
Hari kedua di Bandung bisa dikatakan menjadi hari yang amat panjang dijalani.
Awalnya sama sekali tidak ada rencana jelas dari kami akan kemana saja kami di hari itu. Yang pasti memang ada beberapa opsi yang sempat dipikirkan. Hanya saja, hingga hari itu kami belum memutuskan akan mengambil opsi yang mana.
Nah, paginya selepas bangun dan shalat subuh (dan jeleknya, tidur lagi bentaran), kami mendapati kalau teman-teman dari Turki kami sudah mulai menghilang. Ada yang sudah berangkat atau ada juga yang masih betah di kamar masing-masing. Akhirnya memang tidak mungkin mengumpulkan mereka, apalagi untuk hanya sekedar foto bareng. Yah akhirnya terpaksa pamitan dari tempat bermalam kami itu ke Kamil saja. Yah, salam saja bwat semua sahabat-sahabat baru kami itu. Moga lain waktu kita bisa ketemuan dan silaturahim lagi.
Pamitan tetap tanpa agenda yang jelas. Akhirnya setelah sampai lagi di jalur perangkotan, barulah bingung akan melangkahkan kami kemana. Kami berada di depan UPI, jalan persimpangan antara Daarut Tauhid, Bandung Kota dan Bandung Utara. Pilihan kami 2, ke Kota atau ke Utara. Ya sudah, karena niatnya refreshing kami cobalah ke ara utara saja. Tujuan ke Tangkuban Perahu.
Sebetulnya sempat berniat kesana malamnya. Hanya saja, karena kurang paham angkutan umum kesana sempat berencana untuk membatalkannya. Tapi, ya akhirnya dengan niatan ga ada salahnya dicoba jadilah kami memilih untuk kesana. Naiklah kami ke angkot arah ke Terminal Ledeng. Dari sana, sesuai dengan petunjuk teman akhirnya kami menyambung angkot ke arah Subang. Turun di jalan masuk ke Tangkuban Perahu, akhirnya kami memutuskan untuk mencarter angkot untuk naik ke atas.
Sebetulnya saya sudah 2 kali ke sini. Cuman memang sudah lama banget. Terakhir sekitar 4 tahunan yang lalu. Jadinya, memang sudah agak lupa dengan jalan masuk ke sana sih. Ini yang nyebabin akhirnya kami ga mau ngambil resiko untuk coba jalan saja ke atas. Takut kejauhan, apalagi sudah janjian dengan Kamil untuk mampir ke ITB siangnya.
Ya sudah. Alhamdulillah, sampailah kami di atas dengan selamat. Subhanallah...sekali lagi hati kami disejukkan dengan keindahan ciptaan Allah di muka bumi ini. Sebuah fenomena kawah yang mempesona yang kita kenal dengan sebutan Gunung Tangkuban Perahu. Jadi ingat lagi dengan cerita legenda yang menceritakan asal muasal gunung ini. Yah, mengenai seorang anak yang tidak sadar mencintai ibunya sendiri, dan akhirnya menjelma menjadi gunung dengan kawah eksotik ini. Sebuah legenda yang oleh warga asal sana dijelaskan sebetulnya hanyalah cerita pemanis saja. Konon, objek wisata ini pertama kali ditemukan oleh Belanda dan di saat itu kebetulan di sana rawan gempa dan gunung meletus. Makanya di sana kita bisa temukan juga sebuah alat pencatat gempa atau seismograf yang kini sudah tidak berfungsi lagi.
Kawah di puncak gunung ini sebetulnya sekarang sudah tidak aktif lagi. Makanya ketika ada tawaran untuk melihat kawah lain yang masih aktif, yang dikenal dengan sebutan Kawah Domas, maka kami tidak menolaknya. Kawah Domas ini letaknya di lereng gunung. Numpang lagi dengan angkot untuk turun. Sampai di titik masuknya, kami sempat menyangka hanya akan berjalan 100-200 meter saja. Yah, harapan yang terlalu optimis.
Ternyata perjalanan ke Kawah Domas cukup panjang dan melelahkan. Bila dihitung, mungkin bisa sekitar 1 jam dihabiskan untuk bolak-balik di sana. Yah, benar-benar lumayan lah untuk olahraga. Kabar buruknya, jalan sehat ini terpaksa kami lakoni ketika jam makan siang telah tiba. Jadilah kami berjalan sambil menahan lapar. Sampai di Kawah Domas, paling tidak kami terhibur dengan ketidaksia-siaan perjalanan kami. Kawahnya memang masih aktif. Bahkan beberapa tempat masih menyemburkan air belerang panas yang katanya bisa untuk menggoreng telor di sana.
