
Having read again my written at April 26, 2009 about my next plan, I must admit, everything is not always going as my previous plan.
I know, its just a bit difference between flexible and inconsistent. I don't wanna be someone inconsistent. Its not also about being opportunistic. It just like suddenly without any previous plan, you got a chance to put yourself into some challenging and interesting situation.
For sure, I'd like to be at the company. Ericsson Indonesia is a great place to work, get valuable experience, getting know best people with great characteristic and charisma. Get friendship with many good people there, experience time together, knowing each other, laugh, and having pressure together is kinda become something like a bond.
So why you quit?? That's a simple question asking by my senior there. I consider him as one of my mentor there.
It's complicated to answer. Its a combination of some side of me which looking for freedom -not only at weekend, but also at weekdays-, and some side of me which looking for a chance to be someone more considerable, with more responsibility, and some side of me which looking for more money. And that combination is all putting there.
For now, its a chance to be a leader, develop something from beginning, coordinating people with different experience and behavior, and still have to keep up with the technology.
All the technical and nontechnical put together there. It just a temporary project, so we push to deliver it as best as we can, so we will be able to continue it in near future, hopefully expand the coverage of service. It's temporary, so I think I can still get a chance to enjoy the result, taking relax for a couple of weeks when it's finished and being ready for next interesting project.
It's challenging coz there is no guarantee to always be involved in projects, and hold the status of employee. It's OK for me, coz in private company, there is no long life job, instead we have to always show that we are long life capable for the jobs.
The money somehow is good. It's true that with high risk, there is chance for more gain.
When you see Cashflow Quadrant from Robert Kiyosaki, I categorise myself now at Quadrant Self-Employeed. I must admit this is so far my best quadrant handled. I still wants to be well and best qualified also for the other quadrant, Business Owner and Investor. I still learn, Alhamdulillah it still running.
So I'm pretty sure (and I have and must to) that this is the best decision I could have taken. There is no way back, a path, new road already there in front of me. My book of life still continue, my old chapter already closed. Hopefully there is a happy ending waiting.
But, I must admit.....I miss all my friends there...:(
Why You Quit??
Saturday, August 08, 2009
Posted by
Budi Setiawan
at
1:24 AM
2
comments
Labels: Catatanku
the three...
Saturday, May 09, 2009

Yah...tiga hal pengen dituliskan disini..
yang pertama, baru nyadar kalo bikin yayasan hari gene itu ribet banget yah..gara2 ada aturan harus ada Berita Negara Departemen Kehakiman, biayanya kata sang notaris bisa ampe 7jt (ini bener ga seh??). Belum masih harus ngurus ijin domisili ke kelurahan, NPWP ke kantor pajak, juga ijin ke Depdiknas..wuihh..emank prosedurnya rada ribet yah? skrg masih nyari alternatif yang lebih murah..tp kalo memang ga ada juga..sepertinya formalisasi yayasan belum akan dilakukan tahun ini..yang penting tetap menjalankan fungsi dan operasi yang sudah ada sekarang..
yang kedua, Alhamdulillah akhirnya tesis sudah kelar. Maksudnya kelar disini adalah papernya sudah diprint, komplet dengan semua lampiran, kata pengantar ampe cover (isinya? yah ada juga lah..). Tapi masih harus melalui seminar akhir dan sidang kompre seh. Yah semoga aja dimudahkan. Sebelum maju ke final judgement, pengen ngucapin terima kasih dulu kepada orang2 berikut yang sudah sukarela menjadi narasumber di tesis Mobile Advertising ini.
special thanks to :
Amin Azman, Managing Director PT. Interaction Indonesia
Josy Rizka, Marketing Manager PT ABC President Indonesia
Ananda Prilianti, Brand Manager PT. Kimberly-Clark Indonesia
Kenny Hartanto, Product Manager PT Agel Langgeng (Kapal Api Group)
Harris Pranata, Assistant Brand Manager PT Kao Indonesia
Muhammad Wulung Putraaning Fajar, Spesialis Mobile Data Content PT Telkomsel Indonesia
Afandi, Manajer Retail Marketing PT Pertamina Indonesia
Anita Feng, Brand Manager, PT Dexa Medica
Bernadetta Agustina, Manajer Marketing, PT Antar Mitra Prakarsa (M-Stars)
Iqbal Farabi, President Director, PT Benang Komunika Infotama (BComm)
Rima Rohima, Staff Marketing, PT Iguana Indonesia
Saptorini Sunarya, Senior Staff for Measurement Science, PT Nielsen Indonesia
Anvid Erdian, IT Developer, PT Jatis Indonesia
dan teman-teman, sahabat lainnya yang namanya tidak bisa diucapkan satu persatu..
yang ketiga, salut kepada 3 teman yang pasca lulus (Insya Allah bakal lulus segera) take action bisnis ngebuka Auto Bridal di Mall of Indonesia..Gud luck pren, moga dilancarkan dan jadi ajang kontribusi positif u/ anak bangsa..
salam,
budi setiawan
http://kitproindonesia.com/
http://rumahvideo.com/
Posted by
Budi Setiawan
at
10:10 AM
1 comments
Labels: Catatanku
Next Plan
Sunday, April 26, 2009

Sedang asyik-asyiknya mengerjakan tesis tadi, tiba-tiba seorang teman bertanya, ”Bud, plan loe apa kalo dah lulus ntar?”..Hmm, jujur agak kaget ngedengarnya karena kebetulan juga sedang focus-fokusnya finishing tesis sebelum deadline seminar akhir dan sidang dalam 2-3 minggu ke depan. Pertanyaannya simple, tapi jawabannya tidak sesederhana itu.
Saya tahu sejauh ini belum terpikirkan plan yang detail akan apa yang dilakukan pasca lulus. Palingan masih akan berupaya dengan sekuat tenaga mengejar resolusi yang sudah dibuat di awal tahun kemarin. Dan ketika berpatokan dengan itu, tidak akan banyak perubahan yang akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.
Saya tau sang teman yang menanyakan akan hal itu sudah pasti akan melakukan perubahan besar dalam hidupnya pasca ia lulus. Ia sudah positif resign dari tempatnya bekerja sekarang untuk kemudian fokus mengurusi bisnisnya. Sebuah sikap tegas yang sangat saya hargai dan secara jujur mungkin suatu saat akan saya lewati.
Teman yang lain sudah lama mengeluh akan pekerjaannya yang sekarang yang dia nilai kurang menghargai jerih payah dan kontribusi yang telah dia lakukan. Mungkin saat ini yang dia akan lakukan adalah mencoba mencari tempat berpijak baru yang bisa jadi akan lebih menghargai kemampuannya. Possibly, but still not clear yet..coz it’s all so dilemmatic..
Yah, mungkin dilema seperti inilah yang juga dialami Philip Delves Broughton ketika lulus dari Harvard Business School, sebagaimana yang diceritakan dalam bukunya yang memikat, What They Teach You at Harvard Business School. Pilihan untuk berkarier di Wall Street dengan bayaran yang aduhai tapi mengorbankan kehidupan pribadinya atau kembali ke aktivitas jurnalistik dengan menuliskan buku dengan segala resiko yang ada..
Jujur ketika ditanyakan sekarang, saya belum merencanakan untuk melakukan perubahan besar dalam waktu dekat...
Satu hal yang pasti, saya masih merasa kontribusi yang saya lakukan di tempat yang sekarang juga masih belum optimal. Masih ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan. Juga ada keinginan untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat di bangku S2 kemarin. Mencoba mencerna kembali dan mengendapkan apa saja yang sudah didapat dalam 2 tahun periode perkuliahan kemarin..Memang agak kurang optimal karena dilakukan sambil bekerja, makanya masih sering merasa ilmu yang masuk seakan-akan hanya numpang lewat semata…Makanya dalam 1 tahun ke depan masih akan eager untuk mencoba mencerna dan menerapkannya pelan-pelan dalam dunia nyata..
So, temans..there will be no major change for short term after my graduation…Completely, I will miss all the cheers, great time, and also hard time during the class…gonna find some other way to spend night starting from now..hopefully it will still positive..
Doakan tesis ini bisa segera beres yahh…:-)
Posted by
Budi Setiawan
at
10:42 AM
46
comments
Labels: Catatanku
A New Beginning....
Thursday, January 01, 2009

