
Saya pernah mendengar, secara umum, manusia memiliki 3 potensi dasar dalam dirinya, potensi fikriyah, jasadiyah dan ruhiyah. Seorang yang seimbang dalam hidupnya, paling tidak seharusnya selalu berusaha untuk mengoptimalkan potensi-potensi dasar ini, sebelum nantinya beranjak ke potensi-potensi yang berkaitan dengan sosialisasinya di masyarakat.
Nah, teorinya memang mudah. Hanya saja, aplikasinya di lapangan selalu tidak segampang ucapan. Tulisan ini, sekedar meng-encourage saya untuk mencoba tawazun dalam menyeimbangkan kesemua potensi ini.
Terus terang saya harus akui, dalam perjalanannya unsur fikriyah saat ini terlalu mendominasi perjalanan hidup dalam setahun ke belakang. Dengan porsi waktu yang dalam sehari minimal 8 jam dihabiskan di kantor, kuliah sekitar 3 jam - belum bila ada lembur, tugas kelompok dan kerja tambahan di Rumah Video - hanya ada waktu sisa yang sedikit untuk aktivitas jasadiyah dan ruhiyah setiap harinya, terlebih bila harus dikurangi lagi dengan waktu yang dihabiskan di jalan dan waktu tidur.
Untuk jasadiyah, sebetulnya saya saat ini mencoba mensiasatinya dengan mencoba rutin bermain futsal dengan teman-teman kuliah dulu di UI Depok setiap sabtu. Hanya saja, aplikasinya kadang sabtu pagi terisi dengan acara lain sehingga yang terjadi adalah absen olahraga selama seminggu. Nah, menyambut 2008, saya bertekad untuk memperbaiki tingkat kehadiran saya di sini.
Sebagai tambahan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepeda dan bertekad untuk bisa rutin minimal seminggu 2 kali menaikinya. Apalagi, kebetulan rumah terletak dekat dengan Kebun Binatang Ragunan, yang setiap paginya biasanya dibuka secara gratis untuk orang-orang yang ingin berolahraga di dalamnya. Yah, siapa tahu dalam perjalanannya, saya bisa jadi bagian dari komunitas B2W (Bike To Work), sekalian menghemat ongkos bensin. Lumayan bila kesampaian coz harga minyak dunia sekarang sudah melangit dan ikut berkontribusi untuk menghindari global warming (hehe…agak muluk yah).
Nah, untuk ruhiyah sebetulnya memang konotasinya luas. Ia tidak hanya terbatas pada aktivitas keagamaan semata, melainkan juga mencakup aktivitas-aktivitas refreshing atau refleksi yang bisa menyegarkan pikiran. Akan tetapi, karena hidup tidak hanya untuk dunia, bukankah lebih efektif bila kita bisa memanfaatkan momen keagamaan sebagai ajang refreshing kita.
Terkait dengan ini, aktivitas yang saya coba untuk rutin jalani adalah pengajian rutin mingguan yang kebetulan sudah saya ikuti dari zaman SMU. Yah, lumayan menyegarkan sebagai pelarian sesaat dari aktivitas duniawi yang melelahkan. Lagipula, selain mengaji, banyak pencerahan-pencerahan yang muncul di dalam aktivitas ini. Terlebih, teman-teman 1 kelompok kebetulan berasal dari beragam profesi, mulai dari PNS hingga wirausahawan, juga berasal dari bermacam background pendidikan, beberapa juga lulusan S2.
Selain itu, aktivitas yang saya coba untuk persering lakukan adalah memperbanyak refreshing keluar Jakarta. Alhamdulillah, beberapa minggu ke belakang saya mencoba mengisinya dengan bepergian, mulai dari Bandung, Sadang hingga Sukabumi. Cukup menyenangkan dan menyegarkan melihat suasana alam lain di luar Jakarta yang sudah terlalu sumpek.
Nah, untuk 2008 saya pikir tetap banyak hal yang harus saya perbaiki dari sisi ini. Aktivitas mengisi ruhiyah haruslah tetap menjadi agenda harian, dan bukan hanya menjadi agenda mingguan. Saya memang sudah mencobanya, hanya saja tetaplah sangat sulit untuk bisa konsisten setiap harinya.
Sekedar tambahan untuk tulisan ini, saya sekarang mulai berpikir sepertinya aktivitas saya menulis di blog ini bisa jadi salah satu sarana saya untuk menyegarkan pikiran saya. Banyak ide baru yang baru muncul ketika menulis di sini, dan tentunya banyak refleksi yang dihasilkan di sini. Yah, tentunya semoga ini bisa menjadi salah satu wahana saya untuk bisa menyeimbangkan hidup saya. Insya Allah tahun 2008 bisa lebih baik lagi. Amin.
Balancing Your Life !! [Plan 2008]
Tuesday, December 25, 2007
Posted by
Budi Setiawan
at
3:56 PM
1 comments
Labels: Kesehatan, Refreshing, Renungan
Before You Quit Your Job – 3rd Lesson

Wah, lama juga tidak meneruskan postingan ini. Maklum, membacanya memang dicicil. Dan sekali lagi, agar tidak lupa, dicobalah menuliskan ringkasannya di blog ini. Untuk postingan sebelumnya, bisa dilihat di sini.
Before You Quit Your Job – 1rst Lesson
Before You Quit Your Job – 2nd Lesson
Pelajaran ketiga di buku ini berbunyi Mengetahui Perbedaan Pekerjaan dan Tugas Anda.
Sepintas terlihat keduanya tidak berbeda. Hanya saja, di sini dijelaskan bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang karenanya kita memperoleh bayaran. Sementara itu, tugas adalah apa-apa yang harus dilakukan untuk menyiapkan diri menghadapi pekerjaan. Seseorang dibayar untuk sebuah pekerjaan, akan tetapi kita tidak dibayar untuk mengerjakan tugas kita.
Baik profesional maupun entrepreneur semestinya tidak hanya terpaku pada mengerjakan pekerjaan yang darinya ia akan mendapatkan bayaran. Kompetensi dirinya haruslah selalu dijaga dan terus ditingkatkan, dengan cara mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Seorang engineer contohnya harus terus berusaha mengupdate dirinya dengan pengetahuan-pengetahuan teknikal terbaru, sehingga dia tidak tertinggal dari rekan-rekannya yang lain. Seorang atlet mungkin tidak akan langsung menghasilkan uang dengan berlatih, akan tetapi tanpa berlatih ia tidak akan mampu memenangkan kompetisi yang dengannya ia akan mendapatkan uang.
Dari sisi entrepreneur, dijelaskan ada beberapa hal yang harus dipelajari dalam berbisnis. Kelima tugas itu disebut segitiga B-I, dengan point2 sebagai berikut.
1. Produk
2. Hukum
3. Sistem
4. Komunikasi
5. Arus kas.
Kesemua hal di atas sangat ideal apabila kita bisa menguasai semuanya sendiri. Hanya saja, bila tidak perlu diperhatikan agar kita bisa membentuk tim yang bisa saling membackup dalam hal-hal di atas.
Masa-masa bekerja dengan orang lain haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk ikut mempelajari hal-hal di atas. Seperti kata Rich Dad, ”Bekerjalah untuk belajar, bukan untuk menghasilkan uang”. Seorang Tung Desem Waringin ketika masih bekerja di BCA bahkan sengaja memanfaatkan waktu cutinya untuk mempelajari bagian lain yang ada di perusahaannya, ketimbang duduk diam beristirahat.
Intinya, bila kita masih bekerja dengan orang lain, tetap berikan yang terbaik, dan selalu mencari nilai tambah dengan mempelajari hal-hal lain di luar pekerjaan kita, terlepas dari apakah nantinya kita akan mendirikan usaha sendiri atau tidak.
Salam,
Budi Setiawan
Posted by
Budi Setiawan
at
3:50 PM
0
comments
Tertunda ke Singapura

Akhirnya result dari NUS University datang juga. Sebagaimana yang saya ceritakan dalam postingan saya sebelumnya, Menjajal ”Community Marketing”, saya dan beberapa teman-teman kuliah mencoba mengikuti Kompetisi Business Plan yang diselenggarakan oleh NUS University Singapore menyambut ulang tahunnya. Setelah menyerahkan Executive Summary tanggal 9 Desember kemarin, maka yang dapat kami lakukan kemudian hanyalah menunggu dan berdoa, sembari berharap kami bisa mendapatkan kesempatan untuk melaju ke babak selanjutnya.
Hanya saja, hasil akhir memang masih belum berpihak kepada kami. Kami tidak lolos ke babak selanjutnya. Berarti, impian kami untuk maju ke Singapura pun akhirnya harus tertunda. Yup, tertunda dan bukan gagal. Berikut petikan email dari NUS University.
Dear Team
Thank you, once again, for participating in Cerebration 2008. This year, the competition saw participation from close to 1,700 students from Business Schools in 6 continents. The Executive Summaries submitted have been judged by a panel of 25 professors from different faculties. The identities of the participating schools were concealed to ensure an unbiased judging process. The entries were of extremely high quality and only the top 54 entries (Top 18 for each Case Study) have been selected to move on to Round 2.
Unfortunately, your team has not been selected for Round 2.
We appreciate your participation and hope to work with your school on other events in the future.
As feedback, here are some of the comments the judges had on some of the executive summaries (This is not specific to the entry submitted by your team):
"Too many teams tend to write a "generic" report, which could be applicable to any firm. E.g., these are the ones where the crux of the argument is "expand into country X because the economy is booming". Such reports don't say why the ideas are a good thing for the focal firm specifically, and so add little value."
"Surprisingly, many teams had submissions that were poorly formatted, with more than a few spelling errors, etc. This is a consultant report, and a competitive event at that – such mistakes must be avoided at all costs! "
"Many reports give facts, facts, and more facts. The research effort is appreciated, but so what? The reader needs to see the team's conclusions, supported by a summary of the analysis. Facts, if they are really needed, belong in the appendices."
Best Regards,
Team Cerebration
Posted by
Budi Setiawan
at
3:47 PM
0
comments
Pembantaian Massal ala Rumah Video
Monday, December 24, 2007
Jumat, 21 Desember 2007.
Hanya ingin sharing beberapa foto-foto ketika Rumah Video menyelenggarakan kurban di kantor kami. Alhamdulillah tahun ini kami diberikan kesempatan berkurban. Semoga tradisi ini bisa terus kami lakukan untuk Idul Adha mendatang, dengan tentunya kurban yang semakin meningkat, baik kualitas maupun kuantitas, sejalan dengan rejeki yang terus meningkat. Amin.
Dirut RV Taufik Hannas bergaya dengan saudara kembarnya hehe
Sepasang sejoli asyik memadu kasih
nyang punya blog en Pa' RT asyik ngulitin kambing
Epilog nyate bersama personil RV
Posted by
Budi Setiawan
at
9:52 PM
0
comments
Labels: Bisnis, Catatanku, Investasi Akhirat, Rumah Video
Selamat Idul Adha 1428 H
Kamis, 20 Desember 2007.
Alhamdulillah, kita masuk juga ke hari Ied kita, Idul Adha. Walaupun masih ada perbedaan di hari-H-nya, jangan sampai ini merusak ukhuwah kita semua.
Di hari yang suci ini, ijinkan saya untuk mengucapkan Selamat Idul Adha 1428 H. Semoga semangat berkurban di hari ini bisa kita aplikasikan dalam kehidupan setelahnya untuk mencapai Indonesia yang lebih baik.
Posted by
Budi Setiawan
at
9:48 PM
0
comments
Labels: Greetings
Selamat Datang Operator Baru