Well, singkat cerita akhirnya kami pulang juga dari Tangkuban Perahu. Di perjalanan balik ke Lembang, tiba-tiba terpikirkan untuk menjajal Rumah Strawberry yang ceritanya sering kami dengar itu. Setelah bertanya-tanya dengan supir angkot, akhirnya mantaplah kami memutuskan untuk coba pergi kesana.
Dengan modal sok tahu soal jalanan Bandung, kami pun memutuskan untuk naik lagi angkot di Lembang. Oh yah satu hal yang terlupakan dari angkot Bandung, ngetemnya itu lho yang ga nahan. Total bisa setengah jam lebih ngetem sebelum angkot jalan. Sudah gitu, di setiap persimpangan rata-rata angkot tetap bolak-balik ngetem.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang naik turun angkot sebanyak 3 kali (yang total menghabiskan waktu hingga 1.5 jam ditambah lamanya ngetem), sampailah kami di Rumah Strawberry (sempat nyasar en pengen niat balek aja seh sebelumnya). Jarum jam saat itu sudah menunjukkan pukul 3 kurang, which is pastinya laper banget bo.
Yah tapi akhirnya perjuangan kami ke sana ternyata sangatlah worthed. Rumah Strawberry saat itu sedang sepi, karena hari senin, sehingga kesannya kamilah penguasa tempat itu. Tapi yang pasti menu di sana yang benar-benar membuat kami puas sekali. Memesan nasi goreng dan nasi liwet, mungkin satu katanya Bondhan Winarno bisa menggambarkan perasaan kami, mak nyosss!!..:) Yah bisa dilihat dari pose kami di samping yang tampak bahagia dan puas.
Karena sepi dan memang capek banget, akhirnya sempat-sempatnya kami tidur siang di sana, selain mencharge HP dan laptop, hehe. Jam 5 kurang, setelah diusir halus oleh pelayannya (maksudnya dah disodorin bon aja) akhirnya kami pun beranjak meneruskan perjalanan. Nah, sekarang gantian panik melihat waktu sudah sore banget. Padahal kita berencana untuk langsung balik ke Jakarta memakai travel jam 7 malam. Apalagi masih harus mengantarkan titipan Kamil ke ITB.
Setengah panik, akhirnya naiklah kami ojek sampai ke depan jalan umum lagi. Sampai di jalan umum, lebih panik ketika mendapati angkot jarang sekali yang lewat sana. Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, barulah kami mendapati angkot yang segera melaju lagi balik ke Terminal Ledeng. Di Ledeng, untuk menuju Dago kami menaiki angkot jurusan Cicaheum.
Sampai di Dago, buru-buru meninggalkan angkot. Dan akhirnya karena buru-buru itu, oleh-oleh yang sempat kami beli di Ledeng, akhirnya ketinggalan di angkot itu. Yah, nasib. Singkat cerita, akhirnya kami baru bisa naik travel untuk keberangkatan jam 9 malam. Ya udah, sisa waktu kami habiskan di Bandung Indah Plaza, bersama Kamil sekalian mengantarkan pesanannya. Dan akhirnya jam 9 malam berangkatlah kami kembali ke Jakarta dengan menggunakan travel Baraya.
Yah, sungguh hari yang lumayan melelahkan. Full dengan naik turun angkot dan jalan kaki. What a journey. Saya Budi Setiawan, melaporkan siaran tunda dari Bandung langsung dari pelaku utamanya. Cheerss...:)
Backpacker di Bandung (Eps.2)
Sunday, May 04, 2008
Posted by
Budi Setiawan
at
6:58 PM
0
comments
Labels: Refreshing
Backpacker di Bandung (Eps.1)
Thursday, May 01, 2008

Mari coba berhitung. Dalam tempo satu hari kemarin, total lebih dari 10 angkot kami naiki selama perjalanan kami di Bandung. Dimulai dari Terminal Luwipanjang ke Kalapa , Kalapa ke Ledeng, Ledeng ke Subang, ke atas Tangkuban Perahu dan balik lagi ke Lembang, Lembang ke arah Cimahi, trus naik lagi ke arah Ledeng, turun dan naik lagi ke arah Rumah Strawberry, balek lagi ke arah Ledeng, dari Ledeng ke Cicaheum, turun di Dago naik ke arah Bandung Indah Plaza, dari BIP balik lagi ke tempat travel kami, Baraya, standby.
Backpacker. Itulah yang 2 hari kemarin saya dan tim Rumah Video coba lakukan. Memang sih kalau melihat dari lokasinya, belum bisa ditobatkan sebagai backpacker sejati. Karena tujuannya masih tergolong dekat, Bandung. Paling gak kemarin kami sudah mencoba untuk menjelajah Bandung dengan modal ngeteng saja, alias tanpa membawa mobil dan tanpa menginap di penginapan yang butuh dibayar.