A new beginning….bukan tanpa alasan postingan kali ini saya beri judul seperti itu.
Alasan yang pertama dan utama, sekarang hari pertama di 2009, juga awal untuk 1430H. Yup, saking lamanya ga ngeblog, jadi ga terasa kalau tahun sekarang sudah berganti. Evaluasi 2008 dan resolusi 2009? Ok Ok...blog ini masih berhutang itu..kayaknya ga gentle banget di awal 2008 sempat ngebuat resolusi dan ga ngevaluasinya di akhir tahun..but suerr deh..bukan ga mau...baru sempet neh...
Ok, back lagi ke resolusi yang dibuat sebelumnya. Bisa dilihat juga di link berikut.
http://setiawanbudi.blogspot.com/2008/01/resolusi-di-tahun-yang-baru.html
1) Point pertama, aspek pribadi..wah kalo yang ini emank susah dinilai. Sifat-sifat buruk seperti emosi dan penunda-nundaan masih ada, walaupun di satu sisi, saya pribadi seh ngerasa ada peningkatan. Kalau dibilang berhasil atau ga berhasil terpenuhi, kalau saya sih bilangnya untuk point ini netral deh. Lho kok netral? Yah gapapa toh parameternya saya sendiri yang buat. Jadi kita lanjut aja ke point selanjutnya yah…
2) Untuk aspek jasmani dan rohani, Alhamdulillah lumayan. Saya anggap berhasil aja. Lho? Yup, untuk olahraga memang sepedaan bisa dibilang gatot, alias gagal total. Tapi untuk futsal bisa dibilang sukses lah. Walaupun sudah jarang banget ngikut futsal mingguan bareng ex anak2 Teknik, sekarang tergantikan dengan futsal rutin anak-anak Prasmul, tiap Jumat malem selesai kuliah. Walau ke depannya bakal berat karena kuliah sudah kelar, tp untuk periode kemarin, saya anggap sukses…Yuhuuu……
3) Untuk kuliah, belum lulus sih…:(...Tapi perkuliahan total sudah kelar. Dan saya masih berdiri di sini, selamat, sehat, tidak kurang apapun (Lho? Emank apaan??) Masih ada final step menghadang sih, yaitu tesis berupa business plan. So far so hard to say, but I still optimist to finalise it by 2 months again. So…sukses dunk sejauh ini.
4) Buat profesi engineer…so far masih so good. Bahkan bisa dibilang 2008 aktivitas saya harus diakui berat disini. Tanggung jawab meningkat, dan ada reorganisasi di kantor, tp secara umum saya menganggap saya belajar banyak hal di tahun ini.
5) Untuk bisnis, mmm…yang ditunggu-tunggu…Alhamdulillah. Tahun 2008, Rumah Video berkembang sesuai dengan proyeksi dan targetan kita. Di resolusi saya sebut, growth penjualan akan naik 100%, dan finally it is well stretch achieved……:) (Sebenarnya kita sempat coba perbaikin target jadi naik 200%, tp yang ini ga achieved…:(..but its ok..kt coba lagi taon depan, toh target resolusi masih achieved). Target alternatif investasi yang lain sudah mulai dicoba. Properti kecil-kecilan (kontrakan-red), saham dan reksadana coba-coba dimainkan. Alhamdulillah sudah mulai ada hasil juga.
6) Untuk sosial kemasyarakatan, format yayasan memang belum terbentuk secara de yure. Tapi, secara organisasi de facto, saat ini sudah berjalan. Nama yayasannya Muslim Harapan, bergerak di bidang pendidikan. Saat ini baru ada 14 anak yatim yang kita santuni. Ke depannya, kami akan terus ekspansi membesarkan yayasan, dan akan mulai memformalisasikan bentuk yayasan ini.
7) Untuk keluarga, belum nikah juga nih...:(...hehe...emank belum ditargetkan di resolusi kemarin sih, karena niatan awal memang menunggu kuliah kelar dulu. Gimana 2009? Well, kita lihat lah ntar...
Nah, terus untuk 2009, apa neh resolusinya??
Beda dengan tahun lalu, tahun ini saya coba make it simple aja.
1) Well-balanced man in life.
2) Master of Management.
3) Well-experienced 2G-3G Planning and Optimisation Engineer.
4) Business growth by five times.
5) Well-organized education foundation.
That’s it…simple right? 2009, I’m cominggg…..:)
NB :
1) Sebagai tambahan untuk new beginning…Rumah Video sebagai sebuah entitas bisnis memutuskan untuk berganti nama dan wajah baru…KIT PRO INDONESIA…mohon doa restunya…:)
2) Title dan subtitle blog ini juga berubah. Title-nya simple, just my name, Budi Setiawan. Can’t think another title suit, coz this is just me. Subtitlenya juga simple, improving, winning, and giving. Plannya sih semacam tagline dalam hidup. Terus berupaya menjadi orang yang lebih baik ke depan, bisa menang dalam ujian kehidupan, dan bisa menjadi orang yang terus memberi kepada sekitarnya..Amin…
3) Picture taken from morris-photographics.com
Posted by
Budi Setiawan
at
2:28 AM
0
comments
Rem dan Setir
Tuesday, September 23, 2008

Allah itu Maha Pencemburu....Dia akan sangat cemburu manakala manusia terlampau terlena dengan urusan duniawinya dan melupakan akan Sosok Sang Penciptanya…
Belasan hari yang dilalui belakangan ini adalah termasuk bulan yang mulia. Ramadhan telah tiba, saat ini bahkan akan segera meninggalkan kita. 10 hari terakhir di bulan ini sudah tiba. Maka saatnya memasang sabuk takwa dan menegakkan kursi iman. Ada beberapa hal yang terjadi belakangan, tapi tarik nafas dalam-dalam, lafaskan kembali niat bahwa hidup di dunia sesungguhnya adalah dalam rangka beribadah kepada-Nya, tenangkan hati dan pikiran.
Sekedar flashback beberapa hari sebelumnya...........
Minggu, 31 Agustus 2008, 02:32 WIB
Ide…ide…entah kenapa ketika dibutuhkan seakan otak ini buntu, jumud, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan setelahnya….
Back to beberapa minggu terakhir…
Entah kenapa berakhirnya perkuliahan trimester lalu bukan berarti bahwa hidup akan semakin mudah. Berakhirnya fase kemarin adalah pembukaan untuk sebuah fase baru yang lebih menantang. Fase itu adalah fase tugas akhir, dengan frekuensi pekerjaan yang mendadak berakselerasi kuat.
Sebuah episode pekerjaan kali ini memang beda. Dari sisi sifat, tanggung jawab, target, tekanan dan juga banyaknya waktu yang harus dihabiskan untuk sekedar bernafas lega. Its challenging actually. Tapi sekali lagi, it takes a lot of time and energy from me.
Kata orang, pengalaman merupakan metode pembelajaran yang paling efektif. And that’s what I am doing right now. Takes a lot of experience. But am I absorb much from that learning?
Something I have to concern about. Memasang pedal gas yang tinggi memang akan mempercepat seseorang untuk sampai ke tujuannya. Hanya saja, sekedar mengandalkan gas tanpa rem dan setir malah bisa jadi akan membuat arah kita menjadi melenceng dari tujuan semula.
Rem...take a break for a minute…
That’s why I choose photograph right now for a kind of taking a break. Its fun, enjoyable, and rilex. I am a newbie, and still have to learn much for it. Mine is Canon 400D, lens 18-55mm and 55-200mm. Simple. Don’t have to buy a new one for all of it. Borrowing my friend’s tripod, I enjoy taking picture of Kampung Daun Lembang and Ampera Bridge Palembang..
What next ??
Well, flying fox and outbound at Cikole Lembang maybe one of it. Its sporty and fun. Moreover, the shot was taken by Rumah Video. The good thing, it makes me realize that I often forgot about taking a regular sport. Before, there was futsal every Friday night after school. But, after school taking a break, there was no regular one. Push up, maybe I have to think it again.
Oke...rem saja ternyata tidak cukup. Kemanakah setirnya?
Taking a break should not makes me forgot about what I have to finish.
And here I am now. Mencoba untuk menyusun kembali sebuah rute perjalanan di tengah heningnya sebuah dinihari. Target dan prioritas coba direkapitulasi kembali. Coba lagi melihat dimana tujuan akhirnya. Dan mencari ide jalan terbaik untuk menggapainya.
Actually its not that easy. Lebih mudah untuk sekedar menekan gas, bekerja keras, dan melupakan rem dan setir. Bekerja cerdas, terus terang jauh lebih sulit. Mungkin itu yang membuat banyak orang akhirnya enggan melakukannya. Dan harus kuakui, itu salah satu kelemahanku saat ini.
Times up for just think. Segala sesuatunya berjalan sesuai kehendak Yang Di Atas. Saat ini, aku hanya ingin mengambil air wudhu, mencoba menghadap-Nya sesaat, mengucap syukur atas semua nikmat-Nya, dan meminta petunjuk akan ke depannya seperti apa.
Enough for high speed right now. Enjoy the brake and the stir…
*Alhamdulillah hari itu sang adik, akhirnya resmi menjadi seorang dokter, dengan UI sebagai almameternya*
Posted by
Budi Setiawan
at
5:12 AM
0
comments
Labels: Catatanku
Hari demi hari
Wednesday, July 23, 2008

