Hari demi hari

Wednesday, July 23, 2008


Nah sekarang kudu ngakuin....lama banget dah kagak ngisi di blog ini...Kalaupun ada, lebih banyak hanyalah mengutip tulisan-tulisan dari beberapa teman-teman...

Yah, bukannya sok sibuk sih. Cman, memang benar yang dikatakan orang-orang, konsisten bukan sebuah kata yang gampang realisasinya di lapangan. Saya selalu menganggap menulis di sini adalah sebuah sarana ekspresi diri. Dan memang sempat berniat apapun nantinya kesibukan lain yang menghadang, saya akan tetap mencoba meluangkan waktu untuk menulis di sini...*duh, bahasanya..:p*

Oke deh. Langsung aja ceritain aktivitas sehari-hari saat ini..

Untuk amanah di bidang telco emank masih rada ribet. Gara2nya baru aja dminta menangani project baru lagi setelah sebelumnya sempat ”settle” d tempat lama. Saat ini juga masih persiapan untuk program sertifikasi ”Experienced” Engineer. Kayaknya emank dipaksa bwat belajar terus neh...:(

Rada senengnya di kantor sekarang, temen-temen lagi pada semangat untuk belajar berinvestasi. Setelah sebelumnya coba-coba di unit link, sekarang sudah coba untuk bereksperimen di pasar modal. Akhirnya memang ketiban pulung. Diminta untuk mengelola portofolio mereka di sana. Yah, itungannya nothing to lose sih. Namanya juga belajar. Lagipula kalau dikelola sendiri, masih bisa mensetting portofolionya untuk tidak mengambil portofolio yang tidak sesuai dengan “syariah”. Nah, saat pasar modal lagi rada lesu begini, mulai ada usulan-usulan untuk bisnis bareng…hmmm..kita liat nanti deh frens, all Richest Wannabe…

Trus, barengan dengan teman-teman satu “geng”, Alhamdulillah kita lagi proses untuk membuat sebuah yayasan di bidang pendidikan. Saat ini sih, bentuknya masih prototype. Namanya sudah ada, Muslim Harapan. Launching sudah dilakukan kerjasama dengan Salam UI di Masjid UI Depok. Aktivitasnya saat ini masih difokuskan untuk memberikan beasiswa untuk anak2 SD hingga SMP yang tidak mampu. Walau begitu, bentuk resminya memang belum berbadan hukum yayasan. Tapi, its Oklah. Nanti saja, yang penting sekarang jalan dulu. Nah, sambil jalan inilah, trus muncul ide-ide juga untuk membuat bisnis, salah satu tujuannya untuk pembiayaan operasional yayasan ke depan.

Soal kuliah. Masih belum lulus neh....:(
Sudah masuk trim 4, dan materinya memang lebih banyak ke Finance sekarang (konsentrasi memang mengambil itu). Tugas akhir berupa business plan sudah mulai dibuat. Setelah sempat ditolak 2 kali, akhirnya 3 ide yang kami masukkan kemarin bisa diterima. Ide-idenya, Mobile Video Information, Private Emergency Response dan Indonesian Youth Camp. Sepertinya kami akan mengambil tema pertama. Selain itu, yang seru di trim ini adalah kuliah Business Simulation. Diceritakan 6 perusahaan saling berebut untuk menjadi nomer 1 di suatu negara. Saat ini, di tahun terakhir permainan, nilai saham kami memang masih berada di peringkat 5. Targetnya, kuartal ini sudah akan naik ke peringkat 3....doain yach...

Soal keluarga. Anak (hus!!), maksudnya ortu yang pegawai negeri sekarang juga lagi semangat mulai bisnis kecil-kecilan. Bidang yang dipilih juga simple, Properti, alias coba bikin kost-kostan. Yah, sebagai anak tertua, akhirnya mau ga mau kudu membantu, sampai ke urusan finansial....:(
Tapi, sekali lagi...belajar...Alhamdulillah ada beberapa unit sebentar lagi siap untuk dipasarkan. Sekarang sih masih mencari pendanaan untuk membangun beberapa lagi..(duh, plis jangan mikir unitnya banyak banget yah, masih below 10 kok...:)
Yah ke depannya sih kalo bisnis keluarga pengennya bs set-up klinik or apotik, secara ibu ma adik dokter gigi dan umum...*Amin*

Nah, selain itu semua, Riil bisnis sendiri, Rumah Video masih berjalan. Operasionalnya di bawah pimpinan CEO Taufik Hanas saat ini masih mem-follow up hasil pameran franchise kemarin. Terus terang, sedikit di luar dugaan kami, walaupun persiapan minim kemarin dan kami juga agak “nyeleneh” (tidak menawarkan franchise-red), ternyata respon dari pengunjung cukup baik. Presentasi-presentasi lanjutan pun coba dijajaki. Yah, doakan juga semuanya bisa berjalan lancar.

Hmm..jadi sebetulnya apa benang merahnya tulisan ini...benang ijo, kuning, item *halah, garing yah*

Yah, ga tau deh. Orang ini sebetulnya juga bingung mo ditulisin apa lagi blog ini. Lama ga nulis, kerasa banget kakunya. Ya udah, tulisin lah yang simple2 en gampang, kalo bermanfaat syukur, kalo engga’ yah lagunya Maia dunk, EGP...hehe...

Becanda....

Versi seriusnya, kita hidup ga bisa sendirian. Yang pasti aktivitas bersama atawa berjamaah lebih asoy daripada cman mengerjakan semuanya sendirian...Emank ga gampang, tapi hasilnya akan selalu lebih baik daripada sendiri. Kuncinya satu, TRUST. Think positive about your friend, your team, your partner, TRUST them, let everyone take their role and responsibility, do the best, and always back, let Allah do the rest. Is it hard to do? Well, if yes, try the opposite. Believe me, it’s even harder.

Ok, kembali ke laptop *Laaahhhh*

*Someone said, When you wholeheartdly adopt a “with all your heart” attitude and go out with the positive principle, you can do incredible things*

Rumah Video hadir di Pameran International Franchise

Friday, June 20, 2008

Pameran Internasional Franchise, License and Business Concept.
Inilah tajuk acara akbar tahunan franchise nasional.
Bertempat di JCC (Jakarta Convention Centre) Senayan, hari ini sampai tanggal 22 Juni 2008 momen ini akan dilangsungkan.

Alhamdulillah pada kesempatan ini, Rumah Video berkesempatan untuk ikut serta meramaikan pergelaran ini.
Awalnya sempat tidak yakin untuk ikut serta. Makanya ketika ada tawaran dari TDA untuk mendapatkan stand gratis, kami belum berencana untuk mengambilnya.
Akan tetapi, aliran cerita akhirnya berkata lain. Via jalur lain yg tidak jauh berbeda akhirnya kami membulatkan tekad untuk ikut serta di momen ini. Doakan semoga kami bisa memberikan yang terbaik. Amin.







“ MEMBANGUN KOMUNITAS BERKARYA “

Thursday, June 19, 2008



Oleh : Acep Hidayat, Rumah Video, Senior Editor
*Sebagaimana dimuat di Media Indonesia, 4 Juni 2008

http://www.rumahvideo.com/pages/posts/ldquo-membangun-komunitas- berkarya-ldquo169.php

Keinginan mengapresiasi diri dan berkarya adalah dambaan semua orang muda. Karena itu, kita punya potensi besar untuk bangkit melawan keterpurukan di negeri ini. Kenyataannya tak semua orang muda mudah melakukannya. Keterbatasan pendidikan, fasilitas, sarana dan jejaring membuat potensi dan bakat mereka terbengkalai. Tak mengherankan, ada sebagian kawan yang lalu menjadi manusia tidak produktif alias pengangguran. Padahal, bekerja adalah wujud eksistensi diri di tengah masyarakat.

Keprihatinan tersebut tak hanya cukup diungkapkan dengan kata, namun membutuhkan gerak konkret. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai saat ini adalah slogan yang sangat relevan untuk dilakukan.

Teman-teman di Rumah Video tergerak untuk membangkitkan semangat berkarya di tengah orang muda. Berbekal pengalaman berkarya di bidang media audio-visual, eksistensi dan lapangan kerja yang telah kami buka buat sebagian kawan-kawan terdekat, kami mencoba melakukan program lokakarya audio visual. Sasarannya, kawan-kawan muda yang ada di dalam kampus maupun luar institusi kampus. Lokakarya dilakukan berjenjang dan diberikan kepada kawan-kawan muda yang ingin belajar media audio -visual. Mulai dari pelatihan kameraman, pengeditan, dan tema-tema seputar media audio visual lainnya.

Lokakarya ini gratis, namun hanya diberikan terbatas kepada kawan-kawan muda yang memiliki antusiasme belajar yang tinggi walaupun belum mempunyai kemampuan teknis sama sekali. Pelatihan dilakukan dengan praktik langsung di lapangan. Harapannya, peserta lokakarya tak saja mahir dalam hal-hal teknis, tapi juga memiliki inovasi sehingga diharapkan kelak bisa menjadi trendsetter, bukan pengikut atau latah. Tak kalah pentingnya, mampu membaca peluang dalam bisnis ini. Yup, menjaga idealisme sembari menghasilkan pendapatan, minimal buat diri mereka sendiri.