Ide untuk petualangan ini dimulai ketika kami (saya, Taufik Hanas dan Acep Hidayat) bertemu di tongkrongan favorit kami beberapa minggu ini, Mie Ayam OK, di bilangan Tugu Depok. Tempatnya asyik untuk nongkrong lama-lama, karena nuansanya yang hommy, dengan pondok-pondok kecil dibangun di tanah yang cukup luas.
Nah, alkisah dari sekedar nongkrong-nongkrong itu, muncul ide untuk sekedar mencari suasana baru di luar Jakarta. Mengenai waktunya, diusulkan untuk berangkat Minggu dan balik Senin atau Selasanya. Wah, pas banget kebetulan bakalan cuti memang di hari Senin sampai Rabunya dari kantor sebagai TDB. Langsunglah mengiyakan. Setelah pertimbangan beberapa lama, akhirnya diputuskan tujuan yang simple, Bandung. Syaratnya, “no mobil” dan “no hotel”.
Hari minggunya, selepas menjadi panitia dan peserta di nikahan teman (Choi dan Iis-red), langsunglah sekitar jam 4 bersiap-siap untuk memulai perjalanan. Maksud hati tadinya akan naik travel dari Tanjung Barat, apadaya karena miscommunication akhirnya terpaksa naik bus dan turun di Terminal Leuwipanjang. Sampai terminal Leuwipanjang, kami harus menyambung 2 kali angkot, hingga akhirnya kami bertemu dengan penghuni calon tempat transit kami malam itu, Kamil. Janjian di Masjid Daarut Tauhid, lokasi kost Kamil ternyata memang tidak terlampau jauh dari Pondok Pesantren milik Aa Gym itu.
Sampai di kost-an Kamil, agak terkejut ketika menyadari mayoritas penghuninya adalah warga negara Turki, dan negara tetangganya seperti Turkmenistan dan Tajikistan. Rupanya kost-an itu memang diperuntukkan untuk mereka yang mendapatkan beasiswa dari Turki untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia. Wah, bangga juga berarti Indonesia masih diperhitungkan sebagai salah satu tujuan pendidikan oleh warga negara asing. Rata-rata mereka yang ada di sana sedang dan akan menjalani pendidikan di kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).
Satu lagi yang menarik dari komunitas Turki ini, ukhuwah di antara mereka tergolong luar biasa. Masih ingat adegan makan bersama di satu loyang di film AAC (Ayat-Ayat Cinta)? Nah, disini kebiasaannya juga seperti itu. Biasanya untuk sarapan dan makan malam, mereka memasak sendiri makanannya dan akan memakannya beramai-ramai di satu wadah. Ritualnya, mereka akan menggelar beberapa lembar koran sebagai alas, dan menaruh wadahnya di sana. Kami beruntung di saat malam kedatangan kami itu kami bisa merasakan aroma persaudaraan itu, dengan tentunya menu yang aduhai, daging cincang, acar yang Subhanallah lezatnya, ditambah dengan kerupuk ikan yang seolah sudah jadi menu wajib mereka.
Sehabis sesi makan malam, kami para tamu disambut lagi dengan menu tambahan, martabak yang sekali lagi dimakan beramai-ramai. Nah, di sesi ini kami semuanya sama-sama saling memperkenalkan diri. Ada Yusuf dari Turki yang adalah mahasiswa yang sudah masuk ke semester 4 di UPI jurusan matematika. Dia tergolong penghuni yang paling senior di sana. Atau ada lagi Yusuf kedua yang baru sekitar 6 bulanan di sana, yang seorang guru di SMU Pribadi. Atau beberapa orang lagi yang baru beberapa bulan di Indonesia dan kini sedang belajar bahasa Indonesia sambil menunggu ujian penempatan mereka, untuk pilihan akademis. Senang juga bisa mendengar cerita-cerita dari saudara-saudara jauh seperti mereka.
Anyway, sayang sekali karena terlalu asyik bercerita kami sampai lupa untuk berfoto bersama dengan mereka. Tadinya, kami berpikiran masih ada hari esok. Sayang sekali, keesokan harinya kami akan segera mengetahui kalau pikiran kami itu belum akan kesampaian.
----Bersambung ke Eps.2, Insya Allah !! ----
Posted by
Budi Setiawan
at
9:01 PM
0
comments
Labels: Refreshing
Tentang Ikhlas di Ayat-Ayat Cinta
Sunday, March 30, 2008

Jumat minggu lalu saat long weekend akhirnya saya bisa juga menyempatkan diri untuk menonton Ayat-Ayat Cinta, yang kabarnya kemarin baru saja menembus angka 3 juta penonton. Saya pribadi tidak ingin mengomentari pro kontra yang ada dari filmnya itu sendiri. Saya pikir wajar, di awal-awal kemunculan film-film islami akan banyak menimbulkan kontroversi. Kurang inilah, kurang itulah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Insya Allah semoga ke depannya ini akan menjadi trigger bagi film-film Islami untuk semakin menunjukkan giginya.