Selasa, 18 Desember 2007.
Dua hari terakhir rasanya menjadi hari-hari yang sangat melelahkan. Jika orang lain mungkin saat ini sudah bersiap-siap untuk menyambut Lebaran Haji, dengan memulai petualangan mencari kambing atau sapi, maka saya dan beberapa teman-teman masih harus standby untuk menyiapkan Uji Laik Operasi (ULO) untuk operator telko baru, NTS (Natrindo Telekomunikasi Selular). Di hari pertama, bahkan kami masih harus melakukan drivetest berputar-putar di area Jakarta hingga jam 2 pagi.
Yup, operator baru. Setelah Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, dan Hutchinson (3-Three) berperang di pasar GSM, dan Telkom (Flexi), Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 (Fren), Indosat (StarOne), Sampoerna (Ceria), dan Sinar Mas (Smart), berperang di pasar CDMA, maka muncul satu lagi penantang baru yang bermain di jalur GSM. Operator ini nantinya yang akan ikut mencoba meraih kue pelanggan telekomunikasi yang sekarang sudah mencapai angka 80jutaan pelanggan di GSM serta 12 jutaan di CDMA, dengan potensi target market yang berkisar 200 jutaan penduduk Indonesia.
NTS sebetulnya telah lama mendapatkan lisensi untuk mengadakan jaringan telco. Awalnya mereka mendapatkan lisensi untuk 3G, sekitar 2005, malahan mereka mendapatkannya sebelum operator besar seperti Telkomsel, Indosat dan XL, memiliki lisensi 3G ini. Hanya saja, dalam implementasinya mereka jauh tertinggal dengan operator-operator kakap tersebut. Jika operator-operator lain sudah mulai menyelenggarakan layanan 3Gnya, termasuk Hutchinson yang mendapatkan lisensi barengan dengan NTS, maka NTS hingga saat ini masih ketinggalan. Kesulitan-kesulitan itulah yang mungkin mengakibatkan sahamnya sempat berpindah tangan dari Lippo Telecom ke Maxis Malaysia dan kini dioper lagi ke Saudi Telecom.
Inilah yang membuat saat ini NTS seperti kejar tayang. Setelah sempat agak vakum sekian lama, pembangunan site baru mulai dikebut, dan plan-nya peluncuran produk akan dimulai di awal 2008. ULO adalah syarat bagi setiap operator untuk memulai layanan telekomunikasinya. Event ini diwajibkan diadakan untuk setiap provinsi dan nantinya operator akan dinilai layak atau tidak untuk memulai layanan telkonya oleh Dirjen Postel.
Oke sedikit flashback hari-H. Hari pertama, yaitu Senin (17/12) sebetulnya belumlah hari-H. Hari itu kami diminta untuk standby di sekitar Citra Graha, markasnya NTS, sementara pihak NTS sendiri sedang mengadakan miting akhir persiapan dengan Dirjen Postel. Yah, akhirnya memang benar kata orang kalau menunggu itu memang aktivitas yang paling membosankan. Apalagi kami tidak memiliki kepastian sampai kapan kami harus menunggu.
Akhirnya untuk membunuh waktu, mulailah kami berpetualang ke kantor-kantor sekitar, mengunjungi teman-teman kami di sana. Total ada 3 kantor yang kami kunjungi, Adacell, UC, dan Commserv. Kebetulan semuanya bergerak di bidang telekomunikasi. Adacell dan UC adalah subcontractor untuk planning dan optim, sementara commserv bergerak di bidang layanan training dan consulting. Lucu juga sebetulnya melihat kami petantang petenteng mengunjungi kantor-kantor itu tanpa plan yang jelas. Yah, tapi namanya silaturahim. Lagipula, siapa tahu ada tawaran menarik, hehe.
Sorenya sekitar jam 4, kami dikabari untuk bertemu dengan perwakilan NTS. Wah, sepertinya miting mereka sudah selesai. Langsunglah kami meluncur ke sana. Kami pikir di sana kami nantinya akan hanya menerima briefing akhir. Mengingat secara umum, sebetulnya persiapan ULO sudah fix. Rute ULO sudah dipastikan sudah OK.
Nah, apa nyana ketika sampai di sana ternyata malah kabar yang kami terima ialah Postel minta rute dirubah total. Wah, pusing juga neh, mengingat persiapan yang sudah mati-matian kami lakukan di rute sebelumnya. Lagipula, kami tidak bisa memastikan bahwa rute yang baru yang jauh lebih panjang, tanpa masalah sama sekali. Akhirnya, miting lagi hingga jam 9 malam. Diputuskan rute tetap berubah dan plan antisipasi segera disiapkan. Dimulai dari drivetest malamnya untuk memastikan bahwa tidak ada masalah lagi di rute tersebut.
Setelah menyelesaikan persiapan di kantor NTS, akhirnya kami berangkat drivetest jam 11 malam. Total saat itu kami drivetest hingga jam 1.30 pagi. Masih ketemu beberapa masalah. Sampai di rumah coba sedikit mengutak-atik network sedikit. Tidur. Dan Bismillah....ULO dimulai Selasa jam 10 pagi.
Alhamdulillah di hari-H ULOnya sendiri masih bisa berjalan normal. Pesan moralnya, selalu siap dengan perubahan-perubahan di detik terakhir. Blomberg yang sekarang jadi salah satu raja media dunia, di project perdananya untuk Merril Lunch&Co, masih harus mengutak-atik programnya di taxi menjelang presentasi akhir project dengan customernya.
Di luar itu semua, saat ini memang lebih baik kita mengucapkan selamat datang ke calon operator baru, NTS dengan shareholder utamanya Saudi Telecom, yang akan bergabung dengan barisan Telkomsel dan Indosat dengan Temasek Singapore di belakangnya, XL dengan Telecom Malaysia dan Etisalat (Emirates Telecommunication) di belakangnya, serta Hutchinson yang perusahaan Inggris, untuk bersama-sama memperebutkan kue telekomunikasi di negara tercinta kita, Indonesia.
Posted by
Budi Setiawan
at
9:42 PM
2
comments
Labels: Bisnis, Catatanku, Telekomunikasi
Petualangan di Citarik
Sabtu, 15 Desember 2007.
Citarik menjadi pembuka untuk liburan panjang kali ini. Sebenarnya belum liburan 100% sih, mengingat baru kuliah yang diliburkan, sementara kantor baru akan mulai libur di tanggal 20 Desember 2007, di saat Idul Adha. Yah, menyenangkan untuk ditulis.
Petualangan dimulai jam 7 pagi, saat saya dan teman-teman berkumpul untuk berangkat bersama dari kampus. Yah, namanya orang Indonesia, bukan jam karet namanya kalo kita berangkat tepat waktu. Akhirnya, kita baru berangkat ke Sukabumi jam 8.30. Sampai di Sukabumi jam 11, akhirnya kami memulai arung jeram jam 12.
Citarik sudah lama menjadi tempat favorit untuk melakukan aktivitas arung jeram. Di Citarik sendiri, saat ini ada 3 operator untuk arung jeram, yaitu Selaras dengan Kaki Langit-nya, Arus Liar dan Caldera. Sebelumnya sempat ada lebih dari 5 operator, hanya saja seleksi alam yang membuat mereka berguguran. Dari 3 operator itu, baru Selaras yang saat ini menjadi customer dari Rumah Video. Insya Allah, ke depannya kami akan masuk ke 2 operator yang lain. Amin.
Saya pribadi sudah 2 kali melakukan arus jeram. Bila sebelumnya dengan Selaras, maka kemarin kami mencoba layanan dari Caldera. Mirip dengan Selaras, paket yang ditawarkan juga standar, paket 4km, 9 km dan 16-an km. Bila sebelumnya saya mencoba paket 4km, maka kemarin kami mencoba paket 9km dari Kaldera. Total waktu yang akan kami tempuh diprediksi sekitar 2 jam.
Setiap perahu isinya 5-6 orang, dengan 1 orang pemandu. Saya bergabung dengan geng Ragunan, bersama Andri, Dian dan Bowon. Sebelum dimulai, sang pemandu menjelaskan asal kata Citarik, yang ternyata artinya ialah Sungai yang deras. Dan saat ini, karena musim hujan, maka arusnya terbilang normal, alias DERAS. Hmm...nice. Tapi, mari kita mulai dengan Bismillah.
Petualangan dimulai. Setelah melewati perjalanan awal yang tenang, mulailah kita memasuki jeram-jeram yang seru. Oh iya di sini setiap jeram mempunyai nama masing-masing. Dan biasanya ia dinamai sesuai dengan orang yang pernah menemui masalah di sini. Secara bercanda, kami menyebut semoga saja jeramnya kelak tidak dinamai dengan nama jeram Prasmul.
Bolak balik terpental ke sana kemari karena arus, kami tetap mampu bertahan hingga garis finish. Untungnya, personil di perahu kami termasuk jarang yang tercebur di tengah jalan. Yah, dibilang jarang karena salah satu personil, yang kebetulan perempuan sendiri, setelah bolak balik terpental ke sana kemari di perahu akhirnya tercebur di kali sebanyak 2 kali. Untung saja, sang pemandu tergolong sosok yang tanggap dan care sehingga tidak ada kejadian berbahaya yang terjadi.
Yah, akhirnya kita selamat sampai di tujuan. Thanks to semua personel Caldera yang sudah mencoba memberikan pelayanan yang maksimal dalam arung jeram kali ini. Secara kualitas layanan, saya akui ia tergolong bersaing dengan Selaras. Ke depannya memang, untuk bisa bertahan di bisnis ini, pelayanan dan safety adalah kata kuncinya. Tapi, untuk saat ini cukuplah saya mengatakan nice to have this experience...:)
Posted by
Budi Setiawan
at
9:31 PM
1 comments
Labels: Catatanku, Kuliah, Refreshing
A memorable 2007, a challenging 2008
Tuesday, December 18, 2007