Buat kami, lokakarya ini jadi ajang menjalin pertemanan juga sumber inspirasi, membagi pengalaman, dan membuka peluang bisnis, khususnya di bidang media audio-visual. Menjadi manusia bermanfaat cita-cita ideal kami di Rumah Video, dan ternyata melakukannya tidaklah sesulit yang dibayangkan.

Tanggapan positif dari peserta lokakarya agar kegiatan ini dibuat berkala memberikan semangat tersendiri bagi kami. Jadi dengan kemauan, kerja keras, dan tekad untuk jadi manusia yang mau berubah lebih baik, harapan ini akan jadi kenyataan. Semoga langkah kecil komunitas ini akan jadi langkah besar ketika orang-orang muda bangkit untuk berkarya dengan segala potensi yang mereka miliki.

Pemuda bangkit, 100 tahun kebangkitan Indonesia bukanlah mimpi, dan akan jadi kenyataan.

Menciptakan Peluang Usaha Audio Visual



Oleh : Muhammad Taufik Hanas, Rumah Video, CEO
*Sebagaimana dimuat di Media Indonesia, 4 Juni 2008
http://www.rumahvideo.com/pages/posts/menciptakan- peluang-usaha-audio-visual168.php


RUMAH VIDEO bukanlah tempat peminjaman kaset atau DVD. Banyak orang yang salah kaprah dengan nama kami. Rumah Video adalah rumah yang memberikan kesempatan pada generasi muda yang tertarik pada dunia audio-visual untuk bisa menggali ilmu dari tempat ini.

Keinginan yang sangat besar dari sekelompok mahasiswa untuk membuat usaha di bidang audio visual yang awalnya kami merasa bisa melangkah di bidang ini.

Komunitas ini terbentuk pada 1 Januari 2005, dibentuk Muhammad Taufik Hanas dan Acep Hidayat. Bertepatan dengan malam tahun baru, kami membuat langkah maju untuk membangun semangat, prestasi dan penghasilan. Gerakan konkret kami untuk memulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan mulai saat ini adalah slogan yang membawa kami untuk membangun komunitas Rumah Video. Kami tergerak untuk membangkitkan semangat berkarya ini di tengah orang muda.

Kami memosisikan komunitas kami dalam bidang media audio visual yang profesional dan terkemuka di Jakarta. Dengan banyaknya generasi muda sekarang yang mulai unjuk kreativitas mereka dalam bidang audio visual, komunitas ini dibentuk sebagai wadah yang menyediakan pelatihan media audio visual yang berkualitas, menarik dan bernilai, memberikan nilai ekonomis bagi anggota dengan memberikan peluang usaha secara mandiri pada bidang media audio visual.

Kami pun tidak ingin menjadi benalu. Karena itu, dengan berbekal pengalaman berkarya dalam bidang media audio visual, kami pun merintis komunitas ini hingga bisa bermanfaat untuk mereka yang peduli dan tertarik dengan audio visual dan telah membuktikan mampu exist di dunia ini. Keberadaan bukanlah semata-mata harapan kami. Dengan wadah ini, kami inginkan anggota komunitas bisa mengaplikasikan ilmu mereka dan membuka lapangan kerja bagi sebagian kawan-kawan terdekat.

Kegiatan komunitas Rumah Video pun semua didasari keinginan berbagi ilmu dengan semua pihak. Karena itu, kami mencoba untuk melakukan program lokakarya audio visual yang ditujukan bagi kawan-kawan muda yang ada di kampus ataupun kawan-kawan muda lain yang ada di Jakarta.

Anggota kami pun tidak hanya dari mahasiswa, semua orang yang menyukai dunia audio visual bisa bergabung dengan komunitas kami. Karena semua harus dimodali dengan ketertarikan agar mereka bisa lebih cepat memahami dan mengerti apa yang diajarkan di Rumah Video.

Komunitas yang baru berjalan selama tiga tahun ini merupakan tempat untuk menuangkan kreativitas di dunia audio-visual, seperti membuat video documentation, video profile, video promo, CD Interactive, web design/development design, graphic design, dan spesialisasi pada pengembangan media audio-visual.

Semoga Rumah Video menjadi rumah yang dapat menaungi kemauan, mimpi, dan semangat bagi orang-orang yang ada di dalam dan lingkungan sekitarnya.

Kreativitas yang Dikaryakan


Oleh : Firlyana Sari, Rumah Video, editor
*Sebagaimana dimuat di Media Indonesia, 4 Juni 2008
http://www.rumahvideo.com/pages/posts/kreativitas-yang-dikaryakan167.php

Karya lahir dari karena diciptakan. Tak ada karya yang lahir tanpa ada penciptanya, yang ada mungkin penciptanya yang tak sadari kalau mereka telah menghasilkan sebuah karya.

Seorang pencipta tak bisa dilepaskan dari realita yang ada, sekecil apa pun realitas yang ada. Banyak orang mengatakan karya lahir dari imajinasi para pencipta, tapi perlu diyakini imajinasi ada karena adanya realitas.

Salah satu hasil pengembangan realitas tersebut adalah film. Film dapat disajikan dengan film dokumenter atau film untuk konsumsi masyarakat luas. Melalui film, realitas tersebut disajikan. Orang kota akan mengetahui kehidupan desa melalui film, begitu juga sebaliknya. Karena itu, kita bisa pastikan film merupakan hasil sebuah realitas yang digabungkan dengan imajinasi penciptanya.

Namun tak begitu dengan film indie. Film indie atau independent terkadang diartikan sebagai sebuah kemandirian. Berangkat dari pengertian tersebut, bisa dikatakan indie memiliki kebebasan dalam berkarya.

Kebebasan tersebut berarti kebebasan yang diberikan pada penciptanya dalam menghasilkan karya. Tanpa ada embel-embel dari pihak-pihak lain karena film indie akan menampilkan keaslian pembuatnya. Film indie merupakan tawaran untuk generasi muda kita untuk bisa mengembangkan pemikiran dan kreativitas mereka, tanpa ada kekangan dari pihak lain.

Terkadang pemikiran masyarakat awam berbeda. Selama ini masyarakat selalu beranggapan film indie adalah film yang diproduksi dengan budget kecil dan peralatan seadanya. Anggapan itu tentu salah besar. Mungkin itu sebuah anggapan yang wajar. Namun bila kita melihat lagi dari film yang dihasilkan, tak sedikit film indie yang berkualitas dan bahkan mengalahkan film-film yang diproduksi perusahaan besar.

Masyarakat pun ternyata lebih tertarik dengan film-film yang disajikan dengan cerita fiktif belaka. Tanpa mereka sadari, film-film tersebut secara tidak langsung telah mempengaruhi pola pikir mereka. Hal itu pun menjadi perhatian para pembuat film indie. Sayangnya, keberadaan film indie baru diterima sebagian masyarakat saja.

Indie adalah eksplorasi pemikiran penciptanya. Kenapa? Karena pencipta film indie memerlukan kemampuan berpikir untuk sebuah ide yang maksimal tanpa ada paksaan dari berbagai pihak.

Karena pemikiran manusia akan menghasilkan karya yang maksimal ketika tanpa ada tekanan. Begitu juga dengan film indie, lahirnya sebuah film besar dan sukses tentunya diawali dari proses eksplorasi pemikiran pencipta.

Tapi bila dirunut lebih jauh, pembuatan film indie bukanlah hal mudah. Selain membutuhkan fasilitas dan pemikiran yang maksimal, pembuatan film indie pun membutuhkan dana yang cukup besar. Namun, demi sebuah karta, para pencipta film indie tak jarang mengeruk kocek sendiri untuk bisa menuangkan ide-ide mereka.

Melalui film ini, mereka ingin menyampaikan ide dan kreativitas yang selama ini susah untuk tersampaikan. Adanya kebebasan tersebut membuat generasi muda sekarang mulai berlomba-lomba dalam menyajikan film indie.

Rasanya puas saat film dengan ide dan pemikiran sendiri bisa menjadi konsumsi publik walaupun pada kenyataannya jumlah pecinta film indie masih sedikit.

Harapan pun terkadang muncul dari para pencipta film indie yakni harapan untuk bisa dilirik dan diterima pihak lain. Bukan karena materi, melainkan karena para pencipta film indie ingin semua pihak tahu realitas yang berkembang dalam masyarakat.

Bangkit !!!

Monday, June 02, 2008



Sedang menikmati kata-kata yang sering diulang-ulang Deddy Mizwar di TV-TV.

Bangkit itu susah...
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang.

Bangkit itu takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya.

Bangkit itu mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu marah
Marah melihat martabat bangsa dilecehkan.

Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu minta melulu.

Bangkit itu tidak ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa.

Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku.


NB.
2 big surprise bwat Rumah Video di momen-momen kebangkitan nasional kemarin.
Yang pertama, acara workshop video kemarin mendapat apresiasi khusus dari Media Indonesia. Rencananya, liputan tentang Rumah Video akan muncul di kolom Muda untuk edisi Rabu besok.
Kedua, tak disangka Rumah Video bisa mendapatkan jatah stand gratis di Pameran Franchise Nasional tanggal 20-22 Juni 2008 besok. Semoga bisa menjadi ajang kebangkitan bagi kami ke arah yang lebih baik. Amin.