Persis, semoga akan sama dengan fenomena maraknya buku-buku Islami saat ini, hingga bisa memunculkan fenomena Islamic Book Fair. Yah, bayangan saya kelak akan ada yang namanya Festival Film Islami Indonesia. Apalagi, kalau suatu saat Rumah Video bisa menjadi salah satu produsernya.
Well, bicara lagi tentang Ayat-Ayat Cinta, ada beberapa kutipan menarik dari film itu. Selain tentunya kutipan tentang ”jodoh”-nya Fahri dan Maria di tepi sungai Nil, yang sepertinya jadi hits pembicaraan beberapa teman-teman, kutipan tentang keikhlasan adalah salah satu hikmah yang bisa diambil dari film ini. Penyesalan Fahri akan dirinya yang kurang ikhlas menyikapi keadaan istrinya Aisyah yang lebih kaya darinya, dan kondisi Ia yang harus bisa mengayomi 2 istri sekaligus, menjadi titik balik dari film ini.
Yup, ikhlas. Hanung sendiri bahkan mengatakan bahwa inilah tema sentral dari film ini. Bahkan, sempat mendengarkan di Smart FM, Hanung rencananya bersama Red Pyramid akan mengadakan seminar khusus yang membahas tentang manajemen keikhlasan ini. Jadi ingat juga tentang Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu, yang pernah saya ikuti tahun lalu. Atau Manajemen Qalbu-nya Aa Gym.
Ikhlas, paling tidak akan menyadarkan kita bahwa tetap ada sebuah kekuatan di luar kita yang akan selalu menyertai langkah kita. Dengan ikhlas, alih-alih mempertanyakan mengapa ini bisa terjadi, yang harusnya kita lakukan adalah mempertanyakan, bagaimana cara untuk mengatasinya?
Oh ya, ini ada sekedar tambahan tips merawat password ikhlas dari Erbe Sentanu.
Perbanyak :
1. Memberi maaf kepada orang lain dan diri sendiri. Serta memohon ampun atas kebiasaan (ketidaksengajaan) kita menyalahkan Allah.
2. Rasa pengakuan dan kepercayaan dari diri sendiri dan memberi pujian kepada orang lain.
3. Bergaul dengan orang-orang yang beroperasi di zona ikhlas (syukur, sabar, fokus, tenang, bahagia) atau energy giver.
Note :
Ayat-Ayat Cinta ini kemarin saya tonton bertiga saja dengan kedua orangtua saya. Yah, tempo hari ibu sempat protes saya sudah lama tidak pernah mengajak mereka berdua jalan-jalan dan jarang meluangkan waktu di rumah karena kerjaan. Ya sudah, kebetulan belum menonton film ini. Akhirnya jadilah saya menghabiskan waktu hari itu dengan kedua orang tua saya. Wah, ternyata memang nikmat. Alhamdulillah, Ya Allah, telah dan masih memberikanku orangtua seperti mereka.
Posted by
Budi Setiawan
at
5:36 AM
0
comments
Labels: Refreshing, review
Airsoft gun
Sunday, February 24, 2008

“Ajarilah anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda.” [Hadist Rasulullah SAW]
Airsoftgun, untuk sebagian orang, memainkannya sudah menjadi hobi tersendiri. Pun, mengkoleksi senapan dan pistolnya. Yah, untuk sebagian orang, tp saya lebih memilih hobi lain yang lebih murah, seperti tidur (hehe..hobi yang mahal neh skrg)…
Awalnya sempat malas untuk ikutan ketika teman kuliah ngajakin untuk main games ini kemarin. Niatnya, sekaligus refreshing selepas ujian Operation Management Jumat malamnya. Malas bukan karena apa-apa, itungan capek berat karena seabis ujian langsung di-push standby semalam suntuk di kantor. Lagipula, malam minggunya masih harus melanjutkan lagi periode standby ronda malamnya. Pengennya seh, sabtu siang itu digunakan untuk full tidur di ranjang tersayang.
Yah, akhirnya menyerah juga setelah ngeliat sang teman tetap dengan gigihnya mengajak. Itung-itung olahraga. Lagian jadwal futsal en sepedaan sekarang jadi berantakan gara-gara kerjaan.
