumentasi. Beberapa selling terbukti membantu signifikan, seperti orderan transferan hingga ratusan kaset dari sebuah sekolah swasta ternama di Jakarta, dan lainnya.
Evaluasi :
1) Secara umum, efek krisis 2008 kemarin memang membuat perusahaan banyak memotong atau menunda budget audio visualnya. Progress sales ke corporate secara umum berlangsung stagnan tahun kemarin. Alhamdulillah masih banyak tertolong oleh klien lama yang masih rutin mempercayakan dokumentasi rutinnya kepada kami, dan juga tertolong oleh peningkatan sales di segmen individu. Ke depannya sejalan dengan prospek ekonomi yang lebih optimis di 2010, Insya Allah semoga berdampak positif pada peningkatan sales di segmen corporate ini.
2) Jor-joran budget ekspansi usaha di awal tahun dalam bentuk peningkatan biaya marketing dan penambahan SDM ternyata tidak langsung berdampak pada peningkatan sales, terutama di level corporate. Proses penanaman kepercayaan dan juga market education di level corporate membutuhkan waktu dan upaya yang konsisten, sehingga efisiensi dalam pemanfaatan budget perlu dilakukan untuk bisa melewati proses "maraton" tersebut. Ke depannya perlu budget planning yang lebih ketat dan bijak.
3) Good in planning, but need improvement in execution. Proyeksi keuangan yang sudah dibuat secara rapi di awal dan tengah tahun kurang diterapkan secara disiplin di lapangan. Memang kondisi menghendaki banyak improvisasi ketika tahun berjalan, hanya saja ke depannya, keseimbangan antara planning dan eksekusi perlu lebih diperhatikan lagi. Selain itu, kerapihan pelaporan keuangan ke depan perlu diperbaiki.
Evaluasi besarnya, target sales dan laba 2009 tidak tercapai. Targetnya memang ambisius kala itu, dengan asumsi optimis pertumbuhan omset sampai 10x-nya.
Semoga raker tahunan ke depan bisa memutuskan langkah-langkah strategis untuk tahun ke depan...banyak PR ternyata untuk 2010...
Bicara optimis, kita berharap kondisi corporate lebih baik tahun depan, jadi alokasi budget untuk audio visual bisa bertambah, dan semoga masih ada cukup "kue" untuk kita. Kondisi pasar individu, pertumbuhan camcoder digital tahun ini sebesar 25%, menjadi sekitar 120rb unit. Dengan berbasis data yang ada bahwa pasar camcoder 60% terpusat di Jakarta, ada sekitar 72rb unit yang terjual tahun ini. Asumsi kasar, paling tidak ada 400-500ribuan pemilik camcoder di Jakarta saat ini. Untuk pasar ini, transfer dan editan diharapkan bisa menjadi andalan. Market education perlu terus dilakukan agar awareness pemilik camcoder akan urgensi kualitas rekaman audio visual momen-momen berharga mereka bisa terus meningkat.
Hopefully, 2010 will be interesting and successfull year...:)
Evaluasi Akhir Tahun Rumah Video & KitPro Indonesia
Monday, December 28, 2009
Posted by
Budi Setiawan
at
8:33 AM
0
comments
Labels: Bisnis, Kit Pro Indonesia, Rumah Video
Mengabadikan Video Dokumentasi
Wednesday, October 08, 2008

Pembuatan Video dokumentasi dapat dilakukan siapa saja, bahkan oleh seorang bocah sekalipun. Perekaman yang dilakukan oleh seorang anak bocah telah menggambarkan suatu kejadian nyata saat itu dan menjadi saksi mata sampai kapan pun.
Pertanyaannya adalah apakah yang didokumentasikan bocah itu memiliki nilai bahkan nilai lebih dan mengesankan? Untuk itu ada beberapa hal yang perlu ditinjau dan diperhatikan. Sebelumnya kita bicara sedikit ttg konsep dokumenter.
Dalam pembuatan konsep video dokumentasi tidak kalah pentingnya dari konsep cerita. Mulai dari mendramatisasi alur cerita, berusaha menceritakannya dengan kuat, kadang- kadang alur cerita yang memiliki awal, tengah dan akhir dengan kejutan- kejutan dalam cerita, peningkatan ketegangan dan juga alur/penuturan yang berliku-liku (penuh dgn hambatan) yang membuat penonton untuk tetap fokus dan terbawa dalam suasana cerita/ alur.
Ada sebuah pakem untuk saat ini dimana dalam "Dokumenter film" si pembuat tidak dapat mengembangkan karakter dan alur cerita (merekayasa alur cerita). Walaupun ada, itu hanya sebagai pelengkap dan tidak melebihi dari intervensi karakter. Contoh : menggambarkan suasana desa seorang perampok yang dicintai masyarakatnya (merampok untuk dibagi- bagikan hasil rampokannya pada orang miskin). Scene awal dibuka dengan shot- shot established desa dan rumah si perampok dengan anak-anak yang bermain di depan rumahnya dengan riang gembira (anak-anak direkayasa diadakan mask dalam frame untuk bermain). Disana diceritakan bahwa desa tersebut tidak ada masalah dengan si orang ini (perampok).
Bagaimana dengan video dokumentasi Event? Tidak ada bedanya. Video dokumentasi event juga perlu kita treatment agar mendapatkan kesan dan dokumentasi yang padat, memiliki added value sehingga penonton tetap fokus dan menikmati tontonan tsb.Membuat sebuah video dokumentasi tidaklah sulit.