Note : picture taken from http://suluk.blogsome.com/images/bangkit.jpg

Proposal Business Plan


Beberapa waktu ini sedang pusing menyiapkan proposal business plan sebagai tugas akhir kuliah. Secara umum, berikut format proposal yang sedang coba disiapkan.

Jenis bisnis yang direncanakan adalah : bisnis baru / perluasan bisnis yang sudah ada……………..
Nama bisnis ini secara umum dan khusus adalah ......

Fungsi utama produk bagi pembeli dari sudut pandang produsen ..........
Dari sudut pandang pembeli fungsi produk ini adalah .........
Ciri-ciri spesifik dari pembeli produk ini adalah ...........

Tipe teknologi dari bisnis ini adalah :.........
Komposisi elemen biaya produk dari bahan baku hingga produk jadi siap dijual adalah sebagai berikut ....


Posisi bisnis di lingkungan dan peluang hidup

Faktor lingkungan umum yang paling menimbulkan peluang untuk menjalankan bisnis ini adalah : demografi/politik hukum/sosial budaya/makroekonomi/teknologi/global.
Dampak dari munculnya peluang bisnis ini terhadap lima kekuatan bersaing terutama pada kekuatan ...
Tipe dari kompetisi di antara para pemain di dalam industrinya adalah : pure monopoly/avoided competition/hypercompetition/perfect competition.

Lingkungan generik industri ini adalah : fragmented/emerging/maturity/declining/global.
Produk subtitusi bagi bisnis ini adalah ...
Strategi bersaing generik dalam industri ini adalah ....biaya rendah/diferensiasi/fokus biaya rendah/fokus diferensiasi.
Keunggulan bersaing dalam industri ini lebih sesuai bila dinyatakan dengan model : value chain/value shop/value network.

Jumlah pesaing dalam industri ini diperkirakan ...perusahaan.
Seluruh pesaing dapat dikelompokkkan menjadi ...kelompok stratejik.
Dimensi yang dipergunakan bagi kelompok stratejik itu adalah ... dan ...
Perusahaan dalam rencana bisnis ini akan masuk ke dalam kelompok stratejik...
Letak dari keunggulan bersaing perusahaan-perusahaan terkemuka di industri ini terutama pada aktivitas ...
Bisnis yang direncanakan akan meletakkan keunggula bersaingnya pada aktivitas ...
Definisi dari keunggulan bersaing itu secara spesifik adalah ...

Faktor lingkungan umum yang diperkirakan akan berpengaruh positif terhadap bisnis ini dalam jangka panjang adalah....
Sedangkan faktor lingkungan umum yang akan berpengaruh negatif terhadap bisnis ini adalah ...
Dampak netto dari faktor-faktor lingkungan umum dalam jangka panjang cenderung : positif/negatif, dan akibatnya terhadap lingkungan bersaing terutama pada kekuatan ...

Pelaksanaan bisnis dan kelayakan hasil

Lokasi kantor pusat, fasilitas produksi dan daerah pemasaran bisnis ini adalah di ...
Manfaat yang diperoleh dari lokasi yang dipilih adalah...

Jumlah permintaan produk yangs sejauh ini belum terpenuhi adalah sebesar ...
Kapasitas produksi/operasi yang direncanakan untuk bisnis ini adalah sebesar ...
Kerjasama dengan pemasok akan didasarkan pada ...
Komposisi bauran pemasaran yang akan digunakan adalah...
SDM yang kritikal dalam jangka pendek adalah...
Pengadaan SDM akan dilakukan dengan cara...
Jumlah seluruh karyawan diperkirakan ...orang.

Modal yang dibutuhkan diperkirakan Rp ... juta.
Sumber pemodalan berasal dari ....
Investasi diperkirakan akan kembali dalam waktu ... tahun.

Menjadi pembicara seminar telco

Wednesday, May 14, 2008


Suatu waktu memang saya pernah mengimpikan saya akan mampu untuk menjadi pembicara di sebuah acara seminar umum. Tapi jujur sejalan dengan waktu hingga saat ini sebetulnya saya masih merasa kurang PD untuk berbicara di depan umum. Saya harus akui saya jauh lebih menikmati saat-saat berada di belakang layar. Membuat sistem, mensetup skenario materi, menulis serta hal-hal lain yang tidak mengharuskan saya untuk berhadapan dengan orang banyak adalah kegiatan yang lebih saya senangi.

Nah, ketika akhirnya sebuah kesempatan datang menghampiri saya minggu lalu untuk menjadi pembicara, maka mulailah saya mencoba mencari-cari alasan untuk mewakilkannya kepada orang lain. Saya ingat ketika di kampus pun, dalam beberapa kali kesempatan saya mencoba menghindar tampil di depan publik. Bahkan ketika menjadi PO (Project Officer) sebuah kegiatan penerimaan mahasiswa baru pun, saya panik saat diminta untuk memberikan sambutan penutupan kegiatan, hehe... Terakhir saya masih ingat saat terpilih menjadi juara 2 lomba menulis tentang TDA dan diminta untuk maju ke depan ke atas panggung, saya malah grogi sendiri...:)

Alkisah, awal cerita dimulai saat teman saya yang kebetulan dosen di jurusan Elektro Untirta (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) Cilegon ”menembak” saya untuk memberikan materi tentang 4G. Kebetulan sedang ada momen Electrical Fair di sana dan salah satu rangkaian acaranya adalah seminar telco tentang 4G. Selain seminar itu, ada juga seminar Linux, workshop tentang blog dan juga seminar RT/RW net yang kondang dari Onno W. Purbo.

Awalnya kontan menolak karena beberapa alasan. Pertama, rasa ’tidak nyaman’ saya tampil di depan publik tadi. Kedua, materi yang ditawarkan terhitung berat, bahkan bagi saya yang notabene engineer telco ini. Bahasan 4G adalah bahasan yang bukan hanya menyentuh aspek teknikal saja, tapi juga terkait dengan strategi telekomunikasi ke depan. Engineer telco di lapangan secara teknis memiliki spesialisasi masing-masing dan jujur 4G bukanlah spesialisasi saya.

Akhirnya, sebagai win-win solution, saya menawarkan untuk mencarikan pembicara yang lebih kapabel. Saya pikir cara itu lebih aman dan merupakan penolakan yang lebih halus. Hanya saja, masalahnya waktu kegiatan sudah mepet (tinggal 4 harian lagi) dan lokasi acara lumayan jauh (beda provinsi bo !). Yah akhirnya hanya bisa mendapatkan co-partner sebagai pembicara dari Telkomsel.

Yah, singkat cerita acara ternyata berjalan lancar. Saya akhirnya memutuskan untuk membawakan materi tentang evolusi teknologi mobile telecommunication mulai dari generasi pertama (AMPS), kemudian 2G (GSM), dilanjutkan dengan 3G (UMTS/WCDMA), hingga diakhiri dengan 4G, yang saat ini masih diwarnai persaingan platform antara LTE dan WiMax. Sementara teman saya dari Telkomsel membawakan materi strategi operator telekomunikasi ke depannya dalam menyikapi fenomena teknologi mobile yang terus maju itu.

Alhamdulillah selesai juga amanah ini. Semoga dengannya bisa ikut membantu meruntuhkan salah satu ”mental blocker” saya ini, tampil di depan umum. Dan ternyata memang benar kata orang-orang bijak, it’s not that hard while you decide to take the action !!

Menjajal Action Business Coach


Action Business Coach, mungkin rata-rata businessman di Indonesia sudah kenal namanya. Dan semenjak kenal dan mencicipi dunia bisnis serta mengenal komunitas-komunitas bisnis seperti TDA, maka namanya juga seakan tidak lagi asing bagi saya. Nah, saat saya cuti beberapa minggu yang lalu, akhirnya saya berkesempatan juga untuk bertemu dan menjajal langsung kehandalan lembaga coaching yang didirikan oleh Brad Sugar ini.

Yang pertama saya jajal adalah feature group coaching-nya. Diawali dari seminar TDW akhir Maret lalu, saya dan Taufik memutuskan untuk mengikuti seminar setengah hari yang diadakan oleh Smart Action Business Coach. Seminar ini sebetulnya adalah pengantar dari group coaching yang rencananya intensif dijalankan selama 3 bulan, dengan jadwal ketemuan 2 minggu sekali.
Dibawakan oleh Pak Agus, penjelasannya memperjelas lagi prinsip 5 area untuk meningkatkan profit usaha kita, yaitu jumlah prospek, persentase konversi, frekuensi transaksi, volume penjualan dan persentase keuntungan atau margin.

Feature yang kedua yang saya coba untuk jajal adalah private coaching. Awalnya iseng mengirimkan sms ketika ada acara talkshow Action Coach di PasFM. Eh, ternyata ditawari oleh salesnya untuk datang ke kantornya untuk konsultasi gratis. Ya sudah, bareng Taufik akhirnya kita mendatangi kantor Action Coach di Wisma Antara. Selepas magrib, akhirnya sesi pun dimulai dan kami pun bertemu dengan salah satu coach disana, Pak Prijono Nugroho.