Sampai rumah jam 9 kurang di hari Sabtu itu. Tidur pagi. Bangun lagi pas Zuhur. Langsung siap-siap buat berangkat ke tujuan (eh, ga ding, tidur2an ayam dulu). Jalan jam 1 siang, sampai tujuan di Area 81, Gatot Subroto jam setengah 3, which is telat ½ jam dari jadwal semula. Kontan aja diteriakin protes ama anak-anak yang lain (huu..maaf, siapa suruh Jakarta hujan jam segitu, jadinya macet total dmana-mana)..
Area 81, yang sebenarnya memanfaatkan fasilitas pabrik di Gatsu ini, menawarkan paket harga yang bersaing. Rp 35 ribu perjam untuk yang hanya menyewa lokasi, tambah Rp 25 ribu lagi bila include senapan dan pelurunya. Settingan medan tempur diset indoor, dengan banyak ruang-ruang kecil dan boxes sebagai tempat perlindungan. Bwat yang sering main games CS (Counter Strike) pasti bakalan familiar. Nah, karena tahu pelurunya bakalan lebih sakit dibanding paint ball, maka dari rumah sudah sengaja menggunakan kaos lengan panjang.
Akhirnya games dimulai. Kebetulan karena yang datang dari kita cman 6 orang, sy, Julius, Yunus, Irsal, Victor dan Puti, makanya kita tanding ngelawan tim lain yang kebetulan baru ketemuan di tempat. Tim lain ini asalnya dari Bintaro dan kebetulan nyaris setiap Sabtu rutin maen airsoftgun disini. Wah, amatir versus profesional neh.
Mulai tembak-tembakan. Sy memilih strategi standar sy, yang biasa dipake pas futsal dan maen paintball terakhir kali, jadi bek sayap kanan. Namanya amatir, walau maennya kudu nyebar, tetap aja di sayap maen keroyokan. Tiga orang langsung rame-rame ngepost di sayap kanan. Awalnya ambil aman, maen belakang di sayap kanan. Alibinya, ngelindungin dari belakang teman-teman yang ngerangsek maju.
Bismillah. Majulah 2 teman di sayap kanan dengan senapan otomatisnya. Karena setingannya otomatis, mulailah menembak membabi buta. Oh ya, aturan mainnya sekali kena harus fair mengaku kalah dan meninggalkan permainan. Games selesai bila salah satu tim keabisan player. Dretetetet….berondongan senapan otomatis memborbardir 2 teman saya yang di depan. Wah, langsung mati 2. Tinggallah saya sendirian ngadepin tim lawan yang rupanya keroyokan juga di sayap kanan.
Sembunyi di box, nunggu lawan berhenti nembak, dan niatnya langsung muncul sambil nembakin peluru membabi buta. Haduh, gaya film banget yah. Tapi, kalo di film it works, di sini, muncul, coba mulai nembak, ternyata…dretetetet…ternyata keduluan lawan. Game over.
Sesi 1 selesai dengan kekalahan telak tim kami. Sekarang saatnya bwat sesi 2. Nah, aturan mainnya agak dibedain. Tim lawan cman 3 orang, sementara kami ada 7 orang. Rulesnya, tim lawan harus mampu menculik satu-satunya personel perempuan di tim kami. Logikanya, kita menang jumlah dan syarat menangnya mereka lebih susah.
Coba strategi beda tapi mirip dengan sebelumnya. Kali ini dari sayap kiri. Tembak-tembakan dengan lawan di sayap kiri. Akhirnya mutusin bwat coba jadi hero. Majulah menyerang dengan PD tinggi, sambil dilindungin oleh teman. Saat maju dan yakin kalo lawan di kiri ga akan berkutik, eh ternyata...dretetetet...kena berondongan peluru dari sayap kanan. Rupanya ada personel lawan yang sembunyi dari sisi lain, yang khusus membidik sasaran-sasaran yang bergerak maju. Cross shot....yang ginian sama sekali ga keduga.
Sesi-sesi selanjutnya diakhiri berturut-turut dengan sekali kena freeze (ditodong senapan dlm jarak dekat), sekali menang, sekali dipojokin ma 2 orang sekaligus en terakhir kalah gara-gara keabisan peluru. Hehe...bukan prestasi yang bagus kayaknya...
Anyway, enough for the games. Cape berat uuyy. Saatnya pulang, en siap-siap lagi coz shift kerja malam sudah menunggu.
Posted by
Budi Setiawan
at
9:15 AM
2
comments
Labels: Catatanku, Refreshing
Dan Citarik pun akhirnya menelan korban…
Monday, January 14, 2008

Refreshing lagiiiiiiiii….