Nah sekarang kudu ngakuin....lama banget dah kagak ngisi di blog ini...Kalaupun ada, lebih banyak hanyalah mengutip tulisan-tulisan dari beberapa teman-teman...
Yah, bukannya sok sibuk sih. Cman, memang benar yang dikatakan orang-orang, konsisten bukan sebuah kata yang gampang realisasinya di lapangan. Saya selalu menganggap menulis di sini adalah sebuah sarana ekspresi diri. Dan memang sempat berniat apapun nantinya kesibukan lain yang menghadang, saya akan tetap mencoba meluangkan waktu untuk menulis di sini...*duh, bahasanya..:p*
Oke deh. Langsung aja ceritain aktivitas sehari-hari saat ini..
Untuk amanah di bidang telco emank masih rada ribet. Gara2nya baru aja dminta menangani project baru lagi setelah sebelumnya sempat ”settle” d tempat lama. Saat ini juga masih persiapan untuk program sertifikasi ”Experienced” Engineer. Kayaknya emank dipaksa bwat belajar terus neh...:(
Rada senengnya di kantor sekarang, temen-temen lagi pada semangat untuk belajar berinvestasi. Setelah sebelumnya coba-coba di unit link, sekarang sudah coba untuk bereksperimen di pasar modal. Akhirnya memang ketiban pulung. Diminta untuk mengelola portofolio mereka di sana. Yah, itungannya nothing to lose sih. Namanya juga belajar. Lagipula kalau dikelola sendiri, masih bisa mensetting portofolionya untuk tidak mengambil portofolio yang tidak sesuai dengan “syariah”. Nah, saat pasar modal lagi rada lesu begini, mulai ada usulan-usulan untuk bisnis bareng…hmmm..kita liat nanti deh frens, all Richest Wannabe…
Trus, barengan dengan teman-teman satu “geng”, Alhamdulillah kita lagi proses untuk membuat sebuah yayasan di bidang pendidikan. Saat ini sih, bentuknya masih prototype. Namanya sudah ada, Muslim Harapan. Launching sudah dilakukan kerjasama dengan Salam UI di Masjid UI Depok. Aktivitasnya saat ini masih difokuskan untuk memberikan beasiswa untuk anak2 SD hingga SMP yang tidak mampu. Walau begitu, bentuk resminya memang belum berbadan hukum yayasan. Tapi, its Oklah. Nanti saja, yang penting sekarang jalan dulu. Nah, sambil jalan inilah, trus muncul ide-ide juga untuk membuat bisnis, salah satu tujuannya untuk pembiayaan operasional yayasan ke depan.
Soal kuliah. Masih belum lulus neh....:(
Sudah masuk trim 4, dan materinya memang lebih banyak ke Finance sekarang (konsentrasi memang mengambil itu). Tugas akhir berupa business plan sudah mulai dibuat. Setelah sempat ditolak 2 kali, akhirnya 3 ide yang kami masukkan kemarin bisa diterima. Ide-idenya, Mobile Video Information, Private Emergency Response dan Indonesian Youth Camp. Sepertinya kami akan mengambil tema pertama. Selain itu, yang seru di trim ini adalah kuliah Business Simulation. Diceritakan 6 perusahaan saling berebut untuk menjadi nomer 1 di suatu negara. Saat ini, di tahun terakhir permainan, nilai saham kami memang masih berada di peringkat 5. Targetnya, kuartal ini sudah akan naik ke peringkat 3....doain yach...
Soal keluarga. Anak (hus!!), maksudnya ortu yang pegawai negeri sekarang juga lagi semangat mulai bisnis kecil-kecilan. Bidang yang dipilih juga simple, Properti, alias coba bikin kost-kostan. Yah, sebagai anak tertua, akhirnya mau ga mau kudu membantu, sampai ke urusan finansial....:(
Tapi, sekali lagi...belajar...Alhamdulillah ada beberapa unit sebentar lagi siap untuk dipasarkan. Sekarang sih masih mencari pendanaan untuk membangun beberapa lagi..(duh, plis jangan mikir unitnya banyak banget yah, masih below 10 kok...:)
Yah ke depannya sih kalo bisnis keluarga pengennya bs set-up klinik or apotik, secara ibu ma adik dokter gigi dan umum...*Amin*
Nah, selain itu semua, Riil bisnis sendiri, Rumah Video masih berjalan. Operasionalnya di bawah pimpinan CEO Taufik Hanas saat ini masih mem-follow up hasil pameran franchise kemarin. Terus terang, sedikit di luar dugaan kami, walaupun persiapan minim kemarin dan kami juga agak “nyeleneh” (tidak menawarkan franchise-red), ternyata respon dari pengunjung cukup baik. Presentasi-presentasi lanjutan pun coba dijajaki. Yah, doakan juga semuanya bisa berjalan lancar.
Hmm..jadi sebetulnya apa benang merahnya tulisan ini...benang ijo, kuning, item *halah, garing yah*
Yah, ga tau deh. Orang ini sebetulnya juga bingung mo ditulisin apa lagi blog ini. Lama ga nulis, kerasa banget kakunya. Ya udah, tulisin lah yang simple2 en gampang, kalo bermanfaat syukur, kalo engga’ yah lagunya Maia dunk, EGP...hehe...
Becanda....
Versi seriusnya, kita hidup ga bisa sendirian. Yang pasti aktivitas bersama atawa berjamaah lebih asoy daripada cman mengerjakan semuanya sendirian...Emank ga gampang, tapi hasilnya akan selalu lebih baik daripada sendiri. Kuncinya satu, TRUST. Think positive about your friend, your team, your partner, TRUST them, let everyone take their role and responsibility, do the best, and always back, let Allah do the rest. Is it hard to do? Well, if yes, try the opposite. Believe me, it’s even harder.
Ok, kembali ke laptop *Laaahhhh*
*Someone said, When you wholeheartdly adopt a “with all your heart” attitude and go out with the positive principle, you can do incredible things*
Posted by
Budi Setiawan
at
5:48 AM
2
comments
Labels: Catatanku
Menjadi pembicara seminar telco
Wednesday, May 14, 2008
Suatu waktu memang saya pernah mengimpikan saya akan mampu untuk menjadi pembicara di sebuah acara seminar umum. Tapi jujur sejalan dengan waktu hingga saat ini sebetulnya saya masih merasa kurang PD untuk berbicara di depan umum. Saya harus akui saya jauh lebih menikmati saat-saat berada di belakang layar. Membuat sistem, mensetup skenario materi, menulis serta hal-hal lain yang tidak mengharuskan saya untuk berhadapan dengan orang banyak adalah kegiatan yang lebih saya senangi.
Nah, ketika akhirnya sebuah kesempatan datang menghampiri saya minggu lalu untuk menjadi pembicara, maka mulailah saya mencoba mencari-cari alasan untuk mewakilkannya kepada orang lain. Saya ingat ketika di kampus pun, dalam beberapa kali kesempatan saya mencoba menghindar tampil di depan publik. Bahkan ketika menjadi PO (Project Officer) sebuah kegiatan penerimaan mahasiswa baru pun, saya panik saat diminta untuk memberikan sambutan penutupan kegiatan, hehe... Terakhir saya masih ingat saat terpilih menjadi juara 2 lomba menulis tentang TDA dan diminta untuk maju ke depan ke atas panggung, saya malah grogi sendiri...:)
Alkisah, awal cerita dimulai saat teman saya yang kebetulan dosen di jurusan Elektro Untirta (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) Cilegon ”menembak” saya untuk memberikan materi tentang 4G. Kebetulan sedang ada momen Electrical Fair di sana dan salah satu rangkaian acaranya adalah seminar telco tentang 4G. Selain seminar itu, ada juga seminar Linux, workshop tentang blog dan juga seminar RT/RW net yang kondang dari Onno W. Purbo.
Awalnya kontan menolak karena beberapa alasan. Pertama, rasa ’tidak nyaman’ saya tampil di depan publik tadi. Kedua, materi yang ditawarkan terhitung berat, bahkan bagi saya yang notabene engineer telco ini. Bahasan 4G adalah bahasan yang bukan hanya menyentuh aspek teknikal saja, tapi juga terkait dengan strategi telekomunikasi ke depan. Engineer telco di lapangan secara teknis memiliki spesialisasi masing-masing dan jujur 4G bukanlah spesialisasi saya.
Akhirnya, sebagai win-win solution, saya menawarkan untuk mencarikan pembicara yang lebih kapabel. Saya pikir cara itu lebih aman dan merupakan penolakan yang lebih halus. Hanya saja, masalahnya waktu kegiatan sudah mepet (tinggal 4 harian lagi) dan lokasi acara lumayan jauh (beda provinsi bo !). Yah akhirnya hanya bisa mendapatkan co-partner sebagai pembicara dari Telkomsel.
Yah, singkat cerita acara ternyata berjalan lancar. Saya akhirnya memutuskan untuk membawakan materi tentang evolusi teknologi mobile telecommunication mulai dari generasi pertama (AMPS), kemudian 2G (GSM), dilanjutkan dengan 3G (UMTS/WCDMA), hingga diakhiri dengan 4G, yang saat ini masih diwarnai persaingan platform antara LTE dan WiMax. Sementara teman saya dari Telkomsel membawakan materi strategi operator telekomunikasi ke depannya dalam menyikapi fenomena teknologi mobile yang terus maju itu.
Alhamdulillah selesai juga amanah ini. Semoga dengannya bisa ikut membantu meruntuhkan salah satu ”mental blocker” saya ini, tampil di depan umum. Dan ternyata memang benar kata orang-orang bijak, it’s not that hard while you decide to take the action !!
Posted by
Budi Setiawan
at
7:13 PM
3
comments
Labels: Catatanku, Telekomunikasi
Menjajal Action Business Coach

Action Business Coach, mungkin rata-rata businessman di Indonesia sudah kenal namanya. Dan semenjak kenal dan mencicipi dunia bisnis serta mengenal komunitas-komunitas bisnis seperti TDA, maka namanya juga seakan tidak lagi asing bagi saya. Nah, saat saya cuti beberapa minggu yang lalu, akhirnya saya berkesempatan juga untuk bertemu dan menjajal langsung kehandalan lembaga coaching yang didirikan oleh Brad Sugar ini.
Yang pertama saya jajal adalah feature group coaching-nya. Diawali dari seminar TDW akhir Maret lalu, saya dan Taufik memutuskan untuk mengikuti seminar setengah hari yang diadakan oleh Smart Action Business Coach. Seminar ini sebetulnya adalah pengantar dari group coaching yang rencananya intensif dijalankan selama 3 bulan, dengan jadwal ketemuan 2 minggu sekali.
Dibawakan oleh Pak Agus, penjelasannya memperjelas lagi prinsip 5 area untuk meningkatkan profit usaha kita, yaitu jumlah prospek, persentase konversi, frekuensi transaksi, volume penjualan dan persentase keuntungan atau margin.
Feature yang kedua yang saya coba untuk jajal adalah private coaching. Awalnya iseng mengirimkan sms ketika ada acara talkshow Action Coach di PasFM. Eh, ternyata ditawari oleh salesnya untuk datang ke kantornya untuk konsultasi gratis. Ya sudah, bareng Taufik akhirnya kita mendatangi kantor Action Coach di Wisma Antara. Selepas magrib, akhirnya sesi pun dimulai dan kami pun bertemu dengan salah satu coach disana, Pak Prijono Nugroho.
Sesinya cukup lama, sekitar 1.5 jam. Terus terang disana bisnis kami, Rumah Video, dikorek oleh Pak Prijono dengan sangat lugas. Kami berpendapat masalah utama kami adalah sales yang kurang, akan tetapi dengan contoh yang gamblang Pak Priyono menjelaskan bahwa akar masalahnya haruslah digali lebih dalam. Kami ditanya berapa jumlah prospek baru yang kami datangi dalam 3 bulan terakhir, persentase konversinya, frekuensi transaksinya dan seterusnya. Beliau berpendapat alih-alih kita fokus pada menambah prospek baru terlebih dahulu, mengapa kami tidak fokus pada faktor internal kami, yaitu meningkatkan persentase konversi dari prospek, atau meningkatkan frekuensi dan volume penjualan dari prospek yang sudah ada terlebih dahulu.
Intinya dalam sesi yang terasa singkat itu, kami banyak mendapatkan AHA baru. Bayangkan jika 5 area itu kami bisa tingkatkan masing-masing 10% saja, maka kami akan bisa mendapatkan laba sebesar 61%. Jadi lebih semangat lagi untuk coba mencapai targetan bulanan kita neh.
Di sesi itu sebetulnya saya sempat menanyakan juga kelanjutan program free coaching yang dijanjikan oleh Action Business Coach kepada member TDA. Pak Prijono pun menjawab bahwa saat ini mereka masih menyusun formulasi sistemnya. Akan ada seleksi ketat untuk bisa mendapatkannya dan kita diminta untuk bersabar.
Yah, akhirnya kita memang belum jadi memakai jasa Action Coach lebih lanjut. Sebetulnya pengen banget. Cman pertimbangan bisnis membuat kami memutuskan untuk saat ini belum feasible untuk bekerjasama lebih lanjut. Tapi, jujur disinilah saya melihat profesionalisme dari Pak Prijono. Beliau tetap dengan ringan sharing kepada kami walaupun jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat.
Malam sudah larut. Kami pun pulang dan kembali harus berhadapan dengan Jakarta yang macet abis (*wuihh, untung belum pernah merasakan berkantor di Segitiga Emas slama ini*). Cukup untuk bergurunya, yang penting adalah ACTION....:)
Oh iya, berikut ada beberapa strategi yang sempat dicatat dari 2 pertemuan di atas.
# 5 area meningkatkan profit
Jumlah prospek (1)
X % konversi (2) = Jumlah customer
X Frekuensi transaksi (3)
X Volume penjualan (4) = Omzet
X % keuntungan (5) = Profit
# Strategi meningkatkan jumlah prospek
1. Networking
2. Referral
3. Press release
4. Seminar dan events
5. Brosur
6. Iklan
Intinya, memperluas teritori.
# Strategi meningkatkan % konversi
1. Garansi tertulis
2. Menonjolkan keunikan
3. Produk yang berkualitas
4. Brosur yang berkualitas
5. Penawaran menarik
6. Coba dulu sebelum beli
7. Demo produk
8. Training team sales.
Intinya, dress for success.
# Strategi meningkatkan frekuensi transaksi
1. Kualitas konsisten
2. Kontak secara teratur
3. Minta untuk kembali lagi
4. Kartu member VIP
5. Terima trade in
6. Follow up
Intinya, under promise dan over deliver.
# Strategi meningkatkan volume penjualan
1. Jual yang lebih mahal
2. Impulse buying
3. Buat paket
4. Terima kartu kredit
# Strategi menaikkan tingkat keuntungan
1. Jual barang yang untungnya besar
2. Jual label sendiri
3. Outsource.
4. Meminimalkan kesalahan
5. Efisiensi
6. Produktivitas
Intinya, overhead minimum.
NB.
Alhamdulillah Rumah Video berhasil mendapatkan kepercayaan dari Jamsostek untuk meliput acara seminarnya 2 kali berturut-turut. Mohon doanya semoga kerjasama ini bisa kami langgengkan untuk ke depannya.
Posted by
Budi Setiawan
at
7:05 PM
1 comments
Ga bisa ke Forum Jumat TDA dan MM Jaksel
Friday, May 09, 2008