Kita mencoba belajar untuk memahami apa yang harus dilakukan dalam proses pengambilan gambar maupun proses editing. Pembuat video dokumentasi amatir bukanlah seorang pemula. Perbedaannya adalah pembuat video dokumentasi amatir mengindahkan kaidah-kaidah konsep pembuatan video dokumentasi yang baik. Pembuat video dokumentasi pemula, bisa jadi hasilnya amatiran tapi juga bisa terlihat professional. Buat kita bila gambar yang dihasilkan dapat dinikmati dengan enak (teknik ambil gambar), kontennya bisa dinikmati (konsep dokumentasi), berkesan (add value, keterlibatan secara emosional), video dokuemntasi tersebut memiliki nilai lebih buat kita atau klien kita.
Selamat membuat video dokumentasi yang penuh kesan.
Diambil dari http://rumahvideo.com
Posted by
Budi Setiawan
at
4:27 AM
0
comments
Labels: Rumah Video, Video Dokumentasi
Enjoy our new website
Thursday, September 25, 2008
Make it simple...itu yang menjadi tujuan dari tim website Rumah Video ktika diminta untuk merombak website tempat etalase kami itu...
Dan Alhamdulillah, di penghujung Ramadhan ini hasilnya...very straight to the point website, and cool frens....:)
Please enjoy our new website, http://rumahvideo.com
Posted by
Budi Setiawan
at
3:19 AM
0
comments
Labels: Rumah Video
Rumah Video hadir di Pameran International Franchise
Friday, June 20, 2008
Pameran Internasional Franchise, License and Business Concept.
Inilah tajuk acara akbar tahunan franchise nasional.
Bertempat di JCC (Jakarta Convention Centre) Senayan, hari ini sampai tanggal 22 Juni 2008 momen ini akan dilangsungkan.
Alhamdulillah pada kesempatan ini, Rumah Video berkesempatan untuk ikut serta meramaikan pergelaran ini.
Awalnya sempat tidak yakin untuk ikut serta. Makanya ketika ada tawaran dari TDA untuk mendapatkan stand gratis, kami belum berencana untuk mengambilnya.
Akan tetapi, aliran cerita akhirnya berkata lain. Via jalur lain yg tidak jauh berbeda akhirnya kami membulatkan tekad untuk ikut serta di momen ini. Doakan semoga kami bisa memberikan yang terbaik. Amin.
Posted by
Budi Setiawan
at
2:53 AM
2
comments
Labels: Rumah Video
“ MEMBANGUN KOMUNITAS BERKARYA “
Thursday, June 19, 2008

Oleh : Acep Hidayat, Rumah Video, Senior Editor
*Sebagaimana dimuat di Media Indonesia, 4 Juni 2008
http://www.rumahvideo.com/pages/posts/ldquo-membangun-komunitas- berkarya-ldquo169.php
Keinginan mengapresiasi diri dan berkarya adalah dambaan semua orang muda. Karena itu, kita punya potensi besar untuk bangkit melawan keterpurukan di negeri ini. Kenyataannya tak semua orang muda mudah melakukannya. Keterbatasan pendidikan, fasilitas, sarana dan jejaring membuat potensi dan bakat mereka terbengkalai. Tak mengherankan, ada sebagian kawan yang lalu menjadi manusia tidak produktif alias pengangguran. Padahal, bekerja adalah wujud eksistensi diri di tengah masyarakat.
Keprihatinan tersebut tak hanya cukup diungkapkan dengan kata, namun membutuhkan gerak konkret. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai saat ini adalah slogan yang sangat relevan untuk dilakukan.
Teman-teman di Rumah Video tergerak untuk membangkitkan semangat berkarya di tengah orang muda. Berbekal pengalaman berkarya di bidang media audio-visual, eksistensi dan lapangan kerja yang telah kami buka buat sebagian kawan-kawan terdekat, kami mencoba melakukan program lokakarya audio visual. Sasarannya, kawan-kawan muda yang ada di dalam kampus maupun luar institusi kampus. Lokakarya dilakukan berjenjang dan diberikan kepada kawan-kawan muda yang ingin belajar media audio -visual. Mulai dari pelatihan kameraman, pengeditan, dan tema-tema seputar media audio visual lainnya.
Lokakarya ini gratis, namun hanya diberikan terbatas kepada kawan-kawan muda yang memiliki antusiasme belajar yang tinggi walaupun belum mempunyai kemampuan teknis sama sekali. Pelatihan dilakukan dengan praktik langsung di lapangan. Harapannya, peserta lokakarya tak saja mahir dalam hal-hal teknis, tapi juga memiliki inovasi sehingga diharapkan kelak bisa menjadi trendsetter, bukan pengikut atau latah. Tak kalah pentingnya, mampu membaca peluang dalam bisnis ini. Yup, menjaga idealisme sembari menghasilkan pendapatan, minimal buat diri mereka sendiri.
Buat kami, lokakarya ini jadi ajang menjalin pertemanan juga sumber inspirasi, membagi pengalaman, dan membuka peluang bisnis, khususnya di bidang media audio-visual. Menjadi manusia bermanfaat cita-cita ideal kami di Rumah Video, dan ternyata melakukannya tidaklah sesulit yang dibayangkan.