Hehe, kayaknya kebanyakan santainya neh. Maklum long weekend. Pengennya benar-benar memanfaatkan dengan optimal, maksimal dan poll pollan…
Yah, sebenarnya ga 100% refreshing. Karena tujuan utamanya sebenarnya untuk kerja. Ada orderan CD Interaktif dari Perusahaan Outbound Selaras. So, mau ga mau harus berkunjung kembali ke Citarik, kali ke dua dalam waktu kurang dari sebulan.
Berbekal kamera DSLR Nikon D70, saya bersama teman saya, Taufik di tanggal 2 Muharram 1429H atau 11 Januari 2008, resmi berkunjung ke Citarik. Kebetulan momennya bertepatan dengan acara outbound perusahaan perkapalan, Wilhhemsen ships service. Sebetulnya untuk momen Selaras sendiri hari itu kita sekaligus mengerjakan 3 orderan. Di luar order CD interaktif dan peliputan acara Wilhhemsen, kami juga mengerjakan acara outbound Bank Bumiputera. Total ada 3 kameraman yang beraksi di tempat yang berdekatan kemarin.
Cuaca Citarik saat itu sangat panas, tidak seperti sebulan yang lalu. Memang sudah beberapa hari hujan berhenti turun. Akan tetapi, aliran air sendiri untungnya tetap berada di garis normal, alias deras. Setelah shalat Jumat dan makan siang, sementara Taufik bersiap-siap dengan kamera Nikonnya, saya pun bersiap-siap untuk kembali merasakan arung jeram saya yang ketiga. Hanya saja, kalau sebulan yang lalu untuk servicenya saya harus membayar, untuk saat ini yang ada gratisan jek..hehe..enak khan...:)
Menaiki perahu yang ada, saya saat itu kembali teringat dengan saat terakhir saya di sana. Kompletnya seh bisa dibaca lagi di link ini.
Petualangan di Citarik
Intinya, saya teringat saat itu, saya bolak-balik menertawakan salah seorang teman saya yang beberapa kali terjatuh dari perahu. Nah, tak disangka, ternyata saat kemarin akhirnya gantian saya yang terjebur di jeram yang ada di sana.
Yah, awalnya seh karena saya disana statusnya gratis, jadi mau tidak mau diikutkan dengan panitia di tim rescue. Nah, mungkin gara-gara overconfidence karena selama ini tidak pernah tercebur sekalipun dalam arung jeram, saya benar-benar relax dan terkesan meremehkan. Apalagi, tim panitia tergolong sudah biasa mengarungi jeram-jeram disana, sehingga setiap kali ada jeram bukannya memperlambat perahu, yang ada ialah kami berupaya untuk mempercepat laju perahu sehingga bisa melewati jeram dengan lebih seru.
Malang tak bisa dihindari, setelah sempat berputar arah di sebuah jeram, pegangan saya di tali saya lepaskan. Kebetulan saat itu tak terduga perahu menabrak karang di sisi kanan tempat saya duduk, sehingga saya terkaget dan tidak bisa mengendalikan keseimbangan. Maka jatuhlah saya di jeram itu, dan sepanjang jeram posisi saya terjepit di antara perahu dan karang-karang.
Yah, Alhamdulillah memang perangkat safety yang ada sangat OK. Saya terbantu dengan adanya helm dan pelampung yang saya pakai. Helm sangat membantu di kala saya terbentur beberapa kali dengan karang, sementara pelampung akhirnya digunakan sebagai sarana untuk mengangkat saya kembali dari air. Well, benar-benar pengalaman yang cukup menegangkan.
Hmm...akhirnya kita pun sampai juga di titik finish. Sambil menunggu-nunggu Taufik menyelesaikan pengambilan gambarnya, saya duduk-duduk menikmati udara segar Citarik yang nyaman. Menyenangkan bisa mendapatkan kesempatan seperti ini di tengah udara Jakarta yang penuh dengan polutan. Menyenangkan melihat sebuah dunia di mana waktu terasa berjalan begitu lambat, nuansa hening mendominasi, tidak ada pressure untuk segera menyelesaikan sebuah pekerjaan, irama hidup begitu mudah mengalir....hmm..enak juga membayangkan kalau suatu saat bisa kembali ke sini bersama dengan keluarga, bersama istri, anak,...huss..melamunnya sudah kejauhan sepertinya, hehe..
Well, akhirnya momen indah harus diakhiri. Kami harus kembali lagi ke Jakarta, kembali harus masuk lagi ke medan yang hingar bingar dengan manusia. Inginnya seh bisa lebih lama di sini, tapi apa nyana hari-hari selanjutnya sudah ada lagi yang harus dikerjakan. Sabtu dan Minggu diisi dengan Raker Rumah Video 2008, dan Senin-nya kembali harus masuk kerja dan kuliah lagi. At the end, I’m glad to be there. There still will be next time...:)
Note : Satu catatan saya untuk pemda Sukabumi. Di sepanjang jalan Sukabumi-Jakarta, banyak lobang bertebaran sehingga sangat membahayakan, terutama ketika kami melewatinya di waktu malam. Mohon kiranya untuk bisa diperbaiki. Apalagi, ini menyangkut salah satu obyek wisata andalan, dan apalagi, katanya kita sedang menjalani program Visit Indonesia 2008…Gud luck !!