Yah, beneran ga bisa akhirnya ke Forum Jumatnya TDA di Hotel Sofyan...:(
Dan sekali lagi, MM Jaksel juga bakal dilewatin...
*Sabtu besok Insya Allah diminta ngisi seminar telco tentang 4G di Univ. Sultan Agung Tirtayasa. Awalnya, dah berusaha nolak, tapi ampe terakhir belum ada orang lain yang bisa.
Yah, Bismillah, kalo jadi, Insya Allah kesempatan perdana jadi pembicara d seminar.
Deg deg an tingkat tinggi uiiy....
Malam ini selesaiin materinya, besok siap2 tampil...hhh...Doain yah...:)*
Posted by
Budi Setiawan
at
2:43 AM
0
comments
Labels: Catatanku
Motion determine emotion
Thursday, April 10, 2008

Yup, kata-kata sederhana ini yang terus terngiang di telinga saya saat saya menghadiri seminar TDW, Financial Revolution, sabtu kemarin. Sederhana tapi maknanya dalam. Dan yang pasti, saran yang praktis.
Terus terang saya awalnya tidak terlalu ngotot untuk menghadiri acara seminar TDW ini, walaupun sebetulnya gratis. Apalagi malamnya bareng teman-teman menggeber fisik bermain futsal bersama sehabis kuliah. Baru tidur jam 2an, paginya sudah harus ke markas Rumah Video untuk urusan website. Kebetulan ada beberapa orderan pembuatan website, sekaligus membicarakan strategi maintaining website Rumah Video. Oh ya, untuk website Rumah Video sendiri kini bentuknya sekaligus sebagai mini portal yang membahas perkembangan teknologi audio visual. Idenya sih meniru pendekatan website Dokter Komputer, walaupun masih sederhana. Maaf yah ga bilang2 Pak Iim...:)
Terlebih sampai hari-H tiket untuk acara seminar ini masih belum sampai juga ke tangan. Yah, mungkin ada masalah dengan delivery-nya. Makin malas-lah saya sebenarnya untuk melaju ke area Mangga Dua, di ujung utara Jakarta sana.
Sore setelah urusan di Rumah Video kelar, barulah coba iseng menelpon teman yang kebetulan datang ke seminar itu. Di sana baru ngeh kalau tiket seminar gratisnya ada 2, yang berarti saya bisa mengajak satu teman ke sana. Makin semangat ketika tahu kalau acaranya ternyata berlangsung dari jam 9 pagi ampe jam 10 malam. Buset, full day selama 3 hari. Biasanya paling pol ikutan acara seminar dari jam 9 ampe jam 4 sore. Dalam hati, seminar macam apa ini.
Yah, akhirnya saya bersama teman saya, Taufik Hanas, berangkat ke Mangga Dua Square, tempat acara dilangsungkan. Sekalian sebetulnya pengen juga melihat testimoni Pak Roni, sang jenderal TDA, di lokasi acara. Katanya bakal tayang ba’da magrib.
Sampai di lokasi, terkaget-kaget juga melihat lautan manusia memenuhi aula Jitec Mangga Dua Square lantai 8 itu. Ini sih sampai ribuan orang. Ya sudah, majulah melangkah masuk ke ruangan.
Yah, singkat cerita ternyata memang benar action bisa membangkitkan kembali semangat dalam diri. Pak Tung berkata, di saat nervous, takut melakukan sesuatu, sedih atau malas, cobalah untuk bergerak dinamis. Entah itu jalan2 di tempat, loncat2, yang penting menggerakkan badan kita, tidak hanya duduk diam atau terpaku di tempat. Efeknya, paling tidak terbukti kemarin. Ngantuk saya otomatis langsung hilang.
Banyak hal sih sebetulnya yang bisa didapat dari seminar itu. Walau dalam acaranya banyak sekali jualan yang disempilkan Pak Tung, cman dalam hati saya berkata, Yah itung-itung latihan jualan lah. Oh iya, ada satu games yang cukup menarik di seminar itu. Simulasi tentang uang yang mengejar kita. Kepada masing-masing orang diberikan lembaran uang 10,20,30,40,100,dan 200. Lalu setiap orang diperbolehkan untuk menukarkan uangnya dengan peserta lainnya. Aturan mainnya, nilai uang yang sama akan dikalikan, sementara nilai uang yang berbeda akan ditambah. Nah, singkat cerita ternyata jawabannya simple. Tinggal teriak saja siapa yang mau uang 20,30,40,100 dan 200 ditukar dengan uang 10. Pastilah semuanya akan mau. Dan di saat itu, dengan usaha yang minimal kita akan mendapatkan uang sebesar 10x10x10x10x10x10=1 juta. Yup, dengan usaha minimal akan membuat uang mengejar kita.
Riilnya, ada beberapa trik yang dibagi Pak Tung di sini agar uang mengejar kita.
1) Selalu punya nilai tambah
2) Dikomunikasikan
3) Kepada orang yang tepat
4) Dalam jumlah yang banyak
5) Dengan cara yang tepat.
Yup, acara akhirnya selesai sekitar jam 10 malam. Agak kecewa juga ternyata jadwal testimoninya Pak Roni dimajukan jadi jam 5, jadinya telat menyaksikan. Akhirnya itu memang jadi kesempatan terakhir saya hadir di sana, karena besoknya bantu2 teman yang lamaran. But, Its OK. Tetap ada insight yang bisa diambil dari sana. Toh, besoknya Taufik tetap menyanggupi untuk bisa hadir di sana. Sebelum pulang menyempatkan diri dulu untuk memesan tiket seminar Action Coach tanggal 19 April nanti. Sekali lagi, biar Taufik sang CEO Rumah Video yang hadir di sana. Gud luck !!
Posted by
Budi Setiawan
at
4:13 AM
1 comments
Labels: Catatanku, Inspirasi, Rumah Video
Sekilas di Maret 2008 (featuring speed writing)
Sunday, March 30, 2008

Dalam beberapa minggu ini, jujur saja saya agak kesulitan untuk meluangkan waktu menulis di blog ini. Load pekerjaan sebagai engineer saat ini sedang tinggi-tingginya, dengan rutin setiap weekend harus masuk seperti biasa. Lalu, rutin dua kali seminggu paling tidak kita lembur sampai jam 12an malam. Ditambah dengan kuliah 3x seminggu, jujur saja saya agak keteteran juga. Belum ditambah dengan tugas-tugasnya yang menumpuk.
Rumah Video sendiri padahal saat ini juga sedang memulai periode target sales yang challenging. Target sales periode Maret 2008 paling tidak harus 1,5 kalinya periode sebelumnya. Alhamdulillah, kemarin agak tenang juga ketika sang direktur, Taufik Hanas, melaporkan kalau target bulan ini sudah tercapai. Alhamdulillah, ada orderan 4 website sekaligus, yang otomatis akan ikut menambah portofolio usaha kami. Untuk video documentasi sendiri alhamdulillah juga ada orderan tambahan dari kampus saya, UI, tepatnya dari Fakultas Ilmu Budaya untuk acara seminar menyambut hari wanita internasional kemarin. Rencananya, video hasil dokumentasinya akan dibawa juga ke Australia untuk dipresentasikan ke universitas di sana. Makanya, mau tidak mau untuk kali ini kami harus bisa menunjukkan profesionalitas dan kualitas yang baik.
Bicara lagi tentang blogging, sebetulnya kegemaran saya adalah membaca. Menulis awalnya hanya sekedar tambahan. Bila ada waktu lowong, saya jujur lebih suka membaca daripada menulis. Akan tetapi, pada awalnya saya tertarik dengan uraian yang saya dapat dari blognya Pak Yodhia, tentang speed reading. Intinya, bagaimana caranya kita bisa membaca banyak informasi di tengah-tengah kesibukan kita yang sering menyita waktu.
Jujur saja, saya memang lebih suka membaca sambil menikmati isi bukunya. Jadi, seringkali saya membaca sebuah buku terlalu lama, terlalu sistematis, dari awal berturut-turutan. Sementara, problemnya saya agak kesulitan untuk menahan diri untuk tidak membeli buku di saat pergi ke toko buku, sehingga otomatis tumpukan buku di rumah sudah semakin menggunung. Tambahan lagi, kantor letaknya di sebelah PIM, yang seakan menjadi surga untuk para penggemar buku. Gramedia, Gunung Agung, Kharisma, dan Kinokuniya, semuanya ada disana. Yah, nice problem huh. Sekarang, akhirnya bertekad untuk bisa lebih mengutilisasi waktu membaca dengan lebih efektif.
Trus apa hubungannya dengan menulis? Nah, kalo saya berpikirnya ada speed reading, mengapa tidak coba dilakukan speed writing. Menulis dengan lebih cepat. Jujur saja, ketika menulis blog, saya masih terlalu lama mengetikkan isi pikiran saya. Efeknya, mau ga mau saya suka merasa tidak mood untuk memulai menulis blog karena berpikir bahwa itu akan membuang-buang waktu saya, paling tidak dalam hitungan jam.
Tapi, kemudian saya berpikir lagi. Apa sih tujuan saya menulis? Ternyata saya menulis lebih untuk aktualisasi diri, melatih diri saya untuk bisa berpikir positif dan terbuka akan diri saya. Ketika berinteraksi dengan orang lain, mau tidak mau biasanya kita harus mampu untuk menempatkan diri. Tidak semua yang ada dalam pikiran kita bisa kita tumpahkan ke hadapan orang itu. Akan tetapi, beda dengan menulis di blog ini. Rasanya begitu lepas dan bebas.
Dan kalau ditanyakan siapa sebetulnya penikmat utama blog ini, jujur akan saya jawab, penikmatnya adalah saya sendiri. Saya begitu menikmati diri saya yang positif di sini. Seringkali ini berguna untuk mencharge kembali semangat saya, terlebih di kala saya sedang DOWN.
Nah, balik lagi ke SPEED WRITING, menulis buat saat ini bukanlah profesi utama saya. Akan tetapi, blog ini bisa menjadi salah satu sarana aktualisasi diri saya. Tetap, amal aktivitas nyata atau action harus dinomorsatukan. Makanya, Insya Allah saya akan mencoba untuk bukan malah mengurangi frekuensi menulis saya ke depannya, akan tetapi akan mulai mencoba untuk meningkatkan kecepatan saya dalam menulis ide. Insya Allah, bisa.
Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari bukunya Andrias Harefa, Mengukir Kata Menata Kalimat, “Anda ingin menulis sebuah buku? Anda tidak harus menulis buku, tapi tulislah satu artikel hari ini. Esok tulis lagi satu artikel. Kemudian tulis satu artikel lagi, dan kelak tulislah satu artikel lagi....Ops! Carilah benang merahnya! Jahitlah! Permaklah! Nah, jadilah buku Anda!”
Posted by
Budi Setiawan
at
5:37 AM
0
comments
Labels: Catatanku, Opini, Rumah Video
Airsoft gun
Sunday, February 24, 2008