Tanggapan positif dari peserta lokakarya agar kegiatan ini dibuat berkala memberikan semangat tersendiri bagi kami. Jadi dengan kemauan, kerja keras, dan tekad untuk jadi manusia yang mau berubah lebih baik, harapan ini akan jadi kenyataan. Semoga langkah kecil komunitas ini akan jadi langkah besar ketika orang-orang muda bangkit untuk berkarya dengan segala potensi yang mereka miliki.
Pemuda bangkit, 100 tahun kebangkitan Indonesia bukanlah mimpi, dan akan jadi kenyataan.
Posted by
Budi Setiawan
at
5:01 AM
0
comments
Labels: film, Rumah Video
Menciptakan Peluang Usaha Audio Visual

Oleh : Muhammad Taufik Hanas, Rumah Video, CEO
*Sebagaimana dimuat di Media Indonesia, 4 Juni 2008
http://www.rumahvideo.com/pages/posts/menciptakan- peluang-usaha-audio-visual168.php
RUMAH VIDEO bukanlah tempat peminjaman kaset atau DVD. Banyak orang yang salah kaprah dengan nama kami. Rumah Video adalah rumah yang memberikan kesempatan pada generasi muda yang tertarik pada dunia audio-visual untuk bisa menggali ilmu dari tempat ini.
Keinginan yang sangat besar dari sekelompok mahasiswa untuk membuat usaha di bidang audio visual yang awalnya kami merasa bisa melangkah di bidang ini.
Komunitas ini terbentuk pada 1 Januari 2005, dibentuk Muhammad Taufik Hanas dan Acep Hidayat. Bertepatan dengan malam tahun baru, kami membuat langkah maju untuk membangun semangat, prestasi dan penghasilan. Gerakan konkret kami untuk memulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan mulai saat ini adalah slogan yang membawa kami untuk membangun komunitas Rumah Video. Kami tergerak untuk membangkitkan semangat berkarya ini di tengah orang muda.
Kami memosisikan komunitas kami dalam bidang media audio visual yang profesional dan terkemuka di Jakarta. Dengan banyaknya generasi muda sekarang yang mulai unjuk kreativitas mereka dalam bidang audio visual, komunitas ini dibentuk sebagai wadah yang menyediakan pelatihan media audio visual yang berkualitas, menarik dan bernilai, memberikan nilai ekonomis bagi anggota dengan memberikan peluang usaha secara mandiri pada bidang media audio visual.
Kami pun tidak ingin menjadi benalu. Karena itu, dengan berbekal pengalaman berkarya dalam bidang media audio visual, kami pun merintis komunitas ini hingga bisa bermanfaat untuk mereka yang peduli dan tertarik dengan audio visual dan telah membuktikan mampu exist di dunia ini. Keberadaan bukanlah semata-mata harapan kami. Dengan wadah ini, kami inginkan anggota komunitas bisa mengaplikasikan ilmu mereka dan membuka lapangan kerja bagi sebagian kawan-kawan terdekat.
Kegiatan komunitas Rumah Video pun semua didasari keinginan berbagi ilmu dengan semua pihak. Karena itu, kami mencoba untuk melakukan program lokakarya audio visual yang ditujukan bagi kawan-kawan muda yang ada di kampus ataupun kawan-kawan muda lain yang ada di Jakarta.
Anggota kami pun tidak hanya dari mahasiswa, semua orang yang menyukai dunia audio visual bisa bergabung dengan komunitas kami. Karena semua harus dimodali dengan ketertarikan agar mereka bisa lebih cepat memahami dan mengerti apa yang diajarkan di Rumah Video.
Komunitas yang baru berjalan selama tiga tahun ini merupakan tempat untuk menuangkan kreativitas di dunia audio-visual, seperti membuat video documentation, video profile, video promo, CD Interactive, web design/development design, graphic design, dan spesialisasi pada pengembangan media audio-visual.
Semoga Rumah Video menjadi rumah yang dapat menaungi kemauan, mimpi, dan semangat bagi orang-orang yang ada di dalam dan lingkungan sekitarnya.
Posted by
Budi Setiawan
at
4:57 AM
0
comments
Labels: film, Rumah Video
Kreativitas yang Dikaryakan

Oleh : Firlyana Sari, Rumah Video, editor
*Sebagaimana dimuat di Media Indonesia, 4 Juni 2008
http://www.rumahvideo.com/pages/posts/kreativitas-yang-dikaryakan167.php
Karya lahir dari karena diciptakan. Tak ada karya yang lahir tanpa ada penciptanya, yang ada mungkin penciptanya yang tak sadari kalau mereka telah menghasilkan sebuah karya.
Seorang pencipta tak bisa dilepaskan dari realita yang ada, sekecil apa pun realitas yang ada. Banyak orang mengatakan karya lahir dari imajinasi para pencipta, tapi perlu diyakini imajinasi ada karena adanya realitas.
Salah satu hasil pengembangan realitas tersebut adalah film. Film dapat disajikan dengan film dokumenter atau film untuk konsumsi masyarakat luas. Melalui film, realitas tersebut disajikan. Orang kota akan mengetahui kehidupan desa melalui film, begitu juga sebaliknya. Karena itu, kita bisa pastikan film merupakan hasil sebuah realitas yang digabungkan dengan imajinasi penciptanya.
Namun tak begitu dengan film indie. Film indie atau independent terkadang diartikan sebagai sebuah kemandirian. Berangkat dari pengertian tersebut, bisa dikatakan indie memiliki kebebasan dalam berkarya.