Posted by
Budi Setiawan
at
6:55 PM
0
comments
Labels: Catatanku, Refreshing
Balancing Your Life !! [Plan 2008]
Tuesday, December 25, 2007

Saya pernah mendengar, secara umum, manusia memiliki 3 potensi dasar dalam dirinya, potensi fikriyah, jasadiyah dan ruhiyah. Seorang yang seimbang dalam hidupnya, paling tidak seharusnya selalu berusaha untuk mengoptimalkan potensi-potensi dasar ini, sebelum nantinya beranjak ke potensi-potensi yang berkaitan dengan sosialisasinya di masyarakat.
Nah, teorinya memang mudah. Hanya saja, aplikasinya di lapangan selalu tidak segampang ucapan. Tulisan ini, sekedar meng-encourage saya untuk mencoba tawazun dalam menyeimbangkan kesemua potensi ini.
Terus terang saya harus akui, dalam perjalanannya unsur fikriyah saat ini terlalu mendominasi perjalanan hidup dalam setahun ke belakang. Dengan porsi waktu yang dalam sehari minimal 8 jam dihabiskan di kantor, kuliah sekitar 3 jam - belum bila ada lembur, tugas kelompok dan kerja tambahan di Rumah Video - hanya ada waktu sisa yang sedikit untuk aktivitas jasadiyah dan ruhiyah setiap harinya, terlebih bila harus dikurangi lagi dengan waktu yang dihabiskan di jalan dan waktu tidur.
Untuk jasadiyah, sebetulnya saya saat ini mencoba mensiasatinya dengan mencoba rutin bermain futsal dengan teman-teman kuliah dulu di UI Depok setiap sabtu. Hanya saja, aplikasinya kadang sabtu pagi terisi dengan acara lain sehingga yang terjadi adalah absen olahraga selama seminggu. Nah, menyambut 2008, saya bertekad untuk memperbaiki tingkat kehadiran saya di sini.
Sebagai tambahan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepeda dan bertekad untuk bisa rutin minimal seminggu 2 kali menaikinya. Apalagi, kebetulan rumah terletak dekat dengan Kebun Binatang Ragunan, yang setiap paginya biasanya dibuka secara gratis untuk orang-orang yang ingin berolahraga di dalamnya. Yah, siapa tahu dalam perjalanannya, saya bisa jadi bagian dari komunitas B2W (Bike To Work), sekalian menghemat ongkos bensin. Lumayan bila kesampaian coz harga minyak dunia sekarang sudah melangit dan ikut berkontribusi untuk menghindari global warming (hehe…agak muluk yah).
Nah, untuk ruhiyah sebetulnya memang konotasinya luas. Ia tidak hanya terbatas pada aktivitas keagamaan semata, melainkan juga mencakup aktivitas-aktivitas refreshing atau refleksi yang bisa menyegarkan pikiran. Akan tetapi, karena hidup tidak hanya untuk dunia, bukankah lebih efektif bila kita bisa memanfaatkan momen keagamaan sebagai ajang refreshing kita.
Terkait dengan ini, aktivitas yang saya coba untuk rutin jalani adalah pengajian rutin mingguan yang kebetulan sudah saya ikuti dari zaman SMU. Yah, lumayan menyegarkan sebagai pelarian sesaat dari aktivitas duniawi yang melelahkan. Lagipula, selain mengaji, banyak pencerahan-pencerahan yang muncul di dalam aktivitas ini. Terlebih, teman-teman 1 kelompok kebetulan berasal dari beragam profesi, mulai dari PNS hingga wirausahawan, juga berasal dari bermacam background pendidikan, beberapa juga lulusan S2.
Selain itu, aktivitas yang saya coba untuk persering lakukan adalah memperbanyak refreshing keluar Jakarta. Alhamdulillah, beberapa minggu ke belakang saya mencoba mengisinya dengan bepergian, mulai dari Bandung, Sadang hingga Sukabumi. Cukup menyenangkan dan menyegarkan melihat suasana alam lain di luar Jakarta yang sudah terlalu sumpek.
Nah, untuk 2008 saya pikir tetap banyak hal yang harus saya perbaiki dari sisi ini. Aktivitas mengisi ruhiyah haruslah tetap menjadi agenda harian, dan bukan hanya menjadi agenda mingguan. Saya memang sudah mencobanya, hanya saja tetaplah sangat sulit untuk bisa konsisten setiap harinya.