Tak terasa hanya dalam hitungan beberapa hari lagi tahun 2007 akan segera berakhir. Istilah akuntansinya, tutup buku. Momen-momen seperti ini sebetulnya paling enak mengasingkan diri ke suatu tempat, mencoba berkontemplasi, melakukan refleksi akan 2007 dan membuat perencanaan dan resolusi untuk tahun ke depan. Yah, itu yang saya ingin niatkan untuk dilakukan dalam sisa Desember kali ini.
Memang seh ada beberapa hutang yang masih harus diselesaikan sebelum 2008. Rumah Video saat ini sedang memasuki fase menentukan terkait dengan rencana strategi marketing baru di tahun 2008 nanti, yang plan-nya bakal lumayan menyedot capital, paling tidak untuk ukuran kami yang masih berusaha menjadi besar. Otomatis memang, sepertinya belum bisa santai terlebih dahulu.
Berita bagusnya, kuliah trimester ini sudah berakhir. Sementara itu, akan ada libur beberapa hari untuk Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Sehingga bila dimanage dengan baik, tetap ada kesempatan untuk mempersiapkan tahun yang baru.
Yah, tulisan sederhana ini hanya sekedar pemanasan saja. Yang pasti, 2007 adalah tahun yang patut saya syukuri. Di tahun ini, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah saya di Prasetiya Mulya, Alhamdulillah dengan biaya sendiri dan tidak merepotkan orangtua. Efeknya, saya banyak bertemu dengan teman-teman baru, yang berasal dari berbagai background dengan karakter yang bervariasi. Sebuah variasi setelah sekian lama saya seperti ”terkungkung” di dunia ke-Teknik-an (mmm..I’m not say this is bad, but I definetely need something new). Terus terang, dengan sistem pengajarannya yang lebih banyak menekankan diskusi kelompok, saya mendapatkan nuansa diskusi yang lebih intens di antara sesama mahasiswa, baik itu terkait dengan masalah perkuliahan hingga masalah pribadi. Dan, saya harus akui banyak inputan yang saya terima dari teman-teman terkait dengan pribadi saya. Otomatis, kelemahan-kelemahan ini nantinya akan menjadi salah satu bahan refleksi saya untuk bisa diperbaiki ke depannya.
Di tahun ini pula, Alhamdulillah sebuah kenikmatan ketika saya diberikan kesempatan untuk mendapatkan nuansa persaudaraan dari sebuah komunitas yang bernama Tangan Di Atas. Untuk teman-teman yang belum mengetahui, komunitas ini terdiri dari pengusaha-pengusaha luar biasa dan juga orang-orang hebat yang sedang belajar menjadi pengusaha, yang memiliki filosofi dasar, tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (menerima). Sebetulnya saya sudah ikut komunitas ini sejak akhir 2006, hasil rekomendasi dari teman kuliah saya, Mario Hendracia. Bahkan di tahun itu, saya sempat intens meminta masukan tentang kemungkinan mendirikan bisnis apotik dengan beberapa anggotanya. Banyak masukan berharga yang saya dapatkan dari sini, terutama yang paling saya hargai ialah dari Pak Imansyah Sutrisno, yang beberapa kali dengan sukarela menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tergolong awam. Hanya saja, dengan beberapa pertimbangan saya akhirnya harus menunda keinginan saya untuk memasuki bisnis itu.
Walaupun sudah join di komunitas ini sejak 2006, bisa dikatakan baru di 2007 saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatannya secara offline. Memang baru sedikit kegiatan yang saya ikuti di sini. Saya mencatat baru 3 kali sepanjang 2007, yaitu seminar Luck Factor-nya Ahmad Faiz Zainuddin, seminar Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu, dan seminar property-nya James Sastrowardoyo. Akan tetapi, walau sedikit, acara-acara inilah yang memotivasi saya untuk tetap bersemangat dalam meraih mimpi-mimpi saya ke depan.
Tahun 2007 ini pula bisa dikatakan saya memulai untuk mengisi blog ini lebih konsisten. Sebenarnya blog ini sudah mulai dibuat tahun 2006. Hanya saja, bisa dikatakan blog ini belum ”hidup” di tahun itu. Banyak alasan yang mendasarinya, alasan yang paling utama adalah saya masih belum merasa cukup layak untuk sharing via blog ini. Akan tetapi, kekonsistenan Pak Roni, founder dan komandan TDA, untuk memotivasi anggota-anggotanya untuk membuat blog akhirnya membuat saya memberanikan diri untuk mulai mengisi blog ini lebih konsisten. Tujuan saya di awal, paling tidak blog ini akan menjadi semacam pengingatan pribadi untuk diri saya untuk selalu berpikir positif, sekaligus menjadi seperti kotak memory bagi saya untuk tidak begitu saja melupakan momen-momen yang terjadi dalam hidup saya.
Alhamdulillah, dalam perjalanannya, blog ini malah bisa menjadi ajang silaturahim saya dengan teman-teman, baik dari TDA maupun dari yang lain. Untuk hal ini, saya harus berterima kasih dengan teman-teman seperti Mas Ipul, yang sudah mendesign TDA blogroll sehingga memudahkan untuk blogwalking ke teman-teman TDA. Juga, Pak Ramli, yang sudah membuat kumpulan foto-foto anggota TDA sehingga paling tidak saya bisa mengetahui wajah-wajah teman-teman TDA. Selain itu, saya harus menyampaikan apresiasi yang besar kepada rekan-rekan TDA yang lebih senior, yang sudah menyempatkan diri untuk berkunjung terlebih dahulu di blog ini, padahal seharusnya saya yang lebih junior yang melakukan kunjungan awal. Tercatat sesepuh2 TDA, seperti Pak Wuryanano, Pak Asep Triono, Pak Roni, Pak Iim dan lain-lain yang tak dapat saya sebutkan semuanya, dengan sukarela memberikan support dan semangat secara pribadi melalui blog ini.
Walaupun menulis di blog ini sekarang sudah menjadi sebuah kenikmatan tersendiri, tetap saja aktivitas favorit saya adalah melakukan blogwalking, terutama ke blog teman-teman TDA. Dengan aktivitas ini, walaupun saya tidak bertemu secara langsung, saya dapat merasakan semangat dan inspirasi yang membuat saya merasa malu untuk mudah menyerah ketika bertemu dengan masalah.
Semangat dan inspirasi ini pulalah yang membuat saya memberanikan diri untuk mulai terjun langsung ke dunia bisnis di tahun 2007 ini. Special thanks dedicated to my friends, Mario Hendracia, yang terus-menerus meng-encourage saya untuk take action segera dan senantiasa menemani dalam acara-acara TDA. Juga untuk senior saya di kampus, Teguh Atmajaya, atau saya biasa memanggilnya Bang Azmi, yang menyarankan saya untuk membuat deadline kapan saya sudah harus mulai terjun ke dalam bisnis. Dan terutama, untuk semua komunitas TDA, yang selalu menekankan akan urgensi sebuah action.
Memang akhirnya bisnis yang saya pilih untuk dimasuki bukanlah bisnis yang harus dimulai dari awal lagi. Rumah Video sudah berjalan selama kurang lebih 2 tahun sebelum saya memutuskan untuk bergabung di dalamnya. Bisnis ini sudah mampu berjalan stabil selama periode itu, telah mampu menghasilkan cashflow yang positif, telah mempunyai loyal customer, hanya saja saat ini membutuhkan penyegaran untuk bisa melangkah maju ke fase selanjutnya. Akhirnya sejak saat itu, tim baru terbentuk dengan komposisi terdiri dari Taufik Hannas, Acep Hidayat dan saya sendiri.
Pilihan ini terus terang memiliki konsekuensi bahwa saya tidak ikut merasakan romantika mendirikan usaha ini dari awal. Akan tetapi, business is business, prinsip saya ialah show me the money. Ada peluang yang terlihat di bisnis ini, dan untuk itu saya memutuskan untuk terjun di dalamnya. Insya Allah, apabila ke depannya ada peluang menarik untuk mendirikan usaha baru dari awal - seperti yang dulu pernah saya coba sebentar dengan teman saya selepas kuliah - saya akan mencobanya. Akan tetapi, untuk saat ini, aktualisasi saya untuk berbisnis akan total saya salurkan di Rumah Video.
Untuk aktivitas saya sebagai engineer telekomunikasi, berbeda dari tahun sebelumnya, di tahun ini saya diberikan kesempatan oleh Ericsson untuk menjajal 4 project sekaligus secara bergantian, mulai dari Indosat 2G Jabotabek, Telkomsel 3G Padang, Telkomsel 2G Kalimantan hingga sekarang NTS 2G Jabotabek. Pengalaman bertemu dengan customer yang berbeda, rekan tim yang berbeda dan juga teknologi yang berbeda, paling tidak membuat saya bisa mengenali dunia telekomunikasi ini lebih dalam. Sejauh ini, saya masih menikmati kesempatan untuk berkontribusi lebih jauh di dunia ini dan masih mengimpikan untuk mampu menyatukan antara dunia ini dan dunia bisnis.
Selain dari semua pengalaman di atas, 2007 juga menyajikan berbagai macam pengalaman hidup lain yang ikut membentuk hidup saya. Akan tetapi, untuk tidak membuatnya menjadi cerita yang berkepanjangan, saya harus akhiri postingan kali ini di sini. Beberapa orang lain yang berjasa terpaksa tidak sempat dituliskan di sini. Termasuk seseorang yang selalu mengingatkan untuk menjadi yang terbaik. Juga termasuk seseorang yang pernah dikecewakan dan menjadi alasan saya saat ini untuk tidak pernah lagi melakukan hal yang mengecewakan.
Apapun itu, saya harus akui 2007 sejauh ini telah menjadi tahun terbaik dalam hidup saya. Dan, saya tidak sabar untuk menanti 2008, tahun di mana saya bertekad untuk menjadikannya lebih baik lagi, tahun di mana saya bertekad untuk memperbaiki semua kesalahan dan kelemahan sepanjang 2007, tahun di mana saya ingin menjadikannya sebagai kenangan terindah dalam hidup saya.
A memorable 2007, a challenging 2008.
Mengikat Karyawan
Friday, December 14, 2007

Sekali lagi, hanya berusaha untuk menuliskan kembali apa yang saya pelajari di bangku kuliah. Sambil meraba-raba, seperti apa baiknya penerapannya di Rumah Video [Fik,Cep, kalau kalian membacanya juga, tolong sambil dipikirkan juga penerapannya yang pas yah...:) ]
Employee engangement, atau keterikatan karyawan, adalah sebuah tema yang mungkin tidak akan habis-habisnya dibahas. Sudah lazim kita temui, karyawan yang sudah lama bersama kita akhirnya harus meninggalkan kita. Yang menjadi masalah adalah manakala ternyata karyawan itu adalah seseorang yang selama ini telah menjadi andalan kita dan kita merasa bahwa ia nyaris tak tergantikan di sana. Well, tentunya selain kita harus terus mempersiapkan calon pengganti untuk setiap posisi, mungkin ada baiknya bila kita mengevaluasi sistem SDM yang ada di bisnis kita.
Secara umum, perusahaan dan karyawan memiliki fokus yang berbeda. Bila perusahaan mempunyai kepentingan profit, pertumbuhan, serta kepastian proses produksi, maka karyawan kepentingannya ialah kesejahteraan, diperlakukan secara fair, serta potensi pengembangan karir.
Memang, masih ada titik temu di antara keduanya. Kelangsungan usaha untuk pengusaha sebenarnya ialah juga peluang kerja bagi karyawan. Walau demikian, tetap saja di dalam praktiknya potensi konflik kepentingan antara keduanya tidak dapat dihindari.
Salah satu tools yang bisa digunakan untuk mengukur keterikatan karyawan adalah tools yang dikembangkan oleh Gallup. Tools ini terdiri dari 12 pertanyaan, dibuat setelah melalui 80.000 interview dengan manager di lebih dari 400 perusahaan. List pertanyaannya adalah sebagai berikut.
1. Do you know what is expected of you at work?
2. Do you have the materials and equipment you need to do your work right?
3. At work, do you have the opportunity to do what you do best every day?
4. In the last seven days, have you received recognition or praise for doing good work?
5. Does your supervisor, or someone at work, seem to care about you as a person?
6. Is there someone at work who encourages your development?
7. At work, do your opinions seem to count?
8. Does the mission/purpose of your company make you feel your job is important?
9. Are your associates (fellow employees) committed to doing quality work?
10.Do you have a best friend at work?
11.In the last six months, has someone at work talked to you about your progress?
12.In the last year, have you had opportunities at work to learn and grow? 
Hmm…sekali lagi, penerapannya tidak akan sesimple penulisannya. Hanya saja, tetap tidak ada salahnya dicoba. Ikut berpikir dalam sudut pandang karyawan, bukankah itu salah satu dari karakteristik berpikir menang-menang, salah satu dari 7 habitsnya Stephen Covey.
Semoga bermanfaat.
Note : 1) Sebuah periode yang berat manakala karyawan memang sudah mulai hitung-hitungan. Ketika ia mengetahui profit yang dihasilkan oleh perusahaan dari sebuah event, maka ia akan selalu membandingkan dengan kompensasi yang didapat olehnya sebagai seorang karyawan. Saat itu, mungkin sudah saatnya untuk berbicara dari hati ke hati, menjelaskan bahwa perusahaan sedang dalam fase bertumbuh, dan ia akan tetap memiliki kesempatan untuk terus berkembang, manakala ia tetap mendukung perusahaan untuk melangkah.
2) Tetap optimis, dan selalu sebarkan aura positif untuk karyawan kita. Thanks atas sharingnya, Bang Azmi.
3) Ditulis di hari-H ujian HRM, dengan Gallup sebagai salah satu materinya….:)
Posted by
Budi Setiawan
at
12:45 AM
0
comments
Menjajal ”Community Marketing”
Saturday, December 01, 2007