“Ajarilah anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda.” [Hadist Rasulullah SAW]
Airsoftgun, untuk sebagian orang, memainkannya sudah menjadi hobi tersendiri. Pun, mengkoleksi senapan dan pistolnya. Yah, untuk sebagian orang, tp saya lebih memilih hobi lain yang lebih murah, seperti tidur (hehe..hobi yang mahal neh skrg)…
Awalnya sempat malas untuk ikutan ketika teman kuliah ngajakin untuk main games ini kemarin. Niatnya, sekaligus refreshing selepas ujian Operation Management Jumat malamnya. Malas bukan karena apa-apa, itungan capek berat karena seabis ujian langsung di-push standby semalam suntuk di kantor. Lagipula, malam minggunya masih harus melanjutkan lagi periode standby ronda malamnya. Pengennya seh, sabtu siang itu digunakan untuk full tidur di ranjang tersayang.
Yah, akhirnya menyerah juga setelah ngeliat sang teman tetap dengan gigihnya mengajak. Itung-itung olahraga. Lagian jadwal futsal en sepedaan sekarang jadi berantakan gara-gara kerjaan.
Sampai rumah jam 9 kurang di hari Sabtu itu. Tidur pagi. Bangun lagi pas Zuhur. Langsung siap-siap buat berangkat ke tujuan (eh, ga ding, tidur2an ayam dulu). Jalan jam 1 siang, sampai tujuan di Area 81, Gatot Subroto jam setengah 3, which is telat ½ jam dari jadwal semula. Kontan aja diteriakin protes ama anak-anak yang lain (huu..maaf, siapa suruh Jakarta hujan jam segitu, jadinya macet total dmana-mana)..
Area 81, yang sebenarnya memanfaatkan fasilitas pabrik di Gatsu ini, menawarkan paket harga yang bersaing. Rp 35 ribu perjam untuk yang hanya menyewa lokasi, tambah Rp 25 ribu lagi bila include senapan dan pelurunya. Settingan medan tempur diset indoor, dengan banyak ruang-ruang kecil dan boxes sebagai tempat perlindungan. Bwat yang sering main games CS (Counter Strike) pasti bakalan familiar. Nah, karena tahu pelurunya bakalan lebih sakit dibanding paint ball, maka dari rumah sudah sengaja menggunakan kaos lengan panjang.
Akhirnya games dimulai. Kebetulan karena yang datang dari kita cman 6 orang, sy, Julius, Yunus, Irsal, Victor dan Puti, makanya kita tanding ngelawan tim lain yang kebetulan baru ketemuan di tempat. Tim lain ini asalnya dari Bintaro dan kebetulan nyaris setiap Sabtu rutin maen airsoftgun disini. Wah, amatir versus profesional neh.
Mulai tembak-tembakan. Sy memilih strategi standar sy, yang biasa dipake pas futsal dan maen paintball terakhir kali, jadi bek sayap kanan. Namanya amatir, walau maennya kudu nyebar, tetap aja di sayap maen keroyokan. Tiga orang langsung rame-rame ngepost di sayap kanan. Awalnya ambil aman, maen belakang di sayap kanan. Alibinya, ngelindungin dari belakang teman-teman yang ngerangsek maju.
Bismillah. Majulah 2 teman di sayap kanan dengan senapan otomatisnya. Karena setingannya otomatis, mulailah menembak membabi buta. Oh ya, aturan mainnya sekali kena harus fair mengaku kalah dan meninggalkan permainan. Games selesai bila salah satu tim keabisan player. Dretetetet….berondongan senapan otomatis memborbardir 2 teman saya yang di depan. Wah, langsung mati 2. Tinggallah saya sendirian ngadepin tim lawan yang rupanya keroyokan juga di sayap kanan.
Sembunyi di box, nunggu lawan berhenti nembak, dan niatnya langsung muncul sambil nembakin peluru membabi buta. Haduh, gaya film banget yah. Tapi, kalo di film it works, di sini, muncul, coba mulai nembak, ternyata…dretetetet…ternyata keduluan lawan. Game over.
Sesi 1 selesai dengan kekalahan telak tim kami. Sekarang saatnya bwat sesi 2. Nah, aturan mainnya agak dibedain. Tim lawan cman 3 orang, sementara kami ada 7 orang. Rulesnya, tim lawan harus mampu menculik satu-satunya personel perempuan di tim kami. Logikanya, kita menang jumlah dan syarat menangnya mereka lebih susah.
Coba strategi beda tapi mirip dengan sebelumnya. Kali ini dari sayap kiri. Tembak-tembakan dengan lawan di sayap kiri. Akhirnya mutusin bwat coba jadi hero. Majulah menyerang dengan PD tinggi, sambil dilindungin oleh teman. Saat maju dan yakin kalo lawan di kiri ga akan berkutik, eh ternyata...dretetetet...kena berondongan peluru dari sayap kanan. Rupanya ada personel lawan yang sembunyi dari sisi lain, yang khusus membidik sasaran-sasaran yang bergerak maju. Cross shot....yang ginian sama sekali ga keduga.
Sesi-sesi selanjutnya diakhiri berturut-turut dengan sekali kena freeze (ditodong senapan dlm jarak dekat), sekali menang, sekali dipojokin ma 2 orang sekaligus en terakhir kalah gara-gara keabisan peluru. Hehe...bukan prestasi yang bagus kayaknya...
Anyway, enough for the games. Cape berat uuyy. Saatnya pulang, en siap-siap lagi coz shift kerja malam sudah menunggu.
Posted by
Budi Setiawan
at
9:15 AM
2
comments
Labels: Catatanku, Refreshing
Sebuah pelajaran dari Mang Ujang
Friday, February 22, 2008