Sekedar tambahan untuk tulisan ini, saya sekarang mulai berpikir sepertinya aktivitas saya menulis di blog ini bisa jadi salah satu sarana saya untuk menyegarkan pikiran saya. Banyak ide baru yang baru muncul ketika menulis di sini, dan tentunya banyak refleksi yang dihasilkan di sini. Yah, tentunya semoga ini bisa menjadi salah satu wahana saya untuk bisa menyeimbangkan hidup saya. Insya Allah tahun 2008 bisa lebih baik lagi. Amin.
Posted by
Budi Setiawan
at
3:56 PM
1 comments
Labels: Kesehatan, Refreshing, Renungan
Petualangan di Citarik
Monday, December 24, 2007
Sabtu, 15 Desember 2007.
Citarik menjadi pembuka untuk liburan panjang kali ini. Sebenarnya belum liburan 100% sih, mengingat baru kuliah yang diliburkan, sementara kantor baru akan mulai libur di tanggal 20 Desember 2007, di saat Idul Adha. Yah, menyenangkan untuk ditulis.
Petualangan dimulai jam 7 pagi, saat saya dan teman-teman berkumpul untuk berangkat bersama dari kampus. Yah, namanya orang Indonesia, bukan jam karet namanya kalo kita berangkat tepat waktu. Akhirnya, kita baru berangkat ke Sukabumi jam 8.30. Sampai di Sukabumi jam 11, akhirnya kami memulai arung jeram jam 12.
Citarik sudah lama menjadi tempat favorit untuk melakukan aktivitas arung jeram. Di Citarik sendiri, saat ini ada 3 operator untuk arung jeram, yaitu Selaras dengan Kaki Langit-nya, Arus Liar dan Caldera. Sebelumnya sempat ada lebih dari 5 operator, hanya saja seleksi alam yang membuat mereka berguguran. Dari 3 operator itu, baru Selaras yang saat ini menjadi customer dari Rumah Video. Insya Allah, ke depannya kami akan masuk ke 2 operator yang lain. Amin.
Saya pribadi sudah 2 kali melakukan arus jeram. Bila sebelumnya dengan Selaras, maka kemarin kami mencoba layanan dari Caldera. Mirip dengan Selaras, paket yang ditawarkan juga standar, paket 4km, 9 km dan 16-an km. Bila sebelumnya saya mencoba paket 4km, maka kemarin kami mencoba paket 9km dari Kaldera. Total waktu yang akan kami tempuh diprediksi sekitar 2 jam.
Setiap perahu isinya 5-6 orang, dengan 1 orang pemandu. Saya bergabung dengan geng Ragunan, bersama Andri, Dian dan Bowon. Sebelum dimulai, sang pemandu menjelaskan asal kata Citarik, yang ternyata artinya ialah Sungai yang deras. Dan saat ini, karena musim hujan, maka arusnya terbilang normal, alias DERAS. Hmm...nice. Tapi, mari kita mulai dengan Bismillah.
Petualangan dimulai. Setelah melewati perjalanan awal yang tenang, mulailah kita memasuki jeram-jeram yang seru. Oh iya di sini setiap jeram mempunyai nama masing-masing. Dan biasanya ia dinamai sesuai dengan orang yang pernah menemui masalah di sini. Secara bercanda, kami menyebut semoga saja jeramnya kelak tidak dinamai dengan nama jeram Prasmul.
Bolak balik terpental ke sana kemari karena arus, kami tetap mampu bertahan hingga garis finish. Untungnya, personil di perahu kami termasuk jarang yang tercebur di tengah jalan. Yah, dibilang jarang karena salah satu personil, yang kebetulan perempuan sendiri, setelah bolak balik terpental ke sana kemari di perahu akhirnya tercebur di kali sebanyak 2 kali. Untung saja, sang pemandu tergolong sosok yang tanggap dan care sehingga tidak ada kejadian berbahaya yang terjadi.
Yah, akhirnya kita selamat sampai di tujuan. Thanks to semua personel Caldera yang sudah mencoba memberikan pelayanan yang maksimal dalam arung jeram kali ini. Secara kualitas layanan, saya akui ia tergolong bersaing dengan Selaras. Ke depannya memang, untuk bisa bertahan di bisnis ini, pelayanan dan safety adalah kata kuncinya. Tapi, untuk saat ini cukuplah saya mengatakan nice to have this experience...:)
Posted by
Budi Setiawan
at
9:31 PM
1 comments
Labels: Catatanku, Kuliah, Refreshing
Showreel Rumah Video
Testimonial tentang Audio Visual

Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”
Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”
Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”
Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”
Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.