Teman-teman…kali ini sekedar sharing problem saja yah...
Terus terang saat ini saya bersama beberapa teman sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi business plan yang diadakan oleh NUS (National University of Singapore) Business School. Niatnya memang hanya untuk mencari tambahan pengalaman saja. Toh, gratisan ini.
Nah, masalahnya adalah kasus yang ditawarkan jujur saja bukan merupakan bidang yang kami kuasai atau minati. Pilihan kasusnya ialah tentang bar yang menjual minuman keras, bisnis wellness (perawatan tubuh dan kesehatan yang terintegrasi) serta terakhir bisnis ikan hias ”Dragon Fish”. Kita diminta untuk membuat rencana strategi untuk pengembangan perusahaan-perusahaan Singapura ini di Indonesia. Yang pasti memang pilihan pertama sudah langsung dicoret dari pilihan kita, karena satu hal...haram bro. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba kasus bisnis wellness. Pertimbangan utamanya, bisnis ini sudah ada di Indonesia dan akses untuk mendapatkan sample datanya lebih mudah dibandingkan dengan ikan hias ”Dragon Fish” yang kami masih belum tahu bentuk dan keunggulannya dimana.
Bisnis wellness sendiri sebetulnya bisnis yang mencoba untuk mengintegrasikan antara perawatan tubuh dan kesehatan. Contoh layanan yang ditawarkan adalah jasa pelangsingan tubuh, perawatan kulit dan rambut, spa, pijat refleksi dan totok aura, fitness, perawatan kesehatan dengan menggunakan bahan-bahan alami, dan sebagainya. Bisnis ini tergolong prospektif, terutama di kalangan masyarakat perkotaan, yang sehari-harinya banyak berhadapan dengan pencemaran udara yang parah, junk food, stress dan keterbatasan waktu untuk berolahraga.
Nah, terus terang masalah belum berakhir setelah kami menentukan tema ini. Dengan jadwal yang ketat, dimana tanggal 9 Desember ini kami sudah harus menyerahkan Executive Summary, maka otomatis saat ini kami yang baru terbentuk kurang dari 1 mingguan harus mengejar waktu. Sempat brainstorming sebentar kemarin, saat ini saya hanya berusaha untuk menuliskannya kembali supaya tidak berceceran.
Konsep yang sempat mengemuka di dalam brainstorming adalah konsep community marketing. Konsep ini hitungannya memang bukan konsep baru, akan tetapi memang belum dikembangkan lebih lanjut dalam riset yang komprehensif di Indonesia. Bayangan kami, konsepnya akan mirip dengan amazon.com, yang di awal berdirinya merancang situsnya sebagai komunitas pencinta buku, dan bukannya para pembeli buku secara individual. Amazon memfasilitasi dan mendorong anggotanya untuk saling berinteraksi dan memberikan layanan pelanggan yang melibatkan secara penuh anggota komunitas. Para anggota komunitas Amazon dapat memilih buku yang mereka inginkan secara lebih mudah, mendiskusikan buku-buku yang baru terbit dengan menulis resensi dan memberikan rating, dan mendapatkan rekomendasi buku-buku lain dari anggota komunitas. Differensiasi berbasis komunitas yang menjadi diferensiasi utama Amazon.com adalah kunci keunggulannya dibandingkan kompetitornya.
Contoh di Indonesia sendiri, seperti yang tercantum di majalah SWA kemarin ialah komunitas B2W (Bike to Work), Communicator, Harley-Davidson, Jakarta Mio Club, Bango Mania, dan sebagainya. Bahkan untuk urusan bisnis pun, kita saat ini mendapati komunitas-komunitas seperti TDA (Tangan Di Atas) dan Bismart (Bisnis Smart). Rata-rata komunitas yang ada adalah komunitas yang independen dan bukan hasil bentukan dari suatu perusahaan. Fenomena ini salah satunya didorong oleh kemajuan teknologi informasi yang pesat, kian masifnya pemanfaatan internet dan ponsel yang kian cerdas, dan terus berkembangnya teknologi jaringan sosial, seperti friendster dan blog.
Hermawan Kartajaya bahkan menyebut fenomena komunitas ini sebagai channel yang terbaik dalam pemasaran di dunia yang semakin emosional dan interaktif, yang mengambil istilah-nya John Gray, Bumi yang menjadi seperti Venus, yang dianalogikan sebagai asal dari wanita. Komunitas bertindak satu sama lain atas dasar saling percaya, yang terbentuk karena adanya proses relasi yang intens dan panjang. Secara emosional memang penduduk Venus paling suka berinteraksi satu sama lain dan membentuk komunitas.
Nah, lalu apa kaitannya dengan bisnis wellness? Yang paling pertama, perawatan tubuh dan kesehatan seakan sudah menjadi fitrah dari penduduk Venus. Parameter sederhananya, coba saja hitung waktu yang dibutuhkan oleh wanita untuk berdandan bila dibandingkan dengan pria. Oleh karena itu pendekatan berbasis komunitas akan sangat cocok sekali dilakukan di sini. Bagaimana perusahaan nantinya meng-create komunitas yang mampu memfasilitasi diskusi antara member-nya terkait dengan perawatan tubuh dan kesehatan serta tema-tema kewanitaan lainnya, akan menjadi kunci sukses. Patut diingat bahwa sedapat mungkin komunitas nantinya tidak terjebak dengan tema pembahasan yang sempit pada perawatan tubuh dan kesehatan saja, akan tetapi bisa dikembangkan tema-tema lain sebagai variasi untuk meningkatkan hubungan emosional di antara member.
Kedua, komunitas nantinya akan sangat berguna apabila perusahaan ingin mengembangkan marketnya ke kalangan pria. Premis Hermawan, pria sudah semakin menjadi seperti wanita, bukan dalam hal orientasi seks atau kehilangan maskulinitas, akan tetapi pria yang semakin emosional. Pria yang semakin mampu mengekspresikan emosi dan perasaannya. Sedikit penggambaran, pria sebenarnya sangat sulit untuk merangkai kata-kata dan mengungkapkan perasaan. Selain itu, pria adalah sosok yang sulit untuk memecah konsentrasi dan ngobrol dengan beberapa orang sekaligus karena mereka perlu berkonsentrasi penuh. Akan tetapi, karena pria lebih banyak mengandalkan mata, teknologi internet mengakomodasi mereka untuk bisa menangkap banyak informasi sekaligus, tanpa kehilangan fokusnya serta untuk menggantikan fungsi kata-kata dengan tulisan atau gambar. Inilah yang membuat insting pria semakin terasah dan otomatis jiwa emosionalnya semakin berkembang. Keberadaan komunitas, bila digunakan secara tepat, akan mampu membuat pria melewati ”barrier psikologis”nya untuk saling berkomunikasi tentang masalah kesehatan dan juga kondisi tubuhnya.
Hanya saja, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dengan konsep ini.
Yang pertama, komunitas adalah sebuah entitas yang menjunjung nilai independensi. Perusahaan tidak bisa begitu saja mengkooptasi anggota komunitas sebagai konsumen loyal mereka. Benchmarking dan perbandingan akan selalu menjadi tema utama dari anggota komunitas sehingga perusahaan tidak bisa dengan vulgarnya mencap bahwa perusahaan mereka adalah yang terbaik bagi anggota komunitas. Ambil contoh, komunitas Honda Jazz yang acap kali merekomendasikan membernya satu sama lain untuk mengambil alternatif lain di luar bengkel resmi Honda. Oleh karena itu, kalaupun perusahaan mau mempromosikan dirinya, ia harus melakukannya dengan sangat halus. Contoh kasus, Polygon yang sering mensponsori acara-acara B2W (Bike To Work), hingga terakhir membuat sebuah merk khusus, B2W untuk produk sepedanya.
Yang kedua, penggunaan community marketing sebagai strategi marketing belumlah cukup. Kelemahan dari community marketing adalah karena mengandalkan WOM (Word Of Mouth) di kalangan anggotanya, maka pola penyebarannya benar-benar bergantung pada mobilitas dan militansi dari member-nya. Bila member yang ada hanya berasal dari kalangan tertentu saja yang jarang berinteraksi dengan kalangan lain, maka akan sulit diharapkan bahwa community marketing akan berhasil. Atau, kalau mengambil istilahnya Malcolm Gladwell, dalam bukunya Tipping Point, perlu ada tipe Connectors, Maven dan Salesmen untuk mengefektifkan WOM.
Makanya, selain community marketing perlu dipikirkan juga nantinya terkait strategi komunikasi marketing yang lain.
Selain masalah-masalah di atas, kami juga masih menghadapi masalah terkait seberapa prospektif sebetulnya pasar bisnis wellness di Indonesia, siapa saja pemain-pemain utamanya sekarang, seberapa besar market share mereka, seberapa besar tingkat brand awareness-nya sekarang dan hal-hal lain yang membutuhkan data mentah. Saat ini, kami masih bingung kemana mencari data mentahnya. Yah, mungkin ada di antara teman-teman yang sempat membaca blog ini yang bisa memberi saran kemana harus mencarinya. Mungkin ada link ke Dep. Industri atau AC Nielsen atau sebagainya....:)
Waduh, sepertinya menulisnya sudah kepanjangan. Mohon maaf karena masih belum terstrukturisasi dengan baik postingan ini. Maklum yang membuat masih belajar. Lagipula, memang maksud utamanya untuk mendokumentasi brainstorming yang berceceran agar bisa dimanfaatkan kembali suatu waktu. Jadinya, benar-benar seperti storm (badai) deh...
Posted by
Budi Setiawan
at
7:33 PM
4
comments
Saat di atas, dan saat di bawah

Hmm...kayaknya beberapa hari ini sering mendengarkan kata-kata, roda berputar, ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah. Sepertinya semua orang di sekitarku sedang menjadi agak-agak filosofis sekarang ini...hehe.. Yah, memang ada beberapa kejadian sih yang datangnya berturutan...
Yang pertama, mengenai posisi meja kerja di kantor. Setelah 1.5 tahunan menempati posisi strategis dimana posisi meja langsung ada di depan jendela besar yang menampilkan view Jakarta, akhirnya kemarin aku harus legowo untuk pindah ke posisi lain yang terus terang kondisinya berbeda dari sebelumnya. Bayangkan saja, kalau sebelumnya posisi kita ada di pojokan yang notabene leluasa untuk memantau (yah bahasa keren dari mengintip seh...) orang lain, saat ini posisi meja adalah di sebuah lorong yang setiap saat dilalui terus oleh orang-orang. Kalau sebelumnya, browsing dilakukan dengan sangat vulgar, nah sekarang kudu agak-agak direm dikitlah, ga enak kalau terlihat terlalu semangat menghambur-hamburkan bandwith kantor..:D..Nah, terus tentang view, yang pasti jendela sekarang sudah nan jauh di mato, sementara di depan mata saat ini yang ada ialah hamparan dinding kosong...
Yang kedua, baru saja kemarin bertemu dengan customer dari NTS untuk persiapan ULO (Uji Laik Operasi) jaringan untuk operator telekomunikasi baru milik Saudi Telecom ini di Jakarta. Nah, yang mengagetkan salah satu dari customer yang ada, ternyata sebelumnya adalah rekan subcontactor yang sebelumnya sempat bekerja bersama dalam satu area di project Indosat. Kalau sebelumnya di project Indosat, aku yang selalu meminta bantuan (bahasa diplomatisnya dari menyuruh seh...) nah sekarang posisinya dibalik. Sebelumnya aku adalah customer dia, yang otomatis berhak untuk meminta dia mengerjakan apa yang aku minta. Nah, sekarang gantian, dia saat ini yang akan dan berhak memintaku untuk mengerjakan sesuatu....:)
Yah, memang benar sih roda itu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Sudah bukan saatnya bicara senior dan junior, tetap lebih baik mencoba stay cool dan egaliter, dan sekarang saatnya untuk kembali bekerja...:D
Posted by
Budi Setiawan
at
7:23 PM
0
comments
Makin menyesal tak ikuti seminar SDM TDA…
Sunday, November 25, 2007

