Backpacker di Bandung (Eps.2)

Sunday, May 04, 2008


Hari kedua di Bandung bisa dikatakan menjadi hari yang amat panjang dijalani.
Awalnya sama sekali tidak ada rencana jelas dari kami akan kemana saja kami di hari itu. Yang pasti memang ada beberapa opsi yang sempat dipikirkan. Hanya saja, hingga hari itu kami belum memutuskan akan mengambil opsi yang mana.

Nah, paginya selepas bangun dan shalat subuh (dan jeleknya, tidur lagi bentaran), kami mendapati kalau teman-teman dari Turki kami sudah mulai menghilang. Ada yang sudah berangkat atau ada juga yang masih betah di kamar masing-masing. Akhirnya memang tidak mungkin mengumpulkan mereka, apalagi untuk hanya sekedar foto bareng. Yah akhirnya terpaksa pamitan dari tempat bermalam kami itu ke Kamil saja. Yah, salam saja bwat semua sahabat-sahabat baru kami itu. Moga lain waktu kita bisa ketemuan dan silaturahim lagi.

Pamitan tetap tanpa agenda yang jelas. Akhirnya setelah sampai lagi di jalur perangkotan, barulah bingung akan melangkahkan kami kemana. Kami berada di depan UPI, jalan persimpangan antara Daarut Tauhid, Bandung Kota dan Bandung Utara. Pilihan kami 2, ke Kota atau ke Utara. Ya sudah, karena niatnya refreshing kami cobalah ke ara utara saja. Tujuan ke Tangkuban Perahu.

Sebetulnya sempat berniat kesana malamnya. Hanya saja, karena kurang paham angkutan umum kesana sempat berencana untuk membatalkannya. Tapi, ya akhirnya dengan niatan ga ada salahnya dicoba jadilah kami memilih untuk kesana. Naiklah kami ke angkot arah ke Terminal Ledeng. Dari sana, sesuai dengan petunjuk teman akhirnya kami menyambung angkot ke arah Subang. Turun di jalan masuk ke Tangkuban Perahu, akhirnya kami memutuskan untuk mencarter angkot untuk naik ke atas.

Sebetulnya saya sudah 2 kali ke sini. Cuman memang sudah lama banget. Terakhir sekitar 4 tahunan yang lalu. Jadinya, memang sudah agak lupa dengan jalan masuk ke sana sih. Ini yang nyebabin akhirnya kami ga mau ngambil resiko untuk coba jalan saja ke atas. Takut kejauhan, apalagi sudah janjian dengan Kamil untuk mampir ke ITB siangnya.


Ya sudah. Alhamdulillah, sampailah kami di atas dengan selamat. Subhanallah...sekali lagi hati kami disejukkan dengan keindahan ciptaan Allah di muka bumi ini. Sebuah fenomena kawah yang mempesona yang kita kenal dengan sebutan Gunung Tangkuban Perahu. Jadi ingat lagi dengan cerita legenda yang menceritakan asal muasal gunung ini. Yah, mengenai seorang anak yang tidak sadar mencintai ibunya sendiri, dan akhirnya menjelma menjadi gunung dengan kawah eksotik ini. Sebuah legenda yang oleh warga asal sana dijelaskan sebetulnya hanyalah cerita pemanis saja. Konon, objek wisata ini pertama kali ditemukan oleh Belanda dan di saat itu kebetulan di sana rawan gempa dan gunung meletus. Makanya di sana kita bisa temukan juga sebuah alat pencatat gempa atau seismograf yang kini sudah tidak berfungsi lagi.

Kawah di puncak gunung ini sebetulnya sekarang sudah tidak aktif lagi. Makanya ketika ada tawaran untuk melihat kawah lain yang masih aktif, yang dikenal dengan sebutan Kawah Domas, maka kami tidak menolaknya. Kawah Domas ini letaknya di lereng gunung. Numpang lagi dengan angkot untuk turun. Sampai di titik masuknya, kami sempat menyangka hanya akan berjalan 100-200 meter saja. Yah, harapan yang terlalu optimis.


Ternyata perjalanan ke Kawah Domas cukup panjang dan melelahkan. Bila dihitung, mungkin bisa sekitar 1 jam dihabiskan untuk bolak-balik di sana. Yah, benar-benar lumayan lah untuk olahraga. Kabar buruknya, jalan sehat ini terpaksa kami lakoni ketika jam makan siang telah tiba. Jadilah kami berjalan sambil menahan lapar. Sampai di Kawah Domas, paling tidak kami terhibur dengan ketidaksia-siaan perjalanan kami. Kawahnya memang masih aktif. Bahkan beberapa tempat masih menyemburkan air belerang panas yang katanya bisa untuk menggoreng telor di sana.

Well, singkat cerita akhirnya kami pulang juga dari Tangkuban Perahu. Di perjalanan balik ke Lembang, tiba-tiba terpikirkan untuk menjajal Rumah Strawberry yang ceritanya sering kami dengar itu. Setelah bertanya-tanya dengan supir angkot, akhirnya mantaplah kami memutuskan untuk coba pergi kesana.