Sesinya cukup lama, sekitar 1.5 jam. Terus terang disana bisnis kami, Rumah Video, dikorek oleh Pak Prijono dengan sangat lugas. Kami berpendapat masalah utama kami adalah sales yang kurang, akan tetapi dengan contoh yang gamblang Pak Priyono menjelaskan bahwa akar masalahnya haruslah digali lebih dalam. Kami ditanya berapa jumlah prospek baru yang kami datangi dalam 3 bulan terakhir, persentase konversinya, frekuensi transaksinya dan seterusnya. Beliau berpendapat alih-alih kita fokus pada menambah prospek baru terlebih dahulu, mengapa kami tidak fokus pada faktor internal kami, yaitu meningkatkan persentase konversi dari prospek, atau meningkatkan frekuensi dan volume penjualan dari prospek yang sudah ada terlebih dahulu.

Intinya dalam sesi yang terasa singkat itu, kami banyak mendapatkan AHA baru. Bayangkan jika 5 area itu kami bisa tingkatkan masing-masing 10% saja, maka kami akan bisa mendapatkan laba sebesar 61%. Jadi lebih semangat lagi untuk coba mencapai targetan bulanan kita neh.

Di sesi itu sebetulnya saya sempat menanyakan juga kelanjutan program free coaching yang dijanjikan oleh Action Business Coach kepada member TDA. Pak Prijono pun menjawab bahwa saat ini mereka masih menyusun formulasi sistemnya. Akan ada seleksi ketat untuk bisa mendapatkannya dan kita diminta untuk bersabar.

Yah, akhirnya kita memang belum jadi memakai jasa Action Coach lebih lanjut. Sebetulnya pengen banget. Cman pertimbangan bisnis membuat kami memutuskan untuk saat ini belum feasible untuk bekerjasama lebih lanjut. Tapi, jujur disinilah saya melihat profesionalisme dari Pak Prijono. Beliau tetap dengan ringan sharing kepada kami walaupun jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat.

Malam sudah larut. Kami pun pulang dan kembali harus berhadapan dengan Jakarta yang macet abis (*wuihh, untung belum pernah merasakan berkantor di Segitiga Emas slama ini*). Cukup untuk bergurunya, yang penting adalah ACTION....:)

Oh iya, berikut ada beberapa strategi yang sempat dicatat dari 2 pertemuan di atas.

# 5 area meningkatkan profit

Jumlah prospek (1)

X % konversi (2) = Jumlah customer

X Frekuensi transaksi (3)
X Volume penjualan (4) = Omzet
X % keuntungan (5) = Profit

# Strategi meningkatkan jumlah prospek

1. Networking
2. Referral
3. Press release
4. Seminar dan events
5. Brosur
6. Iklan

Intinya, memperluas teritori.

# Strategi meningkatkan % konversi

1. Garansi tertulis
2. Menonjolkan keunikan
3. Produk yang berkualitas
4. Brosur yang berkualitas
5. Penawaran menarik
6. Coba dulu sebelum beli
7. Demo produk
8. Training team sales.

Intinya, dress for success.

# Strategi meningkatkan frekuensi transaksi

1. Kualitas konsisten
2. Kontak secara teratur
3. Minta untuk kembali lagi
4. Kartu member VIP
5. Terima trade in
6. Follow up

Intinya, under promise dan over deliver.

# Strategi meningkatkan volume penjualan

1. Jual yang lebih mahal
2. Impulse buying
3. Buat paket
4. Terima kartu kredit

# Strategi menaikkan tingkat keuntungan

1. Jual barang yang untungnya besar
2. Jual label sendiri
3. Outsource.
4. Meminimalkan kesalahan
5. Efisiensi
6. Produktivitas

Intinya, overhead minimum.

NB.
Alhamdulillah Rumah Video berhasil mendapatkan kepercayaan dari Jamsostek untuk meliput acara seminarnya 2 kali berturut-turut. Mohon doanya semoga kerjasama ini bisa kami langgengkan untuk ke depannya.

Ga bisa ke Forum Jumat TDA dan MM Jaksel

Friday, May 09, 2008


Yah, beneran ga bisa akhirnya ke Forum Jumatnya TDA di Hotel Sofyan...:(
Dan sekali lagi, MM Jaksel juga bakal dilewatin...

*Sabtu besok Insya Allah diminta ngisi seminar telco tentang 4G di Univ. Sultan Agung Tirtayasa. Awalnya, dah berusaha nolak, tapi ampe terakhir belum ada orang lain yang bisa.
Yah, Bismillah, kalo jadi, Insya Allah kesempatan perdana jadi pembicara d seminar.
Deg deg an tingkat tinggi uiiy....
Malam ini selesaiin materinya, besok siap2 tampil...hhh...Doain yah...:)*

Backpacker di Bandung (Eps.2)

Sunday, May 04, 2008


Hari kedua di Bandung bisa dikatakan menjadi hari yang amat panjang dijalani.
Awalnya sama sekali tidak ada rencana jelas dari kami akan kemana saja kami di hari itu. Yang pasti memang ada beberapa opsi yang sempat dipikirkan. Hanya saja, hingga hari itu kami belum memutuskan akan mengambil opsi yang mana.

Nah, paginya selepas bangun dan shalat subuh (dan jeleknya, tidur lagi bentaran), kami mendapati kalau teman-teman dari Turki kami sudah mulai menghilang. Ada yang sudah berangkat atau ada juga yang masih betah di kamar masing-masing. Akhirnya memang tidak mungkin mengumpulkan mereka, apalagi untuk hanya sekedar foto bareng. Yah akhirnya terpaksa pamitan dari tempat bermalam kami itu ke Kamil saja. Yah, salam saja bwat semua sahabat-sahabat baru kami itu. Moga lain waktu kita bisa ketemuan dan silaturahim lagi.

Pamitan tetap tanpa agenda yang jelas. Akhirnya setelah sampai lagi di jalur perangkotan, barulah bingung akan melangkahkan kami kemana. Kami berada di depan UPI, jalan persimpangan antara Daarut Tauhid, Bandung Kota dan Bandung Utara. Pilihan kami 2, ke Kota atau ke Utara. Ya sudah, karena niatnya refreshing kami cobalah ke ara utara saja. Tujuan ke Tangkuban Perahu.

Sebetulnya sempat berniat kesana malamnya. Hanya saja, karena kurang paham angkutan umum kesana sempat berencana untuk membatalkannya. Tapi, ya akhirnya dengan niatan ga ada salahnya dicoba jadilah kami memilih untuk kesana. Naiklah kami ke angkot arah ke Terminal Ledeng. Dari sana, sesuai dengan petunjuk teman akhirnya kami menyambung angkot ke arah Subang. Turun di jalan masuk ke Tangkuban Perahu, akhirnya kami memutuskan untuk mencarter angkot untuk naik ke atas.

Sebetulnya saya sudah 2 kali ke sini. Cuman memang sudah lama banget. Terakhir sekitar 4 tahunan yang lalu. Jadinya, memang sudah agak lupa dengan jalan masuk ke sana sih. Ini yang nyebabin akhirnya kami ga mau ngambil resiko untuk coba jalan saja ke atas. Takut kejauhan, apalagi sudah janjian dengan Kamil untuk mampir ke ITB siangnya.


Ya sudah. Alhamdulillah, sampailah kami di atas dengan selamat. Subhanallah...sekali lagi hati kami disejukkan dengan keindahan ciptaan Allah di muka bumi ini. Sebuah fenomena kawah yang mempesona yang kita kenal dengan sebutan Gunung Tangkuban Perahu. Jadi ingat lagi dengan cerita legenda yang menceritakan asal muasal gunung ini. Yah, mengenai seorang anak yang tidak sadar mencintai ibunya sendiri, dan akhirnya menjelma menjadi gunung dengan kawah eksotik ini. Sebuah legenda yang oleh warga asal sana dijelaskan sebetulnya hanyalah cerita pemanis saja. Konon, objek wisata ini pertama kali ditemukan oleh Belanda dan di saat itu kebetulan di sana rawan gempa dan gunung meletus. Makanya di sana kita bisa temukan juga sebuah alat pencatat gempa atau seismograf yang kini sudah tidak berfungsi lagi.

Kawah di puncak gunung ini sebetulnya sekarang sudah tidak aktif lagi. Makanya ketika ada tawaran untuk melihat kawah lain yang masih aktif, yang dikenal dengan sebutan Kawah Domas, maka kami tidak menolaknya. Kawah Domas ini letaknya di lereng gunung. Numpang lagi dengan angkot untuk turun. Sampai di titik masuknya, kami sempat menyangka hanya akan berjalan 100-200 meter saja. Yah, harapan yang terlalu optimis.


Ternyata perjalanan ke Kawah Domas cukup panjang dan melelahkan. Bila dihitung, mungkin bisa sekitar 1 jam dihabiskan untuk bolak-balik di sana. Yah, benar-benar lumayan lah untuk olahraga. Kabar buruknya, jalan sehat ini terpaksa kami lakoni ketika jam makan siang telah tiba. Jadilah kami berjalan sambil menahan lapar. Sampai di Kawah Domas, paling tidak kami terhibur dengan ketidaksia-siaan perjalanan kami. Kawahnya memang masih aktif. Bahkan beberapa tempat masih menyemburkan air belerang panas yang katanya bisa untuk menggoreng telor di sana.