Beberapa minggu ke belakang, saya disibukkan dengan tugas akhir mata kuliah HRM (Human Resources Management) dan Marketing Management yang cukup menyita waktu. Untuk 2 mata kuliah ini, kita diminta untuk meneliti 2 perusahaan yang berbeda dan memberikan analisa dan rekomendasi terkait dengan aspek Human Resource dan Marketingnya.
Yah…aspek menyenangkannya…sebuah variasi bagi saya setelah di pekerjaan sehari-hari kebanyakan hanya bersentuhan dengan aspek teknikal di kantor, sementara untuk tempat saya belajar bisnis, yaitu di Rumah Video, saya dan teman-teman lebih banyak mengandalkan insting dan manajemen sederhana. Secara bergaya, saya dan teman-teman sekelompok menyebut diri kami konsultan, hanya saja kali ini tanpa bayaran..:)
Selain itu, hal lain yang menyenangkan adalah perusahaan yang kami teliti sebetulnya perusahaan yang masih mempunyai hubungan dengan teman sekelompok saya. Satu teman adalah direkturnya, sementara satu teman lagi adalah marketing manager dan sekaligus salah satu pemiliknya..Jadi, untuk mendapatkan data perusahaan bukanlah sesuatu yang sulit…Yah, iri juga seh sebetulnya melihat ada teman sebaya saya yang sudah sesukses itu…eh, tapi iri yang positif lhoo..
Untuk aspek Human Resource, perusahaan yang kami teliti adalah sebuah klinik kesehatan di bilangan Condet, yang pelanggan utamanya ialah calon-calon TKI. Klinik yang baru saja berganti kepemilikan ini saat ini sedang berupaya untuk membenahi internal perusahaannya, terutama dari sisi SDM. Sang teman sendiri sebetulnya juga memiliki kepentingan ketika mengajukan klinik ini sebagai obyek penelitian, karena dia mengharapkan sekaligus juga ada inputan dari kelompok kami akan kondisi di sana. Nah, setelah kurang lebih 3 minggu meneliti, kami akhirnya mengeluarkan beberapa rekomendasi terkait dengan job design, perombakan struktur perusahaan, sistem appraisal, sistem training dan sistem safetynya..Yah, hitungannya memang masih konsultan amatiran sih, tapi lumayan senang juga ketika mengetahui bahwa rekomendasi kami nantinya akan coba diterapkan di sana.
Yah, sebetulnya untuk aspek HRM ini kami masih merasa kurang di dalam memberikan analisa yang lebih komprehensif. Salah satu contohnya, kami belum sempat mengutak-atik gambaran besarnya, yaitu visi dan misi dari perusahaan. Hal ini sempat dikritik oleh salah satu teman kami ketika presentasi di kelas, dimana Ia mengatakan bahwa seharusnya untuk membenahi sistem yang ada kami beranjak dahulu dari aspek globalnya yaitu visi dan misi, dan baru setelah itu mengurusi detailnya. Sementara kami beranjak dari target jangka pendek perusahaan untuk minimal mempertahankan market yang ada terlebih dahulu. Argumentasi kami, perusahaan ini baru berganti kepemilikan dan fokus utamanya saat ini ialah mempertahankan level performa yang ada terlebih dahulu dan membenahi sistem internal perusahaan, termasuk SDM.
Tanggapan dari Pak Dosen, sebuah perusahaan tidak harus memiliki visi misi yang paling ideal di awal berdirinya, akan tetapi target minimal yang harus ia lakukan adalah bagaimana membentuk tim untuk mencapai tingkat sales minimal terlebih dahulu, baru kemudian bertahap membenahi sistem operasionalnya untuk mengikuti sales yang semakin meningkat, pengembangan SDMnya, keuangannya, sistem2 lainnya, termasuk membenahi visi dan misi. Visi dan misi bisa mengikuti di dalam perjalanan perusahaan. Dari sini, jadi teringat dengan salah satu statement dalam bukunya Jim Collins, Good to Great, bahwa mendapatkan SDM yang tepat dan tim yang hebat haruslah didahulukan sebelum formulasi visi, misi dan strategi perusahaan. Pertama siapa, baru kemudian apa…Jadi ingat juga bahwa ketika Lou Gertsner pertama kali membenahi IBM, ia berkata bahwa strategi adalah hal terakhir yang akan Ia pikirkan di sana. Fokus yang pertama darinya ialah SDM…Hasilnya IBM sukses melakukan salah satu turnaround yang terbaik dalam sejarah..
Wah, mendengar itu jadi merasa semakin menyesal tidak bisa mengikuti seminar SDM yang diadakan TDA Sabtu lalu. Apalagi, sebelumnya saya sempat mengajukan diri menjadi volunteer untuk acara itu. Yah, apa daya tugas-tugas di atas sudah mendekati deadline dan kelompok masih harus berkumpul untuk menyatukan pandangan..Akhirnya, kembali harus ada yang dikorbankan deh…
To Pak Hasan Basri, Pak Sam, Bu Sylvia, Pak Adang, Pak Tatang dan semua volunteer yang lain....mohon dimaafkan yah atas ketidakoptimalan saya kemarin….
Note : Sharing tentang marketingnya menyusul yah, soalnya memang masih under construction…
Posted by
Budi Setiawan
at
10:32 PM
1 comments
Tentang kebosanan…

Setiap manusia pasti pernah merasakan kebosanan, bosan dengan pekerjaan sehari-harinya, bosan dengan rutinitasnya, bosan dengan kemacetan yang tidak pernah hilang dari Jakarta, dan lain sebagainya..Yah, saya tahu semua pernah merasakannya. Dan saya pun harus mengakui saya masih sering mengalami itu..
Yah, dahulu ketika saya memutuskan untuk pindah dari Siemens ke Ericsson, salah satu alasannya adalah saya mulai merasa jenuh dengan pekerjaan di tempat yang lama (selain alasan yang lain tentunya). Salah satu alasan saya untuk sekolah lagi ialah saya sempat merasa sedikit bosan dengan aktivitas harian saya yang seakan menjadi rutinitas saja. Salah satu alasan saya untuk belajar berbisnis adalah saya mulai merasa pekerjaan saya sehari-hari yang sangat teknikal membutuhkan variasi. Dan bahkan mungkin salah satu alasan saya join dengan TDA adalah saya bosan setiap harinya browsing berita-berita yang nadanya negatif dan tidak solutif.
Bosan yang di atas memang manusiawi. Variasi adalah salah satu obat untuk menyembuhkan kebosanan. Nah, tapi bagaimana bila yang terjadi ialah kita mengalami kebosanan di dalam melakukan hal yang positif? Atau kita mengalami kebosanan ketika kita mencoba berjalan meraih mimpi kita? Atau malah kebosanan ada saat kita melakukan ibadah...Wah, memang harus hati-hati tuh kalau begitu...
Yah, beberapa hari ke belakang mendapatkan inputan-inputan berharga yang mungkin berhubungan. Inputan pertama, saya dapat dari blognya Pak Iim, yang mengatakan ”tulislah mimpi kita di atas batu karang, dan tuliskan strategi untuk mencapainya di hamparan pasir”. Maksudnya, mimpi kita adalah sesuatu yang seharusnya tidak mudah berubah karena ia berfungsi sebagai pendorong bagi kita dalam melakukan sesuatu. Sementara strategi adalah sesuatu yang fleksibel, yang setiap saatnya bisa kita variasikan untuk menghindari kebosanan dan mendapatkan jalan terbaik..
Mimpi apapun yang kita miliki, kita harus mampu untuk mengikatnya dan menjadi pendorong bagi kita untuk keluar dari kebosanan kita. Atau, kalau dalam istilahnya novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, ”Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini, di depan kening kamu...jangan menempel. Biarkan dia menggantung mengambang 5 cm di depan kening kamu, jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu.” Kalau masih terlalu abstrak, solusi menulis mimpi di tempat yang mudah terlihat oleh kita adalah solusi terbaik.
Nah, inputan yang kedua berasal dari pengajian rutinan yang saya ikuti sabtu lalu. Temanya ialah tentang futur, yang arti simplenya, melemah setelah semangat, tentu konteksnya semangat melakukan hal yang positif. Salah satu penyebabnya ialah tidak bersyukurnya kita di kala senang dan tidak bersabar di kala sedih.. Bicara tentang ini, sebetulnya ada satu kasus sedih yang sempat terjadi pada salah satu temannya teman yang sekarang usianya sudah berkepala tiga. Konon, doi di zaman SMU dan kuliah adalah sosok aktivis cemerlang, bintang kelas, raja podium yang sepertinya ke depannya akan menjadi orang yang sukses. Nah, singkatnya saja, teman terkaget-kaget ketika berjumpa lagi dengannya setelah belasan tahun, ternyata sang aktivis sekarang sudah menjelma menjadi seorang pecandu narkoba. Jauh sekali ternyata perubahan yang terjadi...Usut punya usut, ternyata problem yang terjadi berawal dari kekecewaan yang sangat ketika Ia tidak mampu menikahi gadis impiannya karena faktor orang tua.
Mungkin terkesan simplifikasi...tapi sumber kekecewaan buat setiap orang akan berbeda-beda. Ada yang terlampau sedih ketika ditimpa kematian sanak saudaranya, ada yang meratapi kegagalan bisnisnya dan tidak mampu bangkit lagi dari keterpurukan itu, dan macam-macam yang lain. Nah, makanya pengingatan untuk bersyukur di kala senang dan bersabar di kala sedih benar-benar tepat untuk mengobati kebosanan.
Bermimpi...mengikat mimpi....membuat variasi strategi...serta syukur dan sabar...memang mudah diucapkan tidak mudah diaplikasikan...tapi karena kita adalah hasil persangkaan kita..mengapa tidak mencoba berpikir kita mampu mengaplikasikannya...semoga dengannya kita bisa dihindarkan dari kebosanan dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang bernilai positif..:)
Posted by
Budi Setiawan
at
10:31 PM
0
comments
Labels: Catatanku, Investasi Akhirat, Renungan
Before You Quit Your Job – 2nd Lesson

” Belajar cara mengubah nasib buruk menjadi nasib baik.”
Sebuah kutipan menarik dikemukakan oleh Robert Kiyosaki dalam ulasannya yang kedua.
PEKERJAAN ENTREPRENEUR ADALAH MEMBUAT KESALAHAN. PEKERJAAN KARYAWAN ADALAH TIDAK MEMBUAT KESALAHAN.
Walau demikian, di sini juga ditawarkan pemikiran yang lebih diplomatis.
SEORANG ENTREPRENEUR TIDAK BISA DAN TIDAK AKAN BERKECIL HATI KARENA TAKUT MEMBUAT KESALAHAN. Dia tidak akan membiarkan rasa takutnya untuk membuat kesalahan menjadi penghalang.
Di sini dijelaskan, bahwa mencoba hal baru, terutama yang tidak suka dilakukan oleh orang lain, adalah bagian dari esensi menjadi seorang entrepreneur. Karena entrepreneur cenderung menapaki jalan yang tidak dilewati, kemungkinan salah langkah akan menjadi lebih besar. Seorang entrepreneur biasanya sama sekali tidak memandang hal itu sebagai sebuah kesalahan, karena semata merupakan eksperimen, sebuah resiko yang sudah dipertimbangkan.
Sekitar 90% dari orang yang ingin menjadi entrepreneur tidak melakukan langkah pertama. Rencana dan analisis sudah dibuat sebelumnya, akan tetapi penyakit takut gagal kemudian menjadi penghalang yang paling utama. Padahal, sebetulnya mustahil untuk menjadi entrepreneur tanpa memulai sebuah usaha. Ia ibarat mustahil belajar menaiki sepeda tanpa sepeda.
“Alasan utama untuk memulai bisnis adalah memiliki bisnis untuk berlatih.”
Secara umum, point pelajaran kali ini sangat menekankan pada aspek ACTION. Sebagaimana sering kita dengar bersama, knowledge only is not yet a power, but Applied Knowledge is Power, maka Knowledge tanpa action belum akan menjadi faktor perubah. Seorang entrepreneur bukanlah seorang yang takut akan kegagalan, bahkan mereka menyadari bahwa semakin cepat dan sering mereka gagal, maka mereka akan semakin dekat dengan kesuksesan.
Di akhir cerita, untuk bisa sukses, seorang entrepreneur baru perlu berkomitmen untuk menjalani langkah-langkah berikut secepat mungkin.
1. Memulai bisnis
2. Gagal dan belajar
3. Mencari mentor
4. Gagal dan belajar
5. Mengikuti sejumlah pelajaran
6. Terus gagal dan belajar
7. Berhenti saat sukses
8. Merayakannya
9. Menghitung uang, kemenangan, dan kekalahan
10. Mengulangi proses itu.
Semoga bermanfaat.
Salam Hangat,
Budi Setiawan
”Rumah Video”
Posted by
Budi Setiawan
at
10:30 PM
0
comments
Aku kecelakaan parah….