Kebebasan tersebut berarti kebebasan yang diberikan pada penciptanya dalam menghasilkan karya. Tanpa ada embel-embel dari pihak-pihak lain karena film indie akan menampilkan keaslian pembuatnya. Film indie merupakan tawaran untuk generasi muda kita untuk bisa mengembangkan pemikiran dan kreativitas mereka, tanpa ada kekangan dari pihak lain.
Terkadang pemikiran masyarakat awam berbeda. Selama ini masyarakat selalu beranggapan film indie adalah film yang diproduksi dengan budget kecil dan peralatan seadanya. Anggapan itu tentu salah besar. Mungkin itu sebuah anggapan yang wajar. Namun bila kita melihat lagi dari film yang dihasilkan, tak sedikit film indie yang berkualitas dan bahkan mengalahkan film-film yang diproduksi perusahaan besar.
Masyarakat pun ternyata lebih tertarik dengan film-film yang disajikan dengan cerita fiktif belaka. Tanpa mereka sadari, film-film tersebut secara tidak langsung telah mempengaruhi pola pikir mereka. Hal itu pun menjadi perhatian para pembuat film indie. Sayangnya, keberadaan film indie baru diterima sebagian masyarakat saja.
Indie adalah eksplorasi pemikiran penciptanya. Kenapa? Karena pencipta film indie memerlukan kemampuan berpikir untuk sebuah ide yang maksimal tanpa ada paksaan dari berbagai pihak.
Karena pemikiran manusia akan menghasilkan karya yang maksimal ketika tanpa ada tekanan. Begitu juga dengan film indie, lahirnya sebuah film besar dan sukses tentunya diawali dari proses eksplorasi pemikiran pencipta.
Tapi bila dirunut lebih jauh, pembuatan film indie bukanlah hal mudah. Selain membutuhkan fasilitas dan pemikiran yang maksimal, pembuatan film indie pun membutuhkan dana yang cukup besar. Namun, demi sebuah karta, para pencipta film indie tak jarang mengeruk kocek sendiri untuk bisa menuangkan ide-ide mereka.
Melalui film ini, mereka ingin menyampaikan ide dan kreativitas yang selama ini susah untuk tersampaikan. Adanya kebebasan tersebut membuat generasi muda sekarang mulai berlomba-lomba dalam menyajikan film indie.
Rasanya puas saat film dengan ide dan pemikiran sendiri bisa menjadi konsumsi publik walaupun pada kenyataannya jumlah pecinta film indie masih sedikit.
Harapan pun terkadang muncul dari para pencipta film indie yakni harapan untuk bisa dilirik dan diterima pihak lain. Bukan karena materi, melainkan karena para pencipta film indie ingin semua pihak tahu realitas yang berkembang dalam masyarakat.
Posted by
Budi Setiawan
at
4:49 AM
0
comments
Labels: film, Rumah Video
Bangkit !!!
Monday, June 02, 2008

Sedang menikmati kata-kata yang sering diulang-ulang Deddy Mizwar di TV-TV.
Bangkit itu susah...
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang.
Bangkit itu takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya.
Bangkit itu mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu marah
Marah melihat martabat bangsa dilecehkan.
Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu minta melulu.
Bangkit itu tidak ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa.
Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku.
NB.
2 big surprise bwat Rumah Video di momen-momen kebangkitan nasional kemarin.
Yang pertama, acara workshop video kemarin mendapat apresiasi khusus dari Media Indonesia. Rencananya, liputan tentang Rumah Video akan muncul di kolom Muda untuk edisi Rabu besok.
Kedua, tak disangka Rumah Video bisa mendapatkan jatah stand gratis di Pameran Franchise Nasional tanggal 20-22 Juni 2008 besok. Semoga bisa menjadi ajang kebangkitan bagi kami ke arah yang lebih baik. Amin.
Note : picture taken from http://suluk.blogsome.com/images/bangkit.jpg
Posted by
Budi Setiawan
at
6:44 PM
2
comments
Labels: Inspirasi, Rumah Video
Showreel Rumah Video
Monday, April 14, 2008
Showreel ini berisikan portofolio produk yang pernah dihasilkan oleh Rumah Video.
Enjoy it !!
Note : Sayang di Youtube gambar dan suaranya keliatan kurang bagus. Bila berkenan, CD aslinya bisa kami presentasikan langsung.
Posted by
Budi Setiawan
at
7:55 PM
1 comments
Labels: Rumah Video
Testimonial tentang Audio Visual
Thursday, April 10, 2008

Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”
Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”
Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”
Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”
Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.
Posted by
Budi Setiawan
at
4:17 AM
0
comments
Labels: Rumah Video
Motion determine emotion

Yup, kata-kata sederhana ini yang terus terngiang di telinga saya saat saya menghadiri seminar TDW, Financial Revolution, sabtu kemarin. Sederhana tapi maknanya dalam. Dan yang pasti, saran yang praktis.
Terus terang saya awalnya tidak terlalu ngotot untuk menghadiri acara seminar TDW ini, walaupun sebetulnya gratis. Apalagi malamnya bareng teman-teman menggeber fisik bermain futsal bersama sehabis kuliah. Baru tidur jam 2an, paginya sudah harus ke markas Rumah Video untuk urusan website. Kebetulan ada beberapa orderan pembuatan website, sekaligus membicarakan strategi maintaining website Rumah Video. Oh ya, untuk website Rumah Video sendiri kini bentuknya sekaligus sebagai mini portal yang membahas perkembangan teknologi audio visual. Idenya sih meniru pendekatan website Dokter Komputer, walaupun masih sederhana. Maaf yah ga bilang2 Pak Iim...:)
Terlebih sampai hari-H tiket untuk acara seminar ini masih belum sampai juga ke tangan. Yah, mungkin ada masalah dengan delivery-nya. Makin malas-lah saya sebenarnya untuk melaju ke area Mangga Dua, di ujung utara Jakarta sana.