Well, singkat cerita akhirnya kami pulang juga dari Tangkuban Perahu. Di perjalanan balik ke Lembang, tiba-tiba terpikirkan untuk menjajal Rumah Strawberry yang ceritanya sering kami dengar itu. Setelah bertanya-tanya dengan supir angkot, akhirnya mantaplah kami memutuskan untuk coba pergi kesana.

Dengan modal sok tahu soal jalanan Bandung, kami pun memutuskan untuk naik lagi angkot di Lembang. Oh yah satu hal yang terlupakan dari angkot Bandung, ngetemnya itu lho yang ga nahan. Total bisa setengah jam lebih ngetem sebelum angkot jalan. Sudah gitu, di setiap persimpangan rata-rata angkot tetap bolak-balik ngetem.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang naik turun angkot sebanyak 3 kali (yang total menghabiskan waktu hingga 1.5 jam ditambah lamanya ngetem), sampailah kami di Rumah Strawberry (sempat nyasar en pengen niat balek aja seh sebelumnya). Jarum jam saat itu sudah menunjukkan pukul 3 kurang, which is pastinya laper banget bo.


Yah tapi akhirnya perjuangan kami ke sana ternyata sangatlah worthed. Rumah Strawberry saat itu sedang sepi, karena hari senin, sehingga kesannya kamilah penguasa tempat itu. Tapi yang pasti menu di sana yang benar-benar membuat kami puas sekali. Memesan nasi goreng dan nasi liwet, mungkin satu katanya Bondhan Winarno bisa menggambarkan perasaan kami, mak nyosss!!..:) Yah bisa dilihat dari pose kami di samping yang tampak bahagia dan puas.

Karena sepi dan memang capek banget, akhirnya sempat-sempatnya kami tidur siang di sana, selain mencharge HP dan laptop, hehe. Jam 5 kurang, setelah diusir halus oleh pelayannya (maksudnya dah disodorin bon aja) akhirnya kami pun beranjak meneruskan perjalanan. Nah, sekarang gantian panik melihat waktu sudah sore banget. Padahal kita berencana untuk langsung balik ke Jakarta memakai travel jam 7 malam. Apalagi masih harus mengantarkan titipan Kamil ke ITB.

Setengah panik, akhirnya naiklah kami ojek sampai ke depan jalan umum lagi. Sampai di jalan umum, lebih panik ketika mendapati angkot jarang sekali yang lewat sana. Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, barulah kami mendapati angkot yang segera melaju lagi balik ke Terminal Ledeng. Di Ledeng, untuk menuju Dago kami menaiki angkot jurusan Cicaheum.


Sampai di Dago, buru-buru meninggalkan angkot. Dan akhirnya karena buru-buru itu, oleh-oleh yang sempat kami beli di Ledeng, akhirnya ketinggalan di angkot itu. Yah, nasib. Singkat cerita, akhirnya kami baru bisa naik travel untuk keberangkatan jam 9 malam. Ya udah, sisa waktu kami habiskan di Bandung Indah Plaza, bersama Kamil sekalian mengantarkan pesanannya. Dan akhirnya jam 9 malam berangkatlah kami kembali ke Jakarta dengan menggunakan travel Baraya.

Yah, sungguh hari yang lumayan melelahkan. Full dengan naik turun angkot dan jalan kaki. What a journey. Saya Budi Setiawan, melaporkan siaran tunda dari Bandung langsung dari pelaku utamanya. Cheerss...:)

Backpacker di Bandung (Eps.1)

Thursday, May 01, 2008


Mari coba berhitung. Dalam tempo satu hari kemarin, total lebih dari 10 angkot kami naiki selama perjalanan kami di Bandung. Dimulai dari Terminal Luwipanjang ke Kalapa , Kalapa ke Ledeng, Ledeng ke Subang, ke atas Tangkuban Perahu dan balik lagi ke Lembang, Lembang ke arah Cimahi, trus naik lagi ke arah Ledeng, turun dan naik lagi ke arah Rumah Strawberry, balek lagi ke arah Ledeng, dari Ledeng ke Cicaheum, turun di Dago naik ke arah Bandung Indah Plaza, dari BIP balik lagi ke tempat travel kami, Baraya, standby.

Backpacker. Itulah yang 2 hari kemarin saya dan tim Rumah Video coba lakukan. Memang sih kalau melihat dari lokasinya, belum bisa ditobatkan sebagai backpacker sejati. Karena tujuannya masih tergolong dekat, Bandung. Paling gak kemarin kami sudah mencoba untuk menjelajah Bandung dengan modal ngeteng saja, alias tanpa membawa mobil dan tanpa menginap di penginapan yang butuh dibayar.

Ide untuk petualangan ini dimulai ketika kami (saya, Taufik Hanas dan Acep Hidayat) bertemu di tongkrongan favorit kami beberapa minggu ini, Mie Ayam OK, di bilangan Tugu Depok. Tempatnya asyik untuk nongkrong lama-lama, karena nuansanya yang hommy, dengan pondok-pondok kecil dibangun di tanah yang cukup luas.

Nah, alkisah dari sekedar nongkrong-nongkrong itu, muncul ide untuk sekedar mencari suasana baru di luar Jakarta. Mengenai waktunya, diusulkan untuk berangkat Minggu dan balik Senin atau Selasanya. Wah, pas banget kebetulan bakalan cuti memang di hari Senin sampai Rabunya dari kantor sebagai TDB. Langsunglah mengiyakan. Setelah pertimbangan beberapa lama, akhirnya diputuskan tujuan yang simple, Bandung. Syaratnya, “no mobil” dan “no hotel”.

Hari minggunya, selepas menjadi panitia dan peserta di nikahan teman (Choi dan Iis-red), langsunglah sekitar jam 4 bersiap-siap untuk memulai perjalanan. Maksud hati tadinya akan naik travel dari Tanjung Barat, apadaya karena miscommunication akhirnya terpaksa naik bus dan turun di Terminal Leuwipanjang. Sampai terminal Leuwipanjang, kami harus menyambung 2 kali angkot, hingga akhirnya kami bertemu dengan penghuni calon tempat transit kami malam itu, Kamil. Janjian di Masjid Daarut Tauhid, lokasi kost Kamil ternyata memang tidak terlampau jauh dari Pondok Pesantren milik Aa Gym itu.

Sampai di kost-an Kamil, agak terkejut ketika menyadari mayoritas penghuninya adalah warga negara Turki, dan negara tetangganya seperti Turkmenistan dan Tajikistan. Rupanya kost-an itu memang diperuntukkan untuk mereka yang mendapatkan beasiswa dari Turki untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia. Wah, bangga juga berarti Indonesia masih diperhitungkan sebagai salah satu tujuan pendidikan oleh warga negara asing. Rata-rata mereka yang ada di sana sedang dan akan menjalani pendidikan di kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).

Satu lagi yang menarik dari komunitas Turki ini, ukhuwah di antara mereka tergolong luar biasa. Masih ingat adegan makan bersama di satu loyang di film AAC (Ayat-Ayat Cinta)? Nah, disini kebiasaannya juga seperti itu. Biasanya untuk sarapan dan makan malam, mereka memasak sendiri makanannya dan akan memakannya beramai-ramai di satu wadah. Ritualnya, mereka akan menggelar beberapa lembar koran sebagai alas, dan menaruh wadahnya di sana. Kami beruntung di saat malam kedatangan kami itu kami bisa merasakan aroma persaudaraan itu, dengan tentunya menu yang aduhai, daging cincang, acar yang Subhanallah lezatnya, ditambah dengan kerupuk ikan yang seolah sudah jadi menu wajib mereka.

Sehabis sesi makan malam, kami para tamu disambut lagi dengan menu tambahan, martabak yang sekali lagi dimakan beramai-ramai. Nah, di sesi ini kami semuanya sama-sama saling memperkenalkan diri. Ada Yusuf dari Turki yang adalah mahasiswa yang sudah masuk ke semester 4 di UPI jurusan matematika. Dia tergolong penghuni yang paling senior di sana. Atau ada lagi Yusuf kedua yang baru sekitar 6 bulanan di sana, yang seorang guru di SMU Pribadi. Atau beberapa orang lagi yang baru beberapa bulan di Indonesia dan kini sedang belajar bahasa Indonesia sambil menunggu ujian penempatan mereka, untuk pilihan akademis. Senang juga bisa mendengar cerita-cerita dari saudara-saudara jauh seperti mereka.

Anyway, sayang sekali karena terlalu asyik bercerita kami sampai lupa untuk berfoto bersama dengan mereka. Tadinya, kami berpikiran masih ada hari esok. Sayang sekali, keesokan harinya kami akan segera mengetahui kalau pikiran kami itu belum akan kesampaian.

----Bersambung ke Eps.2, Insya Allah !! ----

Showreel Rumah Video

Monday, April 14, 2008



Showreel ini berisikan portofolio produk yang pernah dihasilkan oleh Rumah Video.
Enjoy it !!

Note : Sayang di Youtube gambar dan suaranya keliatan kurang bagus. Bila berkenan, CD aslinya bisa kami presentasikan langsung.