Ahh…akhirnya setelah 20 harian lebih, saya coba untuk menulis lagi di blog ini…benar memang kata orang…lama berhenti mengerjakan sesuatu, akhirnya akan membuat seseorang semakin malas untuk mengerjakannya lagi…Utk awalan, karena dah lama ga nulis, sedikit intermezzo ringan aja dulu yah…
Selasa lalu jam 11.30 WIB…sedang asyik diskusi dengan drivetester di meja kerja…
Hpku mendadak berbunyi….
Home…asal panggilan
Dan terdengar suara bapakku..
“Halo…ini siapa?“
Well, pertanyaan yang aneh, mengingat itu adalah Hpku.
Kontan dibalas, “Yah, ini Wawan Pah..siapa lagi?”
”Wawan…lho kamu ga napa2?” makin bingung...
Setengah jam sebelumnya ….
Rumah.
Sebuah percakapan telepon.
“Halo, Bapak, saya petugas dari RSPP. Saya ingin memberitahukan kalau anak Bapak, Budi Setiawan, sekarang sedang berada di ruang UGD I karena kecelakaan.”
“Apaa??”
“Untuk lebih jelasnya Bapak bisa menghubungi Dr. Lampri Hidayat di nomor 081584641539.”
Kali ini Bapak mengambil kendali telepon. Tombol ditekan. Hening sesaat....
“Halo dengan Dr. Lampri Hidayat, saya ingin bertanya tentang anak saya, Budi Setiawan.”
“Oh iya, anak Bapak sekarang sedang luka parah. Kami sedang berusaha untuk menolongnya. Hanya saja, saat ini kami kekurangan alat medis xxx. Bila Bapak bisa membantu, Bapak bisa menghubungi Dr Abdul Gani di Apotek Mitra Mandiri, dengan nomor (021) 32057634 untuk ketersediaan alatnya.”
Kembali tombol telepon ditekan.
”Halo dengan Dr. Abdul Gani, saya ingin menanyakan soal ketersediaan alat medis xxx.”
”Oh, ada Pak. Untuk saat ini alatnya bisa ditebus dengan harga Rp 4 juta.”
”Apa? Wah Pak kebetulan saat ini saya tidak memegang uang cash. Kalau begitu saya harus tanya ke istri saya dulu. Nanti saya kabarin lagi.”
”Pak..tunggu...”
Tut..tut..tut....
Akhirnya Bapakku mencoba menelpon nomor teleponku. Nomor pribadiku memang sempat mati saat itu karena kehabisan baterai. Untung saja nomor HP kantorku masih hidup.
Yah, akhirnya ketauan juga kalau itu hanyalah salah satu modus penipuan yang saat ini ada di Jakarta.
Paling tidak sebetulnya ada beberapa hal yang menarik di sini.
Pertama, yang menarik adalah darimana sang penipu mengetahui data pribadiku, yaitu nomor telepon pribadiku. Bahkan, kemungkinan dia pun juga sudah mengetahui nomor HP pribadiku. Kata beberapa teman, biasanya sebelum sang penipu menelpon ke rumah, dia akan berusaha untuk mengecek dahulu ke nomor HP untuk mengecek apakah HP aktif atau tidak. Bila aktif, dia akan berusaha untuk menelpon dahulu ke Hpku dan dengan mengaku sebagai pegawai telekomunikasi meminta aku untuk mematikan Hpku terlebih dahulu. Ini dilakukan agar anggota keluarga tidak bisa menghubungi dan akhirnya menjadi panik karenanya. Pada saat itu, memang Hpku sempat mati. Akan tetapi, untung saja masih ada HP kantor.
Kedua, yang namanya upaya mencari nafkah sekarang sudah menjadi semakin kreatif. Menariknya, sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi kreatif. Kreativitas sangat diperlukan untuk bisa survive dalam hidup. Buat seorang pebisnis, Ia akan bisa dijadikan sebagai senjata andalan. Hanya saja, kreativitas tetap mempunyai rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Dan menggunakan kreativitas untuk menipu orang lain bukanlah jalan untuk menghidupi keluarga.
Ketiga, yah positifnya aku jadi tetap merasa disayang oleh keluargaku, terutama Bapakku. Kecemasannya yang tampak ketika dia menelponku, Insya Allah akan menjadi sebuah penyemangat bagiku untuk bisa menjadi sosok yang dibanggakan olehnya...semoga ya Allah..
Terakhir, please don’t try this at home....Ini bukan sharing trik nipu orang lho…
Posted by
Budi Setiawan
at
10:07 PM
1 comments
Labels: Catatanku
Sehat, To be or not to be
Sunday, November 04, 2007
Selasa kemarin, saya bersama beberapa teman-teman kantor menjalani medical check up rutin di RS Siloam, Karawaci. Terakhir kali saya melakukan medical check up ialah saat saya sedang menjalani tes masuk di kantor saya sekarang ini, sekitar 1 tahun dan 6 bulan yang lalu. Total, ini adalah medical check up saya yang ketiga. Hanya saja, bila hanya dihitung medical check up yang dilakukan di masa ketika saya menjadi karyawan, maka ini merupakan check up saya yang pertama. Dan memang harus diakui, medical yang dilakukan pun juga lebih komplit dari check up saat fase penerimaan.
Contohnya, bila saat penerimaan tidak ada jadwal konsultasi dengan dokter spesialis, maka ketika medical kali ini, juga dilakukan konsultasi dengan dokter spesialis jantung dan THT. Lalu, sebagai pendukung data untuk dokter jantung, dilakukanlah yang namanya treadmill. Bila ada yang belum tahu treadmill, wah kemane aja ente…hehe…intinya kita berjalan cepat dan berlari di mesin yang otomatis terus berputar. Kecepatan mesin akan terus bertambah setiap 3 menit sekali, terakhir setelah 9 menit, mesin akan berputar cepat sehingga mau tidak mau kita harus berlari untuk mengimbanginya.
Oke, cukup pendahuluannya. Sekarang cerita agak detail yah.
Perjalanan kemarin dimulai dari kantor di Wisma Pondok Indah. Total personel yang berangkat ada saya, Pelindra, Fahmi, Mas Bimbi, Sandi, Adi, dan Pak Taufik. Kita berangkat sekitar jam 7 dan untuk menghindari macet di jalan panjang (gara2 busway neh) maka kita memilih memutar lewat tol BSD dan terus melewati jalan perumahan hingga tembus lagi di tol Tangerang. Sampai di Rumah sakit sekitar jam 8-an, kita dipersilahkan untuk menunggu di Guest Room dan mengganti pakaian kita (pakaiannya seperti yang terlihat di foto yah).
Kemudian kita mulai dipanggil secara bergantian. Saya termasuk orang yang dipanggil duluan. Tes yang pertama dilakukan ialah tes standar. Kita diukur tinggi dan berat badannya, diukur tensinya dan diambil darahnya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kemudian kita akan diukur denyut jantungnya dengan alat yang kalo ga salah namanya kardiograf. Yang pasti sekujur badan kita ditempeli dengan alat2 pengukur, yang total katanya ada sekitar 10 buah. Dari sana nantinya akan didapatkan grafik denyut jantung kita seperti apa.
Next, setelah menunggu lagi beberapa lama, tes dilanjutkan dengan konsultasi dengan dokter umum. Saya ditanya detail tentang riwayat kesehatan saya dan keluarga. Diperiksa mata, gigi, dicek lagi denyut nadinya. Standar gitu deh pokoknya. Dari sini ketauan deh oleh dokternya kalau salah satu gigi saya ada yang berlubang. Yah, tambalannya sedang copot seh. Untung saja dokternya tidak tahu kalau ibu saya adalah dokter gigi, wah bisa dicela abis-abisan saya...hehe..
Kemudian pemeriksaan dengan USG dilakukan untuk melihat fungsi alat2 dalam tubuh, seperti ginjal, dll. Yang lucu di pemeriksaan ini ialah perawatnya yang bolak-balik ngoceh, dan setiap ingin menanggapi, sang perawat dengan sigap selalu menyuruh tahan nafas dan hembuskan..hhh...
Kemudian test paru-paru dilakukan dengan menahan nafas dan menghembuskannya kencang-kencang di satu selang yang dihubungkan dengan alat pengukurnya. Karena kebetulan kompor di rumah sudah memakai elpiji, yah kontan saya agak kurang terbiasa ketika diminta untuk meniup. Akhirnya, harus diulangi dua kali deh testnya. Test berikutnya ialah test urine. Yang ini sih test biasa dan memang benar-benar sudah dipersiapkan sebelumnya dengan cara minum air banyak-banyak dan menahan untuk mengeluarkannya dari pagi.
Nah, sehabis test ini baru kemudian kita diperbolehkan untuk sarapan. Oh ya, saya lupa bilang kalau sebelum medical check up kita diminta untuk puasa dulu dari jam 10 malam. Kebayang khan gimana laparnya kita waktu itu. Saat sarapan itu, tercatat waktu menunjukkan pukul 10 lewatan.
Test selanjutnya ialah test pendengaran. Kita dimasukkan ke dalam satu bilik kecil dan kemudian kita diberikan earphone. Setiap kali ada suara yang terdengar, kita diminta untuk menekan tombol yang tersedia di sana. Yang membuat susah, semakin lama suara yang ada itu semakin kecil, sehingga nyaris tidak terdengar. Cuman sebetulnya seh test ini bisa disiasati. Perawat yang mengaktifkan suara ada di depan kita. Ketika ia ingin mengaktifkan suara, bisa dilihat dari tangannya yang bergerak. Jadi, tinggal diikuti saja, hehe..
Next step, yang paling melelahkan..Treadmill...Seperti yang saya bilang sebelumnya, testnya dibuat bertahap, setiap 3 menit kecepatan bertambah. Sebelum dimulai seluruh badan kita dipasangi lagi alat2 yang sama saat pemeriksaan jantung. Maksudnya untuk mengukur denyut jantung kita. Sebetulnya testnya asyik juga karena sekalian olahraga. Tetapi, jujur lama-lama bosan juga. Bolak-balik nanya jam sama sang perawat dan mungkin gara-gara itu treadmill saya distop di menit ke-10. Memang seh di awal dia sempat bilang 10 menitan. Tetapi, setelah test saya baru tahu kalo sebetulnya lama treadmill-nya itu tergantung dari denyut jantung kita. Kalau dirasa denyut jantung kita masih belum terlalu tinggi treadmill bisa dilanjutkan terus. Wah, sebetulnya seh saya masih kuat, tapi sudah keburu distop seh [hehe...ini seh pembelaan diri].
Langsung disambung dengan konsultasi dengan dokter jantung. Ditanya semua historikal penyakit lagi, kebiasaan-kebiasaan yang bisa menjadi penyebab penyempitan pembuluh darah atau istilah kerennya jantung koroner. Alhamdulillah, masih dianggap normal. Tetapi tetap diminta untuk rajin olahraga dan menurunkan sedikit berat badan [walopun dia bilang masih batas normal..tetep pembelaan diri].
Test selanjutnya ialah test rontgen. Hasilnya belum ketauan, yang pasti standar lah testnya. Terakhir, kita dipertemukan dengan dokter THT. Terus terang ini dokter yang paling seram di sana. Ibu-ibu, rambut merah dan memakai senter yang diikat di kepalanya. Gaya bicaranya tegas, bahkan perawat di sana pun sebelumnya kena semprot terlebih dahulu di kala persiapan dirasa kurang.
Yup, akhirnya semua test selesai. Kita makan siang, dan karena ada beberapa teman-teman yang masih belum selesai saya dan lainnya ngaso-ngaso dulu di ruang tunggu sambil menyetel TV. Karena acara yang tersedia siang-siang bolong begitu adalah acara gosip dan berita, jadilah kita bergosip2 ria, mulai dari masalah artis ampe masalah perabotan rumah tangga.
Sebetulnya jenis medical check up yang kita jalani belumlah jenis yang paling lengkap. Saya sempat membaca brosur penawaran di sana sekilas, paket yang kita jalani sebetulnya baru paket kedua, yaitu silver. Masih ada paket Gold, Platinum dan lain-lain yang lebih komplit dan yang pasti, mahal. Di paket silver ini hanya ada 2 dokter spesialis. Bila teman-teman ada yang tertarik untuk paket-paket lainnya, jumlah dokter spesialis dan jenis testnya semakin banyak. Ada dokter kulit, gigi hingga kelamin..
Moral storynya, paling tidak karena adanya medical check up ini kita kembali diingatkan akan pentingnya pola hidup sehat. Beberapa teman-teman yang merokok kebagian diceramahi panjang lebar oleh sang dokter di sana. Yup, semangat untuk memperbaiki diri soal kesehatan ini kembali berkobar. Bahkan kita sempat berikrar untuk ikut salah satu klub kesehatan yang lokasinya dekat kantor dan sekarang kebetulan menawarkan program promosi. Hmm..mantap bukan.
Akhirnya, pulanglah kita ke titik start kita dengan keinginan merubah diri. Melewati daerah Pondok Kusir, teman mengusulkan ada tempat roti dan mie Aceh yang enak di sana. Mampir ke sana, baru tahu kalau Roti Ceni khas Aceh itu dimakannya barengan dengan kaldu kambing...Wah kolesterol dan tekanan darah naek mendadak lagi neh...Pulang kantor jam 4an, rekan dari Rumah Video mengajak untuk ketemuan di Obonk Cilandak. Ada urusan penting katanya. Wah kontan menolak lah. Ga enak dengan dokter jantung kalau langsung secepat itu memanjakan perut ini. Tempat pun kontan diganti ke markas saja. Malamnya, sehabis ketemuan ini, teman kuliah mengajak untuk kerja kelompok di Plaza Senayan. Sempat nongkrong beberapa lama di salah satu kedai kopi di sana, karena kemalaman akhirnya kita harus pindah ke tempat lain yang tutup lebih malam. Akhirnya cuma bisa ketemu dengan restoran fast food 24 jam. Yah nasib, secepat itu harus ketemu dengan godaan. Untung saja, medical check up berikutnya masih 1 tahun lagi..
NOTE : Buat semua...tetep jaga kesehatan yah, ingat..Men Sana In Corpore Sano...di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat
Posted by
Budi Setiawan
at
5:55 PM
0
comments
Labels: Catatanku
Tentang Blog Ini
Thursday, November 01, 2007