Sore setelah urusan di Rumah Video kelar, barulah coba iseng menelpon teman yang kebetulan datang ke seminar itu. Di sana baru ngeh kalau tiket seminar gratisnya ada 2, yang berarti saya bisa mengajak satu teman ke sana. Makin semangat ketika tahu kalau acaranya ternyata berlangsung dari jam 9 pagi ampe jam 10 malam. Buset, full day selama 3 hari. Biasanya paling pol ikutan acara seminar dari jam 9 ampe jam 4 sore. Dalam hati, seminar macam apa ini.
Yah, akhirnya saya bersama teman saya, Taufik Hanas, berangkat ke Mangga Dua Square, tempat acara dilangsungkan. Sekalian sebetulnya pengen juga melihat testimoni Pak Roni, sang jenderal TDA, di lokasi acara. Katanya bakal tayang ba’da magrib.
Sampai di lokasi, terkaget-kaget juga melihat lautan manusia memenuhi aula Jitec Mangga Dua Square lantai 8 itu. Ini sih sampai ribuan orang. Ya sudah, majulah melangkah masuk ke ruangan.
Yah, singkat cerita ternyata memang benar action bisa membangkitkan kembali semangat dalam diri. Pak Tung berkata, di saat nervous, takut melakukan sesuatu, sedih atau malas, cobalah untuk bergerak dinamis. Entah itu jalan2 di tempat, loncat2, yang penting menggerakkan badan kita, tidak hanya duduk diam atau terpaku di tempat. Efeknya, paling tidak terbukti kemarin. Ngantuk saya otomatis langsung hilang.
Banyak hal sih sebetulnya yang bisa didapat dari seminar itu. Walau dalam acaranya banyak sekali jualan yang disempilkan Pak Tung, cman dalam hati saya berkata, Yah itung-itung latihan jualan lah. Oh iya, ada satu games yang cukup menarik di seminar itu. Simulasi tentang uang yang mengejar kita. Kepada masing-masing orang diberikan lembaran uang 10,20,30,40,100,dan 200. Lalu setiap orang diperbolehkan untuk menukarkan uangnya dengan peserta lainnya. Aturan mainnya, nilai uang yang sama akan dikalikan, sementara nilai uang yang berbeda akan ditambah. Nah, singkat cerita ternyata jawabannya simple. Tinggal teriak saja siapa yang mau uang 20,30,40,100 dan 200 ditukar dengan uang 10. Pastilah semuanya akan mau. Dan di saat itu, dengan usaha yang minimal kita akan mendapatkan uang sebesar 10x10x10x10x10x10=1 juta. Yup, dengan usaha minimal akan membuat uang mengejar kita.
Riilnya, ada beberapa trik yang dibagi Pak Tung di sini agar uang mengejar kita.
1) Selalu punya nilai tambah
2) Dikomunikasikan
3) Kepada orang yang tepat
4) Dalam jumlah yang banyak
5) Dengan cara yang tepat.
Yup, acara akhirnya selesai sekitar jam 10 malam. Agak kecewa juga ternyata jadwal testimoninya Pak Roni dimajukan jadi jam 5, jadinya telat menyaksikan. Akhirnya itu memang jadi kesempatan terakhir saya hadir di sana, karena besoknya bantu2 teman yang lamaran. But, Its OK. Tetap ada insight yang bisa diambil dari sana. Toh, besoknya Taufik tetap menyanggupi untuk bisa hadir di sana. Sebelum pulang menyempatkan diri dulu untuk memesan tiket seminar Action Coach tanggal 19 April nanti. Sekali lagi, biar Taufik sang CEO Rumah Video yang hadir di sana. Gud luck !!
Posted by
Budi Setiawan
at
4:13 AM
1 comments
Labels: Catatanku, Inspirasi, Rumah Video
Sekilas di Maret 2008 (featuring speed writing)
Sunday, March 30, 2008

Dalam beberapa minggu ini, jujur saja saya agak kesulitan untuk meluangkan waktu menulis di blog ini. Load pekerjaan sebagai engineer saat ini sedang tinggi-tingginya, dengan rutin setiap weekend harus masuk seperti biasa. Lalu, rutin dua kali seminggu paling tidak kita lembur sampai jam 12an malam. Ditambah dengan kuliah 3x seminggu, jujur saja saya agak keteteran juga. Belum ditambah dengan tugas-tugasnya yang menumpuk.
Rumah Video sendiri padahal saat ini juga sedang memulai periode target sales yang challenging. Target sales periode Maret 2008 paling tidak harus 1,5 kalinya periode sebelumnya. Alhamdulillah, kemarin agak tenang juga ketika sang direktur, Taufik Hanas, melaporkan kalau target bulan ini sudah tercapai. Alhamdulillah, ada orderan 4 website sekaligus, yang otomatis akan ikut menambah portofolio usaha kami. Untuk video documentasi sendiri alhamdulillah juga ada orderan tambahan dari kampus saya, UI, tepatnya dari Fakultas Ilmu Budaya untuk acara seminar menyambut hari wanita internasional kemarin. Rencananya, video hasil dokumentasinya akan dibawa juga ke Australia untuk dipresentasikan ke universitas di sana. Makanya, mau tidak mau untuk kali ini kami harus bisa menunjukkan profesionalitas dan kualitas yang baik.