Testimonial tentang Audio Visual

Thursday, April 10, 2008



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.

Motion determine emotion


Yup, kata-kata sederhana ini yang terus terngiang di telinga saya saat saya menghadiri seminar TDW, Financial Revolution, sabtu kemarin. Sederhana tapi maknanya dalam. Dan yang pasti, saran yang praktis.

Terus terang saya awalnya tidak terlalu ngotot untuk menghadiri acara seminar TDW ini, walaupun sebetulnya gratis. Apalagi malamnya bareng teman-teman menggeber fisik bermain futsal bersama sehabis kuliah. Baru tidur jam 2an, paginya sudah harus ke markas Rumah Video untuk urusan website. Kebetulan ada beberapa orderan pembuatan website, sekaligus membicarakan strategi maintaining website Rumah Video. Oh ya, untuk website Rumah Video sendiri kini bentuknya sekaligus sebagai mini portal yang membahas perkembangan teknologi audio visual. Idenya sih meniru pendekatan website Dokter Komputer, walaupun masih sederhana. Maaf yah ga bilang2 Pak Iim...:)

Terlebih sampai hari-H tiket untuk acara seminar ini masih belum sampai juga ke tangan. Yah, mungkin ada masalah dengan delivery-nya. Makin malas-lah saya sebenarnya untuk melaju ke area Mangga Dua, di ujung utara Jakarta sana.

Sore setelah urusan di Rumah Video kelar, barulah coba iseng menelpon teman yang kebetulan datang ke seminar itu. Di sana baru ngeh kalau tiket seminar gratisnya ada 2, yang berarti saya bisa mengajak satu teman ke sana. Makin semangat ketika tahu kalau acaranya ternyata berlangsung dari jam 9 pagi ampe jam 10 malam. Buset, full day selama 3 hari. Biasanya paling pol ikutan acara seminar dari jam 9 ampe jam 4 sore. Dalam hati, seminar macam apa ini.

Yah, akhirnya saya bersama teman saya, Taufik Hanas, berangkat ke Mangga Dua Square, tempat acara dilangsungkan. Sekalian sebetulnya pengen juga melihat testimoni Pak Roni, sang jenderal TDA, di lokasi acara. Katanya bakal tayang ba’da magrib.

Sampai di lokasi, terkaget-kaget juga melihat lautan manusia memenuhi aula Jitec Mangga Dua Square lantai 8 itu. Ini sih sampai ribuan orang. Ya sudah, majulah melangkah masuk ke ruangan.

Yah, singkat cerita ternyata memang benar action bisa membangkitkan kembali semangat dalam diri. Pak Tung berkata, di saat nervous, takut melakukan sesuatu, sedih atau malas, cobalah untuk bergerak dinamis. Entah itu jalan2 di tempat, loncat2, yang penting menggerakkan badan kita, tidak hanya duduk diam atau terpaku di tempat. Efeknya, paling tidak terbukti kemarin. Ngantuk saya otomatis langsung hilang.

Banyak hal sih sebetulnya yang bisa didapat dari seminar itu. Walau dalam acaranya banyak sekali jualan yang disempilkan Pak Tung, cman dalam hati saya berkata, Yah itung-itung latihan jualan lah. Oh iya, ada satu games yang cukup menarik di seminar itu. Simulasi tentang uang yang mengejar kita. Kepada masing-masing orang diberikan lembaran uang 10,20,30,40,100,dan 200. Lalu setiap orang diperbolehkan untuk menukarkan uangnya dengan peserta lainnya. Aturan mainnya, nilai uang yang sama akan dikalikan, sementara nilai uang yang berbeda akan ditambah. Nah, singkat cerita ternyata jawabannya simple. Tinggal teriak saja siapa yang mau uang 20,30,40,100 dan 200 ditukar dengan uang 10. Pastilah semuanya akan mau. Dan di saat itu, dengan usaha yang minimal kita akan mendapatkan uang sebesar 10x10x10x10x10x10=1 juta. Yup, dengan usaha minimal akan membuat uang mengejar kita.

Riilnya, ada beberapa trik yang dibagi Pak Tung di sini agar uang mengejar kita.
1) Selalu punya nilai tambah
2) Dikomunikasikan
3) Kepada orang yang tepat
4) Dalam jumlah yang banyak
5) Dengan cara yang tepat.

Yup, acara akhirnya selesai sekitar jam 10 malam. Agak kecewa juga ternyata jadwal testimoninya Pak Roni dimajukan jadi jam 5, jadinya telat menyaksikan. Akhirnya itu memang jadi kesempatan terakhir saya hadir di sana, karena besoknya bantu2 teman yang lamaran. But, Its OK. Tetap ada insight yang bisa diambil dari sana. Toh, besoknya Taufik tetap menyanggupi untuk bisa hadir di sana. Sebelum pulang menyempatkan diri dulu untuk memesan tiket seminar Action Coach tanggal 19 April nanti. Sekali lagi, biar Taufik sang CEO Rumah Video yang hadir di sana. Gud luck !!

Fenomena Just In Time (JIT) di Era Kompetisi



Setiap pagi, seekor kijang terjaga. Ia tahu ia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat atau ia akan mati. Setiap pagi seekor singa terjaga. Ia tahu ia harus mengejar kijang terlambat atau ia akan mati kelaparan. Tidak peduli kamu seekor singa atau kijang, ketika matahari terbit, kamu harus mulai berlari.

Salah satu pakar manajemen supply chain dan dosen sistem rekayasa di MIT, Yossi Sheffi, pernah mengatakan bahwa membuat barang itu mudah, yang sulit ialah membuat rantai pemasoknya. Dengan semakin mengecilnya batas antar negara, perbedaan kualitas produksi antara produsen satu dengan yang lainnya kini semakin menipis. Dengan kondisi seperti itu, maka perusahaan yang paling efisien dan cepat dalam men-deliver produknyalah yang akan mampu memenangkan persaingan di dunia global saat ini.

Salah satu hal yang urgen untuk diefisiensikan ialah rantai pemasok. Berbicara mengenai rantai pemasok ini, kita dihadapkan pada dua pilihan, pull atau push system. Pull system mengandalkan informasi permintaan dari pelanggan, sementara push system lebih mengandalkan perencanaan secara terpusat. Pull system sendiri saat ini lebih dikenal dengan sebutan metode Just In Time (JIT). Menariknya, penerapan metode JIT dengan tepat dan kreatif, terbukti mampu membawa sebuah perusahaan ke titik terbaiknya. Mari kita lihat beberapa perusahaan yang mampu menerapkan JIT ini dengan baik.


Perusahaan yang pertama ialah Zara. Saya teringat ketika salah satu dosen saya di Prasetiya Mulya menceritakan tentang fenomena Zara, peritel asal Spanyol ini. Zara mengendalikan semua jaringan distribusinya sedemikian rupa sehingga semua jaringan distribusi itu mampu memantau preferensi dari konsumen dan mengirimkan data langsung ke kantor perencanaan pusat. Makanya, Zara selalu mampu untuk menyesuaikan desain pakaiannya dengan mode yang ada di masyarakat.

Contoh simplenya, setelah kejadian 11 September, Zara menyadari bahwa masyarakat sedang berkabung. Makanya dalam beberapa minggu saja mereka segera memenuhi toko mereka dengan barang baru yang didominasi dengan warna hitam. Tentu saja, untuk merealisasikan hal ini, Zara harus menginvestasikan jumlah yang lumayan besar, terutama untuk sistem ITnya, dengan minimal menyediakan PDA untuk setiap distributor yang terkoneksi dengan sistem di kantor pusat. Tapi, ini mutlak harus dilakukan Zara mengingat situasi bisnis yang digelutinya sangat rentan dengan perubahan mode yang sangat cepat.


Contoh yang lebih fenomenal adalah Walmart. Peritel terbesar Amerika ini mampu mengidentifikasi bahwa di kala menjelang badai, orang cenderung minum bir dalam jumlah yang banyak sehingga mereka menyediakan persediaan bir yang lebih banyak dibandingkan dengan hari biasanya. Mereka juga mengetahui bahwa orang lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mudah disimpan dan tidak cepat rusak. Ini sejalan dengan prinsip mereka, yaitu bahwa semakin banyak informasi yang dimiliki semua pihak mengenai apa yang diambil oleh konsumen dari rak, maka semakin efisien juga pembelian dari Wal-Mart, dan semakin cepat pula pemasok beradaptasi dengan permintaan pasar yang berubah-ubah.

Dalam pelaksanaannya, Wal-Mart mengandalkan teknologi yang dikenal dengan sebutan RFID (Radio Frequency Identification Microchips). Intinya, mereka memasang microchips ini menggantikan barcode di setiap kotak barang yang masuk ke mereka. Dengan RFID ini Wal-Mart mampu memantau setiap kotak atau palet pada setiap tahap dalam rantai pemasok dan mengetahui secara persis produk apa, dari pabrikan mana yang ada dalam kotak, kapan kadaluarsanya, kapan diterimanya dan kapan terjualnya. Dengannya, Wal-Mart mampu mengetahui toko mana yang dapat menjual sabun lebih banyak di hari Kamis, dan toko mana di hari Senin, serta mengetahui mengapa orang Amerika Latin lebih suka berbelanja di Sabtu malam dibandingkan hari Senin.