Baru saja tadi mendapati bahwa ternyata pendaftaran untuk Halal Bihalal Komunitas TDA telah ditutup. Wah, sekali lagi saya terlambat untuk menghadiri sebuah acara yang ingin sekali saya hadiri ini.
Beberapa hari kebelakang memang jujur saya agak jarang mengakses milis. Ini karena kuliah saat ini sedang memasuki jadwal midtest sementara tugas-tugas pun sedang menumpuk. Untuk minggu ini saja total ada 2 presentasi yang harus dipersiapkan, presentasi untuk mata kuliah Marketing Management dan Human Resource Management (HRM). Sementara midtest dalam seminggu ini ada 2 mata kuliah yaitu HRM dan Corporate Finance. Ditambah lagi di pekerjaan kali ini kembali saya dioper lagi ke project yang baru, yaitu project NTS (Natrindo Telecommunication Sellular), setelah sebelumnya mengerjakan project Telkomsel Kalimantan. Bahkan setelah Lebaran saya baru sempat untuk mengunjungi lagi kantor kedua saya di Rumah Video kemarin sore.
Oke, penyesalan tetap tinggal penyesalan. Saya memang salah tempo hari dengan menunda-nunda konfirmasi keikutsertaan saya. Yah, semoga di lain waktu kesempatan silaturahmi masih diperkenankan.
Terus terang saya sebetulnya masih bingung dengan konsep blog ini. Saya tadinya berpikir kalau blog ini cukup dijadikan sebagai catatan pribadi saya sebagai pengingat akan perjalanan saya dan jadi penyemangat bagi saya pribadi di kala saya sedang ”down”. Tetapi, tidak dinyana Alhamdulillah via blog ini juga saya akhirnya berkesempatan untuk bersilaturahim dengan sahabat-sahabat yang kebanyakan di antaranya belum pernah saya temui sebelumnya. Dari sana timbul niatan dari saya untuk menjadikan juga blog ini sebagai sarana sharing dari saya, soal bisnis atau hal-hal lainnya yang saya pikir saya ingin ceritakan.
Akan tetapi, tetap saya harus akui bahwa saya saat ini bukanlah seorang yang tahu akan banyak hal, terutama tentang bisnis. Saya masih belajar, baik itu tentang bisnis, tentang kehidupan, tentang hakikat saya di dunia, tentang pekerjaan saya, dan lain sebagainya. Jadilah akhirnya saya tidak ingin mencukupkan blog ini pada tema-tema tertentu saja. Saya ingin bisa lebih bebas lagi mengekpresikan diri saya. Oleh sebab itu, bila Pak Roni mendeklarasikan blognya sebagai blog pergerakan, Pak Wuryanano menset blognya sebagai blog motivasi, Mas Ipul mendesign blognya sebagai blog Web related, maka saya hanya ingin menset blog ini sebagai blog pembelajaran, terutama dari saya pribadi. Saya ingin menjadikan blog ini sebagai sarana saya untuk belajar, belajar untuk menulis, belajar untuk berbisnis, belajar tentang bagaimana untuk selalu berpikir positif, belajar untuk mengungkapkan pendapat, belajar untuk berkomunikasi dengan orang lain, belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi ke depannya, , dan mungkin, belajar untuk menjadikan diri saya sebagai seorang yang layak untuk kelak memimpin sebuah rumah tangga ke arah rumah tangga sakinah mawaddah warahmah...:D
Insya Allah, semoga Allah melancarkan jalan hamba-Nya ini untuk terus berusaha memperbaiki dirinya, tetap diberikan kesempatan untuk bersilaturahim dengan sahabat-sahabat yang terus memotivasi untuk memperbaiki diri.
Note : Terkait dengan masukan beberapa teman-teman, untuk Website Rumah Video, memang masih tergolong versi beta. Insya Allah, ini termasuk target kami untuk diperbaiki dalam 2 bulan ke depan, sekaligus perbaikan akan sistem pemasaran secara keseluruhan. Niat kami, 2008 akan dimulai dengan sistem pemasaran dan organisasi yang baru. Kami merencanakan beberapa perekrutan baru dan ada niatan untuk meluncurkan brand baru yang lebih menyasar ke kalangan konsumen, setelah sebelumnya hanya bermain di level corporate. Doakan saja semoga semuanya berjalan lancar.
Posted by
Budi Setiawan
at
8:24 PM
0
comments
Labels: Catatanku
Belajar Berpikir Positif
Sunday, October 21, 2007

Yah, terus terang itu yang sekarang sedang saya coba untuk lakukan. Saya selalu merindukan masa-masa kita masih menjadi anak kecil dahulu, betapa rasanya kita akan dengan polosnya berkata kita ingin menjadi presiden, ingin bisa berkeliling dunia, atau hal-hal lainnya yang rasanya begitu imajinatif. Impian-impian yang terkadang konyol, akan tetapi kita merasa seakan-akan impian itu pasti akan tercapai. Tidak peduli apa pandangan orang, tidak peduli dengan kritikan yang ada, atau bahkan tidak memikirkan apakah impian itu nantinya layak secara finansial atau tidak.
Akan tetapi perjalanan waktu seakan mengerus keyakinan-keyakinan yang sempat sangat bersemi di masa kanak-kanak itu. Ketika kita melakukan kesalahan, alih-alih kita diberikan sebuah saran yang konstruktif, malahan yang ada adalah sebuah kritikan pedas yang menghancurkan mental. Alih-alih didorong untuk maju, yang ada malahan ungkapan-ungkapan yang bernada merendahkan atau menyangsikan kemampuan kita sehingga membuat kita ragu untuk melangkah maju.
Terus terang juga, saya harus akui bahwa pertarungan untuk selalu berpikir positif bukanlah sebuah pertarungan yang mudah. Masih banyak hal di depan mata yang masih belum pasti akan seperti apa jadinya. Masih banyak kekurangan yang masih harus saya benahi. Akan tetapi, karena Allah hanya akan mengikuti persangkaan hamba-Nya, maka saat ini biarlah saya mencoba untuk terus berpikir positif, terutama akan diri saya.
Terkait dengan ini, ada point menarik yang ingin saya sharing. Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti training Effective Business Communication, dari kantor saya. Selain mempelajari teknik-teknik komunikasi yang pas dalam lingkungan bisnis, yang menarik adalah di akhir training selama 2 hari itu, masing-masing peserta diminta untuk menuliskan hal-hal yang disukainya dari peserta lainnya. Memang seh tidak semua point yang ada benar-benar tepat menggambarkan orang yang dinilainya. Akan tetapi, dari sesi ini kita diajarkan akan satu hal penting, yaitu betapa pentingnya sebuah umpan balik yang positif.
Seringkali dalam pergaulan atau bisnis, kita sangat mudah untuk memberikan komentar ketika ada kesalahan dari orang lain. Akan tetapi, di saat orang lain telah mengerjakan sesuatu dengan baik, kita lalai untuk memberikan pujian kepadanya. Sehingga yang terkesan adalah melakukan pekerjaan secara benar adalah suatu kewajaran sementara melakukan kesalahan adalah suatu hal yang sangat terlarang. Seringkali hal seperti ini bukan karena kita tidak menyukai apa yang telah dikerjakan oleh orang lain itu, akan tetapi yang terjadi adalah kita tidak terbiasa untuk memberikan pujian secara terbuka.
Memberikan pujian adalah sesuatu hal yang terkesan simple. Kita mungkin berpikiran bahwa untuk apa memberikan pujian, toh memang hal itu sudah menjadi tugasnya dan ia dibayar untuk itu. Akan tetapi, coba berpikir dari sudut pandang orang yang diberikan pujian. Sedikit pujian dari kita mungkin akan menjadi setitik embun di tengah kekeringan hati seseorang, di tengah masalah-masalah yang mungkin sedang dihadapi oleh orang itu. Dan kita tidak akan pernah tahu, betapa mungkin pujian kita itu akan menjadi sesuatu yang akan terus diingat oleh orang tersebut dan bisa menjadi sumber motivasi bagi orang tersebut untuk bergerak maju.
Jadi, sebagaimana kita ingin terus belajar berpikir positif, mengapa kita tidak mencoba membantu orang lain untuk juga tetap berpikir positif...Mungkin hal itulah yang bisa mempertahankan kita berada di jalur yang positif.
Note :
Ijinkan saya di bawah ini memposting komentar dari peserta lain tentang saya di training tersebut. Bukan untuk maksud apa-apa, hanya sekedar ikhtiar untuk mencoba tetap berpikir positif. Terima kasih untuk ini.
Yang saya suka dari kamu.....
- Jaketnya
- Sabar
- Kritis
- Namanya sama dgn nama gue....!
- Sopan santun dan diplomatis
- Kritis
- Vokal jg loe bud
- Bijaksana
- Aktif banget
- Suaranya merdu + pinter
Posted by
Budi Setiawan
at
8:30 PM
0
comments
Labels: Inspirasi
Before You Quit Your Job – 1rst Lesson