Bicara lagi tentang blogging, sebetulnya kegemaran saya adalah membaca. Menulis awalnya hanya sekedar tambahan. Bila ada waktu lowong, saya jujur lebih suka membaca daripada menulis. Akan tetapi, pada awalnya saya tertarik dengan uraian yang saya dapat dari blognya Pak Yodhia, tentang speed reading. Intinya, bagaimana caranya kita bisa membaca banyak informasi di tengah-tengah kesibukan kita yang sering menyita waktu.
Jujur saja, saya memang lebih suka membaca sambil menikmati isi bukunya. Jadi, seringkali saya membaca sebuah buku terlalu lama, terlalu sistematis, dari awal berturut-turutan. Sementara, problemnya saya agak kesulitan untuk menahan diri untuk tidak membeli buku di saat pergi ke toko buku, sehingga otomatis tumpukan buku di rumah sudah semakin menggunung. Tambahan lagi, kantor letaknya di sebelah PIM, yang seakan menjadi surga untuk para penggemar buku. Gramedia, Gunung Agung, Kharisma, dan Kinokuniya, semuanya ada disana. Yah, nice problem huh. Sekarang, akhirnya bertekad untuk bisa lebih mengutilisasi waktu membaca dengan lebih efektif.
Trus apa hubungannya dengan menulis? Nah, kalo saya berpikirnya ada speed reading, mengapa tidak coba dilakukan speed writing. Menulis dengan lebih cepat. Jujur saja, ketika menulis blog, saya masih terlalu lama mengetikkan isi pikiran saya. Efeknya, mau ga mau saya suka merasa tidak mood untuk memulai menulis blog karena berpikir bahwa itu akan membuang-buang waktu saya, paling tidak dalam hitungan jam.
Tapi, kemudian saya berpikir lagi. Apa sih tujuan saya menulis? Ternyata saya menulis lebih untuk aktualisasi diri, melatih diri saya untuk bisa berpikir positif dan terbuka akan diri saya. Ketika berinteraksi dengan orang lain, mau tidak mau biasanya kita harus mampu untuk menempatkan diri. Tidak semua yang ada dalam pikiran kita bisa kita tumpahkan ke hadapan orang itu. Akan tetapi, beda dengan menulis di blog ini. Rasanya begitu lepas dan bebas.
Dan kalau ditanyakan siapa sebetulnya penikmat utama blog ini, jujur akan saya jawab, penikmatnya adalah saya sendiri. Saya begitu menikmati diri saya yang positif di sini. Seringkali ini berguna untuk mencharge kembali semangat saya, terlebih di kala saya sedang DOWN.
Nah, balik lagi ke SPEED WRITING, menulis buat saat ini bukanlah profesi utama saya. Akan tetapi, blog ini bisa menjadi salah satu sarana aktualisasi diri saya. Tetap, amal aktivitas nyata atau action harus dinomorsatukan. Makanya, Insya Allah saya akan mencoba untuk bukan malah mengurangi frekuensi menulis saya ke depannya, akan tetapi akan mulai mencoba untuk meningkatkan kecepatan saya dalam menulis ide. Insya Allah, bisa.
Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari bukunya Andrias Harefa, Mengukir Kata Menata Kalimat, “Anda ingin menulis sebuah buku? Anda tidak harus menulis buku, tapi tulislah satu artikel hari ini. Esok tulis lagi satu artikel. Kemudian tulis satu artikel lagi, dan kelak tulislah satu artikel lagi....Ops! Carilah benang merahnya! Jahitlah! Permaklah! Nah, jadilah buku Anda!”
Posted by
Budi Setiawan
at
5:37 AM
0
comments
Labels: Catatanku, Opini, Rumah Video
Are u the one we looking for??
Sunday, February 24, 2008

Bila Anda :
1. Pria/wanita, usia max. 30 tahun.
2. Lulusan S1/D3, lebih disukai dari jurusan Akuntansi.
3. Menguasai komputer, terutama MS Office.
4. Rajin, ulet dan dapat bekerja sama dalam team.
Sebuah perusahaan audio visual yang sedang berkembang di Jakarta membutuhkan tenaga untuk posisi :
Staf Accounting.
Kirimkan lamaran lengkap Anda ke :
Rumah Video
Jl. Sadar IV No. 15 Ciganjur Jakarta Selatan
Paling lambat 2 minggu setelah iklan ini terbit.
Terima kasih.
Posted by
Budi Setiawan
at
9:24 AM
1 comments
Labels: Rumah Video
Mulai berbentuk
Akhirnya, setelah sekian lama menggantung, website baru dari Rumah Video sudah mulai keliatan bentuknya saat ini. Kira-kira layoutnya nantinya akan jadi seperti ini.
Opening :
Layout :
Bagian favorit saya di website ini ialah opening dan tampilan headernya. Openingnya diset dengan kesan Home sweet home. Sementara headernya sengaja menampilkan lokasi-lokasi bersejarah dan ”icon” Jakarta secara bergantian, seperti Monas, tugu proklamasi, patung Sudirman, museum Fatahillah, patung kuda jalan merdeka, dan patung pak tani.