“Assalamu’alaikum, Ir. Budi, bagaimana kabarnya. Ini Mang Ujang, masih di Siemens-kah? Saya kemarin baru ketemuan dengan Ir. Berli di Siemens Pancoran.”
Demikian kira-kira isi SMS yang saya terima beberapa hari yang lalu. Kaget sekaligus merasa lucu. Lucu karena penggunaan istilah Insinyur sudah lama tidak digunakan lagi. Sekaligus kaget karena tidak mengira sosok ini sempat-sempatnya meng-sms saya setelah sekian lama. Lagipula, saya sudah sekitar 2 tahunan meninggalkan Siemens.
Namanya Mang Ujang. Sudah beberapa tahun ini beliau berjualan ayam bakar di Kantin Teknik UI. Sekaligus menjadi marbot di Musholla Fakultas tercinta kami itu.
Rupanya sms itu berlanjut lagi dengan tawaran dari Mang Ujang yang sedang menjajakan buku agenda UI beserta kalendernya. Yup, awalnya emank sempet males juga seh untuk ngebelinya. Terlebih mengingat sebelumnya sudah sempat membeli agenda dan kalender 2008.
Tapi rupanya doi tergolong sosok yang gigih. Langsung saja beliau menceritakan tentang orang-orang yang sudah membeli agenda darinya, yang semuanya selalu diawalinya dengan sebutan Ir.
Mungkin ada teman-teman yang bertanya bagaimana seorang marbot dan penjual ayam bakar bisa mengetahui begitu banyak nomor HP dari alumni-alumni Teknik UI. Jujur saja, saya kagum dengan kegigihannya menawarkan produk, juga kagum melihat begitu banyak alumni yang sudah dikontaknya.
Rupanya selama ini Mang Ujang cukup rajin menyapa teman-teman alumni yang kadang suka berkunjung ke kampus. Sambil mengobrol dia akhirnya ikut mencatat nomor kontak dan alamat pekerjaan mereka. Yah, kebiasaan yang akhirnya terbukti suatu saat bisa bermanfaat juga.
Yup, akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli produk yang ditawarkan olehnya. Bukan karena kasihan, akan tetapi karena kagum melihat kegigihannya berjuang merubah hidupnya. Dan ketika di hari itu akhirnya saya bertemu dengannya, ternyata saya harus kembali terkejut. Sosok Mang Ujang yang biasanya berkaos oblong dan bersandal jepit, yang biasanya menjajakan ayam bakar dan membersihkan musholla, hari itu berdiri di depan saya dengan setelan kemeja, celana bahan, sepatu pantofel, dan juga-dasi.
Posted by
Budi Setiawan
at
1:48 PM
0
comments
Hidup bagai seorang perantau..
Monday, February 04, 2008
Coba bayangkan Anda adalah perantau…
Maka yang akan dilakukan oleh seorang perantau ialah bekerja keras di negeri tempat Ia merantau
Dan apa yang akan dilakukan oleh orang itu ketika Ia kembali ke tempat asalnya??
Yah, Ia akan berusaha untuk memuliakan dirinya.
Menjadikan dirinya sebagai seorang yang terlihat mulia di hadapan warga daerah asalnya.
Ia mungkin akan menggunakan pakaian yang mewah, membagi-bagikan uang, atau bahkan menyewa kendaraan yang mahal untuk memperlihatkan bahwa ia adalah seorang yang mulia.
Ia akan berusaha dengan sekuat tenaga menjadikan dirinya istimewa.
Lantas apa bedanya dengan hidup???
Pertanyaan itu yang mengemuka tatkala saya diberikan kesempatan mendengarkan paparan Ust. Syarifudin dalam momen tahlilan di rumah teman dekat saya, di hari Sabtu malam itu.
Dan paparan itu menjadi penutup untuk sebuah hari yang cukup cerah, setidaknya dibandingkan dengan hari sebelumnya yang membuat Jakarta nyaris seperti sebuah kota terapung.
Akhir pekan ini dimulai dari kunjungan ke kawasan Lido, tepatnya di Hotel Lido Lakes. Kebetulan ada job meliput perusahaan Phillips yang sedang mengadakan meeting di sana. Refreshing awal yang segar, terlebih sebuah kesempatan emas untuk bisa meninggalkan Jakarta yang sekali lagi tidak bisa menghindar dari bencana banjir di tahun ini.
Basa-basi sebentar dengan perwakilan Phillips di sana, tiba-tiba seorang teman dekat menelpon. Ia rencananya akan mengadakan syukuran pernikahannya hari itu. Dan di hari-H ternyata baru ketauan kalau salah satu penerima tamunya berhalangan hadir. Wah, tawaran untuk beramal neh. Sayang waktunya tidak akan keburu, karena penerima tamu harus bersiap sebelum acara dimulai, which is jam 11 pagi.
Akan tetapi, mendapat telepon seperti secara langsung dari teman itu seakan mengingatkan saya kembali kalau saya harus buru-buru kembali ke Jakarta untuk menghadiri acaranya. Terlebih, teman, yang adalah teman kuliah jebolan SMU 68 ini, dulu pernah membantu saya untuk sesuatu yang sangat penting. Sebenarnya Ia telah menikah kurang lebih sebulan yang lalu di Padang, hari itu ialah syukuran atas pernikahannya. Yah, seperti Nguduh Mantu.
Walhasil, langsunglah saya meluncur kembali ke Jakarta meninggalkan seorang kameraman di tengah kesejukan udara Lido. Sayang sekali tak bisa berlama-lama di sana, tetapi toh masih ada banyak waktu dan kesempatan untuk berkunjung ke sana kelak.
Akhirnya kembalilah ke Jakarta, tepatnya di kawasan Cempaka Putih, yang dikabarkan tergolong daerah yang kebanjiran cukup parah kemarin. Di lokasi pernikahan, bahkan air masih menggenang di jalanannya. Melihat sang teman di pelaminan, terus terang saya merasakan sebuah keharuan. Ikut bahagia karena Ia, yang semasa kuliah adalah seorang teman seperjuangan, kali ini bisa menemukan seorang pendamping yang akan menemani hidupnya ke depan.
Yah, seperti biasa di setiap acara pernikahan, yang pertama harus dilakukan ialah mencari rekan se-profesi, maksudnya rekan sesama jomblo (hehe..), untuk menetralisir suasana. Dan ketemulah seorang teman lama asal Psikologi, Mr. Pandu, yang ternyata juga sedang mencari rekan seperjuangan. Yup, yang paling menarik dari setiap acara pernikahan memanglah kesempatan yang ada untuk bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah lama tidak bersua.
Ah.....malam itu di kediaman teman saya, yang mengadakan tahlilan tadi, kembali memory perjalanan seharian terputar kembali.
Hidup seperti layaknya seorang perantau.
Kita bekerja keras di dunia ini, akan tetapi tujuan akhir tetap bukanlah dunia ini semata. Toh, ia hanyalah tempat kita merantau. Tujuan akhir kita ialah pulang kembali ke tempat asal kita dengan sebuah kemuliaan. Seorang perantau akan selalu siap untuk pulang ke daerah asalnya apabila diperlukan. Dan, Ia akan selalu berusaha untuk tetap menjadi mulia kapanpun Ia pulang ke daerah asalnya.
Jadi teringat, baru-baru kemarin saya mengeluhkan akan suasana pekerjaan kantor yang saya nilai kurang fair. Seorang teman kemudian mengingatkan, gitu aja kok pusing, toh kerja itu khan minimal kita mencari pahala. Sentilan ringan, dari sosok yang sederhana.
Yah, untuk malam itu, berbeda dengan teman sebelumnya yang sedang dilanda kebahagiaan yang sangat dengan pernikahannya, teman saya yang mengadakan tahlilan ini kini masih dalam suasana berkabung dengan kematian ayahnya. Dua-duanya memanglah teman dekat. Dua-duanya sama-sama beristrikan dokter, yang satu dokter umum dan yang satu dokter gigi. Yah, mirip dengan saya yang beribukan dokter gigi dan mempunyai adik seorang calon dokter. Dekat, dan hari itu membuat suasana hati menjadi campur aduk.
Anyway, malam semakin larut. Kembali harus meninggalkan lokasi acara buru-buru. Kali ini ada pertemuan rutin di kawasan Kukusan, UI bersama teman-teman yang lain. Cukup untuk renungannya, saatnya untuk kembali memupuk modal di dunia ini, sebagai bekal merantau.
"Dan Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul−Nya serta orang−orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan−Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS At−Taubah (9): 105).
[[Dedicated to my best friend, Rangga dan Andyan]]
Posted by
Budi Setiawan
at
6:56 PM
0
comments
Dan Citarik pun akhirnya menelan korban…
Monday, January 14, 2008

Refreshing lagiiiiiiiii….
Hehe, kayaknya kebanyakan santainya neh. Maklum long weekend. Pengennya benar-benar memanfaatkan dengan optimal, maksimal dan poll pollan…
Yah, sebenarnya ga 100% refreshing. Karena tujuan utamanya sebenarnya untuk kerja. Ada orderan CD Interaktif dari Perusahaan Outbound Selaras. So, mau ga mau harus berkunjung kembali ke Citarik, kali ke dua dalam waktu kurang dari sebulan.
Berbekal kamera DSLR Nikon D70, saya bersama teman saya, Taufik di tanggal 2 Muharram 1429H atau 11 Januari 2008, resmi berkunjung ke Citarik. Kebetulan momennya bertepatan dengan acara outbound perusahaan perkapalan, Wilhhemsen ships service. Sebetulnya untuk momen Selaras sendiri hari itu kita sekaligus mengerjakan 3 orderan. Di luar order CD interaktif dan peliputan acara Wilhhemsen, kami juga mengerjakan acara outbound Bank Bumiputera. Total ada 3 kameraman yang beraksi di tempat yang berdekatan kemarin.
Cuaca Citarik saat itu sangat panas, tidak seperti sebulan yang lalu. Memang sudah beberapa hari hujan berhenti turun. Akan tetapi, aliran air sendiri untungnya tetap berada di garis normal, alias deras. Setelah shalat Jumat dan makan siang, sementara Taufik bersiap-siap dengan kamera Nikonnya, saya pun bersiap-siap untuk kembali merasakan arung jeram saya yang ketiga. Hanya saja, kalau sebulan yang lalu untuk servicenya saya harus membayar, untuk saat ini yang ada gratisan jek..hehe..enak khan...:)
Menaiki perahu yang ada, saya saat itu kembali teringat dengan saat terakhir saya di sana. Kompletnya seh bisa dibaca lagi di link ini.
Petualangan di Citarik
Intinya, saya teringat saat itu, saya bolak-balik menertawakan salah seorang teman saya yang beberapa kali terjatuh dari perahu. Nah, tak disangka, ternyata saat kemarin akhirnya gantian saya yang terjebur di jeram yang ada di sana.
Yah, awalnya seh karena saya disana statusnya gratis, jadi mau tidak mau diikutkan dengan panitia di tim rescue. Nah, mungkin gara-gara overconfidence karena selama ini tidak pernah tercebur sekalipun dalam arung jeram, saya benar-benar relax dan terkesan meremehkan. Apalagi, tim panitia tergolong sudah biasa mengarungi jeram-jeram disana, sehingga setiap kali ada jeram bukannya memperlambat perahu, yang ada ialah kami berupaya untuk mempercepat laju perahu sehingga bisa melewati jeram dengan lebih seru.
Malang tak bisa dihindari, setelah sempat berputar arah di sebuah jeram, pegangan saya di tali saya lepaskan. Kebetulan saat itu tak terduga perahu menabrak karang di sisi kanan tempat saya duduk, sehingga saya terkaget dan tidak bisa mengendalikan keseimbangan. Maka jatuhlah saya di jeram itu, dan sepanjang jeram posisi saya terjepit di antara perahu dan karang-karang.
Yah, Alhamdulillah memang perangkat safety yang ada sangat OK. Saya terbantu dengan adanya helm dan pelampung yang saya pakai. Helm sangat membantu di kala saya terbentur beberapa kali dengan karang, sementara pelampung akhirnya digunakan sebagai sarana untuk mengangkat saya kembali dari air. Well, benar-benar pengalaman yang cukup menegangkan.
Hmm...akhirnya kita pun sampai juga di titik finish. Sambil menunggu-nunggu Taufik menyelesaikan pengambilan gambarnya, saya duduk-duduk menikmati udara segar Citarik yang nyaman. Menyenangkan bisa mendapatkan kesempatan seperti ini di tengah udara Jakarta yang penuh dengan polutan. Menyenangkan melihat sebuah dunia di mana waktu terasa berjalan begitu lambat, nuansa hening mendominasi, tidak ada pressure untuk segera menyelesaikan sebuah pekerjaan, irama hidup begitu mudah mengalir....hmm..enak juga membayangkan kalau suatu saat bisa kembali ke sini bersama dengan keluarga, bersama istri, anak,...huss..melamunnya sudah kejauhan sepertinya, hehe..
Well, akhirnya momen indah harus diakhiri. Kami harus kembali lagi ke Jakarta, kembali harus masuk lagi ke medan yang hingar bingar dengan manusia. Inginnya seh bisa lebih lama di sini, tapi apa nyana hari-hari selanjutnya sudah ada lagi yang harus dikerjakan. Sabtu dan Minggu diisi dengan Raker Rumah Video 2008, dan Senin-nya kembali harus masuk kerja dan kuliah lagi. At the end, I’m glad to be there. There still will be next time...:)
Note : Satu catatan saya untuk pemda Sukabumi. Di sepanjang jalan Sukabumi-Jakarta, banyak lobang bertebaran sehingga sangat membahayakan, terutama ketika kami melewatinya di waktu malam. Mohon kiranya untuk bisa diperbaiki. Apalagi, ini menyangkut salah satu obyek wisata andalan, dan apalagi, katanya kita sedang menjalani program Visit Indonesia 2008…Gud luck !!
Posted by
Budi Setiawan
at
6:55 PM
0
comments
Labels: Catatanku, Refreshing
Dan Kembalilah kita ke masa-masa SMU....Part 2