Dengan modal sok tahu soal jalanan Bandung, kami pun memutuskan untuk naik lagi angkot di Lembang. Oh yah satu hal yang terlupakan dari angkot Bandung, ngetemnya itu lho yang ga nahan. Total bisa setengah jam lebih ngetem sebelum angkot jalan. Sudah gitu, di setiap persimpangan rata-rata angkot tetap bolak-balik ngetem.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang naik turun angkot sebanyak 3 kali (yang total menghabiskan waktu hingga 1.5 jam ditambah lamanya ngetem), sampailah kami di Rumah Strawberry (sempat nyasar en pengen niat balek aja seh sebelumnya). Jarum jam saat itu sudah menunjukkan pukul 3 kurang, which is pastinya laper banget bo.


Yah tapi akhirnya perjuangan kami ke sana ternyata sangatlah worthed. Rumah Strawberry saat itu sedang sepi, karena hari senin, sehingga kesannya kamilah penguasa tempat itu. Tapi yang pasti menu di sana yang benar-benar membuat kami puas sekali. Memesan nasi goreng dan nasi liwet, mungkin satu katanya Bondhan Winarno bisa menggambarkan perasaan kami, mak nyosss!!..:) Yah bisa dilihat dari pose kami di samping yang tampak bahagia dan puas.

Karena sepi dan memang capek banget, akhirnya sempat-sempatnya kami tidur siang di sana, selain mencharge HP dan laptop, hehe. Jam 5 kurang, setelah diusir halus oleh pelayannya (maksudnya dah disodorin bon aja) akhirnya kami pun beranjak meneruskan perjalanan. Nah, sekarang gantian panik melihat waktu sudah sore banget. Padahal kita berencana untuk langsung balik ke Jakarta memakai travel jam 7 malam. Apalagi masih harus mengantarkan titipan Kamil ke ITB.

Setengah panik, akhirnya naiklah kami ojek sampai ke depan jalan umum lagi. Sampai di jalan umum, lebih panik ketika mendapati angkot jarang sekali yang lewat sana. Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, barulah kami mendapati angkot yang segera melaju lagi balik ke Terminal Ledeng. Di Ledeng, untuk menuju Dago kami menaiki angkot jurusan Cicaheum.


Sampai di Dago, buru-buru meninggalkan angkot. Dan akhirnya karena buru-buru itu, oleh-oleh yang sempat kami beli di Ledeng, akhirnya ketinggalan di angkot itu. Yah, nasib. Singkat cerita, akhirnya kami baru bisa naik travel untuk keberangkatan jam 9 malam. Ya udah, sisa waktu kami habiskan di Bandung Indah Plaza, bersama Kamil sekalian mengantarkan pesanannya. Dan akhirnya jam 9 malam berangkatlah kami kembali ke Jakarta dengan menggunakan travel Baraya.

Yah, sungguh hari yang lumayan melelahkan. Full dengan naik turun angkot dan jalan kaki. What a journey. Saya Budi Setiawan, melaporkan siaran tunda dari Bandung langsung dari pelaku utamanya. Cheerss...:)

0 comments:

Showreel Rumah Video

Testimonial tentang Audio Visual



Abu Sangkan – Trainer “Shalat Khusyu”
“Peran media audio visual sangat efektif dalam penyampaian da’wah-da’wah saya.”

Adha Muawiyah – Line Producer “Sinemart”
“ Video Company Profile sangat efektif dan efisien untuk memperkenalkan citra perusahaan kita lebih cepat. Klien maupun investor dapat lebih jelas mengetahui apa yang dia inginkan atau tuju pada perusahaan kita.”

Wuryanano – CEO PT Swastika Prima International, Direktur Lembaga Pendidikan Profesi SWASTIKA PRIMA Community College, Founder Super Mind Power Training, Penulis Buku Best Seller
“Dengan memiliki perangkat bisnis pada media Audio Visual ini, maka akan semakin meningkatkan performa bisnis dan perusahaan kita. Produk dan jasa kita pasti semakin bagus dalam pelayanan dan kualitasnya.”

Hidayatullah – Direktur PT Selaras Inti Prima Indonesia
“Media audio visual yang sangat efektif dalam membantu kinerja marketing kami, serta menjadi added value tersendiri untuk perusahaan kami.”

Note :
Alhamdulillah, materi untuk casing CD Showreel Rumah Video sudah selesai. CD ini sendiri berisikan portofolio produk-produk yang pernah kami hasilkan, mulai dari Video dokumentasi, Video profile, CD interaktif, Website, Clip&Commercial, Video Promo.Semoga bisa menjadi salah satu wahana untuk beramal lebih bagi kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan untuk semua pihak yang dengan sukarela telah memberikan testimonialnya. Hanya Allah jualah yang bisa membalas-Nya.