Jadi ingat, hunting fotonya kemarin dilakukan pas lagi persiapan H-1 Milad TDA. Makanya akhirnya, ga bisa full bantu-bantu di lokasi acara. Setelah ngambil titipan dari Pak Isdiyanto dan Pak Wuryanano di Peninsula, en bantu2 angkat2 barang dikit, langsung harus buru-buru meninggalkan lokasi (sory Pak Faif dan Pak Hasan...).
Untuk websitenya, akhirnya jadi lama terbengkalai karena kesibukan operasional harian. Toh, website yang lama kemarin dianggap untuk sementara cukup. Tapi, karena logo baru sudah beredar via kartu nama, kayaknya dah ga bisa santai2 neh. Skrg dah tinggal ngerapiin databasenya, upload di hostingan, launching deh. Target Maret 2008 sudah harus OK. Bismillah.
Posted by
Budi Setiawan
at
9:19 AM
0
comments
Labels: Rumah Video
It still a plan, for now…

Standby. Dua kali malam minggu akhirnya dilewatkan juga di kantor di bilangan Pondok Indah. Project yang lagi high tension (sampai mendapat julukan project 24/7 – 24 jam/7 days a week) emank akhirnya ngebuat jadwal yang sudah sy susun kemarin-kemarin jadi berantakan. Dan otomatis, efeknya dua kali malam minggu absen ”ketemuan rutin” ma temen-temen. Belom lagi, sabtu minggunya beberapa kali ikut kesita buat kerjaan.
Ketemuan yang gini-gini akhirnya ngingetin kita2 lagi kalo sejatinya setiap orang itu kudu ”balance”. Makanya suka ngerasa ga enak juga kalo kita sendirinya ikutan memaksa orang ”push the limit”, terutama untuk teman-teman di Rumah Video. Teman-teman editor dan kameraman sudah jamak untuk kerja di saat malam dan weekend. Idealnya, jumlah yang seperti ini harus diminimalisir. Kurang orang, maka SDM kudu ditambah. Kalopun terpaksa lembur, sudah mulai dipikirkan bentuk apresiasi yang lebih, selain makan malam dan transport.
Well, buat sementara ini barulah plan. Rumah Video belumlah sebesar Ericsson, yang punya kompensasi lumayan untuk lemburan. Untuk sekedar menghibur, masih banyak company yang bahkan sudah cukup besar yang masih kurang apresiasi dengan overtime. Tapi, Bismillah, niat baik Insya Allah sudah dicatat. Amin.
Posted by
Budi Setiawan
at
9:04 AM
0
comments
Labels: Rumah Video
Perubahan Logo Rumah Video
Thursday, February 14, 2008
Lumayan telat juga untuk posting ini, padahal kartu nama sudah sempat beredar ke beberapa tempat. Yup teman-teman, sekedar ingin memberitahukan, kalau logo Rumah Video sudah resmi berubah di taon 2008 ini. Ga mau kalah neh dengan company2 besar sekelas Pertamina or Mandiri yang logonya kini berubah.
Jelasnya bisa dilihat di bawah.
Logo Lama :
Logo Baru :
Alasan paling utama : penyegaran. Yang pasti, logonya terlihat lebih DINAMIS dan berjiwa MUDA khan.
Semoga bisa lebih baik ke depannya. Amin..
Salam,
Manajemen Rumah Video, 2008.
NB :
*) Untuk tim produksi, benar-benar Think DIFFERENT...Gud luck guys...:)
*) Di websitenya masih belum dirubah buat sementara. Tapi, launching dulu aja, sisanya nyusul.
Posted by
Budi Setiawan
at
11:24 PM
0
comments
Labels: Rumah Video
Buy what’s deliverable, not what could be !!!
Monday, January 14, 2008

Yup, kutipan ini disebutkan oleh Bloomberg dalam bukunya, Bloomberg by Bloomberg. Kebetulan tidak sengaja menemukan buku ini di perpustakaan Prasetiya Mulya. Yah, namanya barang gratisan, tak ada salahnya coba menuliskan sebagian isinya di sini. Apalagi sosok yang sekarang menjadi walikota New York ini tergolong businessman yang cukup layak untuk diangkat ceritanya sebagai sumber inspirasi.
Kembali ke kutipan tadi. Kutipan yang dikatakan Bloomberg tadi sebetulnya ditujukan kepada perusahaan yang menjadi buyer (pembeli) sebuah produk dari perusahaan lain. Ini sekaligus sebagai pengingatan untuk perusahaan yang memiliki konsumen yang berasal dari perusahaan lain, atau dalam istilah kerennya Business to Business (B2B).
Membeli apa yang di-deliver. Bukan janji. Buyer tidak memiliki kewajiban untuk mengambil produk kita sebelum produk kita terbukti menghasilkan. Jadi, kita dinilai dari hasil kita, bukan dari proses kita dalam menghasilkan produk itu, juga bukan dari janji yang akan produk kita yang belum kita lakukan.
Ketakutan untuk tidak mampu men-deliver service yang terbaik seharusnya menjadi fokus utama dari setiap business owner. Takut, akan tetapi tidak membawa ia menjadi pengecut. Takut, yang dengannya ia akan menjadi lebih waspada dan akan menjadi lebih mawas diri. Mencoba untuk melihat lebih dalam akan kondisi internalnya. Memperbaiki apa yang kurang. Menstandarisasi sistem yang sudah berjalan, hingga siap untuk menghadapi setiap kemungkinan pengembangan ke depan. Takut yang seperti ini Insya Allah akan mampu memberikan kepercayaan diri lebih ketika ia dituntut untuk menyebarluaskan keunggulan produknya di tengah masyarakat luas.