Ini lanjutan dari pengantar di cerita sebelumnya. Sebenarnya ide untuk mengunjungi guru-guru ini timbul sudah lama. Dari semenjak buka puasa bersama teman-teman ex sekelas di SMU 28 dulu. Hanya saja, kebetulan memang baru terealisasi kemarin.
Memang, salah satu yang membuat kami bertekad untuk segera merealisasikan rencana ini ialah ketika beberapa hari sebelumnya kami mendapati bahwa salah satu guru yang kita sudah rencanakan mau kita kunjungi ternyata sudah berpulang kurang dari setahun yang lalu. Wah, terus terang ini membuat kami merasa sdikit bersalah, karena selama ini terkesan begitu sibuk dengan urusan masing-masing.
Kami ingat kembali masa-masa SMU dahulu, saat itu, beliau (Bu Ratna-red, semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya), termasuk salah satu guru favorit kami. Yang paling lucu yang kami ingat dari beliau adalah kebiasaannya untuk selalu meminta kami bergantian maju ke depan untuk mengerjakan soal matematika, di dalam setiap sesi pengajaran. Walhasil, dalam setiap sesi pelajaran yang beliau sampaikan, mau ga mau, malas atau tidak, kami harus membuka-buka kembali pelajaran yang pernah beliau sampaikan sebelumnya. Sepintas beliau terkesan keras, hanya saja kami tahu bahwa dedikasinya untuk mengajar tidak perlu diragukan kembali.
Satu guru lainnya yang ingin kami kunjungi, Bu Ida, guru biologi, ternyata sempat tidak mengajar beberapa bulan karena stroke. Wah, lagi-lagi kami merasa bersalah karena tidak mengetahui tentang kabar ini. Kami teringat masa-masa kenakalan kami dahulu. Karena mata pelajaran Biologi ada setelah pelajaran olahraga, kami sering berlama-lama beristirahat hingga baru masuk ke kelas kembali setelah pelajaran tertunda sampai 40an menit. Suatu hari beliau pernah begitu marahnya dengan kami, sehingga saat itu kami benar-benar kelimpungan untuk memohon maaf kepada beliau. Sedih ketika mendengarkan bahwa awal beliau ketauan menderita stroke juga gara-gara marah ketika melihat kegaduhan yang ditimbulkan oleh murid-muridnya beberapa bulan yang lalu. Alhamdulillah saat ini beliau sudah baikan. Hanya saja, kami belum berkesempatan mengunjunginya karena beliau sedang keluar kota saat kemarin.
Nah, satu guru terakhir Alhamdulillah bisa kami kunjungi. Ibu Sihite adalah wali kelas kami. Begitu mengetahui bahwa beliau bersedia dan bisa kami kunjungi, maka kami tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Benar kata orang, kalau punya niat baik, memang sebaiknya buru-buru direalisasikan. Atau, bila tidak akan sangat menyesal bila kesempatan yang ada di depan mata melayang.
Mengingat sang wali kelas, saya pribadi teringat masa-masa awal saya masuk ke kelas 3 IPA 1 itu. Sebelumnya sebenarnya saya dimasukkan ke kelas 3IPA2, malahan sempat mengikuti pemilihan ketua kelas disana. Hanya saja, dengan pertimbangan tertentu saya dipindahkan ke kelas 3IPA1 oleh Pak Kepsek. Kebetulan saat itu, sedang dilakukan pemilihan ketua kelas juga. Lucunya benar-benar begitu saya masuk ke ruang kelas, dan baru dipersilakan duduk oleh Ibu Wali Kelas, langsung saja saya didaulat untuk menjadi ketua kelas. Bingung, speechless, saya sama sekali tidak sempat membela diri, hingga akhirnya saya terpaksa mengiyakan. Dan, ternyata itu jadi awal petualangan saya bersama kelas ini, yang akhirnya menamakan diri sebagai MOLLUSCA (dunno know what it means till now...:-D)
Kelas ini memang tergolong kelas yang paling berisik, susah diatur, dan selalu ingin berbeda dengan kelas-kelas yang lain. Selain Ibu Ida, ada lagi guru yang pernah marah besar kepada kelas ini sehingga memaksa saya dan beberapa teman-teman terpaksa harus mendatangi beliau meminta maaf secara pribadi. Tapi, yang paling mengesankan, kelas ini tergolong kelas yang paling kompak yang pernah saya ikuti. Kekompakan itu yang akhirnya membawa kita sukses menjadi juara di kompetisi sepakbola antar kelas saat itu.
Yah, Alhamdulillah setelah sempat sekian lama tidak bertemu, sudah 2 tahun ini kami kembali rutin bertemu kembali. Mengesankan melihat spirit kebersamaan yang ada, yang seakan masih tidak hilang ditelan masa. Di saat kelas lain mungkin sudah jarang mengadakan kegiatan bersama lagi setelah sekian lama, kami kemarin sempat mengadakan acara Halal Bihalal, Buka Puasa dan terakhir kunjungan ke guru-guru. Wah, romantisme SMU bersemi kembali. Tapi, biarlah saat ini kami menikmati kembali masa-masa indah itu....:)
Posted by
Budi Setiawan
at
6:51 PM
0
comments
Dan Kembalilah kita ke masa-masa SMU....
Thursday, January 10, 2008

Hari pertama di 1429 H pun dimulai. Ini sekaligus awal dari Long Weekend yang kesekian dalam periode beberapa minggu ke belakang. Alhamdulillah, hari pertama diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Silaturahim.
Hari ini saya dan beberapa teman yang sekelas di kelas 3 SMU (tepatnya 3IPA1 SMUN 28-red) mengunjungi wali kelas kami dulu. Sebetulnya plan kami ada 3 guru yang kami ingin kunjungi, hanya saja ternyata kami baru tahu kalo 1 guru sudah meninggal sementara guru yang lainnya berencana keluar kota. Jadi, akhirnya hanya sempat ke sang wali kelas saja.
Yah, cerita lengkapnya menyusul. Saat ini, sharing foto ini dulu. Maklum, sudah jam 1 pagi sekarang, dan besok pagi-pagi banget harus sudah jalan ke Citarik, Sukabumi untuk ambil gambar. Bye...:)
Posted by
Budi Setiawan
at
10:30 AM
0
comments
Resolusi di tahun yang baru