Judul di atas cukup provokatif bukan?!! Judul itu sebetulnya mengambil dari salah satu judul seri buku Rich Dad, karya Robert Kiyosaki. Di sana diceritakan tentang 10 pelajaran yang harus dikuasai untuk membangun sebuah bisnis besar, sebelum kita keluar dari pekerjaan kita. Berikut uraiannya. Saya coba rangkumkan, paling tidak sebagai catatan saya pribadi agar tidak hilang begitu saja termakan aliran waktu. Semoga berguna.
1. Bisnis yang berhasil diciptakan sebelum bisnis itu ada.
2. Belajar merubah nasib buruk menjadi nasib baik.
3. Mengetahui perbedaan antara tugas dan pekerjaan Anda.
4. Kesuksesan mengungkapkan kegagalan Anda.
5. Proses lebih penting daripada sasaran.
6. Jawaban terbaik ditemukan dari hati Anda…dan bukan kepala Anda.
7. Lingkup misi menentukan produk.
8. Merancang bisnis yang bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukakan oleh bisnis lain.
9. Jangan memperjuangkan tawar menawar terendah.
10. Tahu saatnya berhenti.
Untuk kesempatan saat ini, ijinkan saya merangkumkan pelajaran pertama dari buku ini.
” Bisnis yang berhasil diciptakan sebelum bisnis itu ada.”
Pelajaran kali ini lebih menekankan pada penciptaan mindset yang tepat sebelum memulai berbisnis. Pertanyaan pertama adalah apa sebetulnya karakteristik dari entrepreneur? Bagaimana seorang entrepreneur berbeda dari seorang yang bermental karyawan?
Tentu jawaban pertama yang akan muncul adalah keberanian untuk menempuh resiko. Akan tetapi, sebagaimana diuraikan di sini, karakteristik entrepreneur sejati sebetulnya adalah kreativitas dan kemampuan mencapai hal-hal melebihi kemampuan mereka. Mereka adalah ahli dalam memecahkan masalah, mengubah masalah itu menjadi properti intelektual yang berharga, kemudian mengungkit properti intelektual itu ke dalam bisnis. Mereka adalah ahli dalam menggunakan uang orang lain dan kemampuan orang lain. Mantra seorang entrepreneur adalah, ”Mari pikirkan bagaimana kita akan melakukannya,” dan tidak pernah terdengar kata-kata putus asa, ”Kami tidak dapat melakukannya,” atau ”Kami tidak mampu.”
Setelah mengetahui karakteristik seorang entrepreneur, seorang yang sedang menuju jalan kewirausahaan yang diibaratkan sebagai jalur menuju dunia liar, sebaiknya mempersiapkan diri dengan baik. Persiapan-persiapan tersebut antara lain sebagai berikut.
- Anda mulai dengan memastikan bahwa Anda memiliki cara pikir yang tepat – bahwa Anda berpikir seperti seorang entrepreneur alih-alih karyawan.
- Anda mengerjakan pekerjaan rumah Anda – mempelajari pasar, target konsumen dan pesaing Anda.
- Anda mengidentifikasi ketrampilan yang diperlukan untuk bisnis yang berhasil di pasar itu dan membangun tim kemitraan bisnis serta penasihat yang menyediakan ketrampilan yang Anda perlukan.
- Anda mengidentifikasi sejumlah keunggulan dalam persaingan dan cara Anda membuat diri Anda berbeda dalam benak calon konsumen Anda.
- Anda mengumpulkan rencana bisnis yang memetakan rute kesuksesan Anda.
- Anda meletakkan landasan hukum yang diperlukan untuk bisnis Anda.
Mindset adalah kata kunci dalam pelajaran pertama ini. Persiapan adalah kata kunci berikutnya. Seorang Robert Kiyosaki menjalani pembelajarannya terlebih dahulu di perusahaan Xerox ketika berusia 26-28 tahun sebelum memulai bisnis perdananya, yaitu dompet nylon. Tung Desem Waringin menjalani pembelajarannya yang produktif di BCA ketika berusia 25-33 tahun sebelum memutuskan terjun secara total sebagai trainer bisnis saat ini. Tentu ini bukan menjadi penghalang bagi kita untuk memulai berpindah kuadran menjadi Full TDA lebih awal. Tapi, sebelum itu pastikan bahwa mindset dan persiapan Anda telah sedia.
”Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan.”
Salam hangat dari orang yang masih belajar,
Budi Setiawan
”Rumah Video”
Posted by
Budi Setiawan
at
8:26 PM
0
comments
Mengintip Dunia Kedokteran

Masa cuti bersama yang panjang akhirnya akan berakhir senin ini. Terus terang saya harus akui saya begitu menikmati masa cuti panjang kemarin. Aktivitas kantor diistirahatkan, kuliah diliburkan hingga semua urusan Rumah Video juga dihentikan untuk sementara. Masa-masa relaksasi kali ini memang dari awalnya ingin saya niatkan untuk berhenti sejenak dari rutinitas harian.
Masa liburan kemarin memang tidak saya isi dengan mudik. Memang biasanya keluarga kami tiap tahunnya melakukan ritual ini. Akan tetapi untuk tahun ini kami memutuskan untuk istirahat sejenak dari aktivitas ini. Yah, tahun ini kami memutuskan untuk menghindarkan diri dari sebuah kondisi yang disebut kemacetan. Kami ingin sekali menikmati kondisi Jakarta tanpa kemacetan. Jadilah akhirnya Ngawi, yang merupakan kampung halaman ayah ibu saya, untuk sementara waktu tidak dikunjungi.
Ada 2 kondisi yang sangat saya nikmati selama istirahat kemarin. Yang pertama adalah saya bisa punya waktu luang cukup banyak untuk menjalani kegemaran membaca saya. Yang kedua adalah saya jadi punya waktu lebih untuk berdekatan dengan keluarga. Beberapa hari kemarin dijalani dengan menemani ayah ibu berkunjung ke rekan-rekan mereka.
Terkait dengan dunia orangtua saya, saya harus mengakui memang beberapa tahun ke belakang saya tidak lagi terlalu intens mengikuti aktivitas rutin mereka. Padahal dahulu ketika masih tinggal di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, di masa-masa SD dan SMP, nyaris setiap hari saya pasti meluangkan waktu untuk mampir ke kantor mereka.
Tempat ibu bekerja, yaitu RSUD Banjarbaru, lokasinya berdekatan dengan SD dan SMP saya, sehingga nyaris setiap pulang sekolah saya akan mampir kesana terlebih dahulu. Sangat menyenangkan rasanya di waktu itu bisa mengamati aktivitas-aktivitas harian dokter dan perawat di sana. Juga menjadi keasyikan sendiri setiap kali menyaksikan ibu yang berprofesi sebagai dokter gigi sedang beraksi dengan kursi giginya.
Sementara itu, tempat ayah saya bekerja, yaitu BPTPH (Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura), letaknya di depan rumah dinas kami. Otomatis nyaris tiap hari saya bisa bermain di sana. Bahkan, waktu liburan pun, saya sering isi dengan bermain di halaman kantornya yang luas dan sering kali memanfaatkan fasilitas ruang komputernya yang cukup lengkap kala itu.
Yah, rasanya memang sudah lama sekali. Selepas dari Banjarbaru memang saya sudah jarang lagi menengok aktivitas harian kedua orangtua saya di kantornya. Bapak sekarang sudah pensiun dan lebih banyak di rumah. Sementara Ibu, ketika pindah ke Jakarta, tidak bisa mendapatkan penempatan di Rumah Sakit, sehingga akhirnya sekarang berkarier di Departemen Kesehatan, yang lokasinya cukup jauh dari rumah.
Oleh sebab itu, rasanya kemarin cukup menghiburkan ketika saya bisa menemani ibu berkunjung ke tempat rekan-rekannya di Departemen Kesehatan. Dimulai dari kunjungan ke Pak Ahmad Syafei yang sekarang menjabat Sekjen Depkes, orang nomer 2 setelah Bu Menkes. Beliau adalah pejabat karier tertinggi yang ada di Departemen itu. Iya karena biasanya memang jabatan di atasnya yaitu menteri sudah menjadi jabatan yang politis. Yang menarik ketika berkunjung di sini ialah pembicaraan tentang rencana beliau dan istri setelah pensiun kelak. Mereka membicarakan tentang kemungkinan untuk membuat sekolah keperawatan, beserta semua tetek bengeknya, membicarakan tentang kekurangan dunia kedokteran Indonesia saat ini, dan sebagainya. Yah, saya senang-senang saja bisa mendengarkan sesuatu yang baru seperti ini.
Kunjungan kedua adalah kunjungan ke bos langsung Ibu, yaitu Dr. Farid Husain. Beliau sekarang menjabat sebagai Dirjen Yanmedik (Pelayanan Medik). Yang menarik tentang dokter bedah ini ialah beliau kemarin salah satu dari tim inti negoisator antara RI dan GAM. Keberaniannya untuk menembus belantara Aceh untuk bertemu dengan para petinggi GAM bahkan diakui oleh mantan presiden Finlandia, Marti Ahtisaari, yang menjadi fasilitator. Lebih lengkapnya tentang kisahnya bahkan sudah dibukukan, dengan judul To See the Unseen.
Kunjungan terakhir ialah kunjungan ke Prof. Kusumanto, yang ternyata adalah pendiri Rumah Sakit Dharmawangsa. Yang menarik, keempat anaknya sendiri sebetulnya punya latar belakang pendidikan berbeda-beda, tapi akhirnya sekarang semuanya berkecimpung di dunia kedokteran. Seperti contohnya seorang anaknya yang ternyata adalah lulusan Teknik Sipil UI tahun 1985, sebelumnya sempat bekerja lama di kantor konsultan sipil, namun saat ini ikut menangani Rumah Sakit Dharmawangsa ini.
Yah, sekali lagi cukup menarik mendengarkan pembicaraan dari sebuah dunia yang berbeda. Paling tidak, saya sudah mencoba untuk tidak menjadi seperti katak yang terdiam saja dalam tempurungnya...:D
Posted by
Budi Setiawan
at
7:40 PM
0
comments
Labels: Catatanku
Showreel Rumah Video
Testimonial tentang Audio Visual

Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”
Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”
Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”
Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”
Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.