Dengan metode JIT ini, Wal-Mart mampu menekan biaya pengadaan barang bagi peritel maupun pemasok. Diperkirakan biayanya mampu ditekan hingga mencapai 5 sampai 10 persen lebih rendah dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya. Kuncinya, hanyalah dengan mengetahui trend yang ada di konsumen, lebih cepat dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya.

Metode JIT sendiri di awal kemunculannya tergolong sebagai metode yang radikal. Pertimbangan paling utama, metode ini terkesan seperti hanya menunggu bola saja. Bila ada pesanan, maka barang akan diproduksi. Bagaimana bila terjadi penumpukan pesanan di suatu waktu. Akan mampukah metode JIT ini mengantisipasinya?

Pertanyaan seperti inilah yang coba dijawab oleh Zara dan Wal Mart. Alih-alih hanya menunggu bola saja, mereka sebelumnya sudah mencoba memprediksi kapan sajakah bola itu akan datang, dari arah mana dan dengan kecepatan seperti apa.

Zara sukses memprediksi arah kedatangan bola, karena mampu memprediksi trend yang akan muncul dari sisi konsumen. Bisnis fashion, yang harus senantiasa mengikuti aliran trend, sementara di sisi lain tetap harus mengontrol jumlah produksinya dalam setiap trend agar tidak menyisakan banyak produk yang ketinggalan trend, terbukti cocok disandingkan dengan sistem JIT ini.

Sementara itu, Wal Mart lebih canggih lagi. Mereka bisa mengetahui kapan bola itu akan datang, yaitu dengan memprediksi keterkaitan kondisi yang dialami konsumen dengan kebutuhan konsumen itu. Tengok data forecasting yang dibuatnya berdasarkan pola pembelian konsumen di seluruh cabangnya.

Kesimpulannya, metode JIT dengan penggunaan yang tepat terbukti mampu menciptakan perusahaan dengan tingkat kompetitif yang tinggi. Dan di saat artikel ini ditulis, satu perusahaan lagi, juga telah mampu menerapkan JIT ini dengan optimal. Ketika pesanan diterima, maka microprocessor akan mulai didatangkan dari pabrk Intel di Filipina, memory berasal dari pabrik Samsung Korea, kartu grafis dikirim oleh MSI Taiwan, motherboard dari Korea, dan perangkat-perangkat lainnya serentak dikirimkan dari berbagai negara. Tetap khas JIT, minimalisasi inventory. Perusahaan itu bernama Dell.

The Future of Management, best business book in 2007??

Wednesday, April 02, 2008


Bayangkan sebuah perusahaan dimana kinerja karyawan ditentukan oleh rekan-rekan sejawatnya, sebuah perusahaan dimana tekanan pekerjaan justru datang dari rekan sejawat. Sebuah perusahaan yang terdiri dari tim-tim kecil yang saling bersaing satu sama lain untuk bisa menghasilkan profit terbesar bagi perusahaannya. Sebuah perusahaan yang menerapkan prinsip transparansi untuk kompensasi bagi karyawannya.

Dan bagaimana bila dikatakan bahwa perusahaan ini menghasilkan sales hingga $ 6 trilyun setahun dan mengoperasikan hingga 194 toko. Selama 15 tahun dari semenjak IPO di 1992, perusahaan ini telah mengalami kenaikan nilai saham hingga 3000 persen. Ia disebut sebagai perusahaan retail makanan Amerika paling menguntungkan bila diukur dengan profit per meter persegi. Namanya adalah Whole Foods Market, retail makanan organik terkemuka di Amerika.

Ada juga cerita soal perusahaan manufaktur mobil di Amerika yang membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk menyadari apa yang membuat Toyota menjadi perusahaan yang memiliki sistem manufaktur yang hyperefficient. Kisah dimulai dari 20 tahun lalu, dimana mereka mencoba mengirimkan karyawan mereka untuk belajar secara langsung dari Toyota di Jepang. Setelah laporan dikeluarkan, mereka malah tidak mau mempercayai bahwa ada perusahaan yang mampu untuk menghasilkan produk dengan tingkat defects (cacat) yang sangat kecil. Butuh waktu 5 tahun sehingga mereka menyadari bahwa Toyota memang unggul dari mereka.

5 tahun berikutnya mereka habiskan dengan beralasan bahwa Toyota bisa seperti itu karena kultur masyarakat Jepang yang khas. Akan tetapi, begitu Toyota berhasil memindahkan operasi perusahaannya ke Amerika dengan level yang sama dengan menggunakan karyawan dari AS, maka mereka pun kembali terdiam. 5 tahun berikutnya mereka habiskan dengan mempelajari sistem operasi Toyota secara lebih detail. Hanya saja, walaupun kemudian mereka telah berusaha untuk mencontek sistem ini, tetap saja mereka tidak bisa menyamai level yang telah diperoleh Toyota. Baru di 5 tahun setelahnya, mereka menyadari bahwa kesuksesan Toyota adalah akibat prinsip-prinsip organisasi yang dipunyainya – Toyota memiliki kemampuan continous improvement dengan mengandalkan karyawan2 yang dipunyainya sebagai ujung tombak pemecah masalah. Makanya sistem produksinya dikenal dengan nama ”Thinking people system.”

Kutipan cerita itu semua adalah kutipan yang diambil dari buku terbaru Gary Hamel, Future of Management. Gary Hamel yang terkenal dengan bukunya ”Leading the Revolution” ini bisa dikatakan pakarnya inovasi manajemen. Bahkan buku ini disebut oleh editor di Amazon.com sebagai buku bisnis terbaik 2007.

Secara umum, buku ini terbagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama, Why Management Innovation Matters, adalah inti ide dari Hamel. Bagian kedua, Management Innovation in Action, sarat dengan contoh-contoh inspiratif akan inovasi manajemen. Kita bisa dapati kasus Whole Foods Market seperti di atas, juga ada kasus W.L Gore&Associates, yang menggunakan istilah leader ketimbang bos, dan juga kasus Google, yang punya formula 70-20-10, artinya 70% untuk urusan layanan basis bisnis, 20% untuk pengembangan layanan dan 10% untuk berbagai layanan.

Bagian ketiga, Imaging the future of management, mengajak pembacanya untuk berpikir aspek manajemen mana yang harus kita pikirkan ulang. Bagian terakhir, Building the future of management, berisikan tuntunan praktis sebagai panduan untuk berinovasi dalam manajemen.

Ide-ide yang ada di buku ini memang sangat inspiratif. Ketika banyak orang mengatakan business model adalah yang paling penting, maka Gary mengatakan bahwa itu saja tidak cukup. Di atas inovasi business model, dan juga inovasi produk/jasa serta operational, adalah inovasi dari sisi manajemen.

Secara umum, buku ini sangat worth to read, baik oleh akademisi maupun praktisi bisnis. Isinya memang lebih berat dibandingkan buku Gary sebelumnya, Leading The Revolution, yang lebih kaya akan contoh-contoh praktis. Yah, bisa jadi nantinya future of management bukan lagi hanya berkiblat pada dunia barat. Siapa tahu Indonesia nantinya bisa jadi sumber dari masa depan itu...:)

Gud luck for the reading...

Sekilas di Maret 2008 (featuring speed writing)

Sunday, March 30, 2008


Dalam beberapa minggu ini, jujur saja saya agak kesulitan untuk meluangkan waktu menulis di blog ini. Load pekerjaan sebagai engineer saat ini sedang tinggi-tingginya, dengan rutin setiap weekend harus masuk seperti biasa. Lalu, rutin dua kali seminggu paling tidak kita lembur sampai jam 12an malam. Ditambah dengan kuliah 3x seminggu, jujur saja saya agak keteteran juga. Belum ditambah dengan tugas-tugasnya yang menumpuk.

Rumah Video sendiri padahal saat ini juga sedang memulai periode target sales yang challenging. Target sales periode Maret 2008 paling tidak harus 1,5 kalinya periode sebelumnya. Alhamdulillah, kemarin agak tenang juga ketika sang direktur, Taufik Hanas, melaporkan kalau target bulan ini sudah tercapai. Alhamdulillah, ada orderan 4 website sekaligus, yang otomatis akan ikut menambah portofolio usaha kami. Untuk video documentasi sendiri alhamdulillah juga ada orderan tambahan dari kampus saya, UI, tepatnya dari Fakultas Ilmu Budaya untuk acara seminar menyambut hari wanita internasional kemarin. Rencananya, video hasil dokumentasinya akan dibawa juga ke Australia untuk dipresentasikan ke universitas di sana. Makanya, mau tidak mau untuk kali ini kami harus bisa menunjukkan profesionalitas dan kualitas yang baik.

Bicara lagi tentang blogging, sebetulnya kegemaran saya adalah membaca. Menulis awalnya hanya sekedar tambahan. Bila ada waktu lowong, saya jujur lebih suka membaca daripada menulis. Akan tetapi, pada awalnya saya tertarik dengan uraian yang saya dapat dari blognya Pak Yodhia, tentang speed reading. Intinya, bagaimana caranya kita bisa membaca banyak informasi di tengah-tengah kesibukan kita yang sering menyita waktu.