Yah, karena sudah menjadi trend, akhirnya saya pun mencoba menuliskan resolusi saya untuk tahun yang baru. Sekaligus ini sebetulnya menyambung postingan saya sebelumnya di sini.
- A memorable 2007, a challenging 2008
- Balancing Your Life !! [Plan 2008]
Well, 1429 H sudah datang. Karena keseluruhan periode tahun hijriah ini berada di tahun masehi yang sama, yaitu 2008, maka diputuskan untuk coba memformulasikan resolusi ini di saat sekarang (yah, sebetulnya juga emank baru sempat ditulis seh..:-D).
Insya Allah, dalam pelaksanaannya saya akan tetap berusaha untuk proporsional, dan tetap mencoba untuk menjalaninya dengan rileks. Membiarkannya mengalir, dan berupaya menarik pelajaran yang ada dari proses aliran itu.
Dannn resolusi itu adalah...........
1. Untuk aspek pribadi, ada beberapa kelemahan yang ingin saya perbaiki. Seperti contohnya, sifat emosional. Saya pikir, salah satu kelemahan saya adalah saya masih seringkali menempatkan aspek emosional dalam mengambil keputusan. Sehingga bila menemui kegagalan, saya menjadi terlalu lama menyesali kegagalan itu dan kurang sigap memikirkan solusi lain yang lebih feasible. Ke depannya, tanpa berupaya menghilangkan faktor ini, saya ingin mencoba untuk lebih mendorong lagi pertimbangan rasional. Selain itu, kebiasaan menunda-nunda, akan menjadi salah satu fokus saya untuk diperbaiki. Sisanya, wah saya sekarang sedang berusaha untuk mendefinisikan ulang sifat-sifat buruk saya untuk bisa dipermak lebih lanjut. Mungkin teman-teman ada masukan....:)
2. Untuk aspek kesehatan jasmani dan rohani (jasadiyah dan ruhiyah), saya merencanakan untuk mendisiplinkan diri dalam berolahraga dan menjalankan ibadah. Untuk olahraga, plan rutin saya adalah sepeda dan futsal, minimal sekali dalam seminggu. Sementara itu, untuk ibadah, saya harus lebih mendisiplinkan diri untuk aktivitas tambahan di luar ibadah wajib, seperti mengaji, Dhuha dan Tahajud. Plan saya, untuk aktivitas ini, nantinya saya akan coba disiplin untuk menuliskannya dalam form harian. Yup, intinya ga cman fokus di urusan duniawi semata..
3. Untuk kuliah, 1429H atau 2008, akan menjadi momen krusial. Di tahun ini, saya akan menjalani periode trimester 3 hingga 5. Bila lancar, seharusnya tahun ini saya bisa menyelesaikan perkuliahan dan tugas akhir berupa business plan. Insya Allah, di awal 2009 saya sudah bisa lulus dengan nilai yang SANGAT BAIK.
4. Untuk aktivitas sebagai engineer telekomunikasi, saya sadar masih banyak hal yang harus saya upgrade. Core competence saya saat ini ialah Network Performance Improvement, untuk teknologi 2G (GSM) dan 3G (UMTS). Saya pikir ini tetap jadi salah satu nilai tambah saya, yang ingin tetap saya coba untuk pupuk. Perusahaan saya yang sekarang, Ericsson, sebenarnya telah mencoba memfasilitasi dengan memberikan ujian sertifikasi untuk mengetahui level kemampuan saya. Tempo hari, level saya di-vonis berada di level ASSESSED 2. Tahun depan yang pasti sudah harus lebih meningkat lagi. Insya Allah.
5. Untuk bisnis, Rumah Video akan menjadi fokus. Penjualan tahun depan ditargetkan untuk tumbuh 100% sehingga mau tidak mau harus konsentrasi lebih dahulu di sana dan mengesampingkan dahulu peluang-peluang bisnis yang lain. Kalaupun ada tambahan, mungkin akan coba bisnis garmen kecil-kecilan, itupun niatannya untuk bantu-bantu ibu yang punya niatan untuk mulai mencoba berbisnis sebagai persiapan sebelum pensiun. Untuk properti, internet marketing, klinik, apotik, dll, untuk setahun ke depan niatnya hanya akan belajar saja.
6. Untuk sosial kemasyarakatan, plan tahun depan, paguyuban pengajian yang saya ikuti berencana membentuk yayasan. Sejauh ini, belum diputuskan format detailnya. Mohon doanya untuk kelancarannya sehingga bisa ikut berkontribusi lebih di masyarakat. Selain itu, bila memungkinkan saya juga ingin bisa memberikan kontribusi lebih untuk komunitas yang saya ikuti, terutama komunitas TDA, yang saya kagumi visi dan gerakannya. Yah, semoga saja bisa diberikan keleluasaan waktu dan tenaga.
7. Untuk keluarga, tahun ini akan menjadi tahun yang cukup penting. Bila tidak ada halangan, adik perempuan saya yang skrg berkuliah di UI, akan menempuh program PTT, yang kemungkinan berlokasi di pedalaman Kalimantan. Otomatis, saya sebagai anak sulung dan saudara satu-satunya, paling tidak harus ikut memikirkan tentangnya. Selain itu, ke depannya saya ingin lebih bisa memperbaiki kualitas hubungan saya dengan orangtua. Untuk urusan membina rumah tangga baru, saya pikir saat ini saya harus realistis. Plan saya adalah menyelesaikan dulu kuliah saya, baru saya akan menikah. Akan tetapi, sekali lagi, untuk ini saya ingin membiarkannya mengalir saja. Kalau memang ada peluang, Insya Allah saya tidak akan menundanya. Mohon doanya yah..:)
8. Yah, sudahlah. Cukup. Resolusi ini sekali lagi tidak ingin saya jadikan sebagai unsur pemaksa bagi diri saya. Memang resolusi ini sifatnya seperti janji, dan janji sebisa mungkin harus ditepati. Biarlah resolusi ini dituliskan sebagai pengingatan untuk diri pribadi bahwa begitu banyak hal yang masih harus diperbaiki. Dan semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk bisa lebih banyak memberi kontribusi.
Hmm...saat ini sih saya sedang memikirkan tema apa yah yang kira-kira cocok untuk membungkus resolusi-resolusi tersebut.
Tapi, sepertinya tema “PEMBELAJARAN” masih relevan untuk digunakan di tahun ini..
Salam dari orang yang masih belajar,
Budi Setiawan.
Posted by
Budi Setiawan
at
10:24 AM
0
comments
Tetap Semangat !!!
Tuesday, January 01, 2008

Mengasyikkan. Yah, saya harus akui liburan panjang natal dan tahun baru kali ini sangat seru dan menyenangkan. Sebuah kesempatan me-refresh diri, dan juga sebuah kesempatan untuk lebih banyak meluangkan waktu di Rumah Video.
Lho…bukannya itu berarti kerja tambahan lagi?? Wah..wah…saya sih saat ini sedang enjoy aja menjalaninya. Melelahkan, tapi memang benar kata orang bijak, jika kita memiliki mimpi yang kuat maka kita akan mampu menikmati proses mencapai mimpi itu. Saat ini, mimpi saya, dan juga teman-teman, Rumah Video akan menjadi pemain yang diperhitungkan di Jakarta, maka dengan tujuan itu kami saat ini ngebut mempersiapkan konsep re-launching Rumah Video.
Memang sih secara umum, dalam pelaksanaannya, beberapa item tidak sesuai dengan perencanaan awal kami. Tadinya plan awal kami, momen tahun baru 2008 semua urusan terkait dengan finishing sistem produksi dan persiapan tools marketing akan selesai. Tapi, apa daya beberapa masalah nonteknis sedikit mengganggu kami.
But, its OK. Target sekarang direvisi. Beberapa miting konsolidasi, produksi, marketing, dan sistem organisasi sudah dilewati. Juga beberapa aktivitas tambahan selama periode 2 minggu kemarin, aktivitas penyembelihan kurban di Idul Adha, hunting tambahan furniture untuk kantor, serta refreshing futsal melawan tim dari customer.
Taufik Hannas masih memegang kendali sebagai bos besar. Faisal dan Acep menjaga gawang produksi, sekaligus men-tentir editor baru. Danu tetap setia dengan kameranya. Edi tetap bertanggung jawab untuk urusan rumah tangga. Kalau saya sih masih bantu-bantu saja di urusan marketing. Yah, lumayan sekalian kesempatan belajar design web dan internet marketing dari ahlinya.
OK, time’s up. Jangan banyak bicara, buktikan dengan aksi nyata. Tetap semangat, teman-teman !!
Note :
1) Dipersembahkan untuk sebuah team yang solid, Rumah Video.
2) Taufik dan Acep sepertinya sudah mulai panas dengan blog ini. Ditunggu kehadirannya di dunia blogger yah teman-teman...hehe.
3) Baru saja tadi menghadiri kumpul-kumpul Gank teman-teman ex-kuliah di UI dulu. Bertempat di Rawasari, ketahuan lagi kalo 2 teman akan segera menikah di Februari ini. Barakallah ya pak...Wah, kalo gini mulai panas neh. Yah, mohon doanya...:)
Posted by
Budi Setiawan
at
8:16 AM
0
comments
Labels: Catatanku, Rumah Video
Dilematis Praktek Sampingan

Yah, sedang ingin menulis yang ringan-ringan. Baru saja ditanya sama teman via sms, ”Bud, cabut gigi di tempat nyokap lo berapa?” Hmm...sejenak terpana...oh iya selama ini saya memang tidak pernah menanyakan itu ke ibu. Maklum, kalau butuh langsung loncat ke sebelah, dan gratis, hehe. Lagipula, saat ini ibu sedang pulang kampung ke Ngawi menengok banjir di kampung halaman.
Mendengar pertanyaan teman itu, saya jadi sedikit tersenyum. Bila bicara konsep perluasan target market, maka sudah seharusnya saya langsung mem-follow up dengan memberitahu paket-paket yang tersedia di tempat praktek ibu, yang kebetulan masih di rumah juga. Dengannya diharapkan, sang teman ini nanti akan menjadi pelanggan setia yang kemudian akan ikut mempromosikan dari mulut ke mulut tentang praktek sang ibunda.
Hanya saja, saya tahu bahwa selama ini memang ibu tidak pernah membakukan tarif berobat giginya. Biasanya semuanya tergantung dari siapa pasien yang berobat ke sana. Memang rata-rata pasien yang berobat ialah tetangga-tetangga yang tidak semuanya mampu, sehingga tarif tidak berlaku flat.
Selain itu, saya pernah punya pengalaman kurang enak dengan teman ketika sang teman ingin berobat giginya ke ibu. Karena aktivitas ibu yang masih bekerja di Depkes, maka praktek biasanya hanya dilakukan di malam hari. Hanya saja, seringkali ibu baru pulang ke rumah di saat sudah larut dan biasanya beliau sudah terlampau lelah untuk menangani pasien di prakteknya. Kasihan juga sebetulnya melihatnya. Teman yang saat itu sudah sangat kesakitan sebetulnya sudah disarankan untuk berobat di dokter lain saja. Hanya saja, karena mungkin merasa lebih dekat, maka doi nekat tetap nunggu availability dari ibu saya. Setelah menunggu selama 1 minggu, dan itu pun sudah dibumbui dengan acara mati lampu dan kursi gigi yang sempat rusak, maka akhirnya sang teman sukses dicabut giginya.
Yah, yang seperti ini sebetulnya bukan konsep yang ideal untuk sebuah customer loyalty. Seringkali terpaksa saya harus menghadapi banyak pasien yang datang untuk memohon maaf karena sang bu dokter sedang tidak available. Mungkin itu juga sebabnya makin ke sini, yang datang ke praktek ibu semakin sedikit saja.
Sebenarnya memang niatan ibu untuk membuka praktek saat ini di rumah juga lebih untuk menjaga supaya ilmu kedokteran giginya tidak benar-benar hilang. Maklum, semenjak pindah ke Jakarta 10 tahun silam, ibu tidak berhasil mendapatkan penempatan di rumah sakit sebagai dokter gigi. Ia terpaksa menjalani penempatan di Depkes di bagian yang tidak berhubungan dengan gigi. Karena itulah, tujuan awal dari praktek ini sudah tidak sama dengan ketika ibu membuka praktek di tempat tinggal kami sebelumnya, Palembang dan Banjarbaru, tempat dimana ibu mendapatkan penempatan di rumah sakit.
Hmm...di satu sisi sebetulnya kasihan juga melihat ibu yang sudah cukup berumur, masih bekerja keras seperti itu. Sudah sepantasnya sebetulnya sekarang ibu lebih menikmati hidup. Hanya saja, bila ternyata beliau merasa enjoy dengan itu, yah mengapa tidak. Lagipula, sayang peralatan kursi gigi dan sebagainya menganggur begitu saja.
Akhirnya saya pun menjawab sms teman itu. ”Wah, kurang tau yah. Kalo gw seh biasanya gratis...:D, Lagipula, ibu sekarang lagi pulkam ke Ngawi.”
Yah, semoga dia bisa segera mendapatkan dokter gigi yang bisa mengobati sakit giginya dengan cepat.
Note : Sebuah tulisan untuk seorang yang sudah memberikan banyak hal di dalam hidup saya, walau mungkin tulisan ini tidak akan terbaca olehnya.
Posted by
Budi Setiawan
at
7:12 AM
0
comments
Labels: Catatanku
Showreel Rumah Video
Testimonial tentang Audio Visual

Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”
Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”
Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”
Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”
Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.