Dengannya diharapkan marketing campaign tidak akan menjadi seperti janji-janji surga belaka. Dengannya marketing berarti janji. Dan integritas seseorang atau sebuah produk akan bergantung pada bagaimana ia mampu untuk menepati janjinya itu. Dengan integritas, maka kepercayaan orang lain akan tumbuh. Bertumbuhnya kepercayaan berarti peningkatan ketertarikan akan produk, yang dalam bahasa bisnis diejawantahkan dalam bahasa sales (penjualan). Dengan peningkatan penjualan, maka sebuah perusahaan bisa terus berkembang, dan akan mampu mengalahkan mitos 80% perusahaan yang berada di tahun kelima akan mati. Dan, sebagaimana bahasan talkshow dengan Action Int di SmartFM Senin kemarin, usia perusahaan hingga 1 abad bukanlah hanya menjadi mimpi.
Note : Ditujukan untuk semua tim Rumah Video, dibuat pasca Raker 2008, yang salah satu pointnya mentargetkan pertumbuhan hingga 300% dan penambahan 4 karyawan tetap lagi dalam waktu dekat, selain beberapa karyawan outsourcing. Sebuah target yang menantang, akan tetapi biarlah saat ini kami tetap berusaha untuk berpikiran positif. Bismillah, 2008, tahun ketiga Rumah Video, tahun yang penuh tantangan, akan diarungi.
Posted by
Budi Setiawan
at
6:59 PM
1 comments
Labels: Bisnis, review, Rumah Video
Tetap Semangat !!!
Tuesday, January 01, 2008

Mengasyikkan. Yah, saya harus akui liburan panjang natal dan tahun baru kali ini sangat seru dan menyenangkan. Sebuah kesempatan me-refresh diri, dan juga sebuah kesempatan untuk lebih banyak meluangkan waktu di Rumah Video.
Lho…bukannya itu berarti kerja tambahan lagi?? Wah..wah…saya sih saat ini sedang enjoy aja menjalaninya. Melelahkan, tapi memang benar kata orang bijak, jika kita memiliki mimpi yang kuat maka kita akan mampu menikmati proses mencapai mimpi itu. Saat ini, mimpi saya, dan juga teman-teman, Rumah Video akan menjadi pemain yang diperhitungkan di Jakarta, maka dengan tujuan itu kami saat ini ngebut mempersiapkan konsep re-launching Rumah Video.
Memang sih secara umum, dalam pelaksanaannya, beberapa item tidak sesuai dengan perencanaan awal kami. Tadinya plan awal kami, momen tahun baru 2008 semua urusan terkait dengan finishing sistem produksi dan persiapan tools marketing akan selesai. Tapi, apa daya beberapa masalah nonteknis sedikit mengganggu kami.
But, its OK. Target sekarang direvisi. Beberapa miting konsolidasi, produksi, marketing, dan sistem organisasi sudah dilewati. Juga beberapa aktivitas tambahan selama periode 2 minggu kemarin, aktivitas penyembelihan kurban di Idul Adha, hunting tambahan furniture untuk kantor, serta refreshing futsal melawan tim dari customer.
Taufik Hannas masih memegang kendali sebagai bos besar. Faisal dan Acep menjaga gawang produksi, sekaligus men-tentir editor baru. Danu tetap setia dengan kameranya. Edi tetap bertanggung jawab untuk urusan rumah tangga. Kalau saya sih masih bantu-bantu saja di urusan marketing. Yah, lumayan sekalian kesempatan belajar design web dan internet marketing dari ahlinya.
OK, time’s up. Jangan banyak bicara, buktikan dengan aksi nyata. Tetap semangat, teman-teman !!
Note :
1) Dipersembahkan untuk sebuah team yang solid, Rumah Video.
2) Taufik dan Acep sepertinya sudah mulai panas dengan blog ini. Ditunggu kehadirannya di dunia blogger yah teman-teman...hehe.
3) Baru saja tadi menghadiri kumpul-kumpul Gank teman-teman ex-kuliah di UI dulu. Bertempat di Rawasari, ketahuan lagi kalo 2 teman akan segera menikah di Februari ini. Barakallah ya pak...Wah, kalo gini mulai panas neh. Yah, mohon doanya...:)
Posted by
Budi Setiawan
at
8:16 AM
0
comments
Labels: Catatanku, Rumah Video
Pembantaian Massal ala Rumah Video
Monday, December 24, 2007
Jumat, 21 Desember 2007.
Hanya ingin sharing beberapa foto-foto ketika Rumah Video menyelenggarakan kurban di kantor kami. Alhamdulillah tahun ini kami diberikan kesempatan berkurban. Semoga tradisi ini bisa terus kami lakukan untuk Idul Adha mendatang, dengan tentunya kurban yang semakin meningkat, baik kualitas maupun kuantitas, sejalan dengan rejeki yang terus meningkat. Amin.
Dirut RV Taufik Hannas bergaya dengan saudara kembarnya hehe
Sepasang sejoli asyik memadu kasih
nyang punya blog en Pa' RT asyik ngulitin kambing
Epilog nyate bersama personil RV
Posted by
Budi Setiawan
at
9:52 PM
0
comments
Labels: Bisnis, Catatanku, Investasi Akhirat, Rumah Video
Showreel Rumah Video
Testimonial tentang Audio Visual

Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”
Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”
Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”
Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”
Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.