Jujur saja, saya memang lebih suka membaca sambil menikmati isi bukunya. Jadi, seringkali saya membaca sebuah buku terlalu lama, terlalu sistematis, dari awal berturut-turutan. Sementara, problemnya saya agak kesulitan untuk menahan diri untuk tidak membeli buku di saat pergi ke toko buku, sehingga otomatis tumpukan buku di rumah sudah semakin menggunung. Tambahan lagi, kantor letaknya di sebelah PIM, yang seakan menjadi surga untuk para penggemar buku. Gramedia, Gunung Agung, Kharisma, dan Kinokuniya, semuanya ada disana. Yah, nice problem huh. Sekarang, akhirnya bertekad untuk bisa lebih mengutilisasi waktu membaca dengan lebih efektif.

Trus apa hubungannya dengan menulis? Nah, kalo saya berpikirnya ada speed reading, mengapa tidak coba dilakukan speed writing. Menulis dengan lebih cepat. Jujur saja, ketika menulis blog, saya masih terlalu lama mengetikkan isi pikiran saya. Efeknya, mau ga mau saya suka merasa tidak mood untuk memulai menulis blog karena berpikir bahwa itu akan membuang-buang waktu saya, paling tidak dalam hitungan jam.

Tapi, kemudian saya berpikir lagi. Apa sih tujuan saya menulis? Ternyata saya menulis lebih untuk aktualisasi diri, melatih diri saya untuk bisa berpikir positif dan terbuka akan diri saya. Ketika berinteraksi dengan orang lain, mau tidak mau biasanya kita harus mampu untuk menempatkan diri. Tidak semua yang ada dalam pikiran kita bisa kita tumpahkan ke hadapan orang itu. Akan tetapi, beda dengan menulis di blog ini. Rasanya begitu lepas dan bebas.

Dan kalau ditanyakan siapa sebetulnya penikmat utama blog ini, jujur akan saya jawab, penikmatnya adalah saya sendiri. Saya begitu menikmati diri saya yang positif di sini. Seringkali ini berguna untuk mencharge kembali semangat saya, terlebih di kala saya sedang DOWN.

Nah, balik lagi ke SPEED WRITING, menulis buat saat ini bukanlah profesi utama saya. Akan tetapi, blog ini bisa menjadi salah satu sarana aktualisasi diri saya. Tetap, amal aktivitas nyata atau action harus dinomorsatukan. Makanya, Insya Allah saya akan mencoba untuk bukan malah mengurangi frekuensi menulis saya ke depannya, akan tetapi akan mulai mencoba untuk meningkatkan kecepatan saya dalam menulis ide. Insya Allah, bisa.

Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari bukunya Andrias Harefa, Mengukir Kata Menata Kalimat, “Anda ingin menulis sebuah buku? Anda tidak harus menulis buku, tapi tulislah satu artikel hari ini. Esok tulis lagi satu artikel. Kemudian tulis satu artikel lagi, dan kelak tulislah satu artikel lagi....Ops! Carilah benang merahnya! Jahitlah! Permaklah! Nah, jadilah buku Anda!”

Tentang Ikhlas di Ayat-Ayat Cinta


Jumat minggu lalu saat long weekend akhirnya saya bisa juga menyempatkan diri untuk menonton Ayat-Ayat Cinta, yang kabarnya kemarin baru saja menembus angka 3 juta penonton. Saya pribadi tidak ingin mengomentari pro kontra yang ada dari filmnya itu sendiri. Saya pikir wajar, di awal-awal kemunculan film-film islami akan banyak menimbulkan kontroversi. Kurang inilah, kurang itulah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Insya Allah semoga ke depannya ini akan menjadi trigger bagi film-film Islami untuk semakin menunjukkan giginya.

Persis, semoga akan sama dengan fenomena maraknya buku-buku Islami saat ini, hingga bisa memunculkan fenomena Islamic Book Fair. Yah, bayangan saya kelak akan ada yang namanya Festival Film Islami Indonesia. Apalagi, kalau suatu saat Rumah Video bisa menjadi salah satu produsernya.

Well, bicara lagi tentang Ayat-Ayat Cinta, ada beberapa kutipan menarik dari film itu. Selain tentunya kutipan tentang ”jodoh”-nya Fahri dan Maria di tepi sungai Nil, yang sepertinya jadi hits pembicaraan beberapa teman-teman, kutipan tentang keikhlasan adalah salah satu hikmah yang bisa diambil dari film ini. Penyesalan Fahri akan dirinya yang kurang ikhlas menyikapi keadaan istrinya Aisyah yang lebih kaya darinya, dan kondisi Ia yang harus bisa mengayomi 2 istri sekaligus, menjadi titik balik dari film ini.

Yup, ikhlas. Hanung sendiri bahkan mengatakan bahwa inilah tema sentral dari film ini. Bahkan, sempat mendengarkan di Smart FM, Hanung rencananya bersama Red Pyramid akan mengadakan seminar khusus yang membahas tentang manajemen keikhlasan ini. Jadi ingat juga tentang Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu, yang pernah saya ikuti tahun lalu. Atau Manajemen Qalbu-nya Aa Gym.

Ikhlas, paling tidak akan menyadarkan kita bahwa tetap ada sebuah kekuatan di luar kita yang akan selalu menyertai langkah kita. Dengan ikhlas, alih-alih mempertanyakan mengapa ini bisa terjadi, yang harusnya kita lakukan adalah mempertanyakan, bagaimana cara untuk mengatasinya?

Oh ya, ini ada sekedar tambahan tips merawat password ikhlas dari Erbe Sentanu.

Perbanyak :
1. Memberi maaf kepada orang lain dan diri sendiri. Serta memohon ampun atas kebiasaan (ketidaksengajaan) kita menyalahkan Allah.
2. Rasa pengakuan dan kepercayaan dari diri sendiri dan memberi pujian kepada orang lain.
3. Bergaul dengan orang-orang yang beroperasi di zona ikhlas (syukur, sabar, fokus, tenang, bahagia) atau energy giver.

Note :
Ayat-Ayat Cinta ini kemarin saya tonton bertiga saja dengan kedua orangtua saya. Yah, tempo hari ibu sempat protes saya sudah lama tidak pernah mengajak mereka berdua jalan-jalan dan jarang meluangkan waktu di rumah karena kerjaan. Ya sudah, kebetulan belum menonton film ini. Akhirnya jadilah saya menghabiskan waktu hari itu dengan kedua orang tua saya. Wah, ternyata memang nikmat. Alhamdulillah, Ya Allah, telah dan masih memberikanku orangtua seperti mereka.

The Power of Positive No


“Seni kepemimpinan adalah bukan tentang mengatakan YA, namun tentang mengatakan TIDAK.” Tony Blair, ExPM Inggris.

Ketika Anda tiba di tempat kerja, bos Anda meminta Anda untuk lembur sepanjang akhir pekan untuk sebuah tugas penting. Padahal, ini adalah akhir pekan yang telah dinanti-nantikan Anda dan keluarga Anda. Tetapi, yang meminta adalah bos, dan tinjauan untuk promosi Anda akan segera dilakukan. Bagaimana Anda dapat mengatakan TIDAK tanpa merusak hubungan Anda dengan bos Anda dan mengacaukan promosi Anda?

Seorang pelanggan utama menelpon dan meminta Anda untuk mengirimkan produk tiga minggu sebelum jadwal. Biasanya, hal ini akan sangat stressful dan kemungkinan besar, kualitas produk akan turun. Tetapi, dia adalah pelanggan utama Anda dan dia mungkin tidak akan menerima jawaban TIDAK. Bagaimana Anda dapat mengatakan TIDAK tanpa merusak hubungan dengan pelanggan?

Buku yang sedang saya baca kali ini isinya sangat provokatif. The power of positive No. Kalau selama ini, orang seringkali berasumsi bahwa kunci dari melakukan semua hal dengan baik ialah selalu mengatakan YA dengan kepercayaan diri yang tinggi, buku ini mencoba untuk mengobrak-abrik pemahaman ini. Tidak setiap hal mesti disikapi dengan kata YA.

YA mungkin akan membuat kita menjadi orang yang super. Menjadi orang yang mampu melakukan apa pun yang diharapkan orang lain dari kita. Akan tetapi, problem yang ada waktu yang kita miliki terbatas, 24 jam sehari, yang harus kita bagi juga dengan waktu kita untuk beristirahat. Makanya, kemampuan untuk mengatakan TIDAK otomatis haruslah kita miliki, terutama dalam rangka mempertahankan kepentingan kita yang paling UTAMA.

William Ury, sang pengarang buku ini, sebelumnya sempat mengarang juga buku Getting To Yes, sebuah buku tentang seni bernegosiasi. Tingkat kehandalannya sendiri sudah tidak perlu diragukan lagi. Ini bisa kita lihat salah satunya dari endorser-endorser yang diterimanya, mulai dari Jim Collins, Jimmy Carter, Anthony Robbins, Daniel Goleman, Stephen Covey, John Naisbitt, Linda Kaplan hingga Tom Peters.

At the end, happy reading.

Showreel Rumah Video

Testimonial tentang Audio Visual



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